Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 12: Akademi


__ADS_3

Alex berdiri diam, tatapannya menatap lurus ke depan, beberapa kali dia terlihat meneguk ludah, tak terhitung berapa kali dia merapikan pakaian formal yang dikenakannya.


Saat ini, dia sedang berdiri di depan gerbang salah satu akademi paling berpengaruh di dunia saat ini, akademi yang didirikan karena krisis yang melanda manusia saat ini.


Di atas gerbang besar itu, terpampang papan raksasa dengan aksara barat bertuliskan "Akademi Aliansi Benua Barat". Satu persatu peserta didik mulai memasuki gerbang, melewati Alex yang masih saja terpaku di tempatnya.


Dari penampilan mereka, Alex bisa tahu kalau mereka berasal dari keluarga bangsawan atau saudagar kaya. Lihat saja peralatan sihir dan senjata yang mereka bawa, lalu lihat Alex yang hanya membawa tas kecil berisi buku pemberian orang-orang di kampung.


Semua ini terasa terlalu megah untuk Alex yang terbiasa hidup di kampung pegunungan. Takut-takut bukannya belajar dan berlatih, malah dia disuruh menjadi babu sekolah karena cuma rakyat jelata dari pegunungan.


"WAAHHH!"


Satu tepukan di pundak membuat Alex terkesiap dan berseru kaget, orang yang menepuk pundaknya juga ikut berseru kaget karena Alex yang berseru kaget membuatnya berseru kaget. -,-


"Apa-apaan kau ini!?" Protes dengan nada tinggi langsung menyambut Alex begitu dia membalikkan badannya.


"Apaan!? Orang kau yang bikin kaget!" Alex juga tidak mau kalah, dia yang dibikin kaget kenapa orang itu yang malah protes.


Mereka saling bertukar pandangan selama beberapa saat, sampai akhirnya orang yang mengagetkan Alex itu tiba-tiba tertawa, membuat Alex merasa aneh dengannya.


"Iya deh, maaf." Orang itu akhirnya berhenti tertawa, sekarang dia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Alex. Dengan masih merasa aneh, Alex menyambut jabatan tangan itu.


"Namaku Adrian Cornivus, panggil saja Adrian." Alex bukan tipe orang yang berat hati berkenalan dengan orang baru, tapi tingkah orang ini sangat sok akrab, ditambah dia kelihatan seperti bangsawan, itu membuatnya merasa sedikit tidak enak.


"Namaku Alex Collin, panggil saja Alex." Laki-laki bernama Adrian itu tersenyum, Alex juga kenal orang bernama Adrian di kampung halamannya, meskipun tidak setampan Adrian yang ini sih.


"Mau masuk bareng?" Adrian menunjuk gerbang akademi, Alex yang merasa dapat tumpangan langsung saja mengangguk setuju.


Mereka akhirnya berjalan masuk ke akademi, Alex mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dia tidak berhenti terkagum-kagum dengan semua yang dia lihat. Seolah dia masuk ke dunia yang berbeda, meskipun dia pernah masuk ke dunia lain sebelumnya.


Bangunan-bangunan akademi terlihat sangat besar, beberapa menara terlihat tinggi menjulang. Kalau tidak ada yang bilang ini akademi, pasti Alex akan salah mengira ini adalah istana kerajaan.


"Bangunan disini terlihat megah ya." Adrian berkata kepada Alex yang terlihat kagum, "Aku sebelumnya tinggal di pegunungan, tentu saja ini pemandangan baru buatku," ujar Alex, "Eh, benarkah? Aku juga tinggal di pegunungan sebelumnya."


Ucapannya tidak masuk akal. Batin Alex, Adrian ini dilihat saja sudah ketahuan kalau dia adalah bangsawan. Dengan wajah yang tampan dan terlihat bersih, juga rambutnya yang tertata rapi, siapa juga yang percaya kalau dia berasal dari kampung pegunungan.


