Demon Emperor

Demon Emperor
Ch.60 - Ular Perak 'Que'


__ADS_3

Dalam benak Cyrus kepribadian Eliza saat ini sangat jauh berbeda, jika kejadian saat ini terjadi seperti sekarang pasti Eliza yang dulu telah meminta maaf atas kelalaiannya, tetapi saat ini ia tidak menunjukkan ekspresi apapun dan tetap mempertahankan raut wajahnya yang tenang serta tatapan mata kejam.


“Ah, lupakan…” Gumam Cyrus dengan nada pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Disaat dalam keadaan putus asa, tiba-tiba Cyrus mendapatkan dari kabar gembira dari Shadow, bahwa ia dan ratusan manusia kerajaan Xavier sedang dalam perjalanan menuju benua tengah.


Dengan membawa berbagai macam jenis bahan makanan serta hadiah-hadiah yang akan mereka berikan sebagai tanda bahwa kerajaan Xavier bersedia tunduk dibawah kekuasan kerajaan Quiet Night.


“Kerja bagus Shadow… untuk saat ini biarkan mereka hidup!”  Ucap Cyrus melalui telepati sambil tersenyum bahagia dan perlahan rasa putus asanya mulai pudar.


“Baik, Yang mulia…”


Cyrus membiarkan ras manusia itu tetap hidup, bukan karena ia telah lupa dengan niat balas dendamnya, tetapi Cyrus memiliki rencana yang lebih baik untuk masa depan daripada harus membunuh dan membabi buta semua ras yang ada di planet Pixma.


Setelah semua laporan dan pembicaraan dengan Shadow selesai, kini Cyrus memerintahkan Mino untuk memberikan kabar kepada para jendral bahwa sebentar lagi kerajaan Quiet Night akan kedatangan tamu sekaligus sekutu.


“Pergilah, sebarkan kabar baik ini…”


“Baik, Yang mulia Raja…” Jawab Mino sambil bergerak mundur meninggalkan Raja dan Ratunya.


Eliza yang berdekatan dengan Cyrus, juga mendengar bahwa saat ini mereka akan kedatangan tamu, “Siapa tamu yang kau maksud?” Tanya Eliza sedikit penasaran.


“Manusia… mereka akan segera menjadi batu loncatan untukku.” Jawab Cyrus dengan senyuman sinis yang terpampang jelas diraut wajahnya.


Akhirnya Cyrus menceritakan sedikit tentang tujuan dan rencananya kepada Eliza, dengan harapan agar Eliza bisa membantunya untuk menyempurnakan rancangan strategi kehancuran planet Pixma.


Tentu saja hal ini adalah hal mudah bagi Eliza (ratu Medusa) yang memiliki pengalaman dikehidupan sebelumnya sebagai tanda kejahatan.


Hal ini tentu saja adalah salah satu keahlian Eliza, ia sangat memahami apa saja yang harus ia lakukan disaat bertemu dengan manusia nanti.


*


*


Satu hari telah berlalu, kini Que telah berhasil menyebarkan kabar tentang perintah ratu Eliza agar tidak menyerang iblis yang bernama Brush dan para bawahannya.


Tetapi kabar tersebut berjalan lambat karena sangat luasnya hutan terlarang dan juga banyaknya anak-anak ratu Eliza.


Entah itu sebuah keberuntungan atau memang suatu kebetulan, Que yang sedang berusaha berjalan merayap mengelilingi hutan terlarang dengan membawa amanah untuk menyebarkan kabar, kini ia malah bertemu dengan Brush dan lainnya sedang bertarung melawan beberapa monster berjenis ular, beberapa monster dari banyaknya monster yang bersumpah setia kepada Eliza.

__ADS_1


“Tunggu… Berhenti…” Teriak Que sambil menghampiri pertarungan mereka, berusaha menyelerai pertarungan antara Brush dan monster.


Sebagian bawahan Brush kini terkejut setelah menyadari kehadiran sosok ular perak yang sedang menghampiri mereka, kedatangan Que membuat mereka kehilangan fokus bertarung.


“Ketuaa… ada ular besar yang menuju kesini…” Teriak salah satu bawahan Brush yang berlari menjauh dari Que.


“Sial, melawan monster ini saja belum selesai…” Teriak Brush sambil mencoba tetap fokus bertarung melawan monster dihadapannya.


*Ssssstttt…. Ssssttt…* Suara Que yang terdengar oleh iblis.


Que hanya bisa berkomunikasi dengan para ular dan juga ratunya saja, hal ini karena Que masih tergolong hewan lemah sehingga tidak bisa berbicara dengan bahasa planet Pixma pada umumnya.


Setelah suara ular itu terus berlanjut, tanpa Brush dan bawahannya sadari, kini monster-monster itu berhenti melakukan serangan dan segera beranjak pergi untuk berkumpul dengan Que.


Hal ini membuat Brush dan lainnya kebingungan, seolah-olah mereka melihat para monster dan hewan itu sangat menghormati sosok ular berwarna perak itu.


Pertarungan antara iblis dan makhluk berbagai macam jenis ular itupun berhenti sejenak.


Kini Que dan lainnya sedang bergerombol, terlihat seperti sedang berdiskusi dan bertukar kata satu sama lain.


Que berkata kepada kawanan ularnya dengan bahasa hewan yang tidak dimengerti oleh iblis, “Berhenti bertarung dengan mereka, ini perintah ratu Eliza.”


