
"Mereka langsung bergerak setelah kita sedikit memancing mereka," Niya memberi laporan kepada Ratu yang sedang santai minum teh di balkon menara kastil, ditemani oleh Great Chamberlain dan juga Rangda.
Ratu mengangguk puas, disamping karena teh buatan Great Chamberlain yang sangat nikmat, juga karena laporan rencana mereka yang berjalan sukses.
"Ini semua berkat kerja keras bawahan Kardinal yang bersedia bertanggung jawab atas kelancaran rencana ini." Kalau saja Kardinal di sini, dia pasti akan meneteskan air mata karena perkataan Ratu.
"Kalau begitu, saya permisi." Niya berlutut, kemudian tubuhnya meletup menjadi dedaunan hijau yang segera tertiup angin, membuat dedaunan itu berserakan di lantai balkon.
"Ya ampun, dia ini bikin kotor saja," keluh Grand Chamberlain, dia mengibaskan tangannya, dedaunan itu seketika menguap, tidak tersisa sedikitpun titik debu.
Ratu tersenyum melihat ekspresi kesal Great Chamberlain, dia menopang dagu dengan kedua tangannya sambil menatap Great Chamberlain.
"Yang Mulia." Teguran Rangda membuat Ratu segera memperbaiki posisi duduknya, kalau sudah terlarut dengan pesona Great Chamberlain, Ratu bakal lupa dengan segala sesuatu.
"Ah, benar juga, kudengar Tesla mengatakan kalau dia juga akan memobilisasi pasukannya." Ratu kembali ke mode Ratu, kali ini dia meminta konfirmasi dari Rangda.
Rangda mengangguk, "Benar, saya sudah menyetujuinya, untuk saat ini kita cukup menggunakan pasukan Kardinal dan Tesla. Bukannya saya meragukan kemampuan pasukan lain, tapi saya pikir masih terlalu dini untuk memobilisasi satuan pasukan hidup."
"Pasukan Sentinel ya, aku pernah melihat beberapa dari mereka di laboratorium Tesla, mereka terlihat cukup tangguh." Great Chamberlain memberi komentar.
Rangda mengangguk, "Dengan tubuh kokoh yang terbuat dari baja dan persenjataan dengan teknologi Tesla yang luar biasa, kupikir mereka cukup untuk menghadapi manusia-manusia itu."
"Tidak mengerahkan pasukan hidup adalah poin yang bagus, kita tidak perlu kehilangan sumber daya yang tidak bisa dibuat ulang." Ratu menyetujui gagasan Rangda, "Walaupun kelihatannya psikopat seperti Niya dan Elric sangat ingin memberantas mereka secara langsung," tambah Ratu.
"Tentu kita akan menyiapkan panggung untuk mereka semua," timpal Rangda, "bahkan ada waktunya bagi saya untuk bergerak."
Ratu mengalihkan pandangan ke Great Chamberlain, "Sepertinya segala sesuatu berpihak kepada kita, kan Gabriel?"
Great Chamberlain tersenyum, mata hitam dengan pupil ungunya bersinar mempesona. "Akan selalu seperti itu, Ratu. Selalu."
...****************...
Kereta uap Alex sampai di tujuan sementara, karena saat ini mereka melakukan transit ke rute kereta uap yang menuju ke sisi tenggara benua.
Walikota beserta jajarannya menyambut mereka di stasiun, setelah bertukar sapaan dan serah terima hadiah, walikota kembali undur diri.
Mereka diberi waktu untuk beristirahat selama satu jam untuk melepas penat dari perjalanan panjang.
"Ahhh ... Punggungku." Desmond meregangkan tubuhnya yang membuat bunyi seperti tulang patah.
Brenda yang melihat itu mengerut, "Kau ini pemuda jompo atau gimana sih?" Desmond balas mendelik ke Brenda, "Hah!?" Mereka saling beradu tatapan sengit, sebagai salah dua petarung jarak dekat terbaik di Kelas Emas, tentu saja dengan mengesampingkan Ferdinand, Theodore dan Alicia, rivalitas terbangun di antara mereka secara alami.
Seorang cowok berpostur tinggi menepuk bahu mereka berdua, "Sudahlah, kita kesini untuk mendinginkan kepala, bukan untuk pemanasan perang."
__ADS_1
Tatapan sengit Brenda dan Desmond beralih ke cowok itu, dia langsung angkat tangan. "Apaan kau pegang-pegang?!" Brenda membentaknya.
Cowok itu kelihatan salah tingkah, kalau dua orang itu betulan kesal dan menghajarnya, dia tidak akan bisa bergabung ke barisan pos tenggara.
