
Sore hari di kamar pribadi Amelia, terpampang dengan jelas foto dan manik-manik milik Amelia waktu dia masih tinggal di kerajaan Red Blood.
Cyrus merenungkan semua hal yang telah terjadi selama ini, mulai dari dia baru lahir hingga sampai saat ini. semua kenangan manis dan pahit itu tidak akan pernah dia lupakan.
“Tok.. tok… tok… tuan muda, boleh kami masuk?”
Cyrus tersadar dari renungannya, “Ya, masuklah.” ucap Cyrus dengan nada datar.
Beberapa pelayan yang mengantar Cyrus tadi kini telah masuk ke kamar Cyrus. “Apa tuan muda sudah mengganti pakaian?” ucap salah satu pelayan.
“Lupakan, sesuai perintahku tadi… ceritakan semua tentang ibuku.” Cyrus penasaran dengan masa muda Amelia.
Semua pelayan berusaha menceritakan semua yang mereka ketahui, mulai dari sifat yang layaknya iblis terhormat dan sikap yang membuat semua iblis tunduk kepadanya.
Pelayan-pelayan pribadi Amelia menceritakan semua kenangannya dengan raut wajah bangga dan gembira karena mereka mendapatkan kesempatan sekali seumur hidup untuk melayani tuan putri kerajaan Red Blood.
Beberapa waktu telah berlalu, Setelah semua pelayan menceritakkan tentang Amelia, kini Cyrus penasaran dengan putri mahkota.
“Kenapa Jessica tidak mewarisi putri mahkota ketika ibuku telah tiada?” ucap Cyrus dengan santai.
“Tuan putri Jessica tidak memiliki kekuatan sihir darah tuan muda, hanya iblis dari keluarga Charlotte yang memiliki sihir darah saja yang dapat menjadi raja di kerajaan ini, itu semua sudah menjadi syarat turun menurun dari nenek moyang kerajaan Red Blood.” jawab pelayan dengan jelas.
“Lalu, apa kekuatan Jessica?” tanya Cyrus.
“Dia hanya mewarisi kekuatan dari ibunda ratu, tuan muda… kekuatan tuan putri Jessica adalah memiliki sihir 5 elemen.”
Cyrus hanya diam dan menganggukkan kepalanya, “Mungkin, dia tertangkap oleh prajurit iblis karena baru saja menggunakan portal, sehingga kehilangan banyak mana.” ucapnya dalam hati.
“Tetapi tuan muda, nona Eliza…”
“Sssttt…”
Ketika salah satu pelayan berusaha menjelaskan tentang kekuatan Eliza, pelayan yang lain menghentikan perkataannya.
“Ada apa dengan dia?” ucap Cyrus sambil melirik pelayan itu.
“Ampun tuan muda, saya salah…” ucap pelayan itu dengan tubuh gemetar dan segera berlutut.
__ADS_1
Disaat kegaduhan yang terjadi di kamar Cyrus, tiba-tiba mereka semua mendengar ketukan pintu dari luar. “Tokk.. tok.. tok… Cyrus, aku masuk.”
Tanpa menunggu waktu lama, terlihat sosok Eliza memasuki kamar Cyrus. Eliza melihat beberapa pelayan sedang berdiri dihadapan Cyrus dan satu iblis sedang meminta maaf ke Cyrus sambil berlutut.
“Sedang apa kalian malam-malam di kamar tuan muda Cyrus?” ucap Eliza dengan cemberut.
“Anu... nona… maafkan kami.”
“Kalian bosan hidup? Apa kalian lupa dengan peraturan di kerajaan ini?” ucap Eliza dengan membentak.
“Peraturan apa yang kau maksud Eliza? Aku yang memerintahkan mereka untuk masuk ke kamarku.” ucap Cyrus yang sedang membela pelayan pribadi Amelia.
Mendengar Cyrus sedang membela pelayan itu, membuat Eliza melipat kedua tangannya ke depan dan memasang raut wajah cemberut.
“Se-sebenarnya… Para pelayan dilarang masuk ke kamar keluarga kerajaan ketika malam hari kecuali pelayan pribadi, tuan muda.” Ucap salah satu pelayan sambil menundukkan kepalanya.
“Aku kan anak kandung Amelia, jadi tidak masalah jika kalian berada disini.” ucap Cyrus dengan nada datar.
“Tetap saja tidak boleh, Cyrus…” jawab Eliza dengan cepat.
Karena Cyrus tidak ingin membuat keributan, kini dia berkata. “Baiklah, kalian boleh pergi… Jika kalian di hukum, aku tidak akan tinggal diam.” ucap Cyrus dengan tenang.
