Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 46: Daisy


__ADS_3

Alex dan beberapa rekannya membantu warga yang bersembunyi di ruang bawah tanah rumah ibadah untuk keluar, karena tangga kayu ruangan itu hancur tertimpa pintu besi. Dengan kekuatan Alex, para iblis yang masuk ke kota bisa di basmi dengan cepat, mereka segera mengevakuasi warga yang berlindung di ruang bawah tanah.


Beruntungnya, potongan lengan iblis raksasa tadi bisa digunakan orang dewasa untuk memanjat keluar, sementara orang tua, wanita dan anak-anak memerlukan sedikit bantuan untuk naik ke atas.


Para warga yang selamat melihat sekeliling, banyak bangunan yang roboh karena tertimpa batang pohon atau batu berukuran besar. Tentu saja itu perbuatan iblis raksasa, mereka jugalah yang bertanggung jawab atas runtuhnya pertahanan kota dalam waktu singkat.


Sebagian prajurit yang bertugas di kota itu selamat, mereka mundur setelah benteng kota runtuh akibat bebatuan besar yang dilempar oleh para iblis raksasa, mereka dianggap melakukan pelanggaran karena mundurnya mereka membuat iblis-iblis lain masuk ke dalam kota dan menyebabkan kerusakan.


Beberapa warga menjadi korban jiwa, mereka adalah warga yang memilih untuk berlindung di rumah, kebanyakan dari mereka mati tertimpa reruntuhan karena ruang bawah tanah yang mereka buat tidak cukup kuat untuk menahan lemparan batu atau berat tubuh iblis raksasa.


"Kita tidak bisa menyelamatkan semua orang." Seseorang menepuk bahu Alex yang sedang menatap mayat anak kecil dikeluarkan dari reruntuhan, dia adalah pemimpin satuan Alex dalam misi ini.


"Aku mengerti, tapi aku tidak pernah bisa terbiasa dengan pemandangan ini, Kapten Peter."


"Kalau kau terbiasa malah ngeri dong."


Alex tersenyum kecil mendengar perkataan Peter, meski senyum itu terasa kosong karena sorot matanya yang selalu menatap jauh entah kemana. Raut wajah Alex sudah banyak berubah setelah dia melalui banyak pertempuran dan kehilangan rekan.


"Tidak ada yang terbiasa dengan perang, nak. Tidak akan pernah ada, jika memang ada, maka mereka adalah iblis-iblis terkutuk itu."


Peter kemudian menunjuk ke arah warga yang selamat. "Berkatmu, orang-orang itu masih bisa tersenyum, meski mungkin tidak untuk saat ini. Ingatlah orang yang telah kau selamatkan, mereka yang mati bukan mati karena salahmu. Mengerti?"


Peter mengetuk zirah Alex beberapa kali, lalu sebuah senyum kecil terlihat di wajah Alex. "Aku mengerti, kapten. Terimakasih banyak."


Meski bibirnya menyunggingkan senyuman kecil, tapi tatapan mata Alex masih saja terlihat berkabut, berbagai macam perasaan sedang berkecamuk di dalam benaknya.


Peter menghela nafas. "Kau bilang keluargamu berada di wilayah utara kan? Kalian sudah bertukar surat?"


"Ya, mereka dipindahkan ke kota terdekat untuk mengungsi selama perang berlangsung."


"Baguslah. Sayangnya, dengan kondisi seperti ini, akan sangat tidak mungkin kalau kau mengajukan cuti. Setidaknya kau sering-seringlah mengirim surat, kalau perlu kirim sebagian gajimu ke keluargamu. Kalau saja kau bisa berlari seperti Putra Mahkota pasti lain cerita."


"Benar." Alex hanya menjawab singkat, Peter menghela nafas lagi, dia lalu menepuk bahu Alex sebelum berjalan menuju tempat pasukannya berkumpul.


Alex berjalan menjauh dari lokasi itu, berada di tempat itu membuat suasana hatinya semakin buruk. Dia memutuskan untuk duduk di reruntuhan rumah ibadah yang agak jauh dari orang lain, suasana hatinya sedikit lebih baik ketika berada di rumah ibadah karena tadi dia berhasil menyelamatkan semua orang yang berlindung di situ. Bukan karena dia religius.


