Dear Khadijah

Dear Khadijah
pertemuan tanpa penyesalan


__ADS_3

60. pertemuan tanpa penyesalan


Kha tiba di kantor polisi bersama kedua mertuanya. Mulanya ia dibawa ke lobi utama untuk registrasi, kemudian menuju lantai dua ke ruangan yang terdapat tulisan R. PERIKSA. Ruangan berukuran sempit, dinding tanpa cat dan hanya ada dua kursi di bawah meja yang berseberangan, terkesan horor bagi siapa pun yang baru pertama kali berada di tempat itu.


Sebenarnya Kha merasa tidak nyaman berada di satu ruang dengan pria lain, akan tetapi ia harus taat hukum dengan mengikuti prosedur pemeriksaan. Tak selang lama, seorang berseragam masuk menenteng sebuah laptop. Petugas yang akan menginterogasinya menjentikkan jari ke arah cctv juga jendela kaca berwarna hitam di depannya.


Interogasi pun dimulai....


“Ibu Aishleen Khadijah, istri dari Albiru Adityawarman. Hari ini akan kami wawancarai anda sebagai saksi berkaitan dengan dugaan pembunuhan yang dilakukan oleh saudara Albiru. Apakah Anda bersedia?” tanya petugas penyidik.


Kha mengangguk perlahan dan menjawab lirih, “insya Allah, saya bersedia.”


Setelah Kha membubuhkan tanda tangan pada selembar berkas, ia pun mulai di cecar dengan berbagai pertanyaan tentang apa-apa saja yang terjadi pada malam itu. Mulai dari pertanyaan yang bisa dengan mudah ia jawab, sampai pertanyaan berulang yang hampir membuyarkan fokusnya.


3 jam berlalu, puluhan pertanyaan sudah dilemparkan padanya. Namun, belum juga ada tanda-tanda interogasi akan diakhiri. Sesampainya Kha memberikan pernyataan dengan lugas dan lantang mengenai apa yang ia lihat dan ketahui pada malam itu, barulah petugas penyidik menyudahi sesi wawancaranya sebagai saksi.


“Alhamdulillah ....” gumam Kha


Ia keluar ruangan, menghampiri Awan dan Senja yang menunggu di lantai satu. Ternyata di sana sudah ada Barid, Acha, Pak Agus, juga Gentar yang juga akan menjalani pemeriksaan seperti dirinya.


“Sudah, Kha?” tanya Awan. Kha mengangguk meski sebenarnya ia sangat lelah.


“Sudah, Pa ....” jawabnya.


Senja menyodorkan air mineral, ia pun menyelipkan botol ke dalam cadar untuk diminum. “Capek banget ya, Nak? Kamu pusing?”


“Nggak, Ma, cuman lemes dikit.” jawab Kha


“Kamu duduk dulu, tunggu sebentar lagi ada petugas yang bawain barang bawaan kamu, tadi habis di periksa dulu barang-barangnya. Setelah itu kamu ikutin petugasnya saja buat ketemu Biru.” ujar Awan.

__ADS_1


“Papa sama Mama nggak ikut ketemu mas Biru?”


“Jam besuk terbatas, Nak, mama sama Acha juga mau di periksa, ‘kan. Kamu nikmati waktu sama Biru ya, kalau sudah selesai ada Barid sama Gentar tunggu disini.”


Awan pergi setelah mengantarkan dirinya menuju ruang besuk tahanan. Ruang besuk kali ini berbeda jauh dari sebelumnya. Jika sebelumnya ia bisa berhadapan langsung, kali ini ia dan Biru terpisah antara sekat kaca dengan banyak lubang kecil.


Kha menyerahkan papperbag pada petugas yang akan membawakan kepada Biru, kemudian masuk ke ruangan sempit itu. Ia gelisah menunggu kehadiran Biru, takut apabila ia tidak dapat menahan diri untuk bersikap legowo agar tak membebani suaminya. Belum juga reda gemuruh di dadanya, Biru muncul dari pintu di ruangan seberangnya.


Kha terdiam sejenak. Tampilan Biru menggunakan pakaian tahanan sungguh membuat hatinya terluka. Apalagi ia melihat ada luka di sudut bibir Biru yang sudah setengah kering. Andai saja Biru tak tersenyum, mungkin air mata sudah lolos dari pelupuk. Segera ia membuang cemas lalu membalas senyuman Biru dengan lambaian tangan.


