
Satuan pasukan sedang dimobilisasi, mereka bergerak merespon sinyal darurat yang berasal dari sebuah kota berjarak kurang lebih tiga puluh menit dari pos pertahanan barat.
Tentu saja itu yang terjadi jika kereta yang digunakan ditarik menggunakan kuda, tapi kali ini Julie membawa dua ekor hewan aneh dengan bentuk seperti perpaduan antara kuda dan badak.
Awalnya komandan pos pertahanan sedikit skeptis ketika Julie menawarkan hewan itu untuk menggantikan kuda, karena itu adalah jenis hewan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, tapi dia akhirnya menyetujui dan dia tidak menyesali keputusannya setelah melihat hasil yang dia lihat.
Dua kereta yang masing-masing ditarik oleh satu hewan itu melaju dengan kecepatan dua kali lipat dari kecepatan kereta yang ditarik dua ekor kuda.
Berkat hal itu, pasukan bantuan bisa mencapai kota yang mengirim sinyal darurat dalam waktu yang lebih singkat.
Saat mereka tiba, pasukan pertahanan kota masih sanggup mempertahankan benteng dari serangan iblis, sesuatu yang jarang terjadi saat kota itu terletak jauh dari pos pertahanan.
Mereka dengan cepat membalikkan keadaan, iblis yang terjepit dari dua dikalahkan dengan lebih mudah.
Meski ada iblis kuat seperti iblis zirah dan iblis merangkak yang memiliki wujud mengerikan dan gerakan yang gesit, tapi Gilbert yang memiliki fisik dan Aura paling kuat di antara mereka serta keterampilan bertarung hebat mampu menekan iblis zirah hingga akhirnya iblis itu jatuh setelah menerima serangan sihir output besar dari Dustin.
Iblis merangkak pun bisa diatasi oleh Alex, karena selain wujudnya yang mengerikan dan gerakannya yang gesit, iblis ini pada dasarnya hanya merupakan pengalih perhatian dan tidak menjadi ancaman besar. Ketika iblis lain sudah jatuh, maka mengalahkan iblis-iblis jenis ini adalah hal yang mudah.
Pertempuran itu berakhir dengan kemenangan, korban jiwa di pihak pasukan pertahanan kota tidak terlalu besar, dan tidak ada korban jiwa sama sekali di satuan yang dipimpin Alex.
Setelah membersihkan jasad para iblis dan membakarnya, Alex beserta satuannya bersiap kembali ke pos pertahanan.
Begitulah seharusnya.
Saat mereka sedang bersiap untuk kembali, tiba-tiba dari kejauhan muncul barisan pasukan berzirah, mereka pikir itu awalnya adalah sekelompok pasukan dari kota lain, tapi itu aneh karena tidak seharusnya mereka ada di sini.
Tapi setelah jarak mereka semakin dekat, terlihatlah kalau sekumpulan prajurit berzirah itu bukanlah manusia, melainkan pasukan mayat hidup bersenjata lengkap.
"EVAKUASI WARGA KOTA! INI SERANGAN SUSULAN!" Komandan pasukan pertahanan kota memberi perintah kepada pasukannya.
Komandan itu menghampiri satuan Alex. "Maafkan aku, sepertinya kalian terpaksa bertarung sekali lagi."
Alex tertawa mendengar perkataan komandan. "Mereka ini segerombolan manusia yang sudah dibuat gila oleh perang, momen seperti ini justru sudah mereka tunggu. Lagipula, kami harus membersihkan jalan untuk pulang."
__ADS_1
Komandan mengangguk dan menepuk bahu Alex, kemudian dia bergegas menuju ke barisan pasukannya dan memobilisasi mereka.
"Sepertinya harapanku untuk kembali tanpa kehilangan satu orang pun akan sulit terwujud." Alex menatap pasukannya.
"Hei, kapten baru. Kau baru saja bilang kami ini orang yang sudah dibuat gila oleh perang, bukankah orang gila sebaiknya segera dibersihkan?" Perkataan Gilbert disambut tawa dari prajurit Alex yang lain.
Alex menyeringai, dia mengaktifkan kekuatannya, bola-bola api terbentuk di sekitarnya dan langsung melesat ke arah gerombolan iblis yang datang, ledakan demi ledakan susul menyusul.
"Yang mati harus traktir semua orang minum malam ini." Seru Alex. "Begitulah seharusnya orang gila menyikapi kematian." Balas Tristan.
Pasukan garis pertahanan yang diperkuat oleh satuan Alex menghunus senjata masing-masing, bentrok dengan pasukan iblis mayat hidup tak terelakkan lagi.
"RRAH!" Gilbert menebaskan pedangnya ke salah satu iblis mayat hidup yang terlihat paling kuat, tapi makhluk itu dengan sigap mengangkat perisainya dan menangkis serangan Gilbert. Rongga mata makhluk itu memancarkan sinar biru gelap, menatap Gilbert dengan tajam.
Gilbert sejenak tercengang melihat itu, tapi dia kemudian menyeringai dan kembali melancarkan serangan susulan, iblis itu juga maju dengan pedang terhunus, pertarungan mereka berjalan dengan cukup sengit. Tapi Gilbert masih lebih diuntungkan karena kekuatannya lebih besar dari makhluk itu.
Di sisi lain, Tristan tak henti-hentinya menyerang iblis-iblis itu dengan dua kapaknya, meski mereka memberikan perlawanan yang sengit, tapi Tristan masih sanggup menjatuhkan mereka walaupun dia juga tak terhindar dari luka.
