
Seluruh prajurit bergegas memakai peralatan tempur masing-masing, seorang prajurit berlarian ke penjuru barak sambil meneriakkan situasi yang terjadi saat ini
"SERANGAN IBLIS! MEREKA BERGERAK DARI TENGGARA! PRAJURIT BENTENG SEDANG MENAHAN MEREKA! BERGEGAS!"
Alex keluar dari barak bersama dengan rombongan prajurit lain, suasana di kota itu berubah seketika, beberapa saat lalu saat dia berpatroli, semuanya terasa cerah dan baik-baik saja, tapi suasana kota ini mendadak muram setelah sirine darurat berbunyi.
Dalam perjalanan, Alex bertemu beberapa rekannya yang lain, raut wajah mereka semua nampak tegang, bayangan serangan di kereta kembali kembali muncul di benak mereka.
Mereka semua segera menuju garis pertahanan kota, bagian tenggara kota ini berupa perbukitan batu dengan lautan di ujungnya, entah bagaimana mereka mencapai tempat ini.
Saat Alex tiba di garis pertahanan, dia terbelalak melihat pemandangan di hadapannya. Ratusan, tidak, mungkin ribuan makhluk menyerupai manusia dan hewan berlarian menuju kota dengan tubuh yang telah membusuk.
"Apa-apaan ...."
Beberapa prajurit yang shock langsung muntah ditempat, para perwira meneriaki mereka untuk tetap kuat, meski mereka sendiri juga merasa gentar.
Di situasi mencekam itu, semua orang seperti terpaku di tempatnya, mereka tahu kalau makhluk-makhluk itu sampai di garis pertahanan dan mencapai benteng, maka hal yang sangat-sangat buruk akan terjadi.
Tapi meski mengetahui fakta itu, mereka tidak bisa menggerakkan tubuh karena rasa takut, rasa takut menghadapi sesuatu yang tidak diketahui dengan resiko yang tak diketahui pula.
Beberapa dari mereka bahkan jatuh terduduk dan bahkan berniat untuk kabur pada saat itu.
Namun tiba-tiba sebuah kobaran api dari garis pertahanan tiba-tiba muncul dan melesat menghantam gelombang makhluk-makhluk itu, meledakkan sebagian besar dari mereka. Serangan itu berasal dari Alex, tanpa mengambil jeda, Alex kembali menembakkan kobaran api bertubi-tubi menghantam barisan mereka tanpa ampun.
Seperti baru tersadar, prajurit lain segera mengambil crossbow dan mulai menghujani gelombang makhluk terkutuk itu dengan anak panah, operator artileri segera menembakkan meriam-meriam mereka, Alicia pun turut melemparkan amunisi meriam dengan tangan kosong, kekuatan lemparannya bahkan melampaui kekuatan meriam itu sendiri.
Meski rasa takut masih menyelubungi hati mereka, namun kobaran api yang terus menerus ditembakkan Alex seolah ikut membakar semangat bertahan hidup mereka.
Diantara serangan-serangan jarak jauh yang diluncurkan pasukan garis pertahanan, ada beberapa makhluk yang berhasil meloloskan diri, atau lebih tepatnya serangan-serangan itu tidak mengenai mereka karena jumlah mereka yang begitu besar.
Disitulah peran prajurit infanteri, mereka mulai menghunuskan senjata masing-masing, membabat makhluk-makhluk itu satu persatu.
Anford dengan senjata yang dialiri panas dari tubuhnya maju ke depan garis pertahanan, menghalau makhluk-makhluk yang berusaha menerobos masuk. Kekuatan panas tubuhnya membuat dia mampu membelah tubuh mereka seperti mengiris mentega. Desmond yang tak mau ketinggalan pun turut maju dan bahu-membahu menghabisi makhluk-makhluk itu.
Meski jumlah mereka sudah berkurang karena rentetan serangan Alex yang tidak henti-hentinya menggempur mereka, tapi makhluk-makhluk itu seperti tidak ada habisnya, mereka terus berdatangan seperti ombak lautan.
Tapi walaupun jumlah mereka banyak, berkat pergerakan mereka yang hanya berlari maju ke depan tanpa perhitungan apapun membuat mereka mudah dikalahkan. Masalahnya adalah stamina para prajurit yang perlahan mulai terkuras, kalau pertempuran ini berlangsung terlalu lama, tidak menutup kemungkinan akan jatuh korban jiwa di pihak mereka.
Hal itu diperparah dengan munculnya makhluk yang berwujud anjing dengan tubuh membusuk, pergerakannya yang lincah membuat prajurit garis belakang kesulitan membidik mereka.
