Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 16: Evaluasi


__ADS_3

"Anak bernama Desmond itu benar-benar menarik," ujar Kepala Akademi setelah melihat pertarungan antara Alex dan Desmond, "Kalau saja dia melawan Brenda, mungkin kita bisa melihat pertarungan yang lebih menarik, Alex hanya bermain-main dengannya." Salah seorang Instruktur menanggapi, Kepala Akademi terlihat setuju dengan perkataannya.


"Dengan begini, kita akhirnya mengetahui kalau bahkan diantara orang-orang dengan kekuatan cahaya, terdapat perbedaan dalam kekuatan mereka." Savier ikut nimbrung percakapan, "Mungkin kedepannya kita harus membuat tingkatan baru, karena diantara lencana emas sekalipun terdapat perbedaan kekuatan yang besar," sambungnya, Kepala Akademi dan Instruktur itu mengangguk setuju, "Kita akan bahas itu di rapat bersama Dewan Akademi, saat ini lebih baik kita tinjau pertarungan barusan. Bagaimana menurutmu, Savier?"


"Kalau Alex dan Ferdinand bertarung, pasti akan lebih menarik, sayangnya kita memilih murid tanpa mempertimbangkan tipe kekuatannya," ujar Savier, "Tapi Theodore sebenarnya punya potensi untuk seimbang melawan Adrian," sambungnya.


"Bagaimana dengan Adrian sendiri?" Instruktur tadi melontarkan pertanyaan, "Adrian itu terlalu broken, kurasa saat ini tidak ada satupun dari anak-anak itu yang mampu mengalahkannya," Savier menjawab, "Pada dasarnya, dia adalah petarung sekaligus strategis berbakat, orang yang dikatakan setara dengan Theodore, bahkan sejak sebelum mereka menerima kekuatan cahaya," sambungnya.


"Lalu kenapa Theodore bisa kalah kalau mereka setara?" Instruktur itu bertanya lagi, "Jelas karena perbedaan tipe kekuatan cahaya mereka, tipe kekuatan Theodore itu peningkatan kekuatan fisik yang meningkatkan kecepatan, jelas tidak sebanding dengan kekuatan Adrian," tukas Savier, "Seandainya saja Theodore bisa lebih cepat sampai Adrian tidak bisa bereaksi, mungkin dia bisa memberi perlawanan yang lebih sengit untuk Adrian." Instruktur dan Kepala Akademi manggut-manggut mendengar perkataan Savier.


"Anda sendiri bagaimana Instruktur Derrantes? Melihat putri Anda dihajar oleh Ferdinand. Kupikir itu bukan pengalaman yang menyenangkan." Instruktur yang ternyata ayah dari Brenda itu tertawa kecil, "Jujur saja itu tadi sangat mengerikan, apa kau tidak mendengarku saat berteriak kalap tadi? Tapi syukurlah siswa itu menangani luka Brenda, aku berhutang padanya."


Savier mengusap-usap dagunya seperti berusaha mengingat sesuatu, "Kalau tidak salah, dia itu Raymond Brigantine ya? Kakak dari Alicia Brigantine." Kepala Akademi mengangguk mengiyakan, mereka adalah kakak beradik yang sama-sama menerima kekuatan cahaya.


"Aku cukup kagum dengan laporan evaluasi awal yang mengatakan dia bisa menyembuhkan luka irisan dengan kekuatannya, tapi melihatnya sendiri itu lebih mengagumkan, terlebih tadi itu bukan sekedar luka irisan." Ucap Kepala Akademi.


Savier dan Instruktur Derrantes mengangguk setuju, orang dengan kekuatan seperti Raymond tentunya akan menjadi bantuan besar di masa depan, "Lalu, bagaimana dengan adiknya?" Instruktur Derrantes bertanya kepada Savier, dia membetulkan kacamatanya sebelum menjawab, "Dia memiliki tipe kekuatan yang sama seperti Theodore, hanya saja lebih ke peningkatan kekuatan fisik daripada peningkatan kecepatan."


"Peningkatan kekuatan fisik ya, pasti kekuatannya sama tidak masuk akal seperti kecepatan Theodore. Memang sekuat apa Alicia ini?" Kepala Akademi bertanya, Savier tertawa kecil, membuat Kepala Akademi dan Instruktur Derrantes menatapnya kebingungan, "Dia melemparkan Man-O-War bermuatan penuh dari daratan ke laut seperti melempar mainan."


"...."


"...."


...****************...


