Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 21: Permulaan


__ADS_3

Markas Aliansi Benua Utara


Benua utara hanya terbagi menjadi lima negara, berbeda dari benua lain yang terpecah menjadi belasan bahkan puluhan negara. Hal ini karena Kaisar Agung Maximillian August telah berhasil menyatukan sebagian besar wilayah benua utara.


Meski saat ini Kekaisaran Chyrosian telah kehilangan kejayaan masa lalunya, namun kekuatan militer dan ekonomi mereka tetap tidak boleh dianggap remeh.


Bahkan setelah menjadi negara yang terlibat dalam Perang Lima Tahun yang terjadi dua puluh lima tahun lalu, Kekaisaran Chyrosian masih tetap berdiri angkuh, seolah mereka menolak untuk runtuh.


Sementara itu, di salah satu wilayah di ujung utara Kekaisaran Chyrosian, wilayah yang dahulu berdekatan dengan lokasi yang diyakini sebagai tempat bertarungnya Kaisar Agung Maximillian August melawan entitas misterius, terdapat Markas Aliansi Benua Utara.


Markas Aliansi Benua Utara dahulunya merupakan benteng pertahanan yang dibangun untuk membendung serangan negara-negara dari benua tetangga pada masa perang. Setelah perang usai, benteng itu mulai terbengkalai.


Namun dikarenakan kemunculan musuh baru umat manusia, benteng ini pun kembali dioperasikan sebagai markas bagi aliansi, beberapa benteng lain yang tersebar di penjuru benua utara pun juga kembali dioperasikan. Baik itu sebagai markas komando maupun barak tentara.


"Hari ini melelahkan sekali sialan." Seorang prajurit berusia tiga puluhan membuka botol anggurnya dan mulai meneguk isinya.


Di sebelahnya, seorang pria yang terlihat seumuran mengambil cerutu dan mulai menyulutnya. Setelah menghisap sekali, dia ikutan menggerutu. "Kapten sialan itu benar-benar menyiksa kita setiap hari." Dari penampilannya, dia terlihat di pertengahan usia dua puluh.


"Mau bagaimana lagi kan? situasi saat ini memang gawat." Orang ketiga dari mereka ikut menanggapi. Dia juga terlihat masih berusia dua puluhan.


Mereka bertiga duduk di tepian benteng sambil menikmati langit malam, bagi mereka yang sehari-hari menjalani latihan keras, bersantai sambil menikmati malam seperti ini sangat berarti.


"Malam ini bintangnya terlihat sangat indah," lirih salah seorang dari mereka sambil menghembuskan asap cerutu.


"Kau sudah seperti gadis saja Farrier, pria itu menikmati sepi dan tenangnya suasana malam, bukan bintangnya," ledek prajurit yang sedang minum anggur, prajurit dengan cerutu yang rupanya bernama Farrier terlihat kesal dengan perkataan prajurit yang doyan minum itu.


"Diam kau Frank sialan." Sahut Farrier kesal.


"Heh, lihat si keparat ini, sudah mulai sok jagoan rupanya." Frank menepuk-nepuk kepala Farrier sambil terkikik.


"Hentikan Frank, kau mulai mabuk." Orang ketiga menegur Frank yang mulai rusuh.


"Cih, oke oke." Frank angkat tangan dengan wajah kesal, lalu dia lanjut minum sambil membuang muka.


Mereka bertiga diam selama beberapa saat, setelah keributan kecil tadi suasana menjadi sedikit canggung.


"Farrier, adikmu direkrut oleh Akademi kan?" Si prajurit ketiga melontarkan pertanyaan kepada Farrier.


Farrier mengangguk, "Dia anak yang berbakat sih, bahkan sekarang pun aku ragu bisa menang melawannya dalam duel."


Frank yang mendengarnya terkikik, "Orang kau itu memang nggak kuat kuat amat kok."


Farrier mendecak, "Sialan kau Frank." Dia melempari Frank dengan serpihan batu, Frank yang setengah mabuk hanya terkikik sambil menutupi wajahnya.


Rupanya karena mabuk, Frank jadi tidak terlalu ingat pertengkaran barusan. Sekarang mood nya jadi sedikit lebih baik.


