Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 40: Utara


__ADS_3

Benua Utara, Kerajaan Chyrosian.


Benua utara sedang menghadapi gempuran habis-habisan dari iblis, mereka menyerang benua dari berbagai sisi, yang otomatis membuat akses komunikasi mereka terputus dengan benua lain.


Meski begitu, seharusnya saat ini benua lain merasa ada yang tidak beres karena tidak ada perkembangan berita dari benua utara. Saat menyadari keanehan itu, semestinya mereka segera mengirim tim investigasi atau semacamnya, tapi mereka juga tak kunjung datang.


Sekarang mereka hanya bisa mengandalkan diri sendiri, entah apa yang sebenarnya terjadi, apakah benua lain mengalami hal yang sama atau justru mereka sudah lebih dulu tumbang. Tidak ada yang tahu.


Hanya dalam waktu kurang dari dua bulan, para iblis itu berhasil membuat benua utara porak poranda, mereka menghancurkan segala sesuatu tanpa pandang bulu entah berapa banyak korban jiwa yang berjatuhan. Cerita yang hanya dianggap legenda tentang iblis yang nyaris menghancurkan benua utara telah menjadi kenyataan yang lebih mengerikan.


Bahkan hanya ada dua negara besar yang tersisa di utara dari lima negara besar, yaitu Chyrosian dan Galminos. Mereka kini bahu membahu menghadang pasukan iblis yang terus berdatangan dari segala penjuru benua, pengemban kekuatan cahaya yang tersisa memimpin di garis depan, berusaha mengobarkan semangat prajurit dan tentara sukarela yang sudah mulai lelah dengan perang.


Kedua negara mengalami krisis besar-besaran, pengungsi dari tiga negara lain berbondong-bondong masuk ke dua negara yang tersisa itu, sementara sumber daya mereka semakin menipis seiring berjalannya waktu.


Garis pertahanan perbatasan Kerajaan Chyrosian.


"ARGH! MEREKA TIDAK ADA HABISNYA!" Seorang pria dengan rambut hitam yang diikat berteriak frustasi, entah ini sudah yang ke berapa kalinya dia menebas tubuh iblis, dia merasa tangannya mulai mati rasa.


"Bertahanlah Victor! Mereka akan mundur setelah matahari tenggelam seperti yang sudah-sudah!" Seorang pria lain dengan rambut yang diwarnai merah tua balas berseru, tapi anehnya dia terkesan seperti sedang bercanda.


Siluet pedang besar keemasan menyelimuti pedang pria itu, lalu dengan sekuat tenaga dia ayunkan ke arah iblis yang berdatangan, membuat tubuh mereka terpotong dan tumbang ke tanah.


Victor tertawa hambar, sesaat kemudian aura keemasan menyelimuti tubuhnya. "RRAAHH!" Dia menebaskan pedangnya, energi keemasan berbentuk sabit melesat dari tebasannya, mencincang tubuh iblis-iblis di hadapannya.


"Darius, enteng sekali mulutmu itu. Mereka terus berdatangan seperti hama ...." Victor terlihat semakin kelelahan, serangan barusan benar-benar menguras tenaganya.


"Sepertinya ... Kalau dilihat dari perspektif lain ... Kitalah yang jadi hama ...." Sahut sesosok pria dengan tubuh bongsor, dia terduduk di garis belakang dengan satu tangan yang terputus.


"Diamlah Jacob, suara nafasmu yang tersengal itu entah kenapa bisa terdengar jelas di tengah kekacauan ini." Seorang wanita dengan rambut pirang yang diikat dan mata hijau yang tersisa satu merengut kesal, terlihat sisa-sisa kecantikan seorang bangsawan dari wajahnya yang kusam dan perban mata nya yang kotor oleh darah dan debu.


"Hey, Sophia. Bagaimana kalau kita menikah setelah semua ini selesai?" Celetuk salah seorang pria dengan rambut pendek nyaris botak.


Sophia mendengus kesal, "Mimpi saja sana, Garreth."


Garreth tertawa, "Kuharap memang mimpi sih."

__ADS_1


Mereka adalah prajurit yang tersisa di garis pertahanan itu setelah satu pekan berturut-turut menghalau gempuran iblis, diantara mereka ada pengemban kekuatan cahaya seperti Victor dan Darius. Jacob juga seharusnya adalah pengemban kekuatan cahaya, tapi dengan kondisi luka parah, dia tidak diizinkan ikut bertempur di depan.


"Aku penasaran, apa orang-orang di benua lain juga mati seperti ini ya?" Garreth menangkis serangan salah satu iblis berwujud manusia raksasa dengan tubuh gelap, gigi taringnya mencuat dari mulutnya yang mulai membusuk.


"Sepertinya lebih parah deh." Sahut Darius.


Mereka masih saja terus bertahan sementara gelombang iblis terus berdatangan, Sophia mulai terlihat kelelahan, ditambah luka di matanya memberinya rasa sakit yang mengganggu. Dia pun mundur ke belakang dan terduduk di dekat Jacob.


"Hey, Garreth ...."


"Hm?!" Garreth yang tengah berduel dengan mayat hidup bongsor melompat mundur dan menoleh ke arah Sophia yang entah kenapa wajahnya terlihat sedikit memerah.


"Kalau kau berhasil mengalahkan makhluk itu ... Akan kupertimbangkan perkataanmu tadi."


