
Petugas medis berlalu lalang memberikan perawatan kepada korban terluka yang masih sempat diselamatkan, meski kebanyakan mereka masih merasa kepanasan akibat dampak serangan Alex, mereka tetap melaksanakan tugas mereka semaksimal mungkin.
Warga kota bahu membahu membantu paramedis semampu mereka. Sayangnya, lebih banyak prajurit terluka yang kemudian gugur daripada yang selamat, mereka yang kehilangan nyawa segera ditutupi kain putih dan dibawa ke rumah duka untuk persiapan prosesi upacara pelepasan.
Diantara banyaknya prajurit dan paramedis yang berlalu lalang, terlihat Trevor dan Thomas tertunduk menatap jasad rekan mereka, Samuel.
Meski baru sepekan mengenal Samuel, Thomas tetap merasa sangat kehilangan, terlebih lagi Trevor, karena dia adalah rekan Samuel sejak masih berada di pendidikan militer.
"Dia ... Terlihat keren, bukan begitu?" Lirih Trevor, ucapannya ditujukan kepada Thomas yang berdiri di sebelahnya.
Thomas mengangguk, "Dia benar-benar terlihat seperti seorang prajurit sekarang," balasnya.
Trevor tertawa kecil, meski begitu, tersirat kesedihan yang dalam di tawa itu. "Kenapa baru sekarang kau terlihat sekeren ini sialan? Kau selalu bertingkah konyol sih." Trevor menggigit bibirnya keras-keras, berusaha menahan air mata yang meluap di matanya.
Tapi akhirnya dia tetap menyeka air matanya, "Ah, sial. Hawa panas ini membuat mataku berair." Thomas mengangguk, dia ikutan mengusap mata, "Alex itu memang bajingan." Perkataan Thomas membuatnya tertawa.
Trevor menepuk pundak Thomas dan membalik badan, "Biarkan dia istirahat, kita juga harus istirahat," ujarnya sembari berjalan menuju barak, Thomas mengangguk dan mengikuti Trevor dari belakang, dia melihat bahu Trevor sesekali bergetar disusul tangannya yang mengusap mata.
Sepertinya walaupun dia bersikap tegar, rasa sedih kehilangan seorang teman memang tidak dapat disembunyikan sekeras apapun kau mencoba. Thomas sendiri juga mengalaminya sepekan lalu, tapi sekarang dia harus mengalaminya lagi.
Saat berjalan menuju barak, dari kejauhan, dia melihat Alex yang terbaring di sebuah tandu dengan Anford dan Alicia berada di sisinya, dia tidak terlalu bisa melihat dengan jelas kondisi Alex saat itu, tapi dia berharap orang itu tidak mati.
Situasi disini mungkin akan sedikit berbeda kalau ada orang seperti Raymond di antara mereka.
"Trevor benar, aku harus istirahat." Thomas berbisik pada dirinya sendiri.
...****************...
Laporan mengenai pos pertahanan tenggara yang berhasil mempertahankan bagian tenggara dari serangan kawanan iblis telah sampai di Markas Pusat Aliansi Benua Barat yang terletak di Kerajaan Petra.
__ADS_1
Beberapa orang yang hadir dalam kantor markas hari itu diantaranya adalah Duke Averrouse dan Marquis de Brisevent sebagai perwakilan dari Vasilius.
Hazkiel Mustafa sang Wazir Petra.
Alejandro Martinelli, Jenderal bintang tiga dari Zirae-Levanto
Daniel Altaza, salah satu perwira tinggi militer Gathvan.
Dua orang perwakilan dari Markas Pusat Benua Timur, James Mahulete dan Lucas Tulessy.
Lalu dua perwakilan dari Markas Pusat Benua Selatan, Vlatko Falkovic dan Maria Zelenovna.
"Jadi para iblis itu berwujud mayat hidup?" Ujar Hazkiel tak percaya setelah membaca laporan itu, bahkan dia sampai membaca kertas laporan itu berkali-kali untuk memastikannya.
