Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter Bonus: Pelayan


__ADS_3

Namaku Annabelle. Aku adalah seorang pelayan di kastil Master Frederick, dia adalah putra kedua dari Elder Mircea, dan adik dari Lord Elric.


Hari ini, Master membawa seorang anak laki-laki dengan penampilan lusuh dan tubuh kurus, sorot matanya mengatakan kalau dia sudah menyerah dengan kehidupan ini.


"Hei kau, berikan baju dan makanan untuk anak ini, antar dia ke tukang kebun dan biarkan dia belajar soal pekerjaannya di sana." Master memberiku perintah, aku menunduk dan menggandeng tangan kurus anak itu.


"Master." Master Frederick yang sedang berjalan menuju ke ruangannya menoleh ke arahku, "Terimakasih banyak." Master terlihat kebingungan dengan perkataanku, tapi dia kembali berlalu tanpa mempedulikan ucapanku barusan.


Aku membawa anak itu ke area pelayan, memandikannya, menggantikan pakaiannya, lalu menyiapkan makanan untuknya.


Dia makan dengan begitu rakus, seolah sudah tidak makan berhari-hari, aku tidak menghentikannya, karena aku juga memahami perasaan anak ini.


"Kak ...." Anak itu memanggilku.


"Hm?"


"Tuan itu ... Apa yang akan dia lakukan kepadaku?"


Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya. "Sebelum itu, kita harus memanggilnya Master."


"Master ...."


Aku tersenyum melihat sorot matanya yang kembali memancarkan keinginan untuk hidup.


"Dia akan menyuruhmu bekerja, memberimu makanan, memberimu tempat yang hangat dan mengenalkan mu pada orang-orang baik."


Matanya berbinar-binar mendengar jawabanku, melihat kondisiku dan pelayan lain di kastil ini membuatnya semakin yakin dengan jawabanku.


"Lalu ... Bagaimana kakak bisa sampai di tempat Master?"


Bayangan masa lalu seketika berkelebat di kepalaku setelah mendengar pertanyaannya.


"Kamu mau mendengar ceritaku?"


Anak itu mengangguk sambil terus mengunyah daging ayam tanpa sedetikpun berhenti. Aku menutup mataku untuk kembali mengingat lebih jelas kejadian yang telah terjadi entah berapa ratus tahun yang lalu itu.


...****************...


Dulu, aku hanya seorang gadis kecil yang terlantar di jalanan, entah siapa orang tuaku, atau bagaimana aku bisa sampai ke pemukiman kumuh dimana aku tinggal sampai berusia sepuluh tahun.


Aku mencuri makanan di kota untuk bertahan hidup, tidak jarang aku dihajar sampai babak belur karena tertangkap setelah mencuri.


Tapi aku belum pernah mengalami penyiksaan seperti yang ku alami hari itu. Aku mencuri selembar kain dari pedagang di musim dingin untuk menghangatkan tubuhku. Tanpa aku ketahui kalau kain itu merupakan kain yang sangat berharga, pedagang itu berhasil menangkap ku dengan bantuan ajudannya.


Aku pun diminta ganti rugi karena mereka menganggap kain yang aku sentuh sudah menjadi sampah, tentu saja aku tidak memiliki apapun untuk ku gunakan sebagai ganti rugi, tubuh anak-anakku yang mengenaskan dan lemah juga tidak akan menghasilkan uang kalaupun mereka menjual ku.


Akhirnya para ajudan pedagang itu menghajar ku habis-habisan sebagai pelampiasan rasa kesal mereka, mereka bahkan mulai menyulut tubuhku dengan cerutu mereka dan menyiram luka ku dengan alkohol. Entah berapa kali aku berteriak memohon ampun, tapi mereka tidak peduli dan terus menyiksaku.


Karena aku terus-terusan berteriak, salah satu dari mereka menginjak-injak mulutku dengan sepatu besarnya, aku tidak bisa lagi menggerakkan mulutku atau mengeluarkan suara setelah itu.


Seolah belum puas, mereka kembali menyiksaku, mengubur wajahku dengan salju dan menyiramkan air dingin ke salju itu perlahan-lahan, aku kesulitan bernafas, kalaupun aku bernafas maka air dingin bercampur salju akan masuk ke kepalaku, membuatku merasakan rasa sakit yang amat sangat.


Aku mendengar dengan jelas mereka tertawa saat itu, entah kenapa, sepertinya mereka berpikir kalau penderitaanku masih kurang. Dengan sepatu besar mereka, jari-jari tangan dan kaki ku di injak sampai aku tidak bisa lagi merasakan semua jari ku.