Alex membuka pintu kamar, begitu dia melangkahkan kakinya masuk, sebuah ember berisikan air menimpa kepalanya, membuat bajunya basah kuyup.


"WOHOOO!" Itu suara Alvaro.


"Orang yang mengalahkan Desmond menggunakan air, tidak bisa menghindari ember berisi air! Gokill!" Itu Anford.


Alex melepas ember yang menutupi kepalanya, dilihatnya Anford dan Alvaro yang sedang tertawa terbahak-bahak, bahkan mereka melakukan tos di depan Alex, sementara Adrian duduk di ranjangnya sambil tertawa cekikikan. Nampaknya Adrian lah yang menjatuhkan ember berisi air itu menggunakan kekuatannya, Alex menatap mereka datar, dikumpulkannya air yang membasahi tubuhnya dan yang berceceran di lantai menggunakan kekuatan peri, lalu dia siram tiga orang temannya menggunakan air itu. Anford dan Alvaro langsung basah kuyup, sementara Adrian menahan air itu dengan kekuatannya.


"Kalian yang mulai loh, jangan salahkan aku." Dia berkata kepada Anford dan Alvaro yang basah kuyup dan menatapnya sebal, Alex hanya nyengir puas melihat ekspresi mereka, "Gak asik," gerutu Alvaro, Adrian yang masih merasa terancam tetap mengaktifkan kekuatannya, jaga-jaga kalau Alex ikutan menyiramnya pakai air.

__ADS_1


Tapi ternyata Alex langsung menuju lemari pakaian, dia berganti di kloset lalu menuju kamar mandi untuk mencuci muka, padahal tadi dia sudah cuci muka secara tidak langsung. Setelah itu dia langsung rebahan di kasurnya, Anford dan Alvaro tidak terlihat lagi batang hidungnya, kelihatannya mereka sedang berganti pakaian. Pandangan Alex beralih ke Adrian yang menjulurkan tangannya ke arah lantai dan kasur yang basah karena serangan air Alex, dia sepertinya berusaha meniru Alex yang mengontrol partikel air dari pakaian dan lantai di sekitarnya.


"Ah, tidak bisa." Adrian menyerah, dia terlihat sedikit berkeringat. "Kau bisa membanting Putra Mahkota Vasilius seperti membanting lobak, tapi genangan air bisa membuatmu kelelahan?" Alex mengejek Adrian yang terlihat kesusahan, membuat Adrian mendengus kesal, "Air itu tersusun dari butiran-butiran yang sangat banyak, mengontrol mereka satu persatu sangat susah tau. Lagipula kenapa bawa-bawa lobak? Apa hubungannya?"


"Tidak ada sih, random saja." Jawab Alex sekenanya, percobaan yang dilakukan Adrian tadi membuat Alex berpikir, kalau seandainya Adrian bisa mengendalikan elemen juga dengan kekuatannya, entah dia akan jadi sekuat apa.


Pandangan Alex tertuju pada kantong besar di sisi ranjangnya, dia tidak menyadari kantong itu saat masuk kamar tadi, "Ini apa?" Alex bertanya kepada Adrian sembari membuka kantong itu dan mengecek isinya, "Itu seragam lain, kita akan berganti seragam setiap hari, seragam yang kita pakai tadi adalah seragam untuk hari senin, sisanya ada di kantong itu," Jelas Adrian.


Tadi Alex memang tidak langsung ke kamar setelah kelas bubar, dia terlebih dahulu mampir ke klinik untuk memeriksakan luka di lengan kanannya sekalian melihat kondisi korban terluka. Kondisi Desmond tidak begitu parah, hanya memar-memar di beberapa bagian tubuh, bahkan dia sudah bisa bercanda dengan teman sekamarnya, Alex mengobrol sebentar dengan mereka.


Kemudian dia juga sekilas menengok Theodore yang sedang tidur, seorang dokter sedang memeriksa tubuhnya yang dibalut perban di sana-sini, sepertinya serangan terakhir Adrian sedikit berlebihan.


Yang membuat dia terkejut adalah ternyata Ferdinand juga ada di situ, bahunya mengalami dislokasi karena serangan Brenda. Dia melambaikan tangan ke arah Alex saat melihatnya, "Aku menonton pertandinganmu melawan si gudang senjata berjalan itu, aku jadi ingin melawanmu suatu hari nanti." Ucapnya dengan senyum ramah, Alex hanya nyengir canggung, dia bergidik ngeri teringat kondisi Brenda setelah berduel dengan Ferdinand "Sebaiknya jangan." Setelahnya, dia dipanggil oleh seorang Professor untuk menghadap ke Dewan Akademi.


