
Satuan pasukan yang dipimpin Peter kembali ke pos pertahanan setelah satuan pasukan lain tiba untuk mengawal penduduk kota mengungsi ke beberapa kota berbeda, kerusakan di kota itu cukup parah dan sudah tidak aman ditinggali, terlebih benteng kota itu sebagian besarnya telah runtuh.
Anak-anak di kota itu bersedih ketika mereka harus berpisah dengan Alex, karena setelah melihat Daisy terbang dengan kekuatan angin, beberapa ibu mendatangi Alex, memohon supaya Alex bersedia menerbangkan anak mereka juga.
Rasa sedih karena harus meninggalkan kota dan shock karena serangan iblis menghilang karena hal itu, mereka berterbangan kesana-kemari dengan wajah penuh tawa, beberapa anak cowok juga mulai bermain perang-perangan di udara, membuat suasana lebih heboh karena keributan yang mereka buat.
Serangan iblis dan kondisi kota yang rusak di sana-sini seperti terlupakan begitu saja, proses pengungsian warga kota menjadi lebih lancar karena orang-orang dewasa tidak perlu mengurus anak-anak mereka berkat pengalihan Alex.
Tapi hal itu juga membuat kesenangan mereka cepat berakhir, mau bagaimana lagi, mereka memang harus secepatnya pergi dari kota itu.
Para orang tua sedikit kesulitan saat beberapa anak menangis dengan keras karena tidak terima berpisah dengan Alex, sebenarnya Alex merasa kasihan, tapi bagaimanapun tugas yang lebih penting sedang menunggunya.
"Kenapa kau malah ikutan sedih begitu?" Peter bertanya ke Alex dalam perjalanan mereka kembali ke pos pertahanan.
"Sepertinya kau juga tidak rela berpisah dengan mereka ya?" Salah seorang rekan ikut menggodanya, memang wajahnya sedari tadi terlihat lesu setelah berpisah dengan anak-anak itu.
"Tidak juga kok," jawab Alex sambil menyembur wajah rekannya itu dengan asap cerutu.
Rekannya itu terbatuk karena kaget, "Hei! Jangan menyalakan cerutu di kereta kuda dong," dia berseru protes.
"Bodo amat." Alex dengan tak acuh kembali mengisap cerutunya, lagi-lagi dengan sengaja dia tiupkan asap cerutu itu ke wajah rekannya.
"Argh! Sial!" Dia mengibas-ngibaskan tangannya, berusaha mengusir asap cerutu yang tidak dia sukai.
Rekan lain termasuk Peter tertawa melihat itu, rekan yang sejak tadi disembur asap cerutu oleh Alex akhirnya bersungut-sungut pindah tempat duduk, setelahnya Alex justru mematikan cerutunya dan ganti mengeluarkan botol minuman keras. Sengaja.
"Kenapa sih kau tidak mau mengisap tembakau? Minum juga tidak mau, pergi ke rumah bordil juga tidak mau. Kau itu prajurit betulan bukan sih, Wilman?" Seorang rekan Alex yang lain menanyakan soal perilaku rekan mereka yang sedari tadi disembur Alex, Wilman memang tidak pernah terlihat melakukan hal-hal itu.
"Mana dibolehkan sama ibuku." Jawabnya singkat. Kereta kuda itu hening sesaat.
Tawa keras meledak setelah itu.
"WILMAN ANAK MAMA!" Salah satu prajurit mengacak-acak rambut Wilman, disertai tawa prajurit lain.
"Kau masih menyusu ibumu? Pantas saja tidak suka minum alkohol." Ledek salah satu dari mereka.
"Kenapa tidak ikut aku menyusu sama cewek di rumah bordil saja kalau masih tidak mau minum alkohol?" Prajurit lain ikut meledeknya disambut tawa prajurit lain.
Wilman terlihat kesal dengan ledekan mereka, dia memang prajurit termuda di sana, ibunya selalu bilang kalau dia tidak boleh menyentuh tembakau, alkohol dan wanita selama di medan perang. Dia menurut saja.