"Hei, sepertinya bos sudah mau pergi, lebih baik kita sudahi saja."


Begitulah mereka menyeret tubuhku menjauh dan kemudian melemparkan tubuhku yang babak belur begitu saja di gang sempit yang dingin.


Aku masih mengingat saat dimana salju putih tempatku terbaring perlahan memerah karena darah yang mengalir dari tubuhku, kaki dan tanganku tak bisa lagi aku rasakan, rasa dingin yang menyakitkan mulai menusuk-nusuk tubuhku.

__ADS_1


Sembari menanti ajal menjemput, aku menangisi kehidupanku selama ini.


'Apa aku akan mati di sini? Aku hidup sebagai tikus jalanan dan mati sebagai tikus jalanan, bahkan aku tidak memiliki orang tua yang akan bersedih atas kematianku.'


Ditengah penantian itu, aku mendengar suara langkah kaki, diiringi dengan suara seseorang berbicara dengan bahasa yang tidak aku mengerti.


Saat itu mendadak aku merasakan kehangatan menyelimuti tubuhku, rasa sakit yang kurasakan pun menghilang, saat aku membuka mata, terlihat seorang anak bangsawan laki-laki yang menatapku dengan tatapan merendahkan.


Meski begitu, aku tidak merasakan niat jahat dari mata merah menyala itu, aku pun tahu kalau dialah yang sudah menyelamatkanku. Aku sangat berhutang budi padanya, mau setelah itu aku dibunuh lagi pun tidak masalah.


"Kau ... Kenapa kau tiduran disini? Setidaknya carilah tempat yang hangat kalau sedang sekarat."


Itu bukan kalimat hinaan, aku bisa merasakannya, dia bertanya karena dia memang tidak mengerti apa yang sedang kulakukan. Tapi kenapa sekarang aku bisa memahami bahasanya?


"Aku tidak punya tempat hangat." Hanya itu jawabanku, dia terlihat kebingungan mendengarkannya, caranya menatapku mulai berubah.


"Lalu kenapa tubuhmu kurus sekali? Kau terlihat seperti ghoul padahal baumu jelas bau manusia."


Entah apa yang dia bicarakan. "Aku tidak punya makanan."


Kebingungannya semakin menjadi, "Hah? Memang ada orang yang tidak punya rumah dan makanan? Ratu saja memberikan rumah dan makanan pada siapapun di tempat kami."


Pasti Ratu itu orang yang mulia, entah dia berasal dari negara mana, Raja di kerajaan kami membiarkan anak kecil sepertiku mati kelaparan dan kedinginan, apa aku bisa tinggal di negara Sang Ratu?


"Kondisi tubuhmu barusan sangat menjijikkan, kau memang cacat atau bagaimana? Manusia sangat sulit dimengerti."


"Aku di pukuli dan di lempar ke tempat ini."


"Kenapa?"


"Aku mencuri."


"Kain ... Aku ingin menghangatkan tubuhku dengan itu."


Dia semakin kebingungan, raut wajah yang dipenuhi tanya itu selalu ku ingat mau berapa abad pun berlalu.


"Uh ... Kau mau ikut denganku?"


Kalimat singkat yang seketika menumbuhkan kembali harapan yang sudah lama hilang dari hatiku, tanpa kusadari aku mengangguk setuju kepadanya.


"Nah, siapa namamu?"


"Namaku ...." Aku baru ingat aku tidak punya nama, "tidak punya."


Dia menepuk dahinya sambil menyumpah. "Tidak punya rumah, tidak punya makanan, tidak punya nama. Orang tuamu niat gak sih?!"


"Aku ... Juga tidak punya orang tua."


Dia mengacak-acak rambutnya sambil menggumamkan kalimat tidak jelas, beberapa saat kemudian dia menata kembali rambutnya dan menatapku.


"Namamu Annabelle, kalau kau mau tinggal di tempatku kau harus kerja seumur hidupmu."


Aku mengangguk tanpa pikir panjang, daripada tinggal di negara ini, aku lebih memilih tinggal bersama orang ini di negeri yang dipimpin oleh Ratu yang hebat.


"Hm ... Ratu bilang untuk membalas kebaikan dengan kebaikan berlipat dan membalas keburukan dengan keburukan berlipat. Kau bilang tadi dipukuli kan? Mau membalas mereka?"


