Demon Emperor

Demon Emperor
Ch.69 - Kedatangan Brush Di Xavier


__ADS_3

Pertandingan gelombang pertama pun kini telah dimulai, keenam kelompok tersebut bertanding secara bersamaan didalam hutan terlarang, tetapi disisi yang berbeda.


Pertandingan turnamen tersebut sama persis seperti sebuah perang antar kerajaan yang mengandalkan strategi-strategi yang cerdik dan pintar, serta kekompakkan sebuah kelompok juga diperlukan.


Tetapi yang membuatnya tampak berbeda yaitu tidak ada korban jiwa, tumpukkan batu yang disusun dengan rapi dan kokoh itu diibaratkan sebuah kerajaan, sebuah perang serta pertarungan sengit yang hanya berjumlah 100 prajurit disetiap kelompoknya.


*


*


Disaat bersamaan dengan turnamen tersebut, disisi lain dibenua selatan kerajaan Xavier. Saat ini Brush dan pasukannya telah menginjakkan kakinya didalam wilayah kerajaan Xavier.


Sejauh mata memandang, tersorot dengan jelas pemandang ribuan tatapan sepasang bola mata yang tertuju kearah Brush dan bawahannya.


Manusia-manusia itu terpaku melihat kedatangan sekumpulan sesosok ras iblis didalam wilayah kerajaannya, diwaktu yang saat ini terbilang rawan dengan perang melawan kerajaan manusia lainnya.


“Kenapa iblis-iblis itu datang kesini?”


“Aku tidak tahu… bahkan prajurit kerajaan juga mengawal mereka…”


“Apa yang sebenarnya sedang terjadi!?”


….


….


Suara bisik dengan nada pelan itu keluar dari mulut penduduk kerajaan Xavier, mereka semua saling bertukar pertanyaan tentang niat dan tujuan kedatangan sekelompok iblis didalam wilayah kerajaannya.


Bahkan tidak hanya menimbulkan rasa penasaran sekaligus bisikan-bisikan yang keluar dari mulut penduduk saja, tetapi sempat menghentikan semua aktifitas seluruh penghuni kerajaan.


Hal ini terjadi karena seluruh penghuni kerajaan Xavier kecuali prajurit yang ikut serta pergi kebenua tengah, mereka semua belum mengetahui situasi, bahwa rajanya yang bernama Lycan itu kini telah bersumpah setia kepada Raja iblis dibenua tengah.


Ditengah-tengah keributan penduduk kerajaan tersebut, seketika mereka dikejutkan oleh sosok manusia laki-laki bermahkota indah, sosok tersebut adalah Raja kerajaan Xavier, Lycan.


“Selamat datang dikerajaan Xavier, Tuan…” Sapa Lycan dengan hormat ke sekumpulan iblis, sambil sesekali ia menengok kebarisan paling belakang, memperkiran jumlah bala bantuan yang datang untuk menyelamatkan kerajaannya.


“Terima kasih.” Jawab Brush dengan nada cepat tanpa ekspresi, pada dasarnya Brush sekaligus bawahannya tidak suka dengan manusia, apalagi mereka adalah manusia benua selatan yang ikut serta dalam kehancuran kerajaan Horns of Hell.


“Tunggu, Tuan… Mohon maaf, apa hanya ini bantuan yang datang? Dimana yang lainnya?” Tanya Lycan dengan pelan dan sopan, ia memberanikan diri bertanya serasa tak memiliki rasa terima kasih dengan bantuan yang datang.


Pertanyaan Lycan itu membuat bawahan Brush merasa geram, seketika reflek cepat salah satu bawahan Brush menjawab dengan nada keras, “Jaga ucapanmu!! Manusia lemah!” Ucapnya sambil menodongkan sebilah pedang kearah Lycan.

__ADS_1


Tingkah laku bawahan Brush tersebut, membuat seluruh manusia disekitaran sana terkejut melihatnya, kemudian berubah menjadi rasa kesal, bagi mereka Lycan adalah sosok raja yang patut dihormati.


“Hei… turunkan senjatamu…” Tunjuk penduduk biasa sambil berkata dengan suara keras, penduduk tersebut memiliki tubuh kekar sekaligus tampang yang garang.


“Prajurit… kenapa kalian diam saja melihat Yang mulia Raja direndahkan seperti ini!? Apa kalian buta!?” Teriak keras penduduk biasa lainnya.


Keributan ketidak tahuan penduduk setempat itu terus berlanjut, hingga sampai ketika Lycan mengangkat tangan kanannya sambil berbicara.


“Tenanglah… tenanglah… tenanglah kalian semua… Mereka akan membantu kita keluar dari masalah internal kerajaan, mereka juga akan membantu kita dari serangan kerajaan lainnya. Iblis-iblis ini adalah pahla… tidak, mereka adalah dewa kerajaan Xavier!”


Raut wajah terkejut para penduduk semakin menjadi-jadi, membuat keadaan dan situasi semakin runyam.


 “Yang mulia… apa yang anda ucapkan?”


“Apa yang anda fikirkan, Yang mulia? Kenapa kita harus menganggap iblis adalah dewa?”


“Hei kalian para iblis, apa yang kau lakukan kepada Raja kami!?”


Keadaanpun membludak tersulut emosi, tidak ada lagi kata sabar yang tertanam dibenak penduduk kerajaan Xavier saat ini.


