
“Isabel… Kenapa kamu kesini!? Cepat kembali bersama ibumu di dalam istana!!” Jawab Lycan dengan raut wajah panik sekaligus kebingungan dengan kehadiran sosok putrinya.
Gadis cantik tersebut tidak lain adalah anak tunggal Lycan atau dapat dikatakan sebagai tuan putri kerajaan Xavier.
Tuan putri kerajaan Xavier tersebut bernama Isabella. Parasnya yang cantik dan penampilannya yang anggun, memiliki hati yang lemah lembut sekaligus penyayang.
Isabella pun menjawab pertanyaan Lycan, “Aku tidak akan kembali ke istana kerajaan, jika ayah tidak pergi kesana bersamaku!”
“Tapi aku sedang memimpin perang… Dimana kehormatanku jika aku pergi dari sini, jika para prajuritku sedang perang untuk menjaga kerajaan kita…” Ucap Lycan dengan nada rendah, ia berusaha menjelaskan kepada Isabella agar mengerti bahwa dirinya adalah seorang Raja.
“Tidak ayah… Aku dan ibu mengkhawatirkanmu… Ayo ikut bersamaku pergi berlindung di dalam istana…” Isabella masih bersikeras untuk membujuk Lycan agar ikut bersamanya.
Lycan yang merasa khawatir dengan keselamatan putrinya, kini mulai berusaha lebih tegas kepada Isabella.
“Cepat kembali ke dalam istana kerajaan… Ini perintah dari Raja, bukan perintah Ayah!!” Ucap Lycan kepada Isabella dengan nada tinggi.
Tindakan Lycan tersebut tidak membuat Isabella untuk menyerah kepadanya, justru membuat Isabella semakin menjadi-jadi.
“Jika Yang mulia raja tidak pergi dari sini… Maka aku, sebagai Tuan putri juga tidak akan pergi dari sini!! Aku akan ikut menyemangati prajuritku agar mereka lebih gigih untuk berperang membela kerajaan Xavier!!” Jawab Isabella dengan cepat sambil menekuk kedua tangannya dipinggul.
Lycan pun semakin kebingungan dengan tingkah laku putrinya, ia tidak habis fikir dengan apa yang difikirkan putrinya sehingga berani nekat untuk tetap tinggal dibenteng pertahanan disaat terjadinya perang berlangsung.
Lycan pun seketika merubah sikapnya yang semula tegas dan berkata lantang, kini ia berusaha membujuk putrinya agar lebih lemah lembut.
“Kembalilah ke dalam istana, putriku… Aku mohon…” Ucap Lycan sambil berusaha merayu Isabella agar segera menuruti permintaannya.
Isabella pun menjawab ucapan Lycan, “Tapi, Ay…” Tiba-tiba ucapan Isabella tersebut terpotong, ia berhenti berbicara karena terkejut melihat sebuah cahaya hitam yang berada di sekitar mereka.
__ADS_1
Disaat bersamaan dengan cahaya hitam itu muncul, tiba-tiba Shadow muncul dari bayangan Lycan dan kemudian ia berkata, “Yang mulia raja telah datang…” Ucap Shadow dan kemudian ia memposisikan dirinya berlutut dihadapan cahaya hitam itu.
Setelah keluar dari bayangan, Shadow langsung berlutut dan Lycan pun juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Shadow, mereka melakukan itu dengan maksud untuk menyambut kedatangan rajanya.
Kemunculan Shadow dan tingkah laku yang dilakukan Lycan tersebut membuat Isabella sekaligus petinggi-petinggi kerajaan Xavier terkejut keheranan, mereka kebingungan karena saat ini Isabella belum sepenuhnya memahami apa yang saat ini sedang terjadi.
“Ayah… Berdirilah… kamu adalah seorang Raja…” Ucap panik Isabella sambil berusaha mengangkat tubuh Lycan, tetapi Lycan bersikeras untuk tetap berlutut menghadap kearah cahaya hitam tersebut.
Disaat bersamaan dengan Isabella berusaha menarik tubuh Lycan agar lekas berdiri tetapi tidak berhasil tersebut, kini Isabella kembali bertanya ke Lycan, “Ayah, siapa iblis itu? Kenapa dia muncul dari bayangan kakimu!?”
Lycan pun tidak menjawab pertanyaan Isabella, justru ia malah menyuruh Isabella untuk segera mengikutinya untuk berlutut sesuai apa yang ia lakukan saat ini.
“Diamlah dan cepat berlutut… Ingat Isabella, jaga ucapanmu dan jangan pernah menyinggungnya…” Ucap Lycan dengan hati berdebar kencang, tanpa memalingkan wajahnya kearah Isabella dan pandangan matanya tetap mengarah ke bawah seperti budak yang tunduk kepada tuannya.