"ARGGHH!" Salah satu anjing tersebut menggigit kaki dari seorang prajurit, tapi dengan sigap dia menusuk kepala anjing itu dengan belati, membuatnya terkapar seketika.
__ADS_1
Beberapa petugas medis berusaha menolong prajurit tersebut, hanya saja, sebelum mereka mencapai lokasinya, prajurit itu mendadak kejang-kejang disusul ruam biru yang muncul di sekujur tubuhnya. Tak lama kemudian, prajurit itu berhenti bergerak dengan mulut menganga mengeluarkan darah.
Hal itu menimbulkan rasa gentar di pihak pasukan bertahan, beberapa dari mereka mulai merasa kewalahan menghadapi makhluk-makhluk aneh itu karena moral yang mulai turun.
Suara teriakan lain kembali terdengar, seorang prajurit yang berada di depan garis pertahanan dikerumuni oleh beberapa makhluk itu, mereka mulai memakan tubuh prajurit itu dalam kondisi hidup-hidup.
Moral seluruh pasukan runtuh seketika melihat pemandangan di hadapan mereka, prajurit itu masih berteriak meminta tolong sementara bagian-bagian tubuhnya dimakan satu persatu.
Suara teriakan kesakitan mulai terdengar silih berganti, korban jiwa mulai berjatuhan di barisan pasukan bertahan.
"Ini gila ... Kita tidak bisa melawan sesuatu yang seperti ini ...." Beberapa dari prajurit mulai mundur ke garis pertahanan, membuat garis depan semakin rentan.
Melihat kondisi yang semakin genting, akhirnya Alicia turun ke garis depan, "Desmond! Buatkan aku senjata yang besar!" Desmond yang sedang menghujani makhluk-makhluk itu dengan bilah-bilah tajam segera membentuk sebuah Greatsword dan melemparkannya ke Alicia.
"RRAAAAHHHH!" Alicia menerjang gelombang makhluk itu, menebaskan Greatsword kesana kemari, menumbangkan makhluk-makhluk itu dalam jumlah besar.
Alex pun turut ikut maju ke garis depan, dia menggunakan kekuatan peri angin untuk menciptakan sebuah pusaran angin yang menyedot sebagian besar makhluk-makhluk itu, melihat hal itu, Desmond membentuk sebuah palu raksasa dan melemparkannya ke Alicia yang berada di depan.
Dengan sigap, Alicia menangkap palu itu, lalu dengan satu lompatan tinggi, dia menghantamkan palu itu ke kumpulan makhluk yang berkumpul setelah tersedot pusaran angin Alex.
-BOOM!-
Tanah yang mereka pijak berguncang hebat karena pukulan palu Alicia, tempat yang dia pukul melesak sedalam satu meter, tubuh makhluk-makhluk itu pun remuk menjadi serpihan-serpihan yang tercecer.
Prajurit yang tadinya ketakutan akhirnya juga turun ke garis depan setelah melihat aksi orang-orang pengemban kekuatan cahaya, saling bahu-membahu menyingkirkan makhluk-makhluk itu.
Alicia kembali membabat makhluk-makhluk yang berdatangan, Brenda, Anford dan beberapa prajurit lain mengurus makhluk-makhluk yang lolos dari serangan Alex dan Alicia, sementara Desmond dan Alex menghujani mereka dengan serangan jarak jauh bertubi-tubi.
"Kalau terus seperti ini, bisa-bisa kita mati duluan!" Seru Thomas yang mulai kepayahan, beberapa prajurit lain seperti Phillip dan Trevor juga mulai kewalahan menghalau gelombang serangan makhluk itu.
"Kalau harus mati sih, aku memilih mati ditangan kesatria iblis daripada karena dimakan mayat hidup ini," ucap Trevor dengan suara gemetar, tapi setelah itu dia tertawa kecil, "Yah, kita memang tidak bisa memilih bagaimana kita mati sih."
"Sebenarnya aku punya solusinya, tapi mungkin terlalu beresiko," ujar Alex yang masih saja melemparkan serangan demi serangan ke gerombolan makhluk itu.
Anford tertawa, "Dalam situasi seperti ini kau masih bisa memikirkan resiko?! Lakukan saja!"
Semua orang menyetujui ucapan Anford, asalkan ada kemungkinan mereka untuk selamat dari situasi genting ini, apapun itu resikonya pasti akan mereka tanggung.