Di lobi akademi, Alex melihat loket dengan papan bertuliskan "Selamat datang peserta didik baru". Dia segera ikut barisan murid-murid yang mengantri masuk pintu untuk mendapatkan kunci kamar dan paket peralatan pemberian sekolah seperti pedang, katalis, dan sebagainya.

__ADS_1


Tapi baru saja dia masuk antrian, Adrian menarik tangannya keluar dari antrian. "Kenapa sih?" Alex kebingungan dengan perilaku Adrian, tapi Adrian mengisyaratkan kepada Alex untuk mengikutinya memotong antrian.


"Hey! Memangnya ini boleh?" Alex sedikit ketakutan ketika mereka melewati petugas loket, tapi mereka malah mempersilakan mereka berdua untuk masuk langsung ke bangunan utama akademi.


Masih kebingungan dengan situasi barusan, Alex bertanya kepada Adrian, "Kok kita dipersilakan masuk begitu saja?" Adrian malah menatap Alex kebingungan, "Lah, kan kita kelas khusus." Alex malah tambah kebingungan, "Lah, kok bisa? Apaan lagi itu?"


Adrian menepuk jidatnya dengan ekspresi tidak percaya, "Kau masuk akademi ini tanpa mengetahui apapun?" Alex masih saja menatap Adrian kebingungan, membuat Adrian merasa jengkel bercampur geram.


"Jadi, kenapa aku tiba-tiba bisa masuk kelas khusus?" Gigi Adrian gemerutukan karena gemas setengah mati karena kebegoan orang yang ada di depannya ini, "Ya kan kau, aku. Kita! Kita ini kan pengemban kekuatan cahaya!" Ekspresi bego di wajah Alex berubah jadi ekspresi tertegun, Adrian lega karena sepertinya Alex sudah paham apa yang terjadi.


Tapi dengan nada polos, Alex kembali bertanya, "Kamu kok bisa tahu aku punya kekuatan cahaya?" Tatapan Adrian seketika menjadi kosong, pertanyaan Alex barusan menghancurkan semua ekspektasi Adrian, kali ini kesabarannya benar-benar sudah di ujung. Dia berbalik badan dan berjalan menjauh dari Alex yang masih terlihat bingung.


"Hei! Adrian! Jangan pergi dong, aku tidak tahu harus kemana." Alex bergegas menyusul Adrian yang terus saja berjalan tanpa memedulikan Alex, dia berjalan sambil mulutnya komat-kamit menggumamkan sesuatu.


Alex menepuk pundak Adrian, yang ditepuk langsung berbalik dan menatapnya tajam, "Kau itu bego atau goblok sih?" Adrian menunjuk jidat Alex dengan emosi, urat lehernya sampai terlihat jelas karenanya.


"Eh, maaf. Tapi aku benar-benar tidak tahu apa-apa." Alex mengangkat kedua tangannya, dia sedikit ketakutan dengan perubahan sikap Adrian yang tadinya santai jadi mengerikan seperti ini. "Bukannya akademi sudah memberikan buku panduan yang menjelaskan semua hal yang ada di akademi?" Adrian masih saja belum reda emosinya, itu membuat Alex mulai merasa bersalah.


Tapi itu membuatnya mengingat sesuatu, "Benar juga, kalau dipikir-pikir, pelayan yang memberikan set seragam ini padaku juga menyertakan sebuah buku," ucap Alex, "Tapi setelah itu bukunya hilang entah kemana," lanjutnya.


"Itu ... Jadi, bagaimana kau tahu aku pemilik kekuatan cahaya? Apa kekuatanmu itu bisa membaca kekuatan orang lain atau bagaimana?" Adrian menatap Alex dan menunjuk dada kiri Alex, disana tersemat sebuah lencana berwarna emas bergambar simbol peta dunia dengan latar belakang pedang yang menyilang dan sepasang sayap, sebuah rantai juga tergambar mengelilingi peta dunia itu.