"Ahhh ... Aku bosan sekali, memang kapan sih iblis-iblis keparat itu akan muncul? Palingan cuma gertakan kosong doang." Frank yang wajahnya memerah karena mabuk mulai meracau.


"Semoga saja mereka tidak benar-benar muncul," lirih Farrier.


"Hah, Robert, coba dengar orang ini. Kita menjalani latihan selama berbulan-bulan dan dia berharap agar latihan itu sia-sia." Frank kembali meracau.


"Kalau mereka memang hanya menggertak, maka itu bagus, tapi kalau mereka memang datang, maka kita akan berjuang sekuat tenaga untuk menghentikan mereka." Robert, si prajurit ketiga berkata tegas. Kalau dilihat, Frank agak tunduk dengan Robert, sepertinya Robert memiliki pangkat yang lebih tinggi diantara mereka bertiga.


"Ugh ... Sepertinya aku kebanyakan minum, pandanganku mulai berkabut." Frank berdiri dan berjalan agak sempoyongan, tapi perkataan Frank membuat Farrier dan Robert tersadar akan kondisi di sekitar mereka.

__ADS_1


"Tiba-tiba muncul kabut," lirih Robert.


"Padahal cuaca belakangan ini selalu cerah." Farrier juga mengedarkan padangan ke sekitar.


Prajurit-prajurit lain yang duduk-duduk di atas benteng dan menara pengawas juga terlihat kebingungan.


Beberapa detik kemudian, Robert terlihat menatap tajam kearah hutan yang tertutup kabut. Farrier yang melihat hal ini juga turut meningkatkan kewaspadaan.


"ADA YANG MENUJU KEMARI! PRAJURIT BERSIAGA!" Seru salah seorang prajurit berseru dari atas menara pengawas.


Farrier menyipitkan matanya untuk memfokuskan pandangan, benar apa yang dikatakan prajurit pengawas, Farrier bisa melihat bayangan sosok manusia dari balik kabut.


Anehnya, ekspresi Robert terlihat sangat tegang, seperti orang yang bertemu hantu di siang bolong.


"Hei, Robert. Ada ap-" Tiba-tiba Farrier merasa tubuhnya anjlok dan jatuh ke bawah, saat dia menunduk untuk melihat kakinya ... Sepasang kaki itu sudah tidak ada, dia mengalihkan pandangan ke samping, dilihatnya bagian bawah perut hingga kaki miliknya tergeletak di atas genangan darah.


Saat mata Farrier dan Robert bertemu, Farrier melihat Robert menatapnya dengan tatapan terguncang dan ngeri. Dengan cepat, Farrier merasa tubuhnya menjadi dingin dan mati rasa, kemudian kesadaran Farrier menghilang.


"F-Fa-Farrier ...." Dengan suara gemetaran, Robert mengguncang tubuh bagian atas Farrier, tapi sia-sia saja. Kepala Farrier sudah terkulai lemas dengan mata yang menatap kosong.


Frank yang melihat kejadian di depan matanya seketika tersadar dari mabuknya, dia segera mencabut pedang di pinggangnya.


Prajurit lain pun masih terguncang, kepala mereka masih berusaha memproses kejadian yang baru saja mereka saksikan.


Namun suara raungan dan geraman yang susul menyusul terdengar dan membuat mereka segera tersadar.


Saat mereka menengok ke luar benteng, mereka sekali lagi menyaksikan pemandangan yang aneh, sebagian masih saja terguncang, tapi sebagian yang lain segera mengerti kalau mereka sedang menghadapi kengerian yang belum pernah disaksikan sebelumnya.


Puluhan ... Tidak, melainkan ratusan manusia muncul dari balik kabut dan berlarian dengan ganas menuju ke arah mereka. Tapi semakin diperhatikan, orang-orang itu terlihat semakin aneh.


"BANGSAT! APA-APAAN INI!?" Frank berseru seketika setelah melihat pemandangan di hadapannya, prajurit lain segera berseru panik, suara lonceng darurat mulai menggema ke seluruh benteng.


Prajurit yang melihat pemandangan itu menjadi gentar, mereka benar-benar tidak memahami apa yang sedang terjadi.


Manusia-manusia yang lebih cocok disebut mayat berjalan itu mulai menabrakkan tubuhnya ke dinding benteng, menimbulkan suara remuk yang mengerikan.