Alex juga terus menghujani makhluk itu dengan peluru batu, karena kekuatan tembakan batu itu sangat besar, lengan beberapa iblis yang berhasil menahan serangan Alex dengan perisai langsung terlepas setelah tubuh mereka terpental ke belakang.
Prajurit pertahanan juga tak kalah beringas dengan makhluk itu, mereka yang sudah berkali-kali menghadapi iblis dengan wujud aneh tidak lagi terkejut melihat mayat yang berlarian membawa senjata.
Korban jiwa tetap tidak terelakkan, iblis-iblis itu memang tidak sekuat iblis raksasa atau iblis lain, tapi mereka memiliki kemampuan bertarung yang sama seperti prajurit pada umumnya, ketika prajurit itu lengah sedikit saja, nyawanya bisa seketika melayang.
Gilbert yang sedang berduel dengan prajurit mayat hidup mulai mendominasi pertarungan, dia berhasil menciptakan celah dan memotong lengan yang memegang perisai meski dia harus terkena luka tusukan yang cukup dalam di lengannya. Tapi dia berhasil menjatuhkan makhluk itu setelah memenggal kepalanya.
Pasukan iblis yang tersisa sedikit segera dihabisi oleh prajurit lain, Gilbert yang terluka masih tetap menerjang barisan iblis dengan ganas, hal itu semakin meningkatkan moral pasukan bertahan, terlebih serangan Alex yang tidak berjeda berhasil memperlambat serangan iblis dan mengurangi jumlah mereka secara drastis.
Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, pertempuran itu berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan pertahanan.
Setelah pertempuran berakhir, tubuh mayat-mayat hidup itu perlahan berubah menjadi abu hitam dan menyisakan tulang belulang yang dibungkus tunik dan zirah.
Tulang belulang mereka segera dikumpulkan dan Alex membakar mereka sampai habis, zirah-zirah yang mereka pakai dikumpulkan di satu tempat dan disucikan oleh pemuka agama sebelum dikubur di luar benteng kota. Mereka tidak ingin ambil resiko terkena kutukan karena memakai zirah yang digunakan iblis.
__ADS_1
Tidak banyak korban jiwa dari satuan Alex, mereka diangkut ke kereta berukuran kecil yang nantinya akan dikaitkan dan ditarik oleh kereta kuda.
Alex dan satuannya tidak langsung pergi, mereka memutuskan untuk menunggu beberapa saat, jaga-jaga kalau iblis-iblis itu kembali melakukan serangan susulan. Selama menunggu, mereka membuat api unggun di luar benteng.
"Ini baru pertama kalinya terjadi dua gelombang dalam satu waktu." Komandan pasukan pertahanan membuka percakapan.
"Memang, sebelumnya yang seperti ini tidak pernah terjadi, terlebih itu adalah jenis iblis yang belum pernah muncul sebelumnya." Alex menanggapi.
Memang setelah kurun waktu tertentu, para iblis menjadi semakin kuat dan jenis mereka pun bertambah, entah seperti apa rupa para iblis itu dalam beberapa bulan ke depan.
"Sepertinya memang kita tidak memiliki harapan, aku merasa para iblis itu seperti sedang mempermainkan kita." Komandan bernama Larry itu kembali berbicara, prajurit yang mendengarnya terdiam, perkataan komandan memang ada benarnya.
"Tapi para dewa membantu kita dengan menganugerahi orang terpilih dengan kekuatan cahaya, bukankah kita pada akhirnya akan menang?" Wilman terlihat tidak sependapat dengan Larry.
Gilbert mendengus. "Kalau mereka memang niat membantu, seharusnya mereka turun sendiri dan menghabisi semua iblis itu sekaligus. Siapa tahu, mungkin sebenarnya para dewa itu ikut mempermainkan kita."
Wajah Wilman memerah, dia tampak tidak terima mendengar ucapan Gilbert, ibunya adalah seorang pemuka agama, jadi wajar kalau dia sedikit religius.
"Tidak mungkin mereka mengabaikan kita! Kalau orang tak beriman sepertimu saja masih ada di dunia, mana mungkin mereka membantu kita secara cuma-cuma."
Gilbert mengangkat bahu tidak peduli dan lanjut mengisap cerutunya, tapi pandangan Wilman tidak sekalipun teralihkan dari Gilbert, perkelahian bisa terjadi kapan saja kalau situasinya terus begini. Untungnya, Tristan segera menenangkan Wilman dan menyodorkan segelas kopi yang baru dia seduh.
"Orang atheis seperti dia jangan diajak ribut, nanti kau capek sendiri." Ujar Tristan sambil mengedipkan mata berulang kali ke Gilbert, dia hanya mendengus tidak peduli. Keributan berhasil dicegah.
Mereka kemudian kembali membicarakan beberapa topik sampai menjelang sore hari, karena sepertinya tidak ada tanda-tanda serangan susulan dari iblis, satuan Alex segera bersiap untuk kembali ke pos pertahanan.
Setibanya mereka di pos pertahanan, Alex merasa kalau barak terasa sedikit kosong, dia bertanya pada salah satu prajurit yang kelihatannya masih baru.
"Beberapa saat setelah kalian diberangkatkan, sinyal darurat lain ditembakkan dan satuan lain diberangkatkan, senior Julie termasuk dalam satuan itu."
Alex terdiam, hal seperti ini juga belum pernah terjadi sebelumnya, pantas dia akhir-akhir ini merasa kalau perang sedikit monoton, ternyata badai besar kelihatannya sedang di persiapkan.
Dia bergegas menuju kantor komandan pos pertahanan dan melaporkan peristiwa selama misi berlangsung, sembari berharap Julie kembali hidup-hidup karena ini pertama kalinya dia diterjunkan ke medan tempur.
__ADS_1