"Sudahlah, Wilman. Kalaupun kau lakukan ibumu tidak akan tahu." Peter sedikit membujuk Wilman sambil menyodorkan botol berisi alkohol.
"Tidak, terimakasih." Jawabnya singkat sambil menjauhkan tangan Peter.
Semua orang merasa aneh sekaligus kagum dengan Wilman yang keras kepala, entah seperti apa ibunya sampai dia tetap menuruti perkataannya meski berada jauh darinya.
"Atau kau mau coba pergi ke rumah bordil sama kami? Tidak perlu ngapa-ngapain, kau cukup lihat-lihat saja." Seorang penyihir dari Departemen Sihir di kereta itu berusaha mempengaruhi Wilman. Rekannya yang lain langsung ikut menyetujui perkataannya, penyihir itu memang sudah langganan.
Wilman masih saja teguh, dia cuma menggeleng sambil membuang muka.
"Memang kau mau mati perjaka? Kita bisa mati kapan saja loh, bahkan bisa jadi saat ini tiba-tiba iblis muncul di depan kita."
"KIEEEEEKKK!"
*CRASH CRASH CRASH*
Mereka dikejutkan dengan teriakan makhluk tak dikenal, disusul kereta kuda yang mereka tunggangi mendadak kehilangan kendali dan terguling beberapa kali.
"PEGANGAN!" Peter berseru keras.
Kereta mereka terguling dan terseret beberapa kali sampai akhirnya berhenti, beberapa prajurit terlihat mengalami cedera di beberapa bagian tubuh, tapi kelihatannya tidak ada yang mengalami luka fatal karena Alex dengan sigap mengeluarkan akar tanaman untuk menahan tubuh rekan-rekannya tetap di tempat.
__ADS_1
Setelah memastikan tidak ada yang mengalami cedera serius, Peter memotong akar Alex yang menahan tubuhnya dan mengeluarkan kepalanya keluar kereta untuk melihat kondisi di luar kereta.
"KIEEEEEEEKK!" Makhluk itu kembali mengeluarkan teriakan melengking, sedetik kemudian tubuh Peter terkulai dengan kepala masih berada di luar kereta.
Belum sempat mereka memahami apa yang sedang terjadi, rentetan tembakan menembus kereta dan menghujani mereka, beberapa prajurit rubuh seketika, Alex segera membentuk pelindung menggunakan kombinasi kekuatan tanah dan tanaman untuk melindungi kereta.
Beberapa jarum menancap di zirah Alex dan menggores beberapa anggota tubuhnya, untungnya tidak ada yang sampai menancap.
Sayangnya, beberapa prajurit gugur karena serangan dadakan itu, Alex mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk melihat apa yang sebenarnya ditembakkan makhluk itu.
"Apa-apaan ini? Jarum?" Si penyihir yang juga berhasil selamat karena mengeluarkan sihir pelindung tepat waktu mencabut sesuatu dari tubuh prajurit yang sudah mati.
Jarum itu terlihat aneh karena bentuk gerigi di setial jarum terlalu presisi, dan sepertinya jarum itu terbuat dari material yang mirip besi.
Satu jenis iblis terlintas di benak Alex, dia keluar dari kereta dan melihat Peter yang tewas dengan separuh tubuhnya terjuntai keluar pintu kereta, dua jarum besi terlihat menancap di kepalanya. Alex mencabut jarum itu dan menutup mata Peter, "Kau prajurit yang berani, kapten."
Dia lalu mengintip keluar dari celah pelindung tanahnya, di sana, sosok makhluk berwujud landak bertubuh besi dan mata hijau menyala terlihat berjalan mondar-mandir di luar pelindung yang dibuat Alex.
Si penyihir keluar mengikuti Alex dan memeriksa kondisi kuda mereka dan sais nya. "Sial, kuda kita mati karena jarum-jarum ini."
"Bagaimana kondisi kereta lain?" Penyihir itu menghampiri Alex dan duduk bersandar di sebelahnya, dia berseru mengumpat saat kakinya tersenggol akar tumbuhan pelindung Alex, rupanya dia terkena jarum di bagian kakinya.