"Ini adalah simbol akademi, dibuat berdasarkan simbol Aliansi Enam Benua. Lencana perunggu menandakan kau itu murid reguler yang masuk akademi lewat jalur normal, lencana perak artinya kau direkrut secara khusus oleh akademi. Sedangkan emas, lencana kita, menandakan kalau kita ini orang yang memiliki kekuatan cahaya."


Alex manggut-manggut mendengar penjelasan panjang lebar dari Adrian, sekarang di paham kenapa Adrian bisa sangat emosi tadi, pengetahuan umum akademi saja Alex tidak mengerti.


Bangunan lobi dan gedung utama dipisah oleh sebuah taman yang menjadi area belajar sekaligus tempat bersantai semua murid yang ada di akademi. Alex lagi-lagi termangu melihatnya, dia pernah sekilas melihat taman milik Count Arnold, dan taman disini sama indahnya dengan taman milik bangsawan. 'Gila banget,' batin Alex.


Mereka berdua akhirnya tiba di gedung asrama. Disana, seorang staff mengarahkan mereka ke kompleks asrama lencana emas yang sudah terlihat seperti penginapan kelas atas. Karena datang bersamaan, Alex dan Adrian akhirnya ditempatkan dalam satu kamar, mereka diberi dua kunci masing-masing, untuk jaga-jaga jika kunci utama hilang.


Kamar untuk lencana emas memiliki fasilitas paling lengkap dibanding asrama untuk lencana lain, di kamar mereka terdapat empat ranjang terpisah, setiap ranjang dibatasi dengan sebuah rak buku dan meja belajar yang diatasnya terdapat lampu baca, ada empat pintu di sisi lain ruangan yang nampak seperti kamar mandi.


Seorang staff menyusul masuk ke dalam kamar, "Masing-masing penghuni kamar dipersilakan memilih kamar mandi masing-masing dan bertanggung jawab atas kebersihannya, setiap hari akan ada staff yang mengambil laundry. Saat jam makan, kalian akan digabung dengan siswa-siswi dari lencana lain, tapi kalian akan mendapat sepaket suplemen makanan setiap hari, yang akan diantar oleh staff saat pagi hari," terang staff itu, "Ada pertanyaan?" sambungnya.


Seseorang mengangkat tangan, rupanya sudah ada dua orang lain di kamar itu selain Alex dan Adrian. "Apa lencana lain juga mendapat fasilitas seperti kami?" Staff menggeleng setelah mendengar pertanyaannya.


"Tentu saja lencana emas mendapatkan perlakuan dan fasilitas khusus, karena pada dasarnya kalian adalah penyelamat manusia di masa depan. Jika memang masih ada masa depan tentunya," kalimat terakhir staff itu membuat Alex sedikit bergidik, "Bahkan rasanya perlakuan sebatas ini terasa masih kurang, tapi ya beginilah." Lanjut staff itu.

__ADS_1


Seisi kamar mengangguk-angguk, dirasa tidak ada lagi pertanyaan, staff itu memberi kalimat terakhir.


"Diskriminasi dan perundungan tidak diperkenankan di akademi ini, meski kalian berbeda lencana dan status sosial, perlakukan teman kalian seperti orang yang setara. Pembagian kelas menggunakan lencana pastinya akan menimbulkan diskriminasi dan perpecahan, tapi itu adalah salah satu metode pendidikan di akademi ini. Kalian adalah rekan yang akan bertarung bersama dan saling bahu membahu menyelamatkan dunia, maka kami ingin melihat seberapa tinggi kesadaran kalian akan arti kata 'Bersatu'."


Staff itu undur diri dan berjalan keluar dari kamar mereka, salah seorang penghuni kamar tertawa kecil, "Terdengar seperti pidato sambutan kepala akademi, bukan begitu?" Temannya yang lain ikut tertawa mendengarnya.


"Ah. Perkenalkan, namaku Alvaro Balchanes. Senang bertemu kalian." Orang yang tadi tertawa memperkenalkan diri kepada Alex dan Adrian. "Aku Anford Nostrada. Salam kenal."


