Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 6: Aliansi


__ADS_3

Count Griffin terlihat sedang berjalan menyusuri koridor sebuah istana, namun istana itu bukanlah istana kerajaan Vasilius. Count tampak dikawal oleh beberapa kesatria berzirah dengan lambang suatu negara tersulam di zirah jubah seremonial mereka.


Setelah sampai di sebuah pintu besar, para kesatria membuka pintu itu dan mempersilakan Count masuk, sementara pintu ditutup. Di dalam ruangan besar itu, Count melihat tiga orang sedang berdiri diatas sebuah peta raksasa di lantai.


"Selamat datang, Count Reus Adrian Griffin." Salah seorang dari mereka menyambut Count Griffin yang terlihat kebingungan, dia tidak bisa membedakan mana sang Raja karena pakaian yang mereka kenakan sama-sama terlihat sederhana.


Orang yang menyapanya tadi tersenyum, seolah bisa membaca isi pikirannya, "Perkenalkan, namaku Hazim Aladov, panglima militer Kerajaan Petra." Orang bernama Hazim itu menjabat tangan Count yang tersenyum kaku.


"Namaku David Matausyalah, seorang Menteri Pertahanan. Kehormatan bertemu denganmu Count Griffin." Salah seorang dari mereka memperkenalkan diri dan menjabat tangan Count, ekspresi Count terlihat semakin canggung. Karena dalam budaya Vasilius, tidak ada jabat tangan, terutama dengan seorang yang memiliki jabatan atau gelar yang lebih tinggi.


"Aku adalah Raja dari Kerajaan Petra, Nazzar Assaid Zanki." Orang terakhir yang rupanya adalah Sang Raja menjabat tangan Count. Count tampak terkejut dan segera berlutut.


"Reus Adrian Griffin, memberi salam kepada Yang Mulia Raja Nazzar Assaid Zanki." Orang-orang yang ada di ruangan itu saling tatap, kemudian Hazim berkata kepada Count, "Count Griffin, kami tidak melakukan itu di Kerajaan kami. Berdirilah Count." Count menatapnya bingung dan berdiri dengan sedikit menunduk.


"Kami disini memberi salam dengan berjabat tangan, itu adalah tanda persahabatan dan kesetaraan." Tutur Sang Raja yang mengulurkan tangannya kepada Count.


"Saya tidak mungkin berbuat lancang kepada Baginda." Ujar Count, tapi Sang Raja justru menarik paksa tangan Count dan menjabat tangannya, tubuh Count langsung gemetaran dan dia segera berlutut.


Hazim segera menarik tubuh Count untuk berdiri, "Kami memiliki budaya yang berbeda dari Kerajaan Vasilius, maka dari itu, untuk menghormati Raja kami, Anda harus melakukannya dengan menghargai budaya kami." Tegasnya, Count akhirnya sekali lagi menjabat tangan Raja, walaupun tetap dengan sedikit menunduk dengan wajah canggung.


"Berbicara disini sedikit tidak nyaman, bukan begitu? Sebaiknya kita berganti lokasi." Raja berjalan menuju pintu yang menghubungkan dengan ruangan lain, di ruangan itu terlihat sofa-sofa yang berjejer, terlihat dinding-dinding yang dipenuhi ornamen-ornamen simetris yang indah dengan nilai seni tinggi. Meski begitu, material yang digunakan untuk menghias ruangan itu terlihat terlalu sederhana untuk ruangan seorang Raja.


Raja duduk terlebih dahulu di atas sofa, kemudian dia mempersilakan Hazim, David dan Count Griffin untuk duduk.


Beberapa pelayan masuk menyuguhkan makanan ringan dan menuangkan minuman dingin untuk Raja dan para tamunya.


"Ngomong-ngomong, Perdana Menteri kami sedang menyambut delegasi dari Kerajaan lain, jadi dia masih belum bisa hadir saat ini." Tutur Raja setelah semua pelayan keluar dari ruangan.


"Santai saja Count, silakan nikmati suguhan sederhananya." Ucap Hazim menunjuk gelas Count yang belum disentuh sama sekali, Count pun menurut dan meminum isi gelas itu. Matanya terbelalak, minuman ini terasa sangat menyegarkan.


Hazim yang melihat reaksi Count menjelaskan, "Minuman itu terbuat dari campuran beberapa sari buah, diantaranya ada buah-buahan yang hanya tumbuh di wilayah Kerajaan ini."


Jiwa pebisnis Count Griffin pun seketika meronta-ronta, "Jika demikian, apakah memungkinkan jika saya membuat kesepakatan dagang dengan Kerajaan Petra?"


Raja yang mendengar itu tertawa, membuat Count kebingungan, "Count Griffin memang seorang pedagang tulen ya? Seperti yang aku dengar, tapi saat ini kita sedang akan membicarakan sesuatu yang jauh lebih mendesak bukan begitu?" Ujar Sang Raja.


Count Griffin mengangguk, "Benar Baginda," Raja tersenyum, "Aku senang Count menikmati minuman yang kami suguhkan, kesepakatan dagang bisa menunggu setelah pembicaraan ini selesai."