"Eh, kalau kalian berantem, bisa-bisa kota ini rusak sana-sini loh." Dia masih saja berusaha melerai mereka.
"HAH?!" Brenda malah makin ngegas, "Si Desmond ini? Aku pasti bisa membuatnya terkapar sebelum pertarungan kami membuat paving ini rusak." Dia menatap kesal cowok itu, tapi jari telunjuknya mengarah lurus ke wajah Desmond.
Desmond malah makin emosi, "Memang orang yang gak bisa menghindari serangan Ferdinand bisa menghindari lemparan puluhan senjataku?"
Brenda jadi makin kesal, "Orang yang kalah karena semprotan air mau coba sok keras?"
"Oh, kamu mau ngerasain semprotan air, Brenda?"
Brenda seketika terdiam, dia menoleh ke belakang, Alex yang tiba-tiba ikutan kesal sudah dikelilingi gumpalan air di sekitar tubuhnya, siap menembak Brenda kapanpun.
"Sudah sudah, kalian mau aku gebuk?" Alicia menunjukkan kepalan tangannya ke Brenda dan Desmond, sekarang mereka betulan terdiam, lalu berjalan menjauh dari satu sama lain.
Cowok tinggi yang tadi melerai mereka tertawa, "Kurasa bahkan diantara Kelas Emas, Alicia sangat ditakuti ya."
"Tentu saja," Alex menimpali, "Bahkan Ferdinand dan aku saja tidak pernah mau berurusan dengan dia, tidak semua orang mau mengambil resiko terkena pukulan yang bisa membuat lima tumpuk balok baja menyatu."
"Wah, kedengarannya sih sangat mengerikan ya, apalagi si nomor dua sudah berkomentar begitu." Alex tertawa mendengar perkataannya, "Apanya sih yang nomor dua."
"Brian! Kau mau ikut kami nggak?!" Sekelompok prajurit memanggil orang yang sedang mengobrol dengan Alex, Cowok tinggi yang bernama Brian itu segera berlari menghampiri mereka.
Mereka pun mulai berjalan keluar stasiun, banner banner berisi sambutan yang disertai karangan bunga terlihat di penjuru kota, beberapa orang bahkan menghampiri mereka sambil memberikan makanan, perlengkapan, bahkan uang.
Sebenarnya mereka berniat menolaknya, karena jika perang benar-benar pecah, orang-orang ini pasti lebih membutuhkan nantinya. Tapi karena orang yang berkumpul di sekitar mereka semakin banyak, mereka jadi tidak mampu menolak semua pemberian itu, bahkan ada yang meletakkan sekantong uang di tangan Brenda dan pergi begitu saja.
Saat kerumunan sudah mulai berkurang, mereka akhirnya bisa bernafas lega, tapi masalahnya sekarang, mereka tidak tahu bagaimana cara membawa semua barang pemberian yang sangat banyak ini.
"Tenang saja, aku punya solusinya." Alicia berjalan ke sebuah toko dan berbicara dengan pemiliknya, beberapa saat kemudian, pemilik toko itu keluar dengan sebuah karung yang besar.
Alicia kembali menghampiri mereka dan meminta mereka untuk memasukkan semua barang pemberian ke dalam karung itu.
"Aku akan membawa ini ke kereta uap, kalian pergi duluan saja, nanti aku menyusul." Alicia melambaikan tangan dan langsung berlari membawa karung besar itu begitu saja, orang-orang melongo melihat Alicia berlarian membawa karung yang ukurannya dua kali lipat tubuhnya.
"Apa kalian semua seperti itu?" Pemilik toko tempat Alicia meminta karung tadi bertanya kepada mereka, Brenda menggeleng, "Cuma dia sih kelihatannya."
Karena Alicia sudah ngacir duluan, mereka akhirnya memutuskan untuk lanjut jalan-jalan, mereka tidak perlu mengkhawatirkan Alicia, anggap saja orang yang mengganggu Alicia hari itu sedang apes parah.
"Kira-kira mereka yang ada di satuan lain juga mendapat sambutan seperti ini tidak ya?"
__ADS_1
Anford bertanya membuka obrolan, penduduk kota ini memang sangat bersahabat, orang-orang yang melihat mereka selalu tersenyum, memberikan makanan atau uang mereka secara cuma-cuma, jadilah mereka tetap berjalan membawa banyak bungkusan meski Alicia sudah mengorbankan diri membawakan bungkusan-bungkusan tadi ke kereta.
