
Tiga hari telah berlalu, kini raja kerajaan Xavier dan beberapa prajuritnya sedang bersiap pergi ke perbatasan, sesuai perjanjian yang telah diucapkan oleh Shadow.
Dengan membawa ratusan kereta pengakut bahan makanan serta beberapa peti harta dan juga budak wanita cantik berkalung rantai di lehernya.
“Yang mulia, semua sudah siap…” Ucap salah satu bawahan Lycan berbicara dengan hormat.
“Kerja bagus.. baiklah, kita pergi sekarang…”
Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan kerajaan Xavier menuju perbatasan antara benua selatan dan hutan terlarang, tempat perjanjian Shadow dengan Lycan.
Selama tiga penuh Lycan terus menerus terbayang-bayang dengan sosok raja iblis di benua tengah yang dengan mudahnya memberikan bala bantuan dengan mudahnya.
Dalam perjalanan menuju perbatasan, sebagian prajurit sedikit penasaran karena mereka malah menuju ke hutan terlarang bukannya menuju ke jalur yang lebih aman.
“Kemana tujuan kita?”
“Aku juga tidak tahu… tapi jalur ini adalah jalur menuju hutan terlarang..”
“Benar… kenapa Yang mulia membawa kita ke hutan terlarang membawa begitu banyak hadiah…”
Bisikan-bisikan para prajurit terdengar samar di telinga raja Lycan, membuatnya hanya tersenyum di dalam kereta kuda yang mewah.
“Ini hanyalah awal dari kejayaan kerajaan Xavier…” Gumam Lycan sambil tersenyum bahagia.
Sesampainya di dekat perbatasan, terlihat oleh para prajurit sosok iblis hitam yang sedang berdiri santai menghalangi jalan prajurit kerajaan Xavier.
Rombongan prajurit kerajaan Xavier sempat terhenti sejenak dan Albert memberanikan dirinya menghampiri sosok iblis hitam itu dan ternyata adalah Shadow.
“Permisi tuan, kami sedang terburu-buru, tolong beri kami jalan…” Ucap Albert sedikit ketakutan merasakan perbedaan kekuatan antara dirinya dengan iblis dihadapannya.
“Hm, panggil rajamu keluar dari sana…” Jawab Shadow tetap berdiri ditempatnya tanpa ada rasa bersalah sambil menunjuk sebuah kereta mewah tempat Lycan berada.
Seluruh prajurit terkejut mendengar ucapan Shadow dan segera bersiaga menodongkan senjata mereka kearah Shadow.
“Beraninya kau bicara seperti itu iblis sialan…”
“Lancang sekali kau…”
Para prajurit kerajaan bersamaan meneriaki sosok Shadow yang dengan mudahnya menyuruh rajanya untuk keluar dari tempatnya.
Sedangkan Albert hanya terdiam kebingungan sambil berkata dalam hati, “Bagaimana mungkin iblis ini mengetahui keberadaan Rajaku yang sedang berada di dalam kereta itu…”
__ADS_1
Setelah mendengar keributan pada prajuritnya, kini Lycan keluar dengan sendirinya dari kereta kuda sambil memastikan keadaan.
“Ada apa ini?” Tanya Lycan ke salah satu prajurit yang ada di dekatnya.
“Didepan sana ada iblis hitam yang menghalangi jalan, Yang mulia…”
“Iblis? Tunggu… cepat turunkan senjata kalian…” Teriak Lycan sambil berjalan menghampiri kerumunan prajurit yang sedang mengepung Shadow.
Seketika semua prajurit menurunkan senjata serta memberi hormat dan menyingkir memberi jalan untuk rajanya.
Albert terkejut melihat rajanya menghampiri mereka serta iblis hitam didekatnya. “Yang mulia… kenapa anda turun dari kereta? Disini sangat berbahaya..”
Lycan hanya mengangkat tangan kanannya menandakan agar Albert untuk diam, kemudian ia terus berjalan menghampiri Shadow sambil menyapanya dengan hangat.
“Aku telah membulatkan tekatku untuk berdiri dibawah naungan rajamu, tuan…” Ucap Lycan dengan sopan dihadapan Shadow. Kemudian Shadow hanya menjawab dengan senyuman manis dihadapannya.
Ucapan Lycan tersebut membuat terkejut semua bawahannya, terutama Albert. “Apa yang anda lakukan, Yang mulia…” Teriak Albert kebingungan sembari memasang raut wajah kesal karena melihat rajanya berkata demikian.
Lycan mengabaikan ucapan Albert dan ia melanjutkan ucapannya ke Shadow, “Maafkan aku dan juga bawahanku yang tidak tahu diri ini…” Ucapnya sambil menunjuk prajurit yang berada di belakangnya.
“Lupakan, mereka akan mengerti dengan sendirinya…” Jawab shadow dengan tenang.
Meskipun permasalahan ini selesai dengan mudah, tetapi para prajurit tidak memahami apa yang ada difikiran rajanya sehingga dengan mudahnya tunduk kepada ras iblis.
Ditengah-tengah perjalanan, rombongan itu melewati jalur antar benua yang terbilang sangat aman jika mereka ingin melakukan perjalanan menuju benua lain.
Tetapi keadaan saat ini sangat berbeda dan tidak seperti biasanya, karena selama ini mereka terus berjalan sambil merasakan berbagai jenis hawa keberadaan monster yang tergolong kuat dan menakutkan.
