
Malam itu, di sebuah aula megah di dalam istana kerajaan, diadakan sebuah pesta debutante untuk beberapa anak bangsawan. Bahkan ada spekulasi kalau putri kerajaan, adik dari sang putra mahkota juga melakukan debutnya, karena tidak biasanya pesta debutante diadakan di aula istana kerajaan.
Di dalam aula besar itu, tampak para bangsawan sedang berbincang satu sama lain, membentuk kelompok-kelompok kecil yang membicarakan berbagai hal, mencari relasi baru. Ada juga yang hanya duduk di sofa yang disediakan di sisi aula sambil menikmati hidangan pesta, bahkan ada yang bersantai dengan kawan atau kekasih di balkon aula.
"Apakah Anda sudah dengar tentang putra ketiga Grand Duke?" Seorang bangsawan membuka obrolan dengan beberapa bangsawan lainnya, "Ya, saya sudah banyak mendengar rumor kalau putra ketiga Grand Duke sangatlah berbakat." Timpal bangsawan lain.
"Kudengar bakatnya tidak hanya dalam sihir, tapi juga dalam berpedang, belum lagi dia dikatakan sebagai pemuda yang sangat cerdas. Bahkan beberapa orang berpendapat bahwa putra ketiga Grand Duke kelak mampu menyaingi kakaknya, si putra kedua." Seorang bangsawan lain ikut dalam pembicaraan.
"Benarkah? Bukankah itu berarti kerajaan kita diberkati dengan dua anugerah?" Lagi-lagi bangsawan lain menimpali.
"Aku setuju, ditambah lagi, menurut salah seorang kenalanku yang bekerja di dalam istana, tuan putri juga menunjukkan bakat sihir yang sangat luar biasa". Entah orang ini sedang membanggakan tuan putri atau dirinya sendiri karena memiliki koneksi di istana kerajaan.
"Ah, bukankah putra ketiga Grand Duke dan putri kerajaan dikabarkan akan bertunangan? Aku yakin ini akan menjadi salah satu pertunangan yang paling menggemparkan sejak berdirinya kerajaan ini". Bangsawan lain yang mendengar perkataannya mengangguk setuju.
Satu persatu tamu undangan mulai hadir, penjaga pintu menyebutkan nama tamu undangan yang melewati pintu. Semua mata tertuju ke pintu aula saat sebuah nama disebut, jika itu hanya bangsawan kelas bawah, mereka hanya melihat sekilas dan kembali berbincang dengan rekannya. Jika nama yang disebut adalah bangsawan tinggi, mereka akan berbondong-bondong menghampirinya untuk memberi salam, mengabaikan rekan bicara mereka.
Saat pesta sudah mencapai puncaknya, ditandai dengan lantunan musik tertentu, seluruh hadirin menghentikan aktivitas mereka. Mereka berdiri menghadap kearah tangga di dalam aula yang terhubung dengan kediaman keluarga kerajaan.
Keluarga kerajaan akan segera memasuki aula.
"Yang Mulia Penguasa Kerajaan Vasilius, Raja Vasileo Xl Edgard Khalinos. Yang Mulia Ratu, Annerose Fiorentina Khalinos. Putra Mahkota Theodor Edgard Khalinos, dan Tuan Putri Isabelle Edgard Khalinos. Memasuki aula".
Para bangsawan menunduk memberi salam penghormatan kepada keluarga kerajaan yang dengan penuh wibawa berjalan menuruni tangga besar di aula.
Keluarga kerajaan duduk di singgasana masing-masing di tempat yang lebih tinggi dari para hadirin, Raja mengangkat tangannya sebagai isyarat para bangsawan bisa mengangkat kepala mereka.
"Semoga kejayaan selalu mengiringi kerajaan kita, bersama dengan kalian para bangsawan kebanggaanku, kita akan menaikkan derajat kerajaan kita, mencetak pencapaian yang tidak pernah dicapai oleh penguasa sebelum kita dan kerajaan lain". Suara sang raja menggema di aula, para bangsawan saling menatap dan mengangguk gembira.
"Dengan begitu di masa depan, kita akan mewariskan kerajaan yang kuat dan bermartabat ke tangan penerus kita, dan kerajaan ini akan menjadi semakin berjaya dibawah kepemimpinan mereka". gumaman semangat dari bangsawan mulai terdengar. Raja mengetuk lantai dengan tongkatnya, seketika semua suara itu menghilang.
"Karena itulah, dalam perayaan malam ini, kita akan mempertemukan penerus kita dengan rekan mereka di masa depan, rekan yang akan saling bahu membahu membangun kerajaan ini menuju puncak kejayaannya". Raja mengangkat gelas emasnya tinggi-tinggi diikuti oleh para bangsawan sambil bersorak dengan slogan kerajaan.
__ADS_1
Musik kembali dimainkan, para bangsawan bersama dengan calon penerusnya satu persatu menyapa keluarga kerajaan secara pribadi.
Beberapa orang mulai berdansa di tengah aula, ada pasangan bangsawan tua, ada juga bangsawan muda yang masih bertunangan, bahkan ada yang baru saling kenal dengan pasangan dansanya.
Seorang bangsawan dengan aura kewibawaan yang hampir setara dengan raja mendekati singgasana keluarga kerajaan, lalu dia menunduk dihadapan raja dan memberinya salam.
"Grand Duke kerajaan Vasilius, abdi setia Raja Vasilius. Theseus Notaras Chevallaire, menghadap yang mulia"
"Duke kerajaan Vasilius, abdi setia Raja Vasilius. Ferdinand Notaras Chevallaire, menghadap yang mulia".
"Grand Duke Chevallaire dan Duke Chevallaire, kalian berdua terlihat gagah".