Alex ikut memperkenalkan diri, "Namaku Alex Collin, semoga kita bisa berteman dengan baik kedepannya." Tentu saja Adrian juga. "Namaku Adrian Cornivus. Kalau dipikir-pikir, semua orang di kamar ini berinisial A kan."


Semua orang tertawa seperti baru menyadarinya, "Benar juga. Kau itu Adrian Cornivus Duterte bukan? Aku dengar kau di rekrut oleh akademi ini, tidak kusangka kita bisa sekamar." Anford menjabat tangan Adrian.


Mereka pun saling berjabat tangan. "Nostrada ya, perusahaan keluargamu benar-benar besar, aku selalu melihat simbol perusahaanmu di jalanan." Anford terlihat senang karena Adrian mengenali nama keluarganya, "Akan sangat aneh kalau aku sampai tidak tahu," lanjutnya, seperti tahu isi pikiran Anford.


"Balchanes, aku pernah menggunakan parfum racikan desainer Balchanes, benar-benar mengesankan." Alvaro juga tampak bangga mendengarnya, dia juga menjabat tangan Adrian. "Sebuah kehormatan pangeran Zirae Levanto mengenali produk murahan kami." Alvaro hampir berlutut, tapi Adrian langsung menghentikannya.


Alex ternganga mendengar ucapan Alvaro barusan. 'Pangeran? Tidak salah dengar nih? Zirae Levanto kan negara republik yang dibangun di dataran tinggi benua barat, padahal bilangnya dia berasal dari pegunungan ... Eh, ya nggak salah sih,' batin Alex.


"Bagaimana denganmu?" Pertanyaan Anford diarahkan kepada Alex, itu membuat Alex gelagapan, semua orang di ruangan ini punya latar belakang mengagumkan, tidak sepertinya yang cuma anak kampungan yang berasal dari gunung.


"Tas yang kau bawa itu terlihat payah, penyamaranmu benar-benar tidak berkelas." Alvaro tertawa menatap tas yang dibawa Alex, Adrian ikut menanggapi, "Dia memang payah dalam menyamar."


Wajah tiga orang di ruangan itu terlihat antusias menunggu jawaban Alex yang mulai keringat dingin, dia ingin jujur tapi takut, mau bohong juga tidak baik. "Ah, biar aku tebak. Apakah Anda Pangeran Theodore Edgard Khalinos?" Alvaro memasang sikap hormat.


Tapi Anford menendang kakinya, "Jelas-jelas namanya Alex Collin, lagipula tadi aku sudah berpapasan dengan Pangeran Theodore, mereka memang mirip sih, tapi Alex ini lebih tampan dari Pangeran Theodore."


'Eh? Yang benar?' Batin Alex tidak percaya, anak kampung sepertinya disangka pangeran oleh orang lain, mana dibilang lebih tampan dari pangeran betulan lagi. Dia belum pernah melihat seperti apa rupa Pangeran Theodore, dan tau-tau sekarang ada orang yang menyamakan mereka berdua.


"Aku cuma seorang yang berasal dari keluarga Count." Akhirnya Alex menjawab, tidak bohong sih, kan yang membawa Alex kesini Count Arnold Bauved, dan berstatus sebagai anak angkat Count saat ini.


"Berasal dari keluarga Count. Berarti bukan asli putra Count." Alvaro mengelus dagunya, jantung Alex seperti berhenti berdetak. 'Mampus deh.'


Anford menjentikkan jarinya, "Ah! Jadi kau ini bangsawan tinggi atau ningrat dari sebuah negara yang menyamar jadi putra keluarga Count? Cukup bagus sih, tapi cuma orang bodoh yang percaya dengan omong kosong payah itu."


Adrian manggut-manggut setuju, "Masuk akal, tapi kalau dia memang tidak mau mengaku ya sudah, mungkin dia punya alasan sendiri." Semua yang ada di ruangan itu setuju dengan ucapan Adrian.


'Alah! Bodo amat lah.'

__ADS_1


__ADS_2