Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 27: Resah


__ADS_3

Satu bulan sejak pelepasan Brian McGray.


Para prajurit kembali dari lapangan latihan setelah melakukan sesi latihan pagi bersama, mereka melatih teknik-teknik bertarung menggunakan berbagai macam senjata, cara mengoperasikan meriam dan bahkan pertarungan tangan kosong.


Pastinya dengan pertunjukan wajib setelah latihan, yaitu duel antara pengemban kekuatan cahaya.


Kali ini adalah duel antara Anford melawan Brenda, duel dimenangkan oleh Brenda setelah susah payah menghalau serangan gencar dari Anford. Siluet zirah emas Brenda pun menjadi lebih jelas dibanding saat pertama kali dia berduel di akademi.


Anford pun menjadi lebih kuat terutama setelah dia mengetahui kalau kekuatan Desmond bisa bersinergi dengannya, senjata yang dibentuk Desmond rupanya bisa menghantarkan panas dari tubuh Anford, membuat serangan-serangan Anford menjadi berkali-kali lipat lebih efektif.


Tapi karena minim pengalaman menggunakan senjata, dia tetap kalah dari Brenda meski sudah sempat berhasil menyudutkannya.


Setelah semua prajurit bubar, rupanya masih ada dua orang di lapangan latihan itu, mereka adalah Alex dan Thomas.


"Kau benar-benar tidak akan menggunakan kekuatan cahaya mu kan?" Thomas yang sudah memasang kuda-kuda dengan sebilah longsword tergenggam di kedua tangannya bertanya agak cemas.


"Tidak akan, tenang saja," Alex yang menggunakan swordstaff memasang posisi siap bertarung, "Bahkan kalau aku terdesak, aku tidak akan menggunakan kekuatanku."


Thomas menghela nafas, "Baiklah."


Mereka berdua saling berhadap-hadapan, tatapan mereka fokus mencari celah sekaligus membaca pergerakan lawan. Alex melangkah perlahan mengitari arena berupa lingkaran batu sembari mengubah posisi swordstaffnya untuk menutup celah, hal yang sama juga dilakukan Thomas.


Akhirnya Thomas mengambil inisiatif menyerang terlebih dahulu, dengan satu langkah besar dia menutup jarak antara dia dengan Alex dan langsung menebaskan longswordnya dari atas.


Alex berkelit ke samping, membelokkan arah tebasan Thomas menggunakan gagang swordstaffnya kemudian dengan kaki kanannya, dia meluncurkan satu tendangan ke arah perut Thomas.


Tapi Thomas lebih berpengalaman dalam pertarungan senjata, dengan langkah mundur sederhana, dia menghindari tendangan Alex.


Alih-alih menarik kembali kakinya setelah menendang, Alex langsung menjejakkan kaki kanannya ke tanah dan memanfaatkan gagang swordstafnya untuk menghantam Thomas.


Terdengar seruan tertahan dari mulut Thomas, dia tidak menduga Alex akan langsung menyerangnya setelah tendangan Alex gagal mengenai dirinya,


Thomas pun melangkah mundur beberapa jarak sambil menangkis satu serangan tusukan dari Alex.


"Apa-apaan ... Ternyata kau sudah lebih hebat dari sebelumnya," ujar Thomas dengan seringai di wajahnya, "Sepertinya Alfonso mengajarimu dengan benar ya?"


Alex kembali memasang posisi siaga, Thomas merupakan salah satu murid yang cukup bersinar di Kelas Perak saat berada di Akademi dulu, bahkan dia berada di jajaran yang sama dengan petarung hebat lainnya dari Kelas Perak.


Satu langkah besar dari Thomas lagi-lagi menutup jarak mereka, longsword milik Thomas terangkat ke atas, Alex bersiap melangkah ke samping untuk menghindari tebasan Thomas.


Tapi dengan gerakan yang sangat cepat, Thomas memutar tubuhnya 360 derajat dan melakukan tebasan samping memanfaatkan momentum putaran tubuhnya.