Brenda ada di klinik khusus murid perempuan, jadi dia tidak bisa melihat kondisinya, tapi kata seorang dokter, tidak ada luka sama sekali di tubuhnya, hanya saja dia masih belum sadarkan diri.


Alex jadi teringat dengan siswa yang menyembuhkan luka Brenda tadi, dia jadi bertanya-tanya siapa nama orang itu, kemampuannya sangat luar biasa, mungkin sama luar biasanya dengan Adrian, meskipun luar biasa dalam hal lain.


Saat kembali dari klinik, dia melihat daftar murid akademi di papan pemberitahuan, menurut yang tertulis di papan itu, ada 50 murid lencana emas, 200 murid lencana perak, dan 600 murid lencana perunggu. Seingatnya ada sekitar 2 sampai 3 murid lencana emas di setiap kelas, di kelas Alex sendiri ada 3 murid dengan lencana emas termasuk dirinya.


Alex membuka enam bungkusan kertas dari kantong besar itu satu persatu, masing-masing bungkusan kertas tertulis hari dipakainya seragam itu. Seragam untuk masing-masing hari memiliki desain yang berbeda, Alex segera memindahkan seragam-seragam itu ke lemarinya.


"Hei, Alex. Sudah waktunya makan malam, mau ke kafetaria bareng?" Adrian berkata sambil beranjak ke pintu kamar, sudah siap menuju kafetaria. Alex mengangguk, dia menyusul Adrian, Anford dan Alvaro yang baru saja keluar dari kamar mandi juga ikut menyusul.


"Kau tadi darimana saja?" Adrian bertanya kepada Alex, membuka obrolan sembari mereka berjalan menuju kafetaria. Alex yang sedang membaca buku panduan akademi yang dipinjamkan Adrian menoleh. "Tadi aku mampir ke klinik sebentar, lengan kanan ku terluka saat bertarung melawan Desmond," ujarnya sambil menyingkap lengan kanannya, memperlihatkan perban yang membalut lengan kanannya.


"Kenapa tidak kau bawa ke siswa yang menyembuhkan Brenda tadi? Siapa sih namanya," Adrian berusaha mengingat-ngingat, "Namanya Raymond Brigantine. Adiknya, Alicia Brigantine kebetulan teman sekelasku." Ujar Alvaro.


"Si Desmond itu kemampuan bertarungnya cukup unik ya, tapi kekuatan cahayanya terkesan biasa saja sih." Alvaro tiba-tiba mengganti topik, sangat tidak nyambung, "Memangnya apa kekuatanmu? Bisa-bisanya bilang kekuatan orang lain biasa saja." Anford menendang kaki Alvaro, membuatnya sedikit oleng, "Kekuatanku agak berisiko kalau aku gunakan disini," sahut Alvaro, dia berusaha membalas tendangan Anford, tapi dihindari dengan mudah.


"Iya, makanya aku tanya, kekuatanmu itu apa?" Anford kembali bertanya, Alvaro masih saja menjawab dengan jawaban yang sama, membuat Anford dan yang lain makin penasaran.


"Argh! Sudahlah! Nanti juga kalian bakal tahu kok! Kau juga, Anford, memang apa kekuatanmu?" Anford nyengir, dia mengambil sapu tangan Alvaro dari saku vest nya dan melemparkan sapu tangan itu ke atas, membuat Alvaro berseru protes, "Hei! Apa-apaan maksudmu?!" Anford tidak memperhatikan Alvaro, dia menyabetkan tangannya yang memancarkan cahaya putih ke sapu tangan itu sampai terbelah dua.


"Orang ini! Jangan pakai sapu tanganku juga lah!" Anford tertawa melihat ekspresi marah Alvaro, dia kelihatannya suka menjahili orang lain, "Itu agak kelewatan sih," Adrian berkomentar, tapi Anford terlihat tidak peduli, "Kan dia punya perusahaan pakaian besar, kalau mau baru tinggal ambil saja di butik-butik milik keluarganya kan." Adrian seperti baru menyadari sesuatu, lalu dia mengangguk-angguk setuju.

__ADS_1


"Ah, sudahlah ... Eh?" Alvaro menyadari sesuatu yang aneh pada bekas potongan di sapu tangannya, "Hei, Anford. Kenapa potongan sapu tanganku terlihat seperti ini?" Dia menunjukkan potongan sapu tangan itu ke Anford. Adrian dan Alex yang penasaran ikut melihat, "Wah, tepiannya gosong." Adrian menunjuk bekas potongan di sapu tangan yang terlihat gosong.