Alex membuka sedikit celah di sisi lain dan mengintip keluar, terlihat kereta yang terguling dengan kondisi remuk karena rentetan tembakan jarum, genangan darah terbentuk di bawah kereta itu.
"Sial."
"Kelihatannya kabar buruk ya." Salah satu prajurit keluar dari kereta, beberapa jarum terlihat menancap di zirah dan beberapa anggota tubuhnya.
"Berapa yang tersisa dari kita Gilbert?" Penyihir itu bertanya pada prajurit yang baru keluar.
"Kelihatannya masih ada beberapa orang di dalam, mereka masih sibuk mengerang kesakitan." Prajurit bernama Gilbert ikut bersandar di dekat si penyihir.
"Kau punya rencana, Alex?" Si penyihir bertanya di tengah erangannya, tusukan jarum itu semakin bertambah sakit seiring berlalunya waktu.
"Sederhana sekali ya, bukan begitu, Dustin?" Gilbert menyahut dengan nada sinis.
"Benar-benar sederhana. Tapi apa kau seriusan mengatakan itu, bangsat?" Penyihir itu juga berkata sinis sambil menahan sakit.
"Tidak, aku serius. Tapi iblis itu saja sudah pergi duluan."
Kedua orang itu setengah tidak percaya, kemudian mereka membuka celah di pelindung tanah dan mengintip keluar.
"Benar-benar sudah tidak ada."
Iblis itu memang sudah pergi, situasi bisa dianggap aman saat ini dan mereka bisa saja keluar dari pelindung tanah, hanya saja masalahnya adalah apa yang harus mereka lakukan setelahnya.
Pos pertahanan masih sekitar sepuluh menit dari lokasi mereka sekarang, tapi itu kalau mereka menggunakan kereta kuda. Masalahnya, empat kuda yang mereka miliki beserta dua kereta sudah tidak bisa digunakan, saisnya pun sudah mati.
Mereka tidak mungkin berjalan kaki melanjutkan perjalanan mengingat resiko mereka disergap cukup tinggi untuk saat ini.
"Masa kita harus menunggu satuan yang mengevakuasi warga kota tadi sih." Penyihir itu mengeluh. Dia mulai memberikan perawatan pertama pada lukanya dan Gilbert, karena dia satu-satunya yang membawa perlengkapan medis, unit medis ada di kereta lain.
"Aku juga berpikir begitu, tapi mungkin mereka juga sudah tersapu gara-gara sergapan iblis." Sahut si prajurit.
Alex yang mendengar itu langsung terbayang wajah para warga dan anak-anak, dia mengepalkan tangannya dengan hati bergemuruh, mengutuk para iblis itu dalam hatinya.
Dua prajurit lain terlihat berjalan tertatih-tatih keluar dari kereta, satu diantara mereka adalah Wilman.
"Wah, anak baru memang biasanya beruntung sih, tapi ini sudah kelewat beruntung." Seru Dustin.
Kondisi Wilman terlihat cukup parah, banyak luka goresan dan jarum yang menancap di tubuh bagian belakangnya karena jarum-jarum itu lebih dulu mengenai sisi kereta yang ditempati Wilman, beruntungnya dia karena tidak ada jarum yang menancap di leher atau kepalanya.
__ADS_1
Prajurit satunya terlihat lebih baik dari Wilman meski sebenarnya tidak bisa dibilang baik-baik saja, telinga prajurit itu terputus dan beberapa jarum juga terlihan menancap di tubuhnya meski tak sebanyak Wilman.
"Kemarilah bocah beruntung, akan ku tuangkan alkohol di lukamu itu supaya tidak membusuk." Gilbert mengeluarkan botol alkoholnya dari kantong.
Wilman terdiam sejenak. "Bukannya sayang kalau dibuang? Lebih baik berikan padaku untuk aku minum."
Semua orang terdiam dan menatap Wilman beberapa saat, kemudian mereka mulai tertawa.