"Sebuah kehormatan mendapat pujian dari yang mulia, Anda pun terlihat semakin berwibawa dibanding saat terakhir kali saya bertemu dengan Anda". Ucap Grand Duke
Raja mengangguk senang, dia memberi isyarat kepada sang Putra Mahkota.
"Duke Chevallaire, akhirnya kita bisa bertemu secara langsung, kau terlihat cemerlang dan bisa diandalkan, aku berharap kau bisa menjadi rekanku dalam memimpin kerajaan ini di masa depan". Putra Mahkota menyapa sang Duke, calon penerus dari Grand Duke.
"Hmmm ... Aku sudah mendengar kabar tentang putra pertamamu, aku turut berbelasungkawa, andai dia turut berdiri di hadapanku saat ini, masa depan kerajaan pasti semakin gemilang". Ucap sang raja dengan nada bersimpati.
"Sebuah kehormatan yang mulia memperhatikan kediaman kami, saya pun sangat menyayangkan musibah ini yang mulia". Ekspresi Grand Duke sedikit masam saat mengatakan itu.
"Ah, apa yang kukatakan. Malam ini bukan saatnya merenung tentang sesuatu yang hilang, malam ini kita rayakan untuk menyambut yang akan datang. Kau dipersilakan undur diri". Sang raja melambaikan tangannya, Grand Duke dan Duke menunduk hormat sekali lagi dan melangkah mundur perlahan, lalu berbalik dan membaur dengan hadirin lain.
"Sepertinya putra kedua Grand Duke tidak hadir dalam pesta ini, sangat disayangkan". Ujar Putra Mahkota.
"Kudengar Tuan Alfonso sedang sibuk dengan tugas-tugas yang diberikan oleh Grand Duke". Sahut Ratu yang kemudian menoleh kearah Raja yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Apa yang membuat Baginda berpikir begitu keras?" Tanya sang Ratu kepada Raja.
"Bukankah ini aneh? Aku tidak begitu mendengar soal putra pertamanya, tiba-tiba saja dia dikabarkan meninggal". Ujar sang raja kepada keluarga kerajaan yang lain.
__ADS_1
"Itu benar yang mulia, bahkan pemakaman putra pertamanya diadakan secara tertutup, hanya keluarga inti saja yang menghadirinya". Sang Ratu menanggapi.
Salah satu peran ratu sebagai penyokong raja adalah mengorek semua informasi tentang bangsawan, para ratu memiliki jaringan informasi yang telah dibangun sejak awal kerajaan ini berdiri. Hal ini hanya diketahui oleh keluarga kerajaan dan beberapa menteri saja.
Namun ratu tidak menemukan satupun informasi tentang putra tertua Grand Duke, kecuali informasi tentang kelahirannya dan kematiannya.
"Aneh sekali, saya tidak menyangka Grand Duke mampu menyembunyikan informasi tentang putra pertamanya serapat itu, bahkan agen yang berada di kediaman Grand Duke tidak bisa mendapat informasi apapun".
Raja menyandarkan tangannya di singgasana, menatap punggung Grand Duke yang sedang berbincang dengan beberapa bangsawan.
"Namun terlepas dari semua itu, setidaknya Grand Duke adalah bangsawan yang loyal". Lanjut sang ratu.
Salah satu tujuan dibentuknya badan intelejen yang langsung dibawahi oleh ratu adalah sebagai antisipasi jika bangsawan tertentu merencanakan pengkhianatan, sudah beberapa kali terjadi kasus dimana bangsawan dicabut gelarnya dan keluarga mereka menghilang begitu saja entah kemana.
Spekulasi yang beredar adalah bahwa raja adalah dalang dibalik kasus-kasus itu, meski tidak ada satupun yang tahu secara pasti apa alasan raja melakukan hal itu.
"Ratu, apakah memungkinkan untuk menggali informasi lebih dalam tentang putra tertua itu? Sebatas rumor pun tidak masalah". Sang ratu menatap raja, biasanya raja tidak menerima informasi yang sebatas rumor atau spekulasi.
"Jika Anda bertanya tentang rumor, maka ada satu rumor yang menyebutkan bahwa putra tertua meninggal disebabkan oleh penyakit misterius atau kutukan". Raja mendengarkan ratu dengan seksama. "Saya beranggapan bahwa penyebab putra tertua Grand Duke tidak pernah terekspos berkaitan dengan penyakit atau kutukan yang dia derita".
Raja menghela nafas. "Yah, lagipula itu bukan masalah besar, hanya sekedar aneh saja". Ratu mengangguk setuju.
Putra Mahkota dan Putri Kerajaan mendengarkan percakapan antara Raja dan Ratu dengan seksama tanpa sedikitpun berkomentar, sejak masih muda, mereka memang terbiasa mendengarkan topik berat berkaitan dengan kerajaan. Dengan tujuan, mereka bisa membiasakan diri dengan urusan kerajaan dan mampu mempelajari seni pengambilan keputusan sejak dini.
"Mari lupakan itu, Bukankah kalian juga menyadari kalau Count Bellezza bersikap sedikit aneh tadi?" Raja bertanya kepada keluarga kerajaan, mereka pun mengangguk.
"Salam yang kaku, postur yang tidak natural dan bahkan gaya berbicaranya berbeda". Jawab sang Putra Mahkota. Raja dan Ratu mengangguk membenarkan.
Raja mengetuk-ngetuk sandaran tangan singgasananya sambil menatap ke arah Count Bellezza yang hanya berdiri di sisi aula, menatap kosong kearah jendela.
"Sepertinya kita kedatangan tamu tak diundang".
__ADS_1