
...61. Hadiah untuk Kha....
Sepeninggal Biru dari ruang besuk dengan sekat kaca, tubuh Kha merosot hingga ia meringkuk bersandar pada bangku plastik. Kha tak kuasa menahan akumulasi kesedihan yang sedari tadi sudah ia jaga agar Biru tak melihatnya. Hancur hati melihat Biru menggunakan pakaian tahanan, apalagi ia melihat luka kecil disudut bibir Biru. Kha sengaja tak menanyakan hal tersebut, sebab ia sudah menerkanya sendiri. Dari artikel yang dibaca, sedikitnya ia tahu seperti apa kehidupan para tahanan dibalik jeruji besi. Bagaimana sikap para tahanan senior kepada pendatang baru. Andai benar luka itu berasal dari para tahanan senior, sudah pasti Biru juga akan mengelak.
Ia sandarkan kepala ditembok, nyalang menatap lampu yang hampir kehilangan cahayanya. Wajah Kha begitu tenang tapi isi tempurung kepalanya jelas sedang berperang. Apakah kasus ini akan selesai tanpa hambatan. Dapatkah Biru bebas meski harus dengan syarat. Jika tidak, bagaimana ia bisa melanjutkan hidup tanpa Biru disisinya. Mengapa hidup ini tidak adil, dan masih banyak lagi pertanyaan yang memenuhi isi kepala.
“Kha! Kamu baik-baik saja, ‘kan?” tanya Barid setelah pintu ruang besuk dibuka.
“Kalau aku bilang baik-baik saja, apa kamu percaya?” jawab Kha sarkas. Ia lekas berdiri dan meninggalkan ruangan sempit itu. Barid mengikutinya dengan jalan terpincang-pincang.
Menjalani pemeriksaan selama lebih dari 3 jam, lalu menemui Biru selama 30 menit, tenaganya seakan dikuras habis berikut emosinya. Ia lelah, ingin segera merebahkan badan dan melupakan sejenak kekacauan hidupnya. Namun, mau tak mau harus di tunda sampai Senja dan Barsha selesai diperiksa.
“Ayo, Kha, kamu ikut aku,” ajak Gentar membuat Kha mengernyit, “berdua sama aku saja nggak papa, ‘kan?”
“Kita mau kemana? Bukannya tunggu Mama Senja sama Acha dulu?”
“Mama sama Acha saksi yang terlibat langsung dari awal, jadi pemeriksaannya juga pasti lebih lama dari kamu. Kamu ikut bang Gentar, ada yang harus di tunjukin ke kamu.”
Meski penasaran, rasa letih membuatnya malas bertanya. Ditambah perut yang sudah keroncongan dari tadi membuyarkan fokusnya. Entah kenapa sejak sakit Kha lebih sering merasa lapar dan gampang capek. Ia mengikuti Gentar meninggalkan Barid yang masih menunggu Senja juga Barsha.
Gentar membukakan pintu belakang mobil begitu ia sampai di halaman parkir kantor polisi. Berdua di dalam mobil bersama laki-laki bukan mahram membuatnya throwback pada masa ketika ia bersama Biru kala itu. Seketika matanya kembali memanas, namun buru-buru ia hapus sebelum Gentar melihatnya.
__ADS_1
“Kamu mau aku temani makan dulu, atau aku belikan makanan buat dimakan di mobil?” tanya Gentar.
“Makan dulu boleh, Mas, aku lapar.” jawab Kha.
“Mau makan apa?”
“Garang asam.” tiba-tiba saja ia terpikir ingin makan garang asem. Olahan ayam yang dibumbui rempah, diberi santan dan dibungkus daun pisang lalu dikukus. Baru membayangkannya saja ia sudah menelan ludah.
“Garang asam?? Cari dimana.” gumam Gentar.