Isabella pun tidak menuruti permintaan Lycan, ia masih tetap berdiri dan berusaha menjaga kehormatannya sebagai tuan putri.
Sosok tersebut tidak lain adalah Cyrus, Eliza dan Que. Mereka bertiga berhasil dengan mulus berteleport dari benua tengah menuju benua selatan.
“Selamat datang, Yang mulia…” Ucap Lycan dan Shadow secara bersamaan.
Disaat bersamaan dengan ucapan mereka berdua, para petinggi kerajaan itu juga terkejut dengan kedatangan Cyrus dan juga tindakkan yang dilakukan oleh Lycan.
Mereka tidak habis fikir dengan Lycan, karena tidak seharusnya menyambut seorang tamu dengan cara berlutut dan juga memanggil tamu tersebut dengan sebutan Yang mulia, bagaimanapun juga Lycan adalah seorang Raja dikerajaan Xavier ini.
Tetapi terkejutnya para petinggi kerajaan Xavier itu tidak sebanding dengan rasa terkejutnya Isabella.
Bagi Isabella ini adalah sebuah hinaan bagi kerajaan Xavier, karena Lycan atau ayahnya itu adalah seorang raja, bagaimana mungkin seorang raja bersedia menyambut kedatangan tamu sambil menyebutnya dengan sebutan ‘Yang mulia’ sekaligus bertekuk lutut dihadapan para petinggi penting kerajaan Xavier.
__ADS_1
“Ayah… Apa yang kamu lakukan!? Dimana harga dirimu!? Dimana harga diri kerajaan kita!?” Teriak kesal Isabella kepada Lycan, bahkan mata Isabella sampai-sampai berkaca-kaca karena menahan emosi yang tidak bisa ia luapkan.
Setelah berkata demikian Isabella kembali berkata, tetapi kali ini bukan ke Lycan tetapi ke Cyrus. “Hei kau iblis!! Siapa kamu!? Apa yang kamu lakukan kepada ayahku!? Tidak pernah aku melihat ayahku bertekuk lutut dihadapan makhluk seperti ini!!” Teriak lantang Isabella sambil menunjuk kearah Cyrus, seolah-olah saat ini seperti Isabella sedang menantang Cyrus.
Cyrus pun tidak menanggapi ucapan Isabella, bahkan ia juga tidak menjawab ucapan Lycan maupun Shadow, malahan Cyrus melangkahkan kakinya melewati semua orang dengan tatapan dingin dan tegak sambil berjalan ke tepi benteng untuk melihat jalannya perang yang terjadi diluaran benteng pertahanan kerajaan Xavier.
Sikap yang ditunjukkan oleh Cyrus tersebut, membuat Isabella sangat geram dan membuatnya marah, hal ini tampak jelas terlihat dari raut wajah yang ditunjukkan Isabella.
Isabella pun mengepalkan telapak tangannya dan menggemeretakkan giginya, kemudian ia mengambil ancang-ancang untuk melepaskan suaranya dengan sangat kencang.
“Hey… Ka…” Ketika Isabella berusaha berteriak, tiba-tiba terhenti karena pergerakan Que yang datang menghampiri dirinya.
Que menghampiri Isabella sambil membuka mulutnya lebar-lebar, seolah Que ingin menyerang dan menelan Isabella hidup-hidup, tetapi pergerakkan Que tersebut terhenti karena ucapan dari Cyrus.
“Jangan lakukan itu… Dia menarik…” Ucap Cyrus sambil membelakangi mereka semua dan tetap melihat kearah luar benteng, menyaksikan prajuritnya bertarung melawan musuh.
Pergerakan Que pun terhenti dan mematuhi perintah Cyrus, sedangkan Eliza saat ini benar-benar ingin membunuh Isabella, karena sebenarnya tindakkan Que tersebut karena murni perintah dari Eliza.
Meskipun Isabella tidak jadi diserang oleh ular perak Que yang berukuran sangat besar itu dan yang semula emosi dengan tingkah laku Cyrus itu, seketika perubahan Isabella berubah 180 derajat.
Perubahan tersebut terlihat dari raut wajah Isabella dan juga tubuhnya yg gemetar ketakutan, ia menatap Que dengan rasa ketakutan karena nyawanya baru saja terancam.
Bahkan raja Lycan dan para petinggi kerajaan juga merasakan hal yang sama, mereka semua merasa ketakutan dengan keselamatan Isabella.
Ditempat tersebut seketika keadaan menjadi hening menakutkan, setelah beberapa detik kemudian terdengar suara Cyrus sedang berkata.
“Hentikan itu Eliza… Musuhmu bukanlah yang berada disini, tetapi disana…” Ucap Cyrus dengan tenang sambil memperhatikan ratusan ribu prajurit yang sedang berperang.
__ADS_1