Membiarkan pikirannya terlarut sembari menatap pemandangan pegunungan di kejauhan, Alex mengeluarkan sebatang cerutu dan mulai menyulutnya. Di saat seperti ini, biasanya para peri akan keluar dan berbincang dengan Alex, tapi karena kondisinya psikisnya sedikit kacau semenjak kematian Adrian, mereka lebih memilih untuk membiarkan Alex sendiri.


Saat Alex sedang tenggelam dalam lamunannya, tiba-tiba seorang anak sudah berdiri di hadapannya entah sejak kapan, dia mematikan cerutunya dan memasukkannya ke kantong, kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah anak itu dan berusaha tersenyum ke anak itu.


"Ada apa?"

__ADS_1


Anak itu terlihat menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya, Alex langsung tahu kalau anak itu ingin memberikan sesuatu kepadanya tapi ragu karena entah malu atau takut.


"Aku Alex, siapa namamu?" Alex bertanya kepadanya.


Anak itu terlihat gelagapan, matanya bergerak kesana kemari karena gugup. "Uh ... Namaku Daisy ...."


Melihat tingkahnya, tanpa sadar sebuah senyum tersungging di wajah Alex, dia mengelus kepala anak itu.


"Kepang mu terlihat cantik, kau mengingatkanku pada seorang rekanku. Siapa yang mengepang rambutmu?"


"Ibu yang mengepang rambutku! Dia sangat pandai merias rambut!" Anak bernama Daisy itu tiba-tiba saja menjadi antusias setelah Alex mengomentari rambutnya.


"Benarkah? Terus, dimana ibumu?" Sejenak Alex sedikit menyesal menanyakan pertanyaan itu, karena bisa jadi Daisy telah kehilangan ibunya dan pertanyaan Alex akan membuat anak itu terluka.


Tapi dia kembali tersenyum lega setelah melihat Daisy menunjuk ke suatu tempat yang menjadi tempat berkumpul beberapa wanita, meski dia tidak tahu wanita mana yang Daisy tunjuk.


"Terus, kamu ngapain kesini?" Alex bertanya sambil berpura-pura mengintip ke balik punggung Daisy, anak itu menjadi sedikit panik dan memiringkan tubuhnya ke sisi lain, tidak membiarkan Alex mengintip.


"Um ... Anu ...." Setelah beberapa saat ragu-ragu, akhirnya Daisy menunjukkan sesuatu yang sedari tadi dia sembunyikan.


"Ini untuk kakak." Alex menatap sejenak pemberian Daisy, itu adalah sebuah kalung berbahan kayu yang diukir sedemikian rupa membentuk bunga.


Anak itu mengangguk mantap. "Berkat kakak, aku bisa selamat. Kalau kakak tidak datang, aku dan ibu pasti sudah mati. Ayah akan sedih kalau dia pulang dan tidak menemukan kami di sini."


"Apa ayahmu yang membuatkan ini?"


"Benar! Ayah sangat ahli membuat ukiran seperti ini, dia juga pernah mengukir patung keluarga kita!" Daisy selalu saja menjadi semangat saat dia membicarakan orang tuanya, sepertinya mereka benar-benar menyayangi Daisy.


"Tapi ayah sedang bekerja di kota lain, dia tidak bisa pulang karena iblis bisa muncul kapan saja."


Alex tersentuh melihat kepolosan anak itu, dia sekali lagi mengelus kepala Daisy. "Aku akan berusaha supaya para iblis segera pergi dan kalian bisa bertemu lagi."


Mata Daisy berbinar mendengar perkataan Alex, walau dia sendiri tidak yakin apakah iblis-iblis itu benar-benar bisa dikalahkan, tapi setidaknya dia ingin meringankan kekhawatiran anak polos di depannya ini.


Alex merogoh kantongnya dan menyodorkannya ke Daisy. "Terimakasih untuk kalungnya, sebagai gantinya, aku akan memberimu ini."


"Coklat!" Seru Daisy kegirangan menerima coklat itu.