Satu persatu mayat itu menabrakkan tubuhnya ke tembok benteng, bangkai-bangkai itu mulai menumpuk semakin tinggi.


Melihat hal itu, Robert segera menyadari sesuatu. "MEREKA MEMBUAT PIJAKAN UNTUK MEMANJAT BENTENG! HALANGI MEREKA DENGAN APAPUN!" Serunya kepada prajurit lain dengan suara panik.


Prajurit lain yang mendengar seruan Robert segera mengambil Polearm, Halberd, Pike, apapun yang berupa senjata jarak menengah untuk menghadang bangkai berjalan yang entah berapa jumlahnya itu.


Tapi tentu saja segelintir prajurit tidak mampu menahan gelombang serangan bangkai ganas tak kenal takut itu, mereka tetap saja merangsek ke depan tanpa peduli ujung tajam senjata-senjata prajurit yang berusaha menghadang mereka.


"AAAHHHHH!" Teriakan terdengar dari salah satu bagian benteng, Robert yang menoleh ke arah teriakan itu lagi-lagi menyaksikan teror. Beberapa bangkai berjalan berhasil memanjat ke benteng. Dengan ganas, makhluk-makhluk tidak jelas itu segera melompat dan menerkam prajurit-prajurit di depannya. Ya, mereka benar-benar menerkam manusia.


"ROBERT! MEREKA TIDAK ADA HABISNYA!" Frank baru saja menebas kepala salah satu bangkai berjalan itu, tapi bahkan setelah kepalanya terputus, bangkai itu tetap berusaha mencakar dan mencekik Frank.


"ARRGHH! BAJINGAN INI KENAPA TIDAK MATI SAJA!" Bahkan setelah Frank menebas tangan dan kaki makhluk itu sampai putus, tubuhnya tetap menggeliat, benar-benar pemandangan yang menjijikkan.


Teriakan-teriakan para prajurit silih berganti memenuhi benteng itu, bangkai-bangkai berjalan mulai memasuki benteng, gelombang serangan mereka benar-benar tak terhentikan.


Belum selesai dengan teror bangkai berjalan, satu persatu prajurit benteng mendadak terkapar dengan mulut, hidung, mata dan telinga mereka mengeluarkan darah bercampur busa. Tubuh mereka kejang-kejang hebat sementara mulut mereka yang menganga mengeluarkan suara tercekik yang mengerikan.


"Robert! Kau harus segera meninggalkan tempat ini! Kau harus memberitahukan kepada dunia tentang betapa mengerikannya sesuatu yang kita hadapi saat ini!"

__ADS_1


Seorang pria berusia empat puluhan menepuk pundak Robert, dia adalah Kapten yang bertanggung jawab melatih prajurit di benteng ini.


"KAPTEN! DIMANA KOMANDAN!?" Seru Frank kepada si Kapten.


"Dia sudah mati! Itu benar-benar cara mati yang tidak akan pernah kuinginkan."


"KAU INI GOBLOK YA!? SIAPA JUGA YANG MAU MAT-KHUUHKK!" Frank terkapar setelah sesuatu menancap di lehernya, segera saja darah mengalir keluar dengan deras dari lubang-lubang wajahnya, menyusul tubuhnya yang mengejang hebat.


Robert berteriak parau memanggil nama Frank, dia melompat berusaha menolong Frank yang masih kejang-kejang, suara erangan tertahan yang memilukan keluar dari mulut Frank bersamaan dengan darah bercampur busa.


Namun Kapten segera menarik tubuhnya, dia menampar wajah Robert beberapa kali untuk menyadarkannya. "SADARLAH ROBERT! DIA SUDAH TIDAK BISA DISELAMATKAN!" Seru Kapten sembari mengguncang tubuh Robert dengan keras.


Saat itulah, matanya menangkap figur seorang wanita dengan pakaian biara, wajahnya sangat pucat seperti mayat, kedua matanya tertutup. Sosok itu tersenyum tipis ke arah Robert saat Robert menatapnya, lalu sosok itu menggeleng dan menangkupkan tangannya ke depan dada.


"APA-APAAN SEMUA INI! BAGAIMANA SESUATU SEPERTI INI MUNCUL DI DUNIA!" Robert di tengah keputusasaannya memekik, dia benar-benar tidak mengerti apa yang dia saksikan saat ini.


