
...72. Kun fayakun....
Apa aja yang di beli, Tar?” tanya Biru.
“Banyak! Gue beliin headphone, mikrofon, Audio Interface, Perekam XLR Portabel, sama satu lagi, yang dia bilang mirip saringan teh.”
“Pop filter?”
“Nah, itu! Macem-macem banget kek gitu di kata saringan teh.”
“Lo juga yang edit?”
“Gak lah, kek gak ada kerjaan lain, kerjaan yang lu tinggal aja masih pr banget. Urusan Edit biar Moza kalau nggak ya Fadli.”
__ADS_1
Biru terkekeh mendengar Gentar mengomel karena pekerjaannya terganggu, semua gara-gara Kha yang merengek minta dibelikan peralatan untuk membuat podcast. Bukan hanya itu, Gentar juga cerita jika ia mengaku kesusahan saat mengajari Kha membuat podcast sebab sejak hamil Kha mengalami mood swings luar biasa. Sebentar senang, sebentar sedih, detik berikutnya bisa-bisa sudah nangis meringkuk di pojokan studio.
“Dengerin aja deh, tuh ocehan bini Lo yang udah sukses bikin gue mumet!” ucap Gentar kesal.
Biru memasang earphone lalu memutar file yang Kha kirim ke email Gentar.
“Hai Mas, Assalamualaikum ... Ketemu lagi sama aku,” sapa Kha di pembukaan podcastnya, “eh, kok ketemu sih, salah ya! Maksud aku, ketemu lagi sama suara aku.”
Biru ikut tersenyum saat mendengar suara Kha tertawa pelan.
“Oiya, Minggu lalu kita udah buat acara empat bulanan buat our baby, loh. Aku seneng banget semua keluarga bisa datang. Sampe nini sama aki juga datang dari Bandung. Nini bilang pengen ketemu kamu, tapi sayangnya gak bisa lama-lama di Jakartanya. Nanti kita jalan-jalan ke Bandung ya, Mas. Ke tempat Aki sama Nini, ketemu sama ateu Nahda juga, Mas 'kan belum kenal mereka. Nanti aku kenalin suami aku yang paling ganteng ke keluarga di Bandung.” ucap Kha di sambung dengan tawa lirih.
“Kemarin saat acara ngapati, ustadzah yang ceramah bilang kalau saat janin berusia 120 atau 4 bulan, itu adalah waktu janin di tiupkan ruh. Kebayang gak sih, Mas, di perut rata aku ada amanah yang hidup dan sedang tumbuh. Aku juga di saranin buat baca-baca surat buat anak kita. Seperti surat Luqman, Surat Al-Mu’minuun ayat 12-14, Surat Yusuf ayat 1-16, Surat Maryam ayat 1-15 atau keseluruhannya, dan Surat ar-Rahman ayat 1-78. Bantuin baca buat anak kita dari sana ya, Mas.”
__ADS_1
“Mas ... Kalau kamu belum mau ketemu aku, aku gak apa kok. Aku bakal tetep jagain anak kita dengan baik. Alhamdulillahnya anak kamu Baik, dia gak pernah bikin ibunya susah. Nggak bikin ibunya mual, atau ngidam yang aneh-aneh. Eh, ngidam sih kayaknya, soalnya sejak hamil aku suka makan garang asem.” ujar Kha sembari terkekeh.
“Tapi kamu juga janji sama aku ya, Mas. Jangan pernah menyalahkan diri kamu atas apa yang sudah terjadi, yakinlah itu semua sudah kehendak Allah. Tetap percaya diri seperti Mas Biru yang aku temui pertama kali. Harus tetap percaya akan kinerja Kun fayakun.”
“Bye, Mas ... Sehat selalu ya, Wassalamu'alaikum.”
Biru menutup podcast dengar tetesan air mata. Suara Kha yang di iringi sentuhan backsound instrumental musik klasik membuat pikiran Biru tenang kala mendengarkan.
Satu hal yang Biru baru sadari tentang istrinya, selain cantik, lembut, pandai menyembunyikan kesedihannya, dan sabar, ternyata Kha juga pintar juga kreatif. Memiliki banyak ide untuk melakukan sesuatu yang ia ingin. Sepeti sekarang ini, bak peribahasa banyak jalan menuju Roma, tak di beri izin untuk datang ke lapas pun ia bisa membuat podcast agar tetap terhubung dengannya.
Namun, kenyataannya tetap tak dapat mengikis gunungan ke khawatiran yang Biru rasakan. Semua hal yang berkaitan dengan status dirinya dan anaknya, ia benar-benar takut akan menjadi masalah di kemudian hari.
Bagaimana bisa ia tak khawatir, memikirkan gelar yang akan anaknya sandang setelah lahir nanti membuat Biru sangat miris. ‘Anak mantan narapida’ atau bahkan masih berstatus sebagai ‘narapida’. Begitu berat beban yang Biru beri untuk anak mereka. Meski Kha sering mengatakan bahwa dirinya adalah pahlawan yang telah menyelamatkan nyawa Kha sekaligus anaknya, tetap tak membuat Biru berbangga diri.
__ADS_1
“Ya Allah, hamba butuh Kun fayakun-Mu sekarang.” gumam Biru sembari mengusap kasar wajahnya.