Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 9: Harapan


__ADS_3

Di sebuah jalan tepian tebing, terlihat seorang pemuda berusia dua puluhan sedang berjalan dengan perlahan, dia mencoba sangat berhati-hati dan tetap fokus, karena salah langkah sedikit saja, dia bisa berakhir dengan mengenaskan di dalam jurang di bawah sana.


Pemuda itu terus berjalan dengan hati-hati, di punggungnya terlihat sebuah keranjang berisi berbagai macam dedaunan dan jamur, di pinggangnya tersemat sebuah golok yang dia gunakan untuk memotong tanaman dan bertahan dari serangan hewan buas.


Langit sore hari itu terlihat lebih cerah dari biasanya, membuat pemandangan matahari terbenam saat ini menjadi lebih indah dari biasanya.


Pemandangan indah sore itu membuat pandangan si pemuda teralihkan sejenak. Tentu saja hal itu menjadi kesalahan yang sangat fatal.


Kaki si pemuda menginjak bagian tepian tebing yang rapuh, dia seketika kehilangan keseimbangan. Sialnya, saat berusaha mengembalikan keseimbangan, dia kembali menapak bagian tebing yang rapuh.


"AAAAAHHHHH!"


Pemuda itu pun terjun bebas kedalam jurang, beberapa kali tubuhnya menabrak dinding tebing sebelum akhirnya kembali terjun bebas. Sampai akhirnya, tepat sebelum tubuhnya menghantam dasar jurang, dia tersangkut di sebuah pohon yang tumbuh di dinding tebing.


Dia memang tidak mati, tapi tubuhnya sudah babak belur karena berkali-kali menghantam dinding tebing saat jatuh, dan meskipun dia tersangkut di pohon di saat-saat terakhir, tetap saja dia mendapatkan luka fatal.


Gravitasi membuat tubuhnya kembali terjatuh ke dasar jurang, kali ini dia benar-benar sudah tidak berdaya, tulang-tulangnya patah, tubuhnya memar-memar. Bahkan terdapat beberapa luka yang menganga, darah segar mengalir deras dari luka itu.


'Apa aku akan mati disini? Sendirian di tempat gelap dan dingin ini?'


Dia mulai berhalusinasi karena kehilangan banyak darah, gambaran ingatan masa lalunya mulai muncul satu persatu. Tubuhnya semakin dingin, beberapa kali dia memuntahkan darah, bibirnya bergetar dan air mata mengalir dari matanya yang mulai kehilangan cahaya kehidupan.


Saat kesadarannya mulai memudar, sesosok cahaya muncul di hadapannya.


"Apakah kau akan menyerah disini?"


'Lalu aku harus bagaimana? Bahkan untuk berbicara saja aku sudah tidak bisa.'


"Apa kau sudah tidak memiliki harapan?"


'Apa dia bisa mendengar isi hatiku? Tentu saja aku masih ingin hidup, tapi aku tidak berharap pada sesuatu yang mustahil.'


"Maka itu cukup."


Kesadarannya hilang sepenuhnya setelah itu.


...****************...


Pemuda itu tersentak dan bangun dari tidurnya, nafasnya tersengal, dia mengedarkan pandangan ke sekitar. Dirinya masih berada di kedalaman jurang, segera saja dia memeriksa kondisi tubuhnya.


Dia tertegun, tidak ada satupun luka di tubuhnya, padahal dia ingat dengan jelas kalau beberapa saat lalu, tubuhnya terluka parah, bahkan dia sudah berada di ambang kematian.


Berbagai pertanyaan mulai muncul di benaknya, siapa sosok cahaya yang mendatanginya, apa yang dilakukan sosok itu sampai bisa membuat seluruh luka di tubuhnya seolah tidak pernah ada. Juga, bagaimana cara keluar dari tempat ini.


Pemuda itu mulai berjalan menyusuri dasar jurang, dia bisa melihat sinar matahari dari mulut jurang di atasnya, tapi tentu saja sangat mustahil untuk menggapai mulut jurang yang sangat tinggi itu.

__ADS_1


Beberapa kali dia menemukan tanaman rambat yang menumbuhkan buah, dia memakan buah-buah itu untuk mengisi tenaganya, keranjang berisi dedaunan herbal dan jamur yang dia bawa sudah hilang entah kemana.


Dia sudah berjalan cukup lama di dasar jurang ini, tapi berkat tanaman berbuah dan aliran air kecil di sepanjang dasar jurang, dia tetap bisa mempertahankan ketenangannya dan terus lanjut berjalan.


Lama-kelamaan dia mulai menyadari, bahwa dinding di dasar jurang ini tidak sama seperti di tempat dia terjatuh, dinding-dinding di sampingnya terlihat seperti dibentuk oleh sesuatu sedemikian rupa hingga menyerupai lorong bangunan. Lorong ini memiliki ukiran di sepanjang dindingnya, pola ukiran seperti itu belum pernah dilihat oleh pemuda itu sebelumnya. Pola unik itu seperti menunjukkan jalan ke suatu tempat.