Dari kejauhan para prajurit sedang merasakan bahwa dirinya sedang diintai dari kejauhan, ibaratkan predator yang sedang mengamati mangsanya.
Keganjalan itu terus berlanjut sampai mereka memasuki jalur antar benua lebih dalam dan berakhir bertemu dengan sekumpulan monster berbagai jenis ular.
“Ada monster…”
“Lindungi Yang mulia raja…”
Shadow mendengar keributan yang dibuat para prajurit dan ia segera keluar dari kereta kuda bersama Lycan.
“Minggir atau mati!” Ucap Shadow sambil mengeluarkan hawa membunuhnya.
“Aku ditugaskan ratuku untuk menjaga benua tengah… Jika kalian ingin lewat, langkahi dulu mayat kami!” Jawab salah satu monster itu yang bisa berbicara dengan bahasa normal.
__ADS_1
Shadow dan pasukan ular Eliza saat ini belum mengenal satu sama lain karena saat Eliza membuka segel, Shadow sedang berada di benua selatan untuk menjalankan tugas dari Cyrus.
Shadow penasaran dengan ratu yang mereka maksud, “Ratu? Siapa dia? Ada hubungan apa dia dengan benua tengah?” Tanyanya dengan raut wajah penasaran.
“Dia adalah satu-satunya Ratu kami, Eliza Charlotte… Ratu dari segala jenis ular.”
Shadow terkejut mendengar pernyataan salah satu monster itu, “Ratu Eliza? Ternyata banyak yang hal terjadi di kerajaan ketika aku pergi…” Ucap Shadow dalam hati sambil tersenyum. Kemudian ia melanjutkan percakapannya dengan monster yang dapat berbicara tadi, “Aku adalah bawahan Yang mulia raja Cyrus, suami sekaligus raja dari ratu kalian…”
Monster-monster itu masih tidak percaya setelah Shadow memperkenalkan identitasnya, tetapi disisi lain mereka juga takut jika rombongan tersebut benar-benar bawahan raja dari ratu mereka.
Hingga salah satu monster berlevel tinggi dan memiliki kecerdasan maju dan memberikan pendapatnya, “Kami akan mengantar kalian sampai ke benua tengah, jika kalian berbohong… jangan pernah berharap bisa menghirup udara segar di kemudian hari!”
Shadow tersenyum setelah mendengar ucapan yang mereka berikan, karena kejadian ini termasuk salah satu bentuk kekuatan dan kekejaman dari kerajaan Quiet Night yang mereka pamerkan dihadapan salah satu raja benua selatan.
Akhirnya rombongan kerajaan Xavier melanjutkan perjalanannya dan dikawal oleh ratusan monster serta hewan berjenis ular. Dengan keringat dingin dan juga wajah pucat yang mereka tunjukan dihadapan Shadow, secara tidak langsung peristiwa ini merupakan teror serangan mental dari kerajaan Quiet Night untuk prajurit kerajaan Xavier.
“Sekuat ini kah mereka… Siapa dia… pemimpin makhluk-makhluk kuat ini…” Ucap raja Lycan dalam hati dengan raut wajah pucat memperhatikan hewan dan monster secara diam-diam dari dalam kereta kuda.
Didalam hati Shadow juga tertawa bahagia melihat raut wajah manusia, yang sedang memasang wajah ketakutan.
“Tenanglah, selama kalian tidak membuat kecewa rajaku dan menghianatinya, hidup kalian akan terjamin…” Ucap Shadow mempertahankan posisi tenangnya dihadapan Lycan.
“Terima kasih… aku akan melakukannya sebaik mungkin.”
*
*
Terlihat dengan anggun sosok wanita berparas cantik dengan tatapan kejam sambil membelai kepala ular perak sepanjang 10 meter dengan lembut, ia tersadar bahwa ada satu hal yang ia lewatkan.
“Que… aku lupa memberitahu anak-anakku untuk tidak menyerang sekumpulan iblis yang sedang berlatih di dalam hutan terlarang.” Ucap Eliza dengan nada santai tanpa merasa bersalah karena lalai memberitahu para ular untuk tidak menyerang Brush dan bawahannya yang sedang berlatih di dalam hutan terlarang.
Disaat bersamaan perkataan santai Eliza dengan Que itu terdengar oleh Cyrus, membuatnya tidak habis fikir bagaimana keadaan Brush dan lainnya saat ini, ketika mereka bertemu dengan jutaan monster dan hewan berjenis ular di dalam hutan terlarang.
Que hanya terdiam setelah mendengar ucapan ratunya, ia tidak berani membalas atau mengucapkan apapun karena hal ini berhubungan langsung dengan raja Cyrus.
Setelah beberapa saat dan sesekali Eliza melihat ekspresi Cyrus, kini ia memberikan perintah ke Que, “Pergilah ke hutan terlarang, sebarkan perintahku untuk tidak menyerang iblis bernama Brush serta para bawahannya yang sedang berlatih disana…”
“Sesuai perintah anda, Yang mulia Ratu.” Jawab Que kemudian meninggalkan Eliza dan istana kerajaan dengan cepat.
Disisi lain Cyrus hanya memberikan senyuman putus asa sambil memegang keningnya dan bersandar pada sandaran kursi singgasana raja.
__ADS_1