
67. Surat untuk Biru.
Tak terhitung sudah berapa kali pengadilan tinggi Jakarta menggelar persidangan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Biru. Semakin banyaknya saksi dari pihak jaksa penuntut umum membuat sidang makin pelik dan mengulur waktu. Pekan terakhir pada bulan lalu sidang kembali di gelar, menghadirkan 6 saksi termasuk Khadijah. Persidangan dimulai dari pendataan nama saksi yang dipimpin langsung oleh ketua majelis hakim. Selanjutnya, para saksi menjalani sumpah di atas Al Quran sebelum memberikan keterangan satu per satu.
Setelah Mama Senja, Barsha, dan Pak Agus, Kha juga mendapat giliran maju duduk di kursi yang menghadap langsung hakim ketua. Entah kekuatan dari mana, Kha benar-benar tenang ketika mendapat puluhan pertanyaan dari JPU yang dirasa mem-provokasi dan menjebak. Ia kehilangan rasa takut demi memberikan pernyataan yang sejujur-jujurnya. Begitu pula kesaksian yang disampaikan oleh Gentar, Barid, dan yang lainnya.
Kendati kesaksian dari 6 orang tersebut sudah dipastikan jika Biru mengambil tindakan dalam keadaan terhimpit demi menyelamatkan orang lain, tetap saja JPU terus menggali kesalahan yang Biru lakukan. Seperti kenapa benda tajam masih berada di tangannya, serta luka ringan dan lebam yang terdapat di bagian tubuh jenazah, dan masih banyak alasan-alasan lain yang membuat sidang belum juga merajuk ke tahap sidang putusan.
“Sudah hampir dua bulan, Pa ... harus berapa lama lagi mas Biru di penjara,” Kha terus merengek pada Awan.
“Sabar, Kha ... Insya Allah, kalau tidak ada halangan 2 minggu lagi sidang putusan akan dibacakan. Kamu yang tenang, jangan sampai bayi kamu kenapa-kenapa.”
Kha menyandarkan kepala di kursi. Menarik dan membuang napas dengan kasar sembari melemparkan pandangan ke jalanan. Kini kehamilannya sudah berusia 13 minggu, dan belum sekalipun Kha memberitahukan kepada Biru. Bukan tak ingin, hanya saja Kha menanti momen yang tepat untuk mengatakan secara langsung. Sayangnya, momen itu tak kunjung datang. Kha merasa sebenarnya Biru pun sudah mengetahui perihal kehamilan dirinya, terlihat dari setiap kali bertemu di ruang sidang Kha mendapati Biru tengah menatap penuh arti ke arah perutnya yang selalu tertutup hoodie. Meskipun begitu, Kha tetap ingin menyampaikan sendiri kabar bahagia itu.
“Kha ... ponsel kamu bunyi, Sayang.” ucap mama Senja.
__ADS_1
Kha hanya mendesah, lalu meraih gawai dan membaca pesan masuk yang ternyata dari Ummi Alsea.
Teteh jangan lupa besok ada jadwal periksa ke dokter kandungan ya. Di jaga kesehatannya, yang rajin minum asam folat, jangan banyak pikiran ya, Teh.
Pesan dari Ummi Alsea yang selalu bernada sama semenjak kepulangannya ke Jogja. Kha mengusap kembali perutnya yang sudah terasa sedikit lebih tebal di bagian tertentu. Saat melakukan hal itu, Kha selalu termenung memikirkan bagaimana harinya kelak dengan sang calon anak.
“Kenapa, Kha, ada masalah di toko?” tanya Mama Senja.
Kha menggeleng, “enggak, Ma, cuma pesan dari Ummi ngingetin besok ada jadwal pemeriksaan.” jawab Kha.
*****
Kha mematung di tempat, menatap dirinya sendiri di cermin. Sesekali ia tarik gamis ke belakang pada bagian perutnya yang masih terlihat rata. Ia baru pulang dari dokter kandung di temani Mama Senja, kata dokter janin di dalam rahimnya sudah berusia 13 minggu. Hari ini, untuk pertama kalinya Kha mendengar suara detak jantung bayi melalui fetal doppler. Menyadari ada kehidupan lain di dalam perutnya membuat Kha takjub hingga berlinang air mata. Ia sampai meminta rekaman suara detak jantung bayinya untuk disimpan sendiri.
Kha senyum-senyum sendiri sembari terus memutar ulang suara tersebut. Andai saja Mas Biru dapat mendengar ini.... Kha mengernyit. Tiba-tiba sebuah ide terlintas begitu saja, ia keluar dari kamar dan berjalan cepat menuju studio photo mencari Gentar.
__ADS_1
“Assalamualaikum Mas Fadli ada Bang Gentar, gak?” tanya Kha.
“Waalaikumsalam. Gentar lagi ada pemotretan di hotel Baliqui, Kha. Kamu butuh sesuatu?”
Kha memberikan ponselnya pada Fadli, “bisa minta tolong pindahkan file ini ke portabel mp3 player nggak, Mas?”
“Musik?”
“Bukan musik sih, tapi rekaman suara.”
“Ya, oke aku coba. Nanti kalau sudah aku kasih ke kamu.”
Kha kembali ke toko bunga dengan hati berbunga. Ia naik ke kamar sembari terus mengelus perutnya, tak lupa Kha membawa setangkai bunga baby's breath kering.
Ia duduk di meja rias, menarik selembar kertas dari binder dan pulpen. Kha ingin menulis surat untuk Biru, membagikan kabar bahagianya meski secara tidak langsung.
__ADS_1