Alex akhirnya mengangguk dan berhenti menyerang, dia memejamkan matanya selama beberapa saat, tak lama kemudian tubuhnya mulai gemetaran dan memucat, Desmond menatapnya dengan kebingungan bercampur rasa cemas.
Lalu beberapa meter di atas mereka, beberapa bola api seukuran kepala berwarna merah terang terbentuk, hawa panas yang menyengat mulai terasa.
__ADS_1
"Alicia! Mundur!" Teriak Alex, Alicia yang mendengarnya segera melompat mundur, dengan satu lompatan, dia kembali bergabung dengan barisan Alex.
"Mungkin kalian harus tutup telinga sih," lirih Alex, suaranya terdengar lemas. Lalu dengan satu gerakan tangan mengayun ke bawah, bola cahaya itu melesat ke arah barisan makhluk itu.
-BOOOOMMMM!-
Suara ledakan itu begitu memekakkan telinga, para prajurit tidak bisa melihat apa yang terjadi karena gelombang panas yang begitu dahsyat muncul sesaat setelah bola cahaya itu menghantam tanah, membuat mereka tak sanggup membuka mata.
Desmond segera membentuk sebuah perisai besar, karena tidak bisa melihat rekan-rekan di sekitarnya, dia hanya membuat perisai itu seluas mungkin. Gelombang panas yang dihasilkan ledakan itu begitu kuat, sampai membuat kulit serasa terpanggang meski mereka berada di balik perisai Desmond. Bahkan Desmond nyaris terpental ke belakang karena gelombang kejut dari ledakan itu kalau bukan karena Alicia yang membantunya menahan perisai.
-BOOOM!-
-BOOOM!-
-BOOOM!-
Rentetan ledakan lainnya susul menyusul memekakkan telinga semua orang di sana, orang-orang yang berada di balik perisai Desmond mulai berteriak kepanasan karena gelombang panas dari ledakan itu menjadi semakin kuat seiring rentetan ledakan.
Setelah semua ledakan berhenti dan gelombang panas mulai mereda. Desmond menurunkan perisainya, dia membelalakkan matanya, pemandangan dihadapannya sekarang memang akan membuat semua orang terperangah dan kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan pemandangan yang mereka saksikan saat ini.
Area yang seharusnya merupakan perbukitan hijau dengan banyak pepohonan itu sekarang menghitam, benar-benar gosong menghitam, pepohonan di perbukitan itu sampai tidak bisa lagi terbakar saking gosongnya. Angin yang berhembus dari bukit itu bahkan terasa sangat panas.
"ALEX! ALEX!" Seruan Brenda seperti menyadarkan mereka semua, Alex jatuh tersungkur dengan hidung mengeluarkan banyak darah, tubuhnya terlihat gemetaran dengan keringat dingin membasahi tubuhnya.
Beberapa orang yang sanggup berjalan segera membopong tubuh Alex menuju kota untuk mendapat perawatan.
Tatapan Desmond masih saja tertuju pada dataran hitam didepannya, sekarang dia mengerti kenapa Alex dianggap sebagai salah satu orang terkuat di akademi. Bahkan diantara orang-orang dengan kekuatan cahaya, terdapat perbedaan kekuatan yang jelas.
Satu tepukan di bahunya membuatnya tersadar dan menoleh, orang itu adalah Anford. Tidak seperti yang lain, kulitnya tidak memerah karena efek gelombang panas, sepertinya kekuatannya memberikan resistensi panas yang lebih tinggi dari manusia lain.
"Ayo kembali, kita menang kali ini, makhluk-makhluk terkutuk itu sudah tidak berdatangan lagi." Suara Anford terdengar lemah dan wajahnya terlihat kelelahan, staminanya sudah terkuras cukup banyak karena menggunakan kekuatannya terlalu berlebihan.
Desmond mengangguk, dia mengikuti Anford yang berjalan duluan ke arah kota.
Pertempuran kali ini berhasil mereka menangkan, tapi entah apa yang akan terjadi di pertempuran-pertempuran yang akan datang, tidak ada pilihan bagi mereka selain terus melangkah ke depan dan menjadi lebih kuat.
Saat mereka semua sudah kembali ke kota, sosok wanita berwajah pucat dengan mata berwarna putih seluruhnya dan mengenakan pakaian seremonial keagamaan muncul di puncak salah satu bukit yang sudah hangus terbakar, sebuah senyum mencekam tersirat di wajahnya.
"Tidak buruk."
...****************...
__ADS_1
Ilustrasi karakter Tania Serafina dan Brian McGray. Ilustrasi dibuat menggunakan AI