Alex yang tidak menyangka hal itu segera menahan tebasan yang menyasar rusuknya dengan gagang swordstaff.

__ADS_1


Suara benturan peralatan latihan terdengar, Alex mengerang karena rasa sakit di pergelangan tangannya, tubuh Alex terhuyung karena kuatnya tebasan Thomas. Sebelum Alex mengembalikan keseimbangannya, Thomas meluncurkan tendangan lurus yang telak mengenai perut Alex, membuatnya terguling ke belakang.


Thomas menerjang ke arah Alex yang terkapar, dia mengangkat longswordnya, berniat mengakhiri duel ini.


Tapi langkahnya terhenti ketika bilah swordstaff milik Alex menyentuh lehernya. Alex tertawa kecil kemudian terbatuk.


Thomas ikut tertawa dan menurunkan longswordnya, kemudian mengulurkan tangannya ke Alex yang terduduk. "Sialan kau, Alex. Bisa-bisanya kau mengirim serangan balasan dalam kondisi seperti itu."


Alex menerima uluran tangan Thomas dan langsung berdiri, "Celahmu terbuka lebar, bagaimana mungkin aku melewatkan kesempatan itu."


"Tapi tetap saja, kau juga membuatku babak belur kali ini. Bahkan pergelangan tanganku terkilir karena menangkis seranganmu tadi."


Thomas mengangkat bahu, "Tetap saja aku kalah pada akhirnya."


Mereka berdua berjalan meninggalkan lapangan latihan, sekarang masuk waktu sarapan, mereka buru-buru mandi dan bergegas menuju kantin setelahnya.


Beruntungnya mereka belum terlambat, malah ada beberapa prajurit yang datang setelah mereka.


Setelah mengambil jatah sarapan, Alex dan Thomas duduk di meja makan panjang khas barak militer. Selain dirinya dan Thomas, ada beberapa prajurit senior lain yang duduk di sana.


"Kau kapan mau berduel seperti Brenda melawan Anford tadi, Alex?" Salah satu prajurit senior bernama Trevor melontarkan pertanyaan begitu Alex duduk di kursinya.


"Kelihatannya tinggal kau dan Alicia yang belum bertanding kan? Aku jadi penasaran dengan kekuatanmu," prajurit yang lain ikut nimbrung, dia bernama Samuel.


"Si Brenda itu, bahkan setelah kalah melawan Desmond masih saja menantang orang lain." Entah Trevor berkata begitu sebagai pujian atau apa.


"Ngomong-ngomong, kalian dulu satu Akademi dengan si Brenda kan? Dia punya pacar nggak?" Samuel setengah berbisik.


Thomas nyengir lebar, "Wah, kalau itu sih tanyakan Desmond." Alex yang sedang minum tersedak mendengar perkataan Thomas, "Sial, kau membuatku tertawa."


"Habisnya mereka akur banget sih," ujar Thomas sambil mengunyah rotinya. Alex mengangkat satu alisnya, "Kau bilang yang seperti itu akur?"


"Biasanya yang seperti itu ujung-ujungnya jadi keluarga sih," Trevor berkomentar, "Tapi tenang saja Samuel, kalau kau gigih, mungkin saja kau bisa jadi pacarnya," lanjutnya sambil mendorong bahu Samuel.


Samuel tersentak, antara karena perkataan Trevor dan dorongannya. "Memang kapan aku bilang suka dia?"


"Dia memalingkan muka," bisik Thomas dengan nada jahil.


"Eh ... Ternyata betulan ya, Sam?" Trevor ikutan menggodanya.


"M-m-memang ka-kapan aku bilang s-su-suka dia? Kau seperti karakter cewek di novel-novel saja." Alex menirukan gaya bicara khas cewek tsundere, membuat Thomas dan Trevor tertawa.


Samuel diam saja, tidak menanggapi mereka, tapi wajah malu-malunya seolah mengatakan semua isi hatinya.