“Assalamualaikum, Sayang ...,” Biru meletakkan tangan di kaca, ia pun mengikuti dengan menempelkan tangannya.


“Waalaikumsalam, Mas.”


“Kamu sudah sehat?” tanya Biru.


“Habis di periksa sebagai saksi ya? Pasti melelahkan.” desis Biru.


“Tadi capek, tapi capeknya sudah hilang sekarang. Sudah ada obatnya.”


“Mana?”


“Ituuuu.” Kha menunjuk Biru. Suaminya sampai menggelengkan kepala gemas.


Untuk sekian menit mereka terdiam, saling menatap satu sama lain. Tanpa suara, tanpa sentuhan. Mereka melepas rindu lewat sorot mata yang mungkin orang akan terenyuh melihatnya.


“Maafin aku, Sayang. Aku sudah menyulitkan hidup kamu. Harusnya malam itu aku bisa kontrol emosi. Aku benar-benar nggak ada niatan buat membunuh Hendar. Sumpah demi Allah aku, aku--,” Biru menunduk, bahunya naik turun jelas kalau dia sedang menangis.


Berulang kali Kha menghirup napas lalu menghembuskan perlahan. Ia harus tahan agar Biru juga tak menyalahkan diri terus.

__ADS_1


“Kamu nggak salah, Mas. Seandainya malam itu aku berada di posisi kamu, aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku tetap akan menyelamatkan kamu meski harus melukai orang lain,” ujar Kha, “aku tahu kamu hanya ingin melindungi milikmu yang berharga, ‘kan? Iya ‘kan, Mas?”


Kha sangat lega melihat Biru tersenyum mendengar jawabannya. Ya, sudah seharusnya seperti ini. Saling mendukung sekalipun dalam keadaan terpuruk. Seperti itulah tugas sepasang suami istri, saling menguatkan saat berada di titik terendah. Karena titik terendah dalam hidup kita, hanya kita sendiri yang dapat mengatasi.


“Ajari aku seperti kamu, Sayang.” ucap Biru berbisik.


“Seperti apa? Wafer? Yang crunchy di luar lembut didalam?” seloroh Kha.


Lagi-lagi Biru tertawa, kali ini lebih kencang membuat petugas sampai mengintip dari kaca pintu.


“Kamu kenapa jadi receh gini sih, Sayang.”


“Iya, di ajarin sama pria pengecut dan menyebalkan. Eh tapi sekarang sudah nggak pengecut, nyisa nyebelinnya saja.” Biru mengusap kaca yang mengarah wajahnya, buru-buru ia dekatkan wajah lebih dekat.


“Aku sayang kamu, Kha ....” Biru mengecup kaca. Kali ini Kha sungguh tak kuasa menahan air mata yang sudah menggenang sedari tadi. Ia terisak sesaat lalu menghapus air mata dengan cadarnya.


“Oh iya. Aku bawa kabar gembira,” ujar Kha membuat Biru menaikkan alis. Ia mengambil ponsel dari tas lalu menunjukkan video dirinya bersama dua anak kucing, “taraaaaa, ini anak-anaknya Aming, aku kasih nama BHIKA sama KHABI.”


“Aming sudah punya anak?”


Kha mengangguk. “iya, dua! Kamu kaget ‘kan? Sama aku juga, soalnya aku pikir Aming cowok.”


“Yang bikin kaget namanya sih, Sayang. Ternyata secinta itu kamu sama aku sampai nama kucing pakai nama singkatan kita.” ledek Biru.


Kha berdiri berkacak pinggang. Melemparkan tatapan tajam pada Biru yang belum juga berhenti menertawakannya. Sayangnya waktu cepat berlalu, Kha belum sempat membalas ledekan Biru saat petugas mengingatkan bahwa jam besuk telah habis. Mereka pun mengakhiri pertemuan tanpa penyesalan.


Ia tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Untuk memikirkannya saja membuat ia merinding. Tapi dari pertemuan singkat syarat makna itu, Kha berjanji pada diri sendiri. Apa pun nanti keputusannya, ia akan selalu setia mendampingi Biru hingga takdir kembali mempertemukan kembali dengan cara yang unik, selayaknya pertemuan pertama mereka.


-bersambung-

__ADS_1


__ADS_2