
Mereka semua kebingungan dan saling bertukar pandang, barusan itu terdengar seperti suara seseorang yang berbicara dari luar penghalang Alex.
Tapi mereka berusaha mengabaikannya, mungkin mereka terlalu mabuk sampai mereka mulai salah dengar.
"Halo? Di sini masih ada orang kan?"
Alex membuka sedikit celah di penghalangnya, dia terkesiap ketika melihat keluar, seorang prajurit berdiri di luar dengan tubuh bersimbah darah penuh luka akibat tusukan jarum.
Dia segera membuka celah yang cukup untuk orang itu masuk, Dustin buru-buru membantunya berbaring dan memberinya pertolongan pertama.
"Tristan! Kau masih hidup ya bajingan?" Wilman yang mabuk mendekati prajurit itu dan menepuk-nepuk zirahnya.
Gilbert menoleh ke arah Tristan dan mengamatinya beberapa saat. "Wah, kau Tristan? Aku sampai tidak bisa mengenalimu karena semua darah di wajahmu, apa-apaan itu?"
"Kau bahkan tidak bisa mengenalinya?" Alex menggeleng sambil berdecak, sebenarnya dia juga tidak mengenalinya pada awalnya.
Tristan terlihat kebingungan dengan situasi di tempat ini, dia terlihat menoleh kesana kemari untuk mencari orang yang sekiranya cukup waras untuk menjawab pertanyaannya.
Percuma, nak. Semua bajingan ini sudah kehilangan akal.
"Apa yang terjadi di sini?" Tristan akhirnya tidak punya pilihan lain selain bertanya pada sekumpulan orang gila yang sedang mabuk.
"Hah!? Kau tidak lihat?! Kami mengalami apa yang kau alami bodoh!" Gilbert mengumpat Tristan dan menyodok jidatnya dengan jari.
"Bukan ... Maksudku, kenapa kalian semua malah mabuk?"
Kelima orang itu saling tatap dan terdiam beberapa saat, kemudian tawa mereka meledak, Saul sampai terkapar dan guling-guling di tanah.
"Ya memang mau ngapain lagi?!" Gilbert di tengah tawanya berseru tepat di wajah Tristan, air liurnya sampai muncrat ke mana mana. Empat orang lainnya makin keras tertawanya.
"Jadi, bagaimana kau masih bisa selamat?" Dustin bertanya pada Tristan, dia menyodorkan sebatang cerutu padanya.
Tristan menerima cerutu itu dan menyulutnya. "Entahlah, sesaat setelah kereta terguling aku kehilangan kesadaran, saat tersadar, aku sudah terbaring di bawah tumpukan mayat."
"Cuma kau yang masih hidup?" Alex bertanya.
Tristan mengangguk, dia mengisap cerutunya dan menghembuskan asapnya keluar perlahan sambil menatap langit-langit penghalang.
"Tadinya aku mau bunuh diri, tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin lebih baik kalau aku mati saat menghadapi iblis. Kedengarannya lebih keren kan?" Tristan menyeringai ke arah mereka berlima.
Gilbert tertawa. "Bajingan ini jadi sinting setelah melihat rekannya mati."
Sekali lagi Tristan mengisap cerutunya, "Saat aku keluar, rupanya iblis itu sudah pergi, kemudian aku mendengar suara tawa dari balik kubah tanah ini. Begitulah ceritanya." Asap cerutu keluar seiring dengan kalimat Tristan, dia lalu menghembuskan sedikit asap yang tersisa.
"Aku harus terharu?" Wilman menatap Tristan dengan ekspresi iba yang dibuat-buat, empat orang lain tertawa melihatnya.
Tristan hanya tersenyum, kemudian dia merogoh sesuatu dari kantongnya dan mengeluarkan beberapa botol alkohol.
"Kurasa sia-sia membiarkan botol-botol ini tanpa pemilik, jadi kubawa saja kesini."
__ADS_1
Mereka semua kembali tertawa terbahak-bahak dan lanjut minum-minum sampai matahari mulai tenggelam.
...****************...