Setelah para pelayan pergi, Cyrus segera berbaring tidur di kasur empuknya. “Kau… kau bahkan tidak…” ketika Eliza belum selesai menyelesaikan perkataannya, Cyrus memotong perkataan Eliza. “Berisikk… aku mengantuk.” ucap Cyrus sambil memejamkan matanya.
Malam telah berganti pagi, Matahari mulai menyinari planet Allstar. Terlihat Cyrus sedang berbicara dengan beberapa pelayan. “Dimana tempat monster di daerah sini berada?” tanya Cyrus ke pelayan itu.
“Di dekat sini terbilang sangat aman tuan muda, kita harus berjalan kearah selatan selama tiga hari agar dapat menemukan kerajaan monster…”
“hm, sejauh itu?” Cyrus mengelus dagunya sambil berfikir.
Karena planet Allstar lebih besar daripada planet Pixma tentu saja jarak untuk pergi ke sarang monster sangat jauh, karena kerajaan Red Blood telah berhasil membunuh dan mengusir mereka agar wilayah iblis Red Blood lebih aman.
Kemudian Cyrus melanjutkan perkataannya, “Baiklah, kau boleh pergi.” ucap Cyrus sambil meninggalkan pelayan itu.
“Baik, tuan muda.”
Setelah pelayan itu pergi, Cyrus menggunakan telepatinya ke Buldog. “Buldog, siapkan perlengkapan kalian dan bersiap untuk berburu monster di planet ini.” ucapnya dalam telepati.
__ADS_1
“Baik tuan.” jawab Buldog.
Beberapa menit telah berlalu, kini Brush dan keluarga Buldog datang ke kamar Cyrus. “Tok… tok… tok.. Master, saya datang.” ucap Brush di balik pintu.
“Masuklah…”
Brush dan keluarga Buldog memasuki kamar Cyrus, mereka telah bersiap dengan perlengkapan yang seperti biasa mereka gunakan ketika melawan monster di planet Pixma.
“Buldog, apa kau masih mengingat tempat-tempat monster disini berada?” Cyrus bertanya ke Buldog karena dia memang berasal dari planet Allstar.
“Tentu saja tuan, bahkan aku juga menyimpan dendam dengan mereka.” ucap Buldog sambil menunjukkan taringnya.
“Bagus… kalian berdua pergilah kesana dan lakukan sesuka hati kalian dengan monster-monster disana.” ucap Cyrus sambil tersenyum kecil.
Buldog terkejut dengan perintah Cyrus, “Tapi tuan, mereka sangat kuat…” Mendengar jawaban Buldog membuat Brush berkata. “Aku akan mencobanya tuan… bagaimanapun aku ingin menjadi kuat dengan cepat agar bisa membalas dendam.” ucap Brush dengan penuh semangat.
Buldog terkejut dengan ucapan Brush, “Kau bisa mati muda, bocah.” Buldog berbicara dengan Brush dengan nada tinggi untuk memperingatkan partnernya.
“Jika musuhku kuat... aku akan menjadi lebih kuat darinya ketika aku berhasil mengalahkannya.” ucap Brush yang berusaha meyakinkan Buldog.
“Ahh, terserah kau bocah…” ucap Buldog.
Melihat tingkah mereka berdua, membuat Cyrus tertawa dan berkata. “Hahaha kalian… pergi dan kembalilah sebelum perjanjian satu bulan selesai.” ucap Cyrus sambil tertawa.
“Baik tuan.”
“Baik master.”
Ketika mereka berdua membalikkan badan, Cyrus melanjutkan ucapannya. “Tunggu, bawa ini bersama kalian…” Cyrus memberikan sejumlah besar koin emas dan beberapa potong daging ke Brush dan Buldog.
“Tapi tuan, saya tidak berharap mendapatkan ini bahkan saya tidak pantas membawa uang sebanyak ini…” ucap Brush.
“Ambil dan gunakan sesuai kebutuhan kalian. Jangan lupa, ketika kalian kembali ke istana ini… bawakan aku inti monster yang cukup memuaskan.” ucap Cyrus.
“Baik dan Terima kasih, master…”
Brush dan keluarga Buldog pun pergi meninggalkan istana, sedangkan Cyrus melihat mereka dari jendela kamarnya dan berkata, “Shadow, ikuti dan bantu mereka disaat dalam keadaan terdesak.” Perintah Cyrus ke Shadow yang berada dalam bayangannya.
__ADS_1
“Sesuai perintah anda, yang mulia.” Bayangan hitam dibawah kaki Cyrus pun pergi meninggalkan Cyrus dan terlihat sedang bergabung ke kaki Brush tanpa mereka sadari.
Cyrus berada di kamar pribadi Amelia sendirian sambil berkata, “Hanya menunggu waktu, ayah… ibu...” ucapnya dengan tatapan menatap langit.