“Jika tebakanku benar, mereka adalah Brush dan bawahannya yang sedang berlatih disini atas perintah raja Cyrus.”


“Tapi mereka menyerang salah satu teman kita…” Jawab monster ular lainnya.


“Diam dan patuhi! Ini perintah ratu Eliza…” Bentak Que sambil membuka mulutnya lebar-lebar, terlihat seperti sedang mengambil ancang-ancang memangsa musuhnya.


Semuanya tercengang melihat Que dan perlahan melangkah mundur, tidak ada yang berani membantah dan menjawab ucapan Que karena saat ini ia adalah tangan kanan ratu Eliza.


Setelah amukan Que dan beberapa saat hingga keadaan menjadi lebih tenang, kini Que melanjutkan ucapannya, “Siapa diantara kalian yang bisa berbicara dengan mereka?” Que menunjuk Brush dan lainnya dengan ekor mungilnya.


“Aku…” Jawab salah satu monster ular yang memiliki level tinggi.


“Bagus, ikut aku kesana dan terjemahkan ucapanku dengan bahasa iblis.”


Que dan salah satu monster ular tadi kini mendekat kearah Brush dan para bawahannya, kedatangan ular perak sepanjang 10 meter dengan ukuran badan seukuran manusia itu membuat bawahan Brush yang terbilang masih amatir itu menggigil ketakutan, mereka ketakutan karena mereka belum mengetahui bahwa sebenarnya monster-monster yang ada dihadapannya adalah rekan mereka sendiri.


Setelah mendekat dalam jarak beberapa langkah dari sekumpulan iblis itu, kini Que bertanya ke sekumpulan iblis dan monster ular menerjemahkan kedalam bahasa yang dapat dimengerti oleh iblis.

__ADS_1


“Apakah diantara kalian ada yang bernama Brush?”


“Aku… Ada apa?” Brush mencoba memberanikan diri menjawab agar terlihat lebih berkharisma dihadapan bawahannya.


Que menoleh kearah sumber suara itu dan kembali berkata, “Namaku Que… aku adalah tangan kanan ratu Eliza dan semua ras ular adalah bawahan ratu Eliza.”


“Hahh!? Benarkah?” Jawab Brush memasang raut wajah terkejut.


“Benar… mulai sekarang jangan bertarung melawan ras ular kami, kita adalah rekan…” Ucap Que sambil melakukan ciri khas ularnya yang menggeliat berkelok-kelok ditempat.


“Ahh, maafkan kami… kami semua tidak bermaksud dan hanya sedang berlatih.” Jawab Brush sambil tersenyum dihadapan ular perak berbadan besar itu.


“Kami juga meminta maaf…” Jawab Que kemudian berpaling menghadap ke ras Ular yang ada dibelakangnya, “Mulai sekarang kita adalah rekan, ini perintah Ratu!”


Kesalah fahaman ini berakhir dan akhirnya kedua belah pihak berpisah dengan damai, tetapi tugas Que belum berakhir sampai disini karena ia harus melaksanakan tugas dari Ratunya untuk menyebarkan informasi tentang Brush kepada ras Ular lainnya yang sedang berada di hutan terlarang.


Kedamaian dan ketenangan ini tidak berlangsung lama karena ditengah-tengah perjalanan untuk menyebarkan informasi, Que bertemu dengan sesuatu hal yang membuatnya terkejut dan sedih, hal tersebut adalah beberapa bangkai ras Ular yang tergeletak diatas tanah.


Mereka semua terbunuh dengan jelas dengan sayatan-sayatan pedang serta bekas tersentuh dengan berbagai macam sihir.


“Ini pasti ulah Brush dan iblis lainnya…” Gumam Que sambil berjalan mengecek semua bangkai yang tergeletak.


Que hanya bisa pasrah melihat peristiwa buruk yang ada dimatanya, bagaimanapun juga hal ini karena ras ular terlambat untuk menyebarkan informasi tentang Brush dan lainnya.


Disaat sedang memperhatikan banyaknya bangkai ras sejenisnya, tiba-tiba perut Que mengeluarkan suara.


*KrucukKrucukKrucuk…Grrrr….* Suara perut Que sedang berbunyi, menandakan ia saat ini sedang kelaparan.


“Que, ingat! Mereka adalah ras ular…”  Ucap Que dalam hati, mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak memakan bangkai sebangsanya sendiri yang tergeletak berhamburan dihadapannya.


Que berusaha menahan rasa lapar dan hawa nafsunya agar tidak memakan bangkai tak bernyawa itu, kemudian ia memalingkan pandangannya dan segera pergi meninggalkan tempat itu.


Que terus berjalan menggunakan gerakan serpentine atau disebut juga sebagai gerakan membentuk pola ‘S’, gerakan ini sering digunakan oleh sebagian besar hewan ular saat mereka bergerak.


Hingga sekitar tiga meter jauhnya Que berjalan, kini ia membalikkan badan dan kembali ke tempat bangkai-bangkai ras ular tersebut dan berkata.


“Maafkan aku teman-teman… Anggap saja ini bayaran dari ratu Eliza yang diberikan padaku, karena sudah melaksanakan tugas darinya dengan baik hihihi….” Ucap Que sambil menundukkan kepalanya dihadapan beberapa bangkai ras ular itu.


Que pun akhirnya tidak sanggup menahan hawa nafsu laparnya dan kini ia menelan mentah-mentah bangkai ras ular yang tak bernyawa.

__ADS_1


__ADS_2