"Membalas mereka? Dengan apa?"


"Tentu saja menyiksa mereka, atau bunuh sekalian saja."

__ADS_1


"Tapi ... Aku yang salah karena mencuri."


"Mereka juga salah karena jadi makhluk lemah."


Saat itu, sesuatu yang asing bangkit di hatiku setelah mendengar perkataannya, aku merasa sangat haus, entah kenapa aku merasa kalau membunuh mereka semua bisa memuaskan rasa haus ini.


"Baiklah."


...****************...


"Hiiiiiik! Kau! Bagaimana kau masih bisa hidup?!" Orang itu menginjak wajahku sampai aku tidak bisa berteriak, aku menggerakkan tanganku, kabut merah pekat mencengkeram tubuh orang itu dan membantingnya dengan keras sampai kepalanya remuk.


"Apa-apaan?! Kau ini monster ya?!" Dia adalah orang yang menyulut tubuhku dengan cerutu, aku menjentikkan jariku, duri-duri berwarna merah mencuat keluar dari tubuhnya, dia ambruk seketika dengan tubuh berlumuran darah.


"AAAHHH! AMPUN! AMPUN!" Dia adalah orang yang mengubur wajahku dengan salju dan menyiramnya dengan air, aku mengarahkan tanganku ke kepalanya dan mengatupkan tanganku. Sebuah gumpalan berwarna merah menyelimuti kepalanya, dia terlihat meronta-ronta sebelum akhirnya jatuh ke tanah dengan kepala tinggal tengkorak.


"Aaa ... Aaa ... Aaa ...." Orang ini yang menginjak jariku sampai remuk, aku bisa tahu dari sepatunya, aku memutar pergelangan tanganku. seluruh tubuhnya seketika terpelintir dengan posisi yang tidak wajar.


"Bajingan! Monster sialan!" Dia orang yang menyeret tubuhku dan melemparkan ku ke gang sempit, aku menyapukan tanganku. Orang itu berteriak saat tubuhnya terseret dan terlempar berkali-kali ke dinding restoran, aku berhenti ketika dia tidak lagi berteriak.


Terakhir.


"Apa yang kamu inginkan? Uang? Aku punya banyak! Atau kamu mau makan enak? Aku belikan apapun yang kamu mau! Ya? Ya?" Dia adalah si pedagang yang menyuruh orang-orang tadi untuk menyiksaku.


"Aku makan paman saja deh."


"Eh!? Gimana? KYAAAGGGGGGGHHHHHHHH!"


Aku mencekik lehernya dan menyerap energi kehidupannya, dia berkali-kali meminta ampun sambil berusaha melepas cengkeramanku seiring tubuhnya yang gemuk semakin menyusut.


Dia akhirnya berhenti bergerak setelah tubuhnya hanya tersisa kulit dan tulang, aku melempar tubuhnya dan menyeka liur di mulutku.


Semua orang di restoran itu sudah melarikan diri sejak tadi, sekarang kami berdua dikepung oleh segerombolan prajurit dengan senapan teracung.


"MONSTER! MENYERAH ATAU MATI DI SINI!"


Anak bangsawan itu tertawa, dengan satu sapuan tangan, semua prajurit itu tergeletak dengan tubuh yang hanya tersisa tulang belulang.


Dia menatap ke arahku. "Sudah puas?" Aku mengangguk senang.


"Kalau begitu kita pergi ke kastil ku."


...****************...


"Aku tidak begitu ingat setelah itu, tapi tiba-tiba aku berada di kastil ini dan seorang pelayan sedang merawatku."


Anak kecil di depanku melongo, remah-remah makanan berceceran di sekitar mulutnya.


"Kakak membunuh orang jahat. Enak sekali." Matanya yang merahnya bersinar redup.


"Memang kamu tidak?"


Anak itu menggeleng. "Ayah menjual ku ke paman jahat karena ibuku sering memukuliku dan berkata kalau aku anak tidak berguna, setelah itu paman jahat membawaku jauh sekali dari rumah. Kayaknya mustahil deh menemukan mereka, jadi aku tidak bilang ke Master."


"Master pasti akan menemukan mereka, apa kamu mau pergi bersamaku untuk bilang ke Master?"


"Memang mereka bisa ditemukan?" Mata merah darahnya berbinar mendengar perkataanku.


Di saat seperti ini rasa haus darah ku selalu bergejolak, aku tersenyum, membuat gigi taringku mencuat keluar. "Tentu saja."

__ADS_1


__ADS_2