Ia merebahkan kepala pada sandaran kursi, membiarkan Gentar memainkan ponsel, mungkin saja Gentar sedang mencari resto terdekat yang menyediakan masakan garang asam. Mobil mulai bergerak meninggalkan kantor polisi, berbaur dengan kendaraan lain yang lalu lalang. Selama perjalanan beberapa kali Gentar berhenti di sebuah resto, lalu kembali sampai sudah 6 rumah makan mereka sambangi. 2 diantaranya mengatakan sedang tidak menyediakan menu tersebut dan yang lainnya mengatakan sudah habis.
Rupanya Gentar belum menyerah, di resto ke 7 akhirnya mereka mendapatkan makanan yang Kha inginkan. Gentar pun segera memesan 2 porsi garang asam. Restonya sepi membuat Kha sedikit leluasa untuk makan ditempat. Ia mengambil tempat duduk bersebelahan meja dengan Gentar, tetap menjaga jarak dan pandangan dari pria lain. Ketika pesanan datang, Gentar terlihat lebih semangat dibanding dirinya. Namun, mimik wajahnya seketika berubah pada suapan pertama.
Ia yang sedang menikmati suapan pertama menggelengkan kepala. Baginya, masakan dari resto ini cukup membuat dirinya terpuaskan. Tidak dengan Gentar yang kehilangan semangat makan setelah mencicipi rasa makanan.
“Kalau mau muntah bilang saja, jangan ditahan!” tegur Gentar saat mereka kembali ke dalam mobil.
Kha mengernyit. Kenapa harus muntah sedangkan ia sangat menikmati makanan yang tiba-tiba terlintas dipikirannya. Ia kembali merebahkan kepala setelah mobil jalan meninggalkan resto. Hanya selang 15 menit mobil yang Gentar kendarai memasuki sebuah kompleks perumahan. Kha merasa tidak asing dengan model rumah-rumah yang di lewati, sampai ia sadar Gentar membawa dirinya ke rumah yang pernah ia kunjungi bersama Biru.
“Kenapa mas Gentar bawa aku kesini?” tanya Kha.
__ADS_1
Gentar turun dari mobil lalu membukakan pintu belakang, “amanat dari Biru yang harus aku sampaikan ke kamu.”
Gentar memberikan kunci rumah dengan hiasan gantungan inisial huruf ‘A’. Dengan tangan gemetar Kha menerima kunci itu, ia membuka pintu rumah perlahan dan masuk dengan langkah berat.
“Sebenarnya Biru sendiri yang mau bawa kamu kesini, tapi belum sempat dan sekarang ....”
Kha tak lagi memperhatikan Gentar. Apa yang diucapkan pun tak terdengar olehnya. Ia berlalu masuk ke dalam rumah yang beberapa waktu lalu masih dalam proses pembangunan dan berantakan, tapi sekarang sudah rapi lengkap berisi furnitur serta foto akad nikah sederhana mereka yang terpajang di dinding.
“Ini mas Biru yang siapkan?” tanya Kha, Gentar mengangguk.
Ia terperangah melihat hunian minimalis dengan furnitur yang sederhana namun terlihat elegan. Bagaimana bisa Biru menyiapkan semua ini di sela kesibukannya.
“Ini, Kha.” Gentar menyerahkan map putih bening berisi surat kepemilikan tanah dan bangunan. Yang membuat dirinya lebih kaget adalah nama pemilik yang tertera di atas kertas itu.
“Aishleen Khadijah? Aku?”
“Iya, kamu. Ini rumah hadiah dari Biru buat kamu. Biru bilang, sekarang rumah ini milikmu, dan dia hanya numpang,” Gentar terkekeh mengulang ucapan Biru, “jaga baik-baik sampai Biru pulang kesini.”
Setetes air mata jatuh, ia memandang Gentar sejenak lalu menyerosot dan berjongkok menyembunyikan wajahnya. Tangisannya pecah menggema di sudut-sudut ruangan.
“Mas Biru ....”
__ADS_1
Teriakkan kepedihan Kha menandakan betapa sedih dan terpukulnya ia saat itu. Ia tak peduli Gentar melihat titik terendah dirinya, sebab tak ada tempat yang lebih nyaman untuk menguar segala pilu.
“Kamu kuat, Kha ... Biru butuh kamu kuat sampai dia kembali.”