"Juga, ada iblis berwujud laba-laba perak dengan tubuh sebesar kereta uap yang menyerang para prajurit baru yang sedang dalam perjalanan menuju pos pertahanan tenggara." Marquis de Brisevent menambahi, dia juga tak percaya dengan laporan yang sedang dibacanya, tapi mana mungkin laporan itu berisi informasi palsu.
Daniel mengerutkan dahinya, "Luka itu, jangan bilang ...."
"Insiden pembantaian di salah satu benteng Kekaisaran Chyrosian," lirih James Mahulete, suaranya terdengar pelan, tapi semua orang bisa mendengarnya.
Duke Averrouse menghembuskan nafas berat, "Bagaimana dengan prajurit yang dikirim ke pos pertahanan barat? Mereka seharusnya sudah tiba kemarin atau dua hari lalu." Dia bertanya kepada Alejandro, karena Zirae-Levanto juga berada di wilayah barat benua.
"Seharusnya mereka memang sudah tiba, tapi kalau mereka tiba dua hari lalu, maka aku akan mendapatkan kabarnya besok." Jawab Alejandro.
Duke Averrouse mengangguk, meski wajahnya terlihat kelelahan, tapi kondisinya sudah jauh lebih baik sejak insiden kematian David Matausyalah. Bahkan Grand Magister Aleorin Conizoite dikabarkan belum stabil sepenuhnya sejak kejadian itu, jadi kemajuan Duke Averrouse bisa dikatakan sangat cepat, mengingat dia sudah kembali bekerja.
"Bagaimana kondisi Haznav?" Hazkiel bertanya kepada perwakilan dari Leidengard, Robert Fuchsberg.
"Dia baik-baik saja, aku belum mendengar kabarnya sejak dia dikirim bertugas, tapi setidaknya saat di akademi, dia tidak mengalami masalah apapun. Meski dia agak susah bergaul." Jelas Robert.
__ADS_1
Hazkiel mengangguk, dia cukup memahami hal itu, Haznav ditinggalkan ayahnya secara mendadak dan kematiannya pun bukan kematian yang wajar. Karena itu dia menyimpan dendam yang besar kepada iblis, terutama yang menyebabkan kematian ayahnya, bahkan dia sendiri yang memutuskan untuk masuk Akademi Aliansi Benua Barat kala itu.
"Apa kau masih kerabat dengan Tuan David?" Tanya Robert, karena Hazkiel selalu menanyakan kabar Haznav ke Kepala Akademi secara langsung, dia pikir Hazkiel merupakan kerabat Haznav, tapi ternyata nama belakang mereka tidak sama.
"Tidak, aku tidak memiliki hubungan darah dengan Matausyalah, meski mungkin buyut-buyut kami masih tersambung. Aku sering menemani dia saat masih kecil, David seringkali sibuk dengan pekerjaan dinasnya, jadi aku selalu membawanya ke istana untuk bertemu ayahnya." Jelas Hazkiel panjang lebar, "Ah, maaf, aku malah keluar topik."
Robert tersenyum, "Tidak masalah."
Duke Averrouse mengetuk meja, meminta perhatian semua orang di sana.
"Satu informasi yang tidak disertakan dalam laporan yang Anda sekalian pegang. Kami sudah kehilangan satu prajurit pengemban kekuatan cahaya."
Semua orang yang hadir terperanjat, karena manusia yang mengemban kekuatan cahaya biasanya memiliki kekuatan yang diluar nalar, jadi mereka tidak pernah menyangka akan ada korban jiwa dari mereka.
"Apa dia korban dari pertempuran melawan mayat hidup?" Tanya Daniel. Duke Averrouse menggeleng.
"Dia terbunuh oleh iblis laba-laba perak."
"Pantas saja, di laporan ini tidak ada penjelasan mengenai korban dari peristiwa penyergapan di kereta." Ujar Vlatko.
Semua yang hadir terdiam, beberapa saat ruangan itu hening. Akhirnya Duke Averrouse berdiri dari kursinya, menatap semua hadirin.
"Tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian, perang sudah dimulai. Sebaiknya rapatkan rahang kalian."
...**************...
Ilustrasi karakter Alicia Arnaveu Brigantine. Ilustrasi ini dibuat menggunakan AI.
__ADS_1