Pemuda itu segera mempercepat langkahnya, berharap di tempat yang ditunjukkan oleh ukiran dinding itu memiliki petunjuk yang bisa menunjukkannya kepada jalan keluar.


Semakin dia berjalan lebih jauh, ukiran di dinding terlihat memancarkan cahaya redup, firasatnya mengatakan bahwa dia sudah semakin dekat apapun yang terdapat di ujung lorong ini.


Benar saja, di ujung lorong itu, terdapat sebuah altar yang sudah ditumbuhi lumut dan tanaman liar di seluruh bagiannya. Namun ukiran-ukiran di altar itu masih memancarkan cahaya redup. Sesuai dugaannya, seluruh ukiran di dinding jurang ini mengarah ke suatu titik, yaitu altar yang ada di hadapannya.


Dia perlahan-lahan mendekati altar itu, setelah dia perhatikan, di altar itu terdapat semacam singgasana yang menyatu dengan sebilah pedang, seolah altar di sana dibuat untuk menyimpan pedang itu.


Setelah dia mencapai jarak beberapa meter dari altar, tiba-tiba seluruh ukiran yang ada di tempat itu memancarkan cahaya terang, membuat pemuda itu menyipitkan matanya. Samar-samar, ditengah pancaran cahaya dari segala arah, dia bisa melihat singgasana di atas altar itu terbelah, menampilkan sebilah pedang yang memancarkan cahaya paling terang.


Perlahan, seluruh cahaya kembali redup, menyisakan cahaya yang memancar dari pedang itu. Seolah merasa dirinya terpanggil, dia berjalan mendekati altar dan menggenggam gagang dari pedang yang melayang di tengah-tengah altar.


Cahaya yang memancar dari pedang itu dengan cepat menjalar dan masuk ke tubuhnya, pemuda itu gelagapan dan berusaha melepaskan pedang yang menempel dengan sangat erat di tangannya. Tapi selagi dia berteriak dan mencoba melepas pedang itu, seluruh cahaya di pedang itu telah masuk ke dalam tubuhnya.


Sejenak dia terlihat sedikit kebingungan dan masih mencoba mencerna peristiwa aneh yang barusan dia alami, pedang di genggamannya pun tidak lagi menempel seperti tadi.


"Apa-apaan." Dia tidak merasakan keanehan apapun pada tubuhnya, pedang itu pun dia lepas dari genggamannya dan segera menjadi sebongkah batu yang langsung hancur menjadi debu.


"Apakah kau sanggup menanggung tanggung jawab dari pedang itu?" Pemuda itu berbalik ke belakang, itu adalah suara yang sangat dia kenali karena dia baru saja mendengarnya beberapa saat lalu.


Semua kejadian ini membuat kepalanya pening, tapi dia tetap merespon perkataan sosok itu. "Memang tanggung jawab apa yang harus aku emban?" Pemuda itu balik bertanya.


"Seperti yang seharusnya kau ketahui, dunia ini sedang terancam karena kehadiran sesosok entitas misterius. Tugasmu, wahai pengemban pedang cahaya, adalah melindungi umat manusia dari kehancuran yang akan disebabkan oleh makhluk itu."


"Dengan kata lain, pedang ini memberiku kekuatan untuk menyelamatkan umat manusia, begitu?"


"Kau menerima kekuatan cahaya, cahaya yang mampu menghapuskan kegelapan, kau adalah pahlawan yang menanggung nasib manusia."


"Bukankah itu terlalu berat? Aku tidak mampu melindungi seluruh manusia seorang diri." Tentu saja pemuda itu merasa pesimis, mana mungkin dia bisa menjaga semua manusia di dunia yang luas ini.


"Kau tidak sendirian, ada banyak orang yang dipilih untuk menjadi pengemban kekuatan cahaya, mereka akan menjadi rekanmu dan bersama-sama, kalian akan menyebarkan cahaya harapan ke penjuru dunia."


Pemuda itu terdiam sejenak, tatapan matanya membara, jiwa keadilannya meraung-raung. Kemunculan makhluk yang mengancam umat manusia itu memang membuatnya geram karena dia tidak bisa berbuat apapun, tapi kini dia memiliki kesempatan untuk melawan ancaman itu.


"Maka aku akan menerima beban tanggung jawab itu, aku akan melindungi umat manusia dari mereka." Dia menjawab dengan tegas.


"Kami akan menunggumu. Oh, penyelamat umat manusia."


Setelah kalimat sosok itu habis, pancaran cahaya muncul dan membutakan pandangan si pemuda, dia menutup mata dengan tangan saking silaunya. saat cahaya itu menghilang, pemuda itu terkejut saat membuka mata, karena dia sudah berada di jalur hutan yang menuju tempat tinggalnya.

__ADS_1


Dia segera berlari menuju perkampungan kaki gunung di depannya, beberapa kali dia berpapasan dengan warga yang menatapnya dengan tatapan aneh. Sesampainya di rumah, dia langsung membuka pintu dan masuk rumah dengan terburu-buru.