Dustin menghampiri Wilman sambil terseok-seok, kalau saja bukan karena luka Wilman kebanyakan berada di area punggung, dia pasti sudah menepuk punggung Wilman.
"Wah wah. Kau sudah sadar kalau hidup itu singkat rupanya." Dustin memberikan botol alkoholnya ke Wilman, "kau minum saja itu, alkohol Gilbert itu terlalu keras untuk pemula sepertimu."
"Ah, benar juga." Gilbert baru sadar.
Wilman menatap botol yang diberikan oleh Dustin, kemudian dia menutup mata dan menenggak isi botol itu, dia mengeluh panjang setelahnya.
"Jadi? Gimana?" Dustin yang melihat reaksi Wilman jadi sedikit khawatir.
"Ini sih ... Mantap parah." Wilman kembali menenggak isi botol Dustin.
Tawa keras kembali terdengar, Dustin dan Gilbert membantu dua orang itu untuk duduk, memberikan perawatan pertama untuk mereka.
Dustin lalu mengeluarkan botolnya yang lain dan mengangkatnya untuk bersulang. Semua orang ikut mengeluarkan botol alkohol mereka dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Untuk Wilman!" Seru Dustin.
"UNTUK WILMAN!" Seru mereka serempak.
Alex menyodorkan cerutu kepada Wilman. "Harusnya mau sudah tidak takut dengan asap tembakau lagi kan?" Dia tertawa kecil dan menerima cerutu itu, Alex mengeluarkan api di jarinya untuk menyulut cerutu itu.
Wilman terbatuk ketika pertama kali mengisap cerutu, tapi dia tetap lanjut mengisapnya, semua orang bertepuk tangan melihat kegigihan Wilman.
"Nah! Sekarang kau terlihat seperti prajurit sungguhan!" Dustin mengacak rambut Wilman yang lengket karena darah.
Gilbert mendadak berdiri dan berjalan menuju kereta. "Apa yang kau lakukan?" Dustin bertanya, wajahnya mulai memerah.
"Heh, bukannya alkohol mereka akan sia-sia?" Gilbert menarik botol alkohol milik Peter keluar dari kantongnya, Dustin dan yang lain terdiam sejenak, kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.
"Orang ini memang bajingan sejati!" Seru Dustin, dia menangkap botol alkohol yang dilemparkan Gilbert.
"Ya ya, dia memang bajingan!" Wilman juga ikut mengumpat Gilbert, kelihatannya dia mulai mabuk. Tawa mereka kembali meledak.
Gilbert kembali duduk setelah mengambil beberapa botol lagi, mereka kemudian asik bertukar cerita sambil minum dan mengisap cerutu.
"Oi, Alex. Kau ini anak bangsawan ya?" Dustin yang mulai mabuk melontarkan pertanyaan.
"Bangsawan matamu, aku ini sehari-hari harus mencari tanaman obat dan jamur untuk bertahan hidup sialan." Alex juga mulai terlihat mabuk.
"Hehehe ... Kau kalau mau bohong mikir dong." Wilman yang terlihat paling mabuk diantara mereka berlima menunjuk-nunjuk dahi Alex, "benar kan, Saul? Kau kan bangsawan, harusnya bisa merasakan aura bangsawan lain dong."
Prajurit yang kehilangan satu telinga itu terkesiap, dia berkedip-kedip menatap Alex dengan mata yang buyar selama beberapa saat.
Saul mendadak tertawa sambil menunjuk-nunjuk Alek. "Ya! Ya! Hahaha! Kau benar! Dia ini Pangeran Theodore kan!" Sepertinya bukan Wilman yang paling parah mabuknya.
Gilbert tertawa keras sambil memukul-mukul tanah melihat tingkah Saul. "AHAHAHA! Bocah-bocah ini sudah sinting semua!"
"Ngaca dong bangsat." Dustin yang sempoyongan mendorong kepala Gilbert yang langsung jatuh terkapar sambil mengumpat Dustin dan tertawa-tawa.
Semua bajingan di tempat itu memang sudah sinting.
"Halo, apa ada orang di sini?"
__ADS_1
"!!!!"