Mata Garreth langsung menyala mendengar perkataan Sophia, sorot mata lelah dan wajah lemasnya memberikan pesona tersendiri yang membuat naluri ingin melindungi di dalam diri Garreth meledak-ledak.


"UWOOGGHHH! MAMPUS KAU RAKSASA BUSUK!" Garreth menerjang mayat hidup itu sekali lagi, staminanya seolah sudah dipulihkan, kini makhluk itu terdesak oleh serangan beruntun dari longsword Garreth.


"KHHH! KHHHAARRR!" Mayat hidup itu mengamuk, dia melangkah maju saat Garreth menyerangnya, hal itu justru membuat Garreth kehilangan momentum karena dia ragu sejenak.


Di saat Garreth berusaha menarik kembali longsword nya, makhluk itu mencengkeram kepala Garreth dan langsung membantingnya ke tanah. Seolah belum cukup, dia menginjak-injak tubuh Garreth berkali-kali sampai tubuh Garreth melesak ke dalam tanah.


Sophia shock melihat pemandangan itu, dia berusaha bangkit dan menyerang makhluk itu sebelum akhirnya Jacob meraih lengan Sophia dan menariknya.


"Biar aku yang mengurusnya." Jacob mengambil kapaknya yang tergeletak, lalu berlari dengan sekuat tenaga ke arah makhluk yang masih saja menginjak-injak tubuh Garreth. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya yang tersisa dan melompat sembari mengangkat kapaknya dan langsung menghantam kepala makhluk itu sampai hancur.


Makhluk besar itu tumbang, Jacob segera memeriksa kondisi Garreth. Dia terdiam sejenak lalu menatap ke arah Sophia dan menggeleng, Sophia yang melihat hal itu menjerit, dia segera berlari ke arah gelombang iblis yang berdatangan dan bertarung melawan mereka habis-habisan.


Victor tertawa melihat itu, "Garreth sialan, kau malah membawa cewek itu mati bersamamu."


Dengan kematian Garreth, mau tidak mau Jacob harus kembali bertempur untuk tetap mempertahankan formasi, dia melempar kapal besarnya ke arah kerumunan iblis, dua iblis terpotong sekaligus karena kekuatan lemparan Jacob.


Lalu dia mengambil pedang milik salah satu prajurit yang tergeletak dan mulai terjun ke garis depan, membantu Darius dan yang lain.


"SEDIKIT LAGI!" Darius berseru ke rekan-rekannya, matahari sudah mencapai ufuk. Ketika matahari itu tenggelam maka mereka bisa kembali bernafas lega.

__ADS_1


"Bertarung lah seperti tiada hari esok, bukan begitu?" Victor membisikkan kata-kata yang populer digunakan oleh militer di utara.


...****************...


Darius menebas kepala mayat hidup terakhir, matahari telah tenggelam dan langit merah mulai berubah gelap.


Dia mengedarkan pandangan ke sekitar, kondisi Jacob terlihat semakin parah, dia tergeletak di tanah dengan nafas tersengal tak beraturan.


Victor duduk bersandar di tembok benteng yang sudah runtuh sambil menyulut cerutu, falchion kesayangannya yang mulai usang karena pertempuran tanpa henti dia sandarkan di sisinya.


Sophia berjalan tertatih-tatih dengan zirah yang rusak parah, menampilkan luka sayatan dan tusukan di tubuhnya, dia kemudian menyandarkan tubuhnya ke tembok benteng tidak jauh dari Victor. Dari wajahnya yang lemah dan nafas yang samar-samar, semua orang tahu dia tinggal menunggu waktunya.


"Besok adalah hari terakhir kita." Darius berkata tenang, dia berdiri menghadap bulan yang memancarkan cahaya kebiruan, membentuk siluet seorang prajurit yang mengesankan.


"Untuk rekan-rekan kita yang telah tiada, untuk negara kita, untuk benua kita, untuk dunia kita. Mari bertarung seolah tiada hari esok bagi kita."


Suaranya begitu tenang namun dalam, empat orang prajurit yang tersisa di pos pertahanan itu terdiam dan larut dalam benaknya masing-masing.


Tubuh Sophia perlahan merosot ke samping, meninggalkan jejak darah di tembok yang dia sandari.


"Istirahatlah, Sophia. Kau sudah bertarung dengan hebat." Darius berjalan mendekati Sophia dan duduk bersandar di sisinya.


Ditengah suasana yang hening dan syahdu itu, terdengar suara lemah dari Sophia. "Izinkan aku ... Bertarung ... Hingga akhir ... Kumohon ...."


Entah dia sedang berbicara kepada Darius atau sedang berdoa, mungkin juga dia sedang berhalusinasi di saat-saat terakhirnya. Banyak orang yang bilang kalau kau akan melihat kilas balik kehidupanmu sebelum kau mati, mungkin Sophia sedang mengalami hal itu saat ini.


"Yo, Jacob! Kau tidak punya alkohol?" Victor bertanya pada Jacob yang mulai bangkit dan bergabung dengan mereka, bersandar di dinding benteng yang runtuh.


Jacob menggeleng lemah, lalu dia menyandarkan kepalanya ke dinding dan memejamkan mata. "Sayang sekali ... Aku sudah kehabisan alkohol sejak kemarin."


...****************...



Ilustrasi karakter Jean Cuivre

__ADS_1


__ADS_2