Seluruh anggota keluarga yang melihatnya datang terkesiap saat dia masuk, mereka seperti mematung selama beberapa saat, ibu yang matanya bengkak seperti orang habis menangis mendekatinya dengan tatapan tidak percaya.


Bahkan adik-adiknya terlihat shock dengan kehadirannya. "Alex ... Kamu Alex?" Ibu menyentuh pipi pemuda yang rupanya bernama Alex itu, lalu dia menangis sejadi-jadinya, para tetangga berkumpul ke rumah Alex dengan penuh rasa heran.


Alex terlihat bingung dengan reaksi orang-orang yang sangat aneh, dia bertanya ke salah satu temannya yang juga menatap Alex dengan wajah tak percaya.


"Apa yang terjadi?"


Teman Alex menggeleng, lalu dia kembali mengamati wajah Alex sebelum akhirnya berkata dengan suara bergetar. "Kawan ... Kau ... Kau ... Kami mencarimu kemana-mana, tapi ... Kami hanya menemukan keranjang mu tersangkut di dinding tebing." Teman Alex menunjuk keranjang yang diletakkan di sebuah meja. Tidak salah lagi, itu memang keranjang miliknya.


Alex merasa reaksi semua orang berlebihan, "Ayolah, aku hanya terjatuh ke jurang dan kehilangan kesadaran selama beberapa saat, tidak perlu sampai menangis begini."


Temannya menggeleng, "Alex ... Sebenarnya ... Kau sudah menghilang selama dua pekan, ini adalah hari ke lima belas, semua orang sudah menyerah mencarimu."


Jantung Alex seolah berhenti berdetak mendengar ucapan temannya, "Apa? Dua pekan? Tidak lucu, Andre." Alex dan Andre saling tatap, tidak ada tanda-tanda Andre berbohong, wajah sedih dan terpukul itu sama sekali tidak dibuat-buat.


Alex mengedarkan pandangannya ke sekeliling, barulah dia menyadari apa yang dikatakan Andre memang benar, ibu dan adik-adiknya memeluknya dengan tangisan keras, orang-orang berseru di sekitar rumahnya 'Alex sudah kembali!' Kalimat itu terus-terusan dia dengar dari orang-orang di sekelilingnya.


Dia pun tak sanggup menahan air mata dan membalas pelukan ibu dan adik-adiknya. "Maafkan aku ... Aku membuat kalian semua khawatir."


Selama beberapa waktu kedepan, tangisan haru dan seruan lega terus terdengar dari perkampungan itu.


...****************...


Setelah suasana kembali terkendali, semua orang membubarkan diri setelah mereka menyapa Alex, mereka tidak bertanya panjang lebar karena keluarganya adalah yang paling berhak mendengar ceritanya lebih dulu.


Andre menangis cukup lama di pelukan Alex, sampai-sampai ingusnya belepotan di baju Alex yang compang-camping. Perlu tenaga beberapa orang dewasa untuk melepas dekapan Andre.


"UWOOHH! KAU BRENGSEK! KAU TIDAK TAHU BETAPA KHAWATIRNYA AKU! SIALAN! KAU SIALAN ALEX! UWOOOHHH!"


Bahkan saat diseret menjauh dari Alex pun dia masih saja meraung seperti bayi sambil menyumpahi Alex, dia terlihat benar-benar lega karena Alex kembali ke rumah.


Sekarang tersisa keluarganya yang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya, Alex mengerti kekhawatiran mereka dan dia segera menceritakan apa yang terjadi kepadanya selama dua pekan terakhir, yang menurut Alex hanya beberapa jam yang lalu.


Dia tidak menceritakan bagian dimana dia terluka sampai hampir mati, dia bilang hanya sempat mendapat luka kecil dan lecet di beberapa tempat.


Ibu dan adik-adiknya ternganga tidak percaya dengan semua cerita Alex, tapi mereka tahu Alex bukan orang yang suka berbohong dan mengarang cerita, tapi semua cerita Alex memang sulit dipercaya.


"Aku pun tidak akan percaya kalau tidak mengalaminya langsung, semua benar-benar seperti apa yang aku katakan, dan itu terjadi hanya beberapa jam yang lalu."


Semua terdiam mendengar cerita Alex, dua adik Alex yang masih berumur 17 dan 13 saling tatap, meskipun sulit dipercaya, cerita kakak mereka terdengar sangat keren.


Adiknya yang berusia 13 tahun melontarkan pertanyaan, "Jadi, kakak sekarang bisa mengeluarkan kekuatan cahaya gitu? Atau kakak jadi punya sihir yang super keren? Atau mungkin tinju kakak bisa menghancurkan batu?" Alex hanya tertawa mendengar pertanyaan antusias adiknya itu.

__ADS_1


Tapi pertanyaan adiknya membuat Alex berfikir 'Iya juga ya, memang aku punya kekuatan apa?'


__ADS_2