"Kok kakak masih makan coklat? Kakak kan sudah dewasa." Daisy bertanya sambil mengunyah coklat di mulutnya.


Alex tertawa kecil melihat wajah Daisy yang sudah belepotan, padahal dia baru makan satu. "Rekanku yang memberikannya, dia yang kubilang memiliki kepang yang mirip denganmu?"

__ADS_1


Mata Daisy membesar. "Ada kakak perempuan yang jadi prajurit?! Apa dia juga kuat seperti kakak?"


Alex lagi-lagi tertawa kecil tanpa sadar. "Dia sangat kuat, aku mungkin saja kalah kalau melawan dia."


Daisy ber-wah panjang. "Sekuat apa?" Dia makin antusias.


"Hm ... Kamu ingat iblis raksasa tadi? Kalau saja teman kakak itu menginjak kakinya, iblis itu pasti menjerit kesakitan."


Daisy tertawa mendengar perumpamaan dari Alex. "Wah ... Pasti kakak itu sangat kuat ya. Aku juga mau jadi kuat seperti itu, supaya aku bisa melindungi ayah dan ibu dari iblis."


Alex hanya tersenyum kecut, dia tidak ingin mengiyakan harapan gadis kecil itu, karena seolah dia mengatakan kalau perang ini akan terus berlanjut sampai Daisy dewasa, itu bukan sesuatu yang bagus untuk diiyakan.


Setelah itu, Daisy meminta Alex bercerita lebih banyak tentang rekan-rekannya yang lain, Daisy benar-benar bersemangat ketika Alex menceritakan tentang kekuatan mereka.


Seperti Edwin yang bisa melihat gerakan menjadi lambat, Theodore yang bergerak secepat kilat, Alicia yang sangat kuat, Brian yang mampu mengubah ukuran tubuhnya, Brenda yang seperti dewi perang dalam dongeng.


Daisy langsung mengidolakan mereka begitu mendengar cerita Alex, terutama Alicia, sepertinya anak ini agak terobsesi dengan sosok Alicia, mungkin karena Alex bilang dia memiliki kepang yang mirip dengan Alicia.


"Lalu kekuatan kakak apa? Kok bisa memotong tubuh iblis besar tadi?"


Alex berpikir sejenak, lalu memanggil salah satu peri berbentuk burung dara dengan warna putih dan sayap biru yang indah, Daisy terkejut karena peri itu muncul begitu saja di hadapannya. Tapi kemudian dia memasang wajah bingung, seolah mengatakan, 'Gitu doang?'


"Kamu pernah coba terbang?"


"Belum! Jangan-jangan kakak bisa terbang ya?!"


Alex memerintahkan peri itu untuk mengangkat tubuh Daisy menggunakan kekuatan angin, hanya sekitar setengah meter dari tanah, tapi Daisy senangnya bukan main.


"WAAHH! HEBAT SEKALI! KAK ALEX SANGAT HEBAT!"


Daripada menunjukkan peri berwujud hewan buas dengan kekuatan destruktif, lebih baik menunjukkan yang seperti ini. Lagipula memanggil peri kelas atas memakan banyak energi.


Beberapa saat kemudian, seorang wanita di antara kerumunan wanita memanggil nama Daisy, nampaknya dia adalah ibunya.


Daisy terlihat enggan mendatangi ibunya, tapi Alex menawarkan kepada Daisy untuk terbang sampai ke tempat ibunya, tentu sja anak itu langsung mengiyakan tawaran Alex dengan kegirangan, Alex juga memberinya lebih banyak coklat sebelum menerbangkan Daisy ke tempat ibunya.


Dia berseru kegirangan selama terbang menuju ke tempat ibunya, membuat anak-anak lain melihat Daisy dengan tatapan iri, dia dan ibunya terlihat menunduk dari kejauhan untuk mengucapkan terimakasih setelah Daisy tiba di sana.


Alex juga beranjak menuju tempat Peter dan yang lain sembari kembali menyulut cerutunya yang mati.


Peter nampak tertarik melihat kalung yang dikenakan Alex. "Anak itu tadi memberimu hadiah ya? Hm ... Bunga Daisy, huh? Kalung yang bagus."

__ADS_1


__ADS_2