"Kau betulan bukan bangsawan?" Dustin bertanya kepada Alex, sekarang tinggal mereka berdua dan Tristan yang tersisa. Gilbert lemah terhadap alkohol meski dia begitu menyukainya, sementara Wilman bisa dimaklumi karena ini pertama kali dia minum, Saul kelihatannya kelelahan, dia juga kehilangan cukup banyak darah.
"Sudah berapa kali aku bilang, orang-orang di Akademi bahkan tidak mempercayaiku sampai akhir." Alex menjawab dengan nada kesal, dia mengambil cerutu baru dari kantong dan menyulutnya.
"Aku dibawa oleh seorang Count ke Akademi setelah mereka mengetahui kalau aku mendapatkan kekuatan cahaya, mungkin karena saat itu aku datang ke Akademi menggunakan kereta kuda bangsawan, mereka salah mengira aku adalah bangsawan." Alex mengisap cerutunya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya sekaligus.
Dia tertawa kecil sebelum melanjutkan. "Konyolnya, karena kereta kuda yang ku gunakan saat itu termasuk kereta kuda sederhana menurut para bangsawan, mereka mengira kalau aku ini semacam pangeran yang menyembunyikan identitas."
Dustin tertawa keras mendengar cerita Alex sementara Tristan hanya mengangguk-angguk sambil asik mengisap cerutunya, entah apa maksud Tristan ini.
"Kau dulu di Akademi ya? Apa kau kenal dengan anak keluarga Balchanes?" Dustin bertanya kepada Alex.
"Alvaro? Ya, kami tinggal sekamar. Apa kau mengenalnya?"
"Tidak, aku dulu sempat menjadi mentor sihir di kediaman mereka sewaktu magang, tapi anak yang aku ajari sihir itu sepertinya adik dari kawanmu itu."
Kalau dipikir-pikir, Alvaro memang pernah bilang kalau dia berasal dari negara di wilayah utara, mungkin dia akan mendapat perlakuan baik kalau seandainya berkunjung ke kediaman Balchanes dan mengaku sebagai rekan Alvaro. Mana mungkin sih, bangsawan itu pasti tidak mau percaya.
"Memang berapa usiamu saat magang?" Tristan bertanya Dustin, padahal kondisinya sangat parah, tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan atau lemas karena kehilangan banyak darah. Mungkin yang dikatakan Gilbert itu benar, orang ini jadi sinting karena melihat semua rekannya tewas.
"Dua puluh pas." Dustin mengangkat dua jarinya.
"Dari usia berapa kau menjalani pendidikan di Departemen Sihir?" Tanya Tristan lagi.
"Kau sudah magang di usia segitu? Hebat juga."
"Heh, sepertinya kau mengerti soal itu Tristan, meski terlihat begini, aku memang penyihir yang cukup hebat." Wajah Dustin jadi terlihat sombong setelah dipuji Tristan.
"Memang sehebat itu?" Alex gantian bertanya kepada Dustin, membuatnya merengut karena pertanyaan Alex terkesan merendahkannya. Padahal dia memang tidak tahu.
"Normalnya usia penyihir yang lulus pendidikan di Departemen Sihir itu sekitar dua puluh tiga sampai dua puluh lima jika mereka mulai dari usia delapan belas tahun." Jelas Tristan.
Dustin mengangguk-angguk senang, "Kau benar-benar tahu banyak, apa kau juga pernah menerima pendidikan sihir di sana?" Tanya Dustin pada Tristan.
Tristan menggeleng. "Bukan aku sih, tapi kakakku, dia bilang kalau dia sudah mencapai peringkat tiga."
"Oh, benarkah? Siapa namanya? Kuharap bukan cewek yang pernah aku ajak tidur."
Ekspresi dingin mengerikan muncul di wajah Tristan. "Alex, kalau ternyata bajingan ini pernah tidur dengan kakakku, bunuh dia mewakili ku."
Alex ikut menatap tajam Dustin. "Dimengerti, tapi membunuhnya agak berlebihan, bagaimana kalau potong adik kecilnya saja?"
Tristan mengangguk puas. "Kurasa itu cukup," ujarnya sembari menyeringai seram ke arah Dustin. "Jadi? Sudah siap mendengar nama kakakku?"
Wajah Dustin berubah menjadi tegang dan pucat. "Tidak bisakah kita lupakan ini?"