"Aku yakin mereka juga disambut dengan baik, terutama satuan dengan Theodore dan Adrian yang notabene merupakan penerus negara masing-masing," ujar Desmond.
"Walaupun Theodore tidak kuat-kuat amat, dia tetap Putra Mahkota sebuah kerajaan ya," sambung Brenda, kalau saja Theodore mendengarnya, dia pasti akan langsung berpindah tepat ke hadapan Brenda saat ini.
"Dia tidak kuat-kuat amat, tapi memang kau pernah menang melawan dia?" Ucapan Desmond lagi-lagi membuat urat leher Brenda menegang.
"Kau pun belum bisa mengalahkannya bukan?"
"Kalian diam dong, pertengkaran kalian itu merusak suasana." Alex merupakan orang terkuat di satuan mereka saat ini, kata-katanya sudah pasti didengar oleh semua orang, termasuk Brenda dan Desmond. Terbukti mereka langsung diam setelah Alex menegur mereka.
"Lagipula Theodore itu sebenarnya sangat kuat, tapi entah kenapa hanya pergerakannya saja yang cepat, tapi serangannya seperti tidak bisa secepat gerakannya." Alex menjelaskan.
"Bukannya dia masih kalah dari Ferdinand?" Desmond bertanya, "Kita saja masih belum tahu jelas kekuatan Ferdinand, tapi seperti yang kubilang tadi, selama Theodore belum bisa mengaplikasikan kecepatannya ke dalam serangan, dia tidak akan bisa masuk ke jajaran lima besar," jelas Alex panjang lebar.
"Yah, bahkan mungkin Alvaro pun bisa mengalahkan Theodore," Anford berkomentar.
"Alvaro teman sekamar kalian itu?" Brenda bertanya penasaran, dia tidak pernah melihat Alvaro berduel atau menggunakan kekuatannya dalam tes-tes di Akademi.
Alex dan Anford mengangguk, "Yap, Alvaro yang itu," jawab Anford.
"Memang kekuatan dia apa sih?" Brenda tak bisa menahan rasa penasarannya. "Gelombang kejut," jawab Alex, "Bagian paling mengerikan dari kekuatannya adalah serangan yang tidak bisa ditahan dengan apapun, satu tepukan tangannya mungkin bisa merobohkan beberapa orang dari Kelas Emas sekaligus," sambungnya.
"Wah, itu sih mengerikan sekali, kenapa dia tidak masuk dalam jajaran lima besar?" Desmond akhirnya ikutan tertarik.
Anford tertawa kecil, "Orang itu tidak punya jiwa kompetitif, selain itu, orang-orang seperti Adrian atau Theodore bisa menghentikannya sebelum dia menggunakan kekuatannya," jelasnya, "Kekuatannya juga memiliki efek samping untuk tubuhnya sendiri, jadi dia lebih memilih untuk meminimalisir penggunaan kekuatannya." Desmond dan Brenda manggut-manggut, siapa sangka dalam satu kamar terdapat tiga manusia berbahaya.
Tak lama kemudian, Alicia kembali dari kereta dan menyusul mereka. "Kalian mau makan? Aku yang traktir kali ini."
"Kau bilang traktir, tapi sepertinya kita bakal ditraktir oleh owner rumah makannya." Alex menunjukkan bungkusan yang dibawanya, begitu juga bungkusan lain yang dibawa teman-temannya.
"Eh? Kalian masih dapat lagi?"
"Asalkan ditraktir sih aku mau saja, peduli amat siapa yang traktir," Desmond tertawa kecil.
"Yah, mau kemanapun kita makan, pasti mereka tidak mau memungut biaya, jadi sebaiknya kita manfaatkan saja," ucap Anford.
"Kau agak tidak tahu malu ya." Alex menyikut lengan Anford, "Tidak ada yang tidak suka gratisan, yang bilang Adrian loh." Anford balas menyeringai. 'Yang bilang itu seorang pangeran loh' seolah Anford ingin mengatakan itu.
Alex tertawa kecil, "Ya sudahlah, untuk tempatnya kita serahkan saja ke cewek-cewek ini," dia menunjuk Alicia dan Brenda, mereka mengangguk senang.
"Jangan pilih tempat yang dekorasinya terlalu feminim," celetuk Desmond.
__ADS_1
"Berisik." Brenda menatap Desmond sengit, Desmond yang sudah malas meladeni Brenda hanya mendecak dan memalingkan muka.
Anford mengangkat tangan, "Aku sedang tidak mau makan yang pedas, yah ... Cuma mau bilang."