Ekspresi bahagia Count setelah mendengar perkataan Raja tidak bisa disembunyikan.

__ADS_1


"Jadi, apa yang membuat seorang Count jauh-jauh datang ke Kerajaan kami?" Sang Raja memulai pembicaraan, suasana santai di ruangan itu menguap seketika.


"Hal itu berkaitan dengan peristiwa yang baru-baru ini terjadi di kerajaan kami." Count menjelaskan secara rinci urutan peristiwa yang terjadi di aula pesta malam itu, Raja dan dua petinggi Kerajaan itu mendengarkan dengan seksama, mereka tampak tidak dibuat terkejut sama sekali oleh berita itu.


"Begitulah yang terjadi." Count Griffin mengakhiri penuturannya.


Raja menghela nafas, "Jadi, apa yang diinginkan Kerajaan Vasilius?"


"Kami menginginkan aliansi, situasi ini tidak akan pernah bisa diselesaikan jika negara-negara tidak bersatu." Count Langsung pada intinya.


"Sebenarnya, hal serupa terjadi di kerajaan kami," terang Raja, Count terkejut mendengar hal itu, "Namun hal itu terjadi kepada salah satu kesatria saat kami sedang mengadakan rapat bersama dengan para Menteri dan Amir." Count menatap Raja tidak percaya, kalau begitu, jangan-jangan?


"Kerajaan yang mengutus delegasi bersamaan dengan Kerajaan Vasilius adalah Kerajaan Gathvan. Kemungkinan mereka pun menginginkan terbentuknya aliansi, sebagaimana halnya Count." Jelas Raja.


"Lalu, bagaimana keputusan Anda, Baginda?" Count bertanya kepada Raja, tapi selama beberapa saat, Raja hanya terdiam. Hal itu membuat Count sedikit cemas.


Akhirnya Raja menangguk, "Aku akan membentuk aliansi dengan Kerajaan Vasilius dan Kerajaan Gathvan, aku juga akan mengutus delegasi ke berbagai negara untuk membangun aliansi bersama," Raja berdiri, diikuti oleh Hazim, David dan Count Griffin. Raja menjulurkan tangannya kepada Count Griffin, "Kuharap Count mau menerima uluran tanganku," Count tersenyum, dia masih saja tidak terbiasa. Tapi akhirnya dia menyambut uluran tangan Raja Nazzar dengan sedikit gugup. "Dengan senang hati Baginda."


"David, utus seseorang untuk mengabarkan kepada Perdana Menteri bahwa kita akan membangun aliansi dengan Kerajaan Vasilius, dan kita juga akan menerima aliansi dari Gathvan jika mereka memang memintanya." Titah Raja. David mengangguk dan segera mengutus salah satu bawahannya lewat alat komunikasi internal istana.


"Jadi, Count. Kesepakatan dagang apa yang mau Anda bentuk dengan kami?" Count tersenyum lebar mendengar pertanyaan Raja.


...****************...


Kepanikan sempat terjadi, namun kabar mengenai terbentuknya aliansi membuat suasana kembali terkendali. Masyarakat menyambut terbentuknya aliansi dengan gembira.


Delegasi dari tiga Kerajaan menyebar ke seluruh penjuru dunia untuk membangun aliansi dengan seluruh negara di dunia, beberapa dari negara itu langsung menyetujui membentuk aliansi dengan mempertimbangkan ancaman yang ada. Meskipun beberapa negara tidak langsung serta merta menyetujui tawaran aliansi itu.


Di hari perayaan terbentuknya aliansi, Raja dari berbagai negara berdiri di sebuah podium di taman rakyat istana Kerajaan Petra, sebuah taman di dalam kompleks istana yang menjadi tempat rakyat untuk merayakan berbagai perayaan dengan keluarga Kerajaan Perta.


Seluruh pemimpin negara yang hadir di hari itu memberikan cap tangan diatas sebuah prasasti secara bergantian, sesaat kemudian, sebuah banner diturunkan. Di banner itu terpampang sebuah lambang yang menyimbolkan persatuan negara-negara di seluruh penjuru dunia.


Rakyat kerajaan petra bersorak sorai, terbentuknya aliansi setelah datangnya ancaman dari kekuatan yang tidak diketahui membawa rasa aman kepada rakyat di seluruh negara.


Melalui surat kabar yang disebarkan di seluruh dunia, berita terbentuknya aliansi negara-negara yang diresmikan di Petra membuat rakyat dari negara yang belum menyetujui aliansi segera mendesak pemimpin negara untuk segera bergabung, karena mereka merasa ancaman yang datang kali ini terasa begitu berbahaya sampai-sampai Kerajaan besar seperti Vasilius dan Petra membentuk aliansi.


Dengan ini, umat manusia bersiap untuk menghadapi ancaman yang mengincar mereka.


...****************...

