
Darius semakin terpojok, iblis zirah itu berhasil mendaratkan banyak serangan di tubuh Darius, beberapa kali dia terbatuk dan muntah darah, nafasnya tersengal dan pijakannya tak lagi kokoh.
Iblis zirah itu terlalu kuat, bahkan dengan kekuatan Darius, hanya beberapa bagian zirahnya saja yang mengalami kerusakan. Mungkin akan lain cerita kalau mereka berempat bisa menyatukan kekuatan dan menghadapi iblis itu bersama, tapi mereka sedang sibuk menghalau gelombang iblis.
Rekan-rekannya pun sudah sekarat, Jacob mulai kewalahan menghadapi iblis-iblis yang mengerumuninya, Victor sedang mempersiapkan serangan terakhir, Sophia entah bagaimana kondisinya sekarang, dia langsung menerobos gelombang iblis begitu saja. Kali ini Darius sudah menyerah, dia tidak memiliki niatan untuk bertarung lagi.
Darius mendongak menatap langit yang masih berwarna keemasan. "Ini benar-benar melelahkan ...."
Pedang Darius terlepas dari genggamannya dan jatuh ke tanah, kedua lengan Darius sudah mati rasa sepenuhnya, dia memutuskan untuk menyerah pada nasibnya.
"Aku mengakui kekalahanku." Ujar Darius kepada iblis zirah, dia kemudian berjalan perlahan mendekati Darius dan mengangkat pedangnya, dia akan mengakhiri hidup Darius dengan satu serangan.
Bukannya terlihat marah atau sedih, Darius justru terlihat lega. Peperangan ini sangat melelahkan baginya, tak terhitung berapa kali dia melihat satu demi satu rekan-rekannya gugur di depan mata, dia bahkan tak ingat kapan dia terakhir kali mengenang dan berduka atas kematian mereka, karena tidak ada waktu untuk itu. Yang ada di benaknya selama ini hanya bertahan hidup dan bertahan hidup.
Dengan ini, dia akan mendapatkan istirahat yang layak untuk melepas rasa lelah yang membebaninya selama ini.
-CLANG!-
Suara dentingan logam terdengar begitu nyaring, sumber suara itu berasal dari iblis zirah di hadapannya. Sebuah tombak baru saja menghantam iblis zirah itu dan membuatnya terpental beberapa meter ke belakang, meskipun tidak berhasil membuatnya terjatuh.
"Kelihatannya kau mau mengambil cuti, tapi ini masih perang, bocah. Mana mungkin aku izinkan."
Darius menoleh ke belakang.
Di sana, berdiri di atas benteng yang sudah runtuh di banyak bagian, seseorang dengan zirah lengkap menggenggam sebuah halberd sedang menyeringai ke arah Darius.
Sebelum Darius menyadarinya, puluhan prajurit berseragam lengkap menerjang ke arah iblis-iblis itu, beberapa penyihir turut muncul dan segera menembakkan sihir-sihir mereka, dengan cepat situasi kembali terkendali meski mereka masih belum bisa dikatakan menang.
"Komandan Hector." Lirih Darius.
"Saatnya pergantian shift anak-anak! HABISI BEDEBAH BEDEBAH ITU!"
Orang yang disebut Komandan Hector itu melompat turun dan langsung menerjang si iblis zirah, karena kondisi Hector masih bugar, dia mampu menyudutkan iblis itu dengan seni bertarungnya yang hebat.
Victor berjalan mendekati Darius dan menepuk pelan pundaknya. "Kepikiran buat pensiun dini?"
Darius tertawa mendengar perkataan Victor, "Mana mungkin Komandan gila itu memberi kita pensiun, bisa cuti saja sudah bagus."
__ADS_1
Jacob bergabung dengan mereka, tidak terhitung berapa banyak luka di tubuhnya, ekspresi lega jelas tergambar di wajahnya yang penuh darah.
"Ew ... Wajahmu itu terlihat sangat mengerikan," Ledek Victor.
"Bacot kau Victor." Jacob mengumpat balik, dia langsung merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata.
Dari kejauhan, terlihat Sophia yang berjalan sempoyongan dengan tubuh yang dibanjiri darah, beberapa anak panah terlihat menancap di tubuhnya. Penampilan yang mengerikan, dia terlihat seperti mayat hidup yang baru saja merangkak keluar dari kematian.
"Wah, ada iblis yang lolos." Meski Victor melontarkan kata-kata seperti itu, sebenarnya dia sedang mengekspresikan kekagumannya pada Sophia.
"Selamat bergabung kembali, putri yang menentang kematian." Ucap Darius ketika Sophia bergabung dengan mereka dan langsung jatuh berlutut tanpa mengatakan apapun, entah dia masih sadarkan diri atau tidak.
"Kalau dia tidak mati, aku akan menyembahnya," celetuk Victor.
"Taruhan lima koin emas dia masih hidup," kata Jacob.
"Sebaiknya aku tidak ikutan kali ini," ujar Darius.
"Be ... Ri ... Sik ...." Terdengar bisikan lirih dari mulut Sophia yang masih berlutut di tanah dengan tubuh yang terus meneteskan darah, entah bagaimana dia masih bisa hidup setelah mendapatkan semua luka itu.
"Victor, kau baru saja pindah agama."
...****************...
Tim medis muncul beberapa saat kemudian dan segera merawat prajurit yang terluka, khususnya empat prajurit yang tersisa dari satuan yang sebelumnya diberangkatkan. Satuan prajurit yang dipimpin Hector dan satuan penyihir memang bergerak lebih cepat, membuat mereka tiba lebih dulu di lokasi.
Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan ketika sedang merawat Sophia, sudah sewajarnya seseorang mati ketika mengalami hal seperti ini.
Tapi Sophia berhasil bertahan meski sekarang dia berada dalam kondisi kritis, tapi bukan berarti dia tidak bisa diselamatkan.
Matahari terasa lebih cepat tenggelam hari ini, gelombang iblis berhenti, Hector berhasil mengalahkan si iblis zirah yang rupanya tidak ada makhluk apapun di balik zirahnya, tubuhnya hanya mengeluarkan percikan-percikan api setelah dia tumbang oleh Hector.
Para prajurit mulai mendirikan tenda-tenda di balik benteng dan menyalakan api di sana. Sebuah pemandangan yang Darius, Victor, Jacob dan Sophia kira tidak akan pernah mereka lihat lagi, meski secara teknis Sophia sedang tidak melihatnya karena dia sedang tak sadarkan diri.
Para prajurit bantuan yang tiba tidak bisa menyembunyikan kekaguman mereka terhadap empat orang yang tersisa ini, sebenarnya mereka sangat ingin mendengar cerita dari Darius dan rekan-rekannya, hanya saja Hector melarang mereka.
Tapi saat ini justru Hector sedang berbincang dengan Darius di tenda mereka.
__ADS_1
"Kami diberangkatkan ke lokasi ini dengan asumsi satuan yang diberangkatkan sebelumnya sudah tersapu habis. Tidak hanya berhasil menetapkan posisi di benteng ini, kalian juga bertahan sampai unit baru tiba, kenapa kami tidak menerima kabar apapun dari kalian?" Entah berapa kali Hector berdecak kagum sambil bergantian menatap Darius, Victor dan Jacob.
Diantara mereka bertiga, hanya Darius yang masih terjaga, Jacob sudah tidur sementara Victor sedang santai mengisap cerutu sambil berbaring, entah pikirannya sedang berada di mana.
Dari yang diceritakan Darius kepada Hector, memang benteng ini sebelumnya dikuasai oleh iblis dan dijaga oleh segerombolan iblis kuat, tapi satuan Darius berhasil merebutnya meski itu membuat banyak korban berjatuhan.
Sialnya, merpati pembawa pesan yang dibawa satuan Darius lepas dalam perjalanan, hal itu membuat mereka pada akhirnya tidak bisa meminta bantuan kepada markas setelah mereka kehilangan banyak personil dalam perebutan benteng. Akibatnya, mereka terpaksa bertahan di benteng itu sampai tersisa empat orang prajurit.
"Aku sudah mengirim merpati ke markas, mereka akan segera menjemput kalian berempat, pastikan untuk menceritakan semua yang terjadi dalam neraka satu pekan ini kepada para petinggi." Tutur Hector.
Victor ber-heh senang, "Neraka satu pekan ... Tidak buruk." Rupanya dia diam-diam mendengarkan obrolan Hector dan Darius.
"Aku meminta pada atasan untuk mengabulkan permintaan kalian sebagai hadiah atas perjuangan kalian. Apa yang kau inginkan ketika kembali, Victor?" Hector bertanya.
Victor terdiam sejenak, dia memainkan cerutu dengan jari-jari tangannya yang dibalut perban.
"Hm ... Aku sih mau pens-"
"Jangan mimpi bocah tengik."
Belum sempat Victor menyelesaikan kalimatnya, Hector sudah menyela, dia memang tidak berniat menanggapi pengajuan pensiun saat ini. Victor menggerutu kesal kemudian lanjut mengisap cerutunya.
"Bagaimana denganku? Aku sudah kehilangan lengan kiri ku." Rupanya Jacob tidak tidur sejak tadi, dia diam-diam menyimak pembicaraan Hector dan Darius seperti Victor.
"Kalau kau sih masih bisa aku pertimbangkan." Jawaban Hector itu membuat Victor sangat kesal, dia sampai mengumpat meski dengan suara lirih. Tapi rupanya umpatan itu terdengar oleh Hector.
"Kemarikan lenganmu! Biar aku potong supaya kau mendapatkan pensiun yang sangat kau inginkan itu!" Hector membentak Victor sembari menghunus belatinya, meski dia hanya setengah bercanda, tapi perkataannya barusan berhasil membuat Victor terdiam.
"Untuk Sophia ...." Ujar Hector setelah mereka semua hening beberapa saat, "Aku tidak bisa memutuskannya, tapi kemungkinan pihak militer dan Aliansi akan menarik dia dari garis depan dan memberikannya pekerjaan di balik meja mengingat kontribusi yang dia berikan dalam perang ini. Lagipula, entah dia bisa kembali bertempur atau tidak."
"Wah~ Aku juga mau dong~" Victor berkata dengan nada mengejek yang dibuat-buat, wajahnya memang tidak terlalu terlihat karena kondisi tenda yang gelap, tapi dia pasti membuat wajahnya terlihat konyol. Hector benar-benar geram dibuatnya, kalau saja bukan karena dia sedang terluka, Hector pasti langsung menghajarnya habis-habisan.
Darius tidak berniat menanyakan soal topik pensiun kepada Hector karena jawaban yang akan dia berikan sudah sangat jelas, lebih baik dia memikirkan soal hadiah yang akan dia minta nantinya.
Hector berdiri dan beranjak keluar tenda, "Baiklah, ini sudah larut. Jangan meninggalkan tenda kalau besok kalian mendengar keributan di luar, kali ini biar kami yang mengurusnya."
"Tidak perlu kau ingatkan." Victor menyahut.
__ADS_1
Hector tidak menanggapi, dia melengos begitu saja keluar dari tenda.