__ADS_1


Trevor menepuk pundak Samuel, "Yah, meskipun lawanmu itu Desmond, tapi aku mendukungmu kok." Samuel mengerut, "Kau bisa diam tidak sih?" Trevor angkat tangan, lalu dia berdiri sembari membawa piring besinya dan beranjak pergi.


"Kalau begitu aku duluan ya, senior." Thomas dan Alex pun ikut undur diri, para prajurit lain juga mulai meninggalkan kantin, tersisa beberapa orang yang jadwal bersih-bersih kantin termasuk Samuel.


...****************...


Setelah jadwal patroli siangnya selesai, Alex langsung merebahkan tubuhnya ke kasur tipis, ditopang ranjang tingkat yang terbuat dari besi dengan banyak bagian catnya sudah terkelupas.


Hari ini dia mendapat surat dari keluarganya di kampung halaman, surat itu ditulis oleh adiknya, dia bilang ibu terus menerus mengkhawatirkan Alex setelah mendengar kabar kalau salah satu prajurit gugur dalam perjalanan menuju pos pertahanan merupakan rekan Alex.


Dalam surat itu adiknya bilang kalau akhir-akhir ini ibu sulit tidur dan tidak nafsu makan karena terus-terusan memikirkan Alex, di akhir surat adiknya menulis. "Tidak bisakah kau pulang menengok ibu meski cuma sebentar?"


Selama di Akademi, ibu selalu menulis sendiri suratnya, tapi kali ini adiknya yang menulis entah karena ibu yang menyuruhnya atau dia sendiri yang berinisiatif menulis.


Alex menghembuskan nafas berat, karena insiden penyerangan di kereta, seluruh pos pertahanan meningkatkan kewaspadaan dan untuk waktu yang tidak ditentukan, para prajurit belum diizinkan untuk mengambil cuti.


Dia pun menulis balasan, dalam suratnya, dia menulis kalau tidak ada yang perlu dicemaskan. Meskipun dia belum bisa pulang untuk sementara waktu, tapi dia berjanji akan menjaga diri sampai situasinya membaik dan akan mengambil hari libur pada saat itu.


"Kau terlihat murung," Anford yang baru masuk kamar melihat ekspresi Alex yang seperti orang banyak pikiran, dia duduk di ranjangnya yang berseberangan dengan ranjang Alex, melepas atribut militernya dan langsung rebahan.


"Ada masalah apa sih?" Anford bertanya ketika dia mendengar Alex menghembuskan nafas berat untuk yang kesekian kalinya. Jujur saja dia merasa agak terganggu.


Alex terdiam sejenak, setelah itu dia menjelaskan semuanya soal surat dari keluarganya yang membuatnya banyak pikiran, "Mana mungkin aku bisa tenang kalau ibuku jadi tidak suka makan dan sulit tidur begitu?"


Anford mendengarkannya dengan seksama, dia memikirkan jawaban paling baik untuk solusi dari masalah Alex. Tapi setelah beberapa saat berfikir ... Dia tetap tidak tahu solusinya.


"Yah ... Dalam situasi seperti ini, bukannya kalian harus saling percaya? Ibumu harus bisa percaya kau akan pulang dengan selamat nanti, dan kau juga harus percaya kalau ibumu akan menjaga dirinya baik-baik."


Perkataan Anford ada benarnya, tidak ada yang bisa Alex lakukan selain mempercayai keluarganya, begitupun sebaliknya.


"Kurasa kau ada benarnya," lirih Alex.


Anford tersenyum dan kembali merebahkan dirinya. Tapi belum genap punggungnya menyentuh kasur, sirine darurat berbunyi keras, menimbulkan keributan seketika.


Semua orang di kamar itu tersentak, Alex dan Anford saling tatap. Ketika sirine berbunyi, maka hanya ada satu kemungkinan.


"Iblis!"


...****************...



Ilustrasi karakter Brenda Derrantes, ilustrasi dibuat menggunakan AI

__ADS_1


__ADS_2