__ADS_1


"Mereka membentuk aliansi ya, sifat keras kepala para bangsawan dan petinggi mereka itu ternyata bisa hilang sesekali," ucap sesosok dengan rambut kelabu dan topeng perak yang berbentuk wajah wanita.


Terdengar tawa dari sosok dengan mata merah menyala, "Menarik sekali, mungkin mereka bisa memberikan hiburan yang layak untuk kita." Sosok itu menyeringai buas, terlihat sepasang gigi taring saat dia tertawa.


"Kurasa tidak ada manusia yang layak diantara mereka." Keluh sosok lain dengan mata yang juga merah, namun bedanya, dia tidak memiliki taring, melainkan sepasang tanduk di kepalanya.


Sosok yang memperhatikan mereka dari tadi tersenyum, dia terlihat duduk di sebuah singgasana yang berada ditempat yang lebih tinggi dari mereka. Mata birunya berkilau, senyuman tenang tapi kejam muncul di bibir indahnya.


"Tentu saja kita akan bermain-main dengan mereka terlebih dahulu." Para pengikut yang mendengar perkataannya ikut menyeringai buas, "Ratu benar-benar jahat kalau sama musuhnya." Seorang elf dengan peri-peri berterbangan di sekitar tubuhnya adalah sosok yang berucap.


"Aku tidak mau mendengarkan itu dari makhluk munafik sepertimu." Sosok dengan mata merah menyala menatap si elf dengan tatapan sebal, dia menjilati gigi taringnya untuk memprovokasi si elf.


"Hah, makhluk yang kerjaannya sembunyi di kastil dan mukbang darah memangnya pantas mengatakan itu?" Si elf gantian mengolok sosok yang merupakan vampir itu, membuat urat lehernya mengeras karena kesal, mata merahnya semakin menyala. "Kami nggak takut matahari tahu, dan makanan kami bukan cuma darah, brengsek."


"Kalian berdua, kita sedang di hadapan sang Ratu, jagalah sikap kalian." Tegur seorang pria paruh baya dengan pakaian seremonial keagamaan. Anehnya wajah pria itu nampak begitu pucat dan bahkan rongga matanya terlihat kosong, menyisakan sepasang lubang hitam.


Si vampir yang kesal menyahut pria paruh baya itu, "Bukan urusanmu pak tua, sebaiknya kau kembali saja ke peti mati mu itu," Pria paruh baya itu menghela nafas, dia menggenggam rosario di tangannya untuk menahan emosi.


"Cukup." Sosok wanita dengan topeng memancarkan aura mengancamnya, suara tenang yang teredam topeng itu membuat semua keributan seketika menghilang.


Ratu yang melihat itu hanya tersenyum, "Kerja bagus, Rangda," dia melontarkan pujian, Rangda menunduk hormat, "Sebuah kehormatan bagi saya, Ratu."


"Aku senang kalian terlihat bersemangat, tapi sebaiknya jangan saling beradu mulut dengan rekan kalian, sebaiknya kalian keluar dari sini dan saling bunuh saja di tanah kosong dunia bayangan ini." Suara Ratu sangat tenang, tapi hal itu membuat semua orang di dalam ruangan itu bergidik ngeri.


"Hamba memohon ampun, Ratu." Pria paruh baya menunduk penuh penyesalan, Ratu melambaikan tangannya, "Kau tidak bersalah Kardinal, yang aku maksud itu dua bocah yang sedari tadi membuat keributan di ruangan ini."


Si elf dan vampir segera turun dari kursi dan bersujud memohon ampun, "Rangda akan mendisiplinkan kalian setelah ini." Dua orang itu memekik ngeri, menatap sosok wanita dengan topeng perak yang memancarkan aura mengancam kepada mereka berdua.


"Kalian jauh lebih tua dari Great Chamberlain, tapi kelakuan kalian masih saja seperti anak-anak, sepertinya elder kalian salah memilih wakilnya." Vampir dan elf itu masih duduk berlutut penuh penyesalan dan rasa takut.


"Anda berlebihan, Ratuku." Di sisi singgasana Ratu, sepasang mata berwarna ungu terlihat bersinar. Sosok yang disebut Great Chamberlain itu adalah seorang laki-laki berusia dua puluhan dengan pakaian butler.


Ratu menatap sosok itu dengan senyuman yang terlihat berbeda dari senyumannya selama ini, sosok itu pun membalas senyuman Ratu dengan senyuman yang membuat wajah Ratu terlihat bersemangat.


"Mari kita akhiri pertemuan kita kali ini." Sang Ratu berdiri dari singgasananya dan meninggalkan ruangan itu, didampingi oleh Great Chamberlain.


"Mereka ... Mau 'itu' kan." Si vampir berucap setelah Ratu keluar dari ruangan, "Mungkin." Si elf menimpali.


Tiba-tiba mereka merasa tercekik oleh aura yang sangat kuat.

__ADS_1


"Sebaiknya kalian memikirkan diri kalian sendiri." Rangda dengan aura mematikannya mendekati mereka.


Teriakan penderitaan pun terdengar tidak lama setelah itu.


__ADS_2