Sementara itu, bangkai-bangkai berjalan mulai memenuhi benteng mereka. Kapten dan sisa-sisa prajurit semakin terdesak, fisik mereka lelah dan mental mereka sudah hancur.


Tiba-tiba Kapten mencengkeram bahu Robert, "Kau harus hidup!" Lalu Kapten mendorong tubuh Robert hingga terjatuh dari benteng.


"KAPTEN! APA YANG KAU LAKUKAN?!"


"PERGILAH! CERITAKAN SEMUANYA KEPADA ORANG-ORANG DI LUAR SANA! MEREKA HARUS MENGETAHU-UUKHHH!"


Satu bangkai berjalan melompat ke tubuh Kapten dan langsung menerkam lehernya, Kapten pun terkapar tanpa bisa memberikan perlawanan. Prajurit yang tersisa pun mengalami hal yang kurang lebih sama.


"AAAAHHHHHHHH! AAAKKKKHHHHH! SIAL! SIAAALLLL!" Robert memekik parau sembari memukul-mukul wajahnya.


Jiwa Robert benar-benar terguncang saat ini, melihat seluruh rekannya dihabisi kurang dari satu jam, tidak, bahkan mungkin kurang dari itu. Terlebih tidak ada satupun dari mereka yang mati dengan wajar.


Dia segera berlari menjauh dari benteng, bangkai-bangkai berjalan itu segera mengejar Robert. Dia segera membuang perisai dan pedangnya, lalu melepas helm dan zirah yang terpasang di tubuhnya. Menyisakan celana kain dan Gambeson dengan simbol Aliansi Enam Benua.


"BAJINGAN! JANGAN MENGIKUTIKU! AAHHHH! MENJAUH DARIKU! MENJAUH KUBILANG BANGKAI BRENGSEK!"


Entah hanya perasaannya atau bagaimana, dia merasa suara langkah kaki dan suara tulang bergesekan semakin menjauh dan perlahan menghilang, tapi dia tetap berlari sekuat tenaga tanpa menoleh ke belakang.


Setelah beberapa saat berlari dengan kecepatan penuh, dia memberanikan diri menoleh ke belakang, ternyata Bangkai-bangkai berjalan itu sudah berhenti mengejarnya, tidak ada satupun dari mereka yang tertangkap pengelihatannya.


Robert berhenti berlari, kemudian dia berusaha mengisi paru-parunya dengan udara malam yang dingin. Lalu dengan lemas, dia duduk bersandar pada sebuah pohon.


Sembari mengatur nafasnya, dia mengambil botol air yang terikat di pinggangnya dan segera meneguknya. Hanya dalam beberapa tegukan, isi botol logam itu kandas.


"Sial ... Hah .... Seharusnya ... Hah ... Aku mengisi lebih banyak."


Dia kembali mengaitkan botol itu pada pengait yang terikat di ikat pinggangnya.


Robert mulai mengerang karena frustasi, dia memegangi kepalanya sambil mengacak-acak rambutnya, semua yang dia alami masih terasa tidak nyata.


"Sial! Sial sial sial! Apa-apaan itu!? Apa manusia memang harus melawan yang seperti itu!?"


Terus saja dia mengerang sambil mengacak-acak rambutnya, bahkan sekarang dia membenturkan kepalanya berulang kali ke pohon yang dia sandari.


Kemudian dia tiba-tiba bangkit berdiri dengan tatapan kosong, ingus serta air liur mengalir dari lubang hidung dan mulutnya. Sekarang dia terlihat seperti orang kehilangan akal. "Harus pergi."


Baru saja Robert berlari, dia merasa sesuatu menabrak tubuhnya dari belakang, saat dia mengarahkan pandangannya ke bawah. Dia bisa melihat tangan pucat seorang wanita menembus keluar dari dadanya, Robert terbatuk memuntahkan darah, tangan yang menusuk Robert pun dicabut. Seketika itu dia terkapar dengan darah merembes keluar dari lubang yang menganga di dadanya.

__ADS_1


Langit malam berbintang menjadi pemandangan terakhir yang dia lihat sebelum kesadarannya menghilang.


__ADS_2