__ADS_1
"Boleh saja, itu artinya kau melewatkan kemungkinan tidak pernah tidur bersamanya." Dustin refleks cegukan, itu artinya mau mundur sekarang pun percuma, dia mengutuk dirinya yang kelepasan bicara. Dalam hati, dia bersumpah untuk tidak mabuk berlebihan lagi.
"Baiklah ... Kalau begitu." Jawabnya dengan suara gemetar.
"Irene ... Irene Doukas. Bagaimana? Apakah kau merasa pernah melakukan hubungan terlarang dengannya?"
Dustin terlihat seperti mengingat sesuatu, kemudian tersenyum tengil dan tertawa.
"Tristan yang malang." Ucapannya membuat Tristan kebingungan. "Orang yang harusnya kau potong burungnya itu bukan aku."
Tristan tersentak mendengar perkataan Dustin. "Tidak mungkin! Jangan-jangan ...."
Dustin menyeringai puas melihat ekspresi menderita Tristan, dia telah berhasil membalikkan situasi.
"Ya! Benar! Aku mungkin memang bajingan yang suka gonta ganti teman tidur, tapi aku tidak pernah menyentuh wanita yang sudah punya pasangan! Kau tahu artinya kaaan! TRISTAAN BOYY!?"
Entah kenapa Dustin menjadi sinting, dia memang sinting ketika mabuk, tapi kali ini dia terlihat lebih sinting dari biasanya. Seringai puas di wajahnya itu terlihat seperti iblis yang berhasil mempermainkan mangsanya.
Tristan melompat ke Dustin dan menarik kerah jubahnya. "Siapa ... Siapa bajingan itu ...?" Tristan bertanya dengan tatapan memburu penuh kebencian.
Seringai Dustin menjadi semakin mengerikan, dia menjelma menjadi inkarnasi kebejatan dan dendam. "Bukankah ada harga untuk segala sesuatu?"
"Akan kuserahkan jiwaku." Tristan sudah tidak ada harapan, perasaan benci dan mabuk sudah menguasainya.
Alex sudah lelah mendengarkan mereka, dia keluar penghalang dan memutuskan untuk cari angis segar, kubah penghalang itu sudah dipenuhi aroma darah dan alkohol. Dia samar-samar mendengar tawa gila Dustin dari dalam penghalang, kemudian suara semacam lantunan mantra tidak jelas dari Tristan.
Setelah memastikan tidak ada iblis yang bersembunyi di sekitarnya dengan menyebar beberapa peri kecil ke berbagai arah, dia mengeluarkan sebatang cerutu dan menyulutnya.
Dia menatap ke arah kota yang mereka datangi sebelumnya, wajah para warga desa yang berterimakasih, wajah Daisy yang dipenuhi kegembiraan, anak-anak yang bermain kejar-kejaran sambil terbang.
Dalam hati dia berharap tidak ada hal buruk yang terjadi pada mereka.
Dustin terlihat menyusul Alex keluar, dia duduk di sebelah Alex dan ikut menyalakan sebatang cerutu.
"Sudah selesai kontraknya? Tuan raja iblis?"
"Khukhukhu ... Terlalu berlebihan memanggilku raja iblis."
"Tristan bagaimana?"
"Dia tertidur setelah berkali-kali menggumamkan nama kakaknya. Anak itu, dia siscon akut. Lagipula dia sedang terluka parah, agak mengejutkan dia bisa tetap terjaga dengan luka seperti itu." Dustin tertawa kecil, dia akhirnya kembali normal.
Alex hanya diam saja, tidak terlalu memperhatikan jawaban Dustin, pikirannya kembali larut. Dia sempat melupakannya ketika mabuk bersama orang-orang ini, tapi semua gambaran buruk itu kembali menyerang benaknya saat ini.
"Lihatlah, ada kabar baik, para keparat lain sudah tiba di sini." Dustin menunjuk ke kereta kuda yang melaju ke arah mereka dari kejauhan.
Melihat satuan unit evakuasi mendekat, sebuah senyum tersungging di wajah Alex yang nampak lega.
...****************...
__ADS_1
Ilustrasi karakter Dustin Howard