Setelah beberapa menit pihak Brush terpojok oleh hujatan penduduk, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sosok iblis dengan aura hitam yang mencekik pernafasan, iblis tersebut tiba-tiba muncul dari bayangan tubuh Lycan, dia adalah Shadow.


“Diamlah manusia-manusia lemah!! Apa kalian semua tidak mendengar apa yang Raja kalian ucapkan!?” Ucap Shadow sambil mengeluarkan aura hitam yang mencekik itu, dengan maksud menyelerai suasana disana.


Melihat kejadian didepan matanya ini, membuat Lycan kebingungan dengan keselamatan rakyatnya.


“Tunggu, Tuan… ampuni rakyatku… mereka tidak bersalah, mereka hanya belum mengerti dengan keAgungan Yang mulia raja Cyrus…” Bujuk rayu Lycan ke Shadow sambil berlutut, ia rela menjatuhkan harga dirinya hanya demi keselamatan rakyatnya.


“Baiklah, akanku ampuni kalian.”


Shadow pun akhirnya menghentikan aura yang mencekik tersebut, kemudian Lycan mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Shadow.


“Terima kasih, Tuan… aku berjanji tidak akan terulang kembali kejadian seperti ini…” Seketika Lycan merasakan perasaan lega, ia tidak bisa memikirkan bagaimana jadinya jika aura mengerikan itu terus dirasakan oleh manusia biasa.


“Hm… akanku pegang janjimu!! Selanjutnya tidak ada kata ampun.”


“Baik, Tuan…” Jawab Lycan dengan hormat dan tetap dalam posisi berlututnya.


Sebagian penduduk kerajaan Xavier yang menyaksikan Rajanya sedang berlutut dan meminta ampun kepada ras iblis itu, membuat mereka memiliki perasaan salut dan kagum, sebagian dari mereka juga ada yang menganggap Lycan sebagai pengkhianat sekaligus pecundang.


Perasaan salut dan kagum tersebut muncul dari lubuk hati penduduk, karena Lycan yang menyandang gelar tertinggi yaitu Raja, ia rela menghancurkan harga dirinya sendiri demi rakyatnya.

__ADS_1


Tentu saja kejadian seperti ini merupakan hal yang langkah dibenua selatan, karena pada umumnya makhluk bergelar Raja sangat menjunjung tinggi kehormatan dan harga dirinya daripada rakyatnya.


Sedangkan penduduk yang menganggap Lycan sebagai pencundang, rata-rata kepribadian mereka sangat egois dan selalu berperilaku buruk.


Setelah kejadian ini berlalu, akhirnya Lycan mempersilahkan Brush dan lainnya untuk masuk kedalam istana kerajaan untuk merencanakan sebuah strategi sembari beristirahat karena telah melakukan perjalanan jauh.


*


*


Disisi lain didalam benua tengah, saat ini pertandingan turnamen kerajaan Quiet Night sedang berlangsung, ditengah-tengah pertandingan yang seru tersebut tiba-tiba Cyrus mendapatkan sebuah pesan telepati dari Shadow.


“Yang mulia… Brush dan Buldog serta bawahannya sudah sampai dikerajaan ini.”


“Hm… Hanya melaporkan itu? Kau mengganggu waktuku, Shadow!” Ucap Cyrus dengan nada sedikit kesal.


Cyrus tidak habis fikir dengan jalan fikiran Shadow, hanya tentang kedatangan Brush dikerajaan Xavier saja, sampai harus repot-repot melaporkan kepadanya.


“M-mohon ampun, Yang mulia… H-hamba tidak bermaksud mengganggu waktu Yang mulia… tapi Lycan menanyakan tentang bala bantuan yang anda berikan…” Jawab Shadow dengan mulut gemetarnya, ia sangat ketakutan mendengar Cyrus berkata dengan nada kesal kepadanya.


“Oh begitu… kenapa kau tidak berbicara dari awal? Jika kau bicara dari awal, kau tidak mungkin mendapatkan hadiah rasa kesal dariku…” Ucap Cyrus sambil tersenyum kecil, seolah-olah menunjukkan perasaan yang tidak bersalah.


“Mohon ampun, Yang mulia…”


“Baiklah-baiklah… Beritahu Lycan… pasukan Brush memang sedikit jumlahnya, tetapi mereka mampu menghancurkan satu kerajaan dan bertarung tanpa lelah!” Ucap Cyrus dengan rasa kepercayaan yang tinggi.


Meskipun pasukan Brush saat ini lemah, tetapi mereka mampu bertarung 7 hari 7 malam tanpa henti. Hal tersebut terjadi karena stamina pasukan Brush yang tak kunjung habis, selama mereka masih memiliki kontrak Troops Leadership dengan Cyrus.


“Baik, Yang mulia. Mohon izin undur diri…”


“Tunggu, Shadow… Bagaimana kondisi disana?” Tanya Cyrus sambil memperhatikan jalannya pertandingan.


“Mereka masih belum bergerak, Yang mulia.”


“Pancing mereka untuk segera bergerak… aku sedang membutuhkan poin kehormatan untuk berjaga-jaga…”


”Baik, Yang mulia…”


Setelah berkomunikasi dengan Shadow melalui telepati, hanya dalam jangka waktu sekitar 10 detik, tiba-tiba ditelinga Cyrus terdengar suara keras sekaligus hembusan angin cukup kencang akibat sebuah ledakan sihir didalam arena pertempuran.


*Deeemmbbb... Duarr…*

__ADS_1


Seketika kobaran si jago merah menghiasi pemandangan hutan terlarang.


__ADS_2