"Aku bisa mengalirkan panas ke seluruh tubuhku, bukan hanya memotong kain, panas ku bahkan bisa melelehkan besi." Anford berlagak sombong, tapi dia lupa kalau dia sombong didepan dua orang yang salah.


"Menarik ya, mau coba bertarung denganku?" Suara itu membuat Anford dan teman-teman sekamarnya menoleh, seketika wajah Anford menjadi pucat setelah melihat siapa yang tadi berbicara. Sekarang dia jadi menyombong di depan dua orang yang salah.


Di belakang mereka, berdiri remaja yang terlihat berusia 15-16 tahun, mata kelabu dan rambut hitam legam itu begitu ikonik saat ini, ditambah senyuman ramah yang justru terlihat mengintimidasi. Adrian mendengus melihat wajah itu, sementara Anford hanya diam membisu dengan keringat bercucuran di wajahnya.


"Ferdinand Notaras Chevallaire." Adrian menatap tajam orang di depannya.


"Ya ampun, coba lihat siapa ini, orang yang membanting Putra Mahkota seperti membanting semangka." Adrian merengut mendengar ucapan Ferdinand, pertama karena nada bicara Ferdinand yang menurut Adrian sangat menjengkelkan. Yang kedua, 'Kenapa orang-orang membandingkan Putra Mahkota dengan sayuran dan buah sih?! Apa hubungannya?!' Begitulah suara hatinya sekarang.


"Siapa namamu?' Ferdinand melontarkan pertanyaan pada Anford yang mematung, dia malah gemetaran saat Ferdinand melontarkan pertanyaan, ingatan dimana Ferdinand menembak kepala Brenda dengan sihir masih melekat di benaknya.


"A-An-Anford." Jawab Anford terbata-bata, Ferdinand terlihat kebingungan karena itu, tapi dia tidak begitu mempedulikannya, "Aku menantikan duel kita di masa mendatang." Ucap Ferdinand dengan senyum ramah, tapi senyum itu terlihat sebagai seringai jahat di mata Anford.


Ferdinand yang tak kunjung mendapat tanggapan dari Anford hanya mengangkat bahunya, lalu mengalihkan pandangan kepada Alex, "Kau tahu? Anak-anak lencana perunggu dan perak membuat voting untuk menentukan siapa orang terkuat di lencana emas berdasarkan pertarungan tadi siang. Yah, meskipun baru enam orang sih."


Adrian nampak tertarik dengan perkataan Ferdinand. "Benarkah? Jadi siapa si peringkat pertama?" Ferdinand tertawa kecil mendengar pertanyaan Adrian, "Orang yang membanting Putra Mahkota seperti membanting semangka." Batin Adrian menjerit, pertama karena dia ternyata tetap yang terbaik di mata para murid. Yang kedua, 'Lagi-lagi semangka! Apa coba?!'.


"Lalu siapa yang peringkat dua?" Giliran Alex bertanya, dia juga tertarik. "Ada perdebatan tentang siapa yang pantas menduduki peringkat dua dan tiga." Jawaban Ferdinand membuat teman-teman Alex makin penasaran ... Kecuali Anford, dia masih terlihat ketakutan.


"Mereka masih memperdebatkan apakah aku yang pantas menduduki peringkat kedua, atau ...." Semua mata tertuju pada Ferdinand, "... Ataukah Alex Collin yang lebih pantas." Ferdinand mengakhiri kalimatnya dengan tepuk tangan.


"Hah? Aku?" Alex nampak tidak percaya dengan ucapan Ferdinand, dia yang seorang rakyat jelata disandingkan dengan Ferdinand yang anak seorang Grand Duke?


"Benar, makanya aku juga menantikan duel denganmu. Yasudah ya, aku mau ke kafetaria, sampai jumpa lagi." Ucap Ferdinand dengan senyum ramahnya, kemudian dia berlalu bersama anak-anak sekamarnya.


"Aku sudah menduganya sih," ujar Adrian, "Ya, hasilnya tidak begitu mengejutkan," Alvaro ikut menanggapi, "Aku jadi penasaran bagaimana kalau aku berduel dengan Ferdinand itu." Ucap Alex.


"...."


"...."


"...."

__ADS_1


"Kalian kenapa?"


__ADS_2