
Dua orang yang sekarang berhadapan di atas arena adalah Ferdinand Notaras Chevallaire dan Brenda Derrantes, seorang siswi lencana emas. Dia seorang siswi tapi mengenakan desain seragam siswa, tapi berkat rambutnya yang panjang diikat ke belakang, semua orang bisa tahu kalau dia itu wanita.
"Aku sebenarnya merasa sedikit tidak nyaman kalau harus melukai seorang lady yang ... Anggun? Hmm ... Terserahlah, intinya aku tidak suka melukai wanita." Dahi Brenda langsung mengerut setelah mendengar ucapan Ferdinand yang terkesan seperti sindiran, Ferdinand tertawa kecil melihat provokasinya tepat sasaran.
"Aku tahu kalau kau orang yang sangat berbakat, aku sudah sering mendengar namamu disebut." Brenda memasang posisi siap bertarung, dia menggunakan Polearm dari kayu yang disiapkan oleh akademi untuk latih tanding. "Ya ampun, jadi orang populer itu sedikit melelahkan." Ferdinand menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.
Setelah itu, Ferdinand mengambil sebilah pedang kayu dengan model Arming Sword, dia memasang kuda-kuda bertarung, mereka berdua sudah siap untuk baku hantam.
Instruktur yang menjadi wasit mulai memberi aba-aba. "Bersiap ...." Brenda dan Ferdinand sudah siap dengan kuda-kuda mereka.
"MULAI!"
Ferdinand menerjang ke arah Brenda dengan gerakan cepat dan menebaskan pedangnya ke kepala Brenda, tapi Brenda masih bisa menghindarinya sambil menusukkan Polearmnya ke arah Ferdinand untuk menjaga jarak. Arming Sword itu pedang yang tidak begitu panjang, sementara Ferdinand harus tetap mewaspadai Polearm Brenda. "Sial, seharusnya pakai Longsword saja seperti biasa." Ferdinand mundur dua langkah, tapi dengan cepat, dia kembali melancarkan serangan tusukan, Brenda memutar Polearm di tangannya dan dengan satu gerakan tajam, dia mengirimkan tusukan ke bahu Ferdinand, membuatnya memekik kesakitan dan kembali mundur.
"Tadi ada orang Vasilius yang kalah, sekarang satu lagi kalah, apa kemampuan kalian memang cuma segini?" Brenda akhirnya memiliki kesempatan untuk membalas provokasi Ferdinand, tapi sepertinya Ferdinand sama sekali tak terpengaruh provokasi itu.
"Yah, kuakui kalau aku terlalu meremehkanmu, kalau aku tahu kau itu lawan yang merepotkan begini, seharusnya aku pakai Longsword saja." Ferdinand mengatakan itu sambil membuang pedangnya, Brenda melihat itu sebagai bentuk keputusasaan Ferdinand, dia segera menerjang maju dengan kecepatan penuh ke arah Ferdinand. Siluet zirah keemasan muncul di tubuh Brenda, meskipun wujud zirah itu transparan, tapi semua orang bisa melihatnya dengan jelas. Tak pelak hal itu membuat kehebohan kembali pecah di area latihan.
"Tapi sayangnya, pedang bukan satu-satunya keahlianku." Brenda terhenyak saat dia melihat Polearmnya menembus tubuh Ferdinand seolah tubuhnya hanyalah angin kosong. Dengan seringai kemenangan, Ferdinand menodongkan jarinya yang memancarkan cahaya redup kebiruan tepat ke kepala Brenda.
-BANG-
Brenda rubuh ke lantai arena dengan darah mengucur dari kepalanya, serangan sihir Ferdinand menghantam dahi Brenda dengan telak. Beberapa murid dengan panik meneriaki tim medis, mereka kira Brenda mati karena serangan Ferdinand barusan, tapi sebelum tim medis naik ke arena, seorang siswa mendekati Brenda yang kepalanya berlumuran darah.
Siswa itu menyentuh pelan kepala Brenda, lalu cahaya redup kebiruan menyelimuti tangannya yang menyentuh kepala Brenda. Beberapa detik kemudian, darah yang mengucur dari kepala Brenda berhenti tepat setelah tim medis tiba di arena. Tim medis menyatakan tidak ada cedera sama sekali di tubuh Brenda, semua murid berseru takjub. Karena setelah melihat kekuatan dari empat orang dengan tipe petarung, mereka kembali melihat jenis kekuatan lain yang tidak kalah mengagumkan. Siswa itu bisa menyembuhkan luka mengerikan yang dialami Brenda dalam waktu yang sangat singkat.
Brenda yang masih setengah sadar menatap siswa itu lamat-lamat, mulutnya membisikkan sesuatu, siswa itu mendekatkan telinganya ke mulut Brenda, tapi Brenda keburu pingsan duluan sebelum mengatakannya kembali.
Pertarungan dinyatakan selesai dengan Ferdinand sebagai pemenang, keributan terjadi beberapa saat kemudian karena para murid dan instruktur sempat memprotes Ferdinand yang membahayakan nyawa murid lain dengan meluncurkan serangan mematikan. Tapi keributan itu segera reda setelah Kepala Akademi menyatakan akan melakukan tindakan khusus atas apa yang dilakukan Ferdinand.
Prosesi duel sempat akan dihentikan karena dengan dua pertarungan barusan, para murid dianggap sudah mengetahui seberapa kuat para pemilik kekuatan cahaya itu, tapi semua murid meminta duel dilanjutkan, mereka masih ingin melihat kekuatan lencana emas yang lain.
"Ya begitulah kekuatan mereka, semuanya tidak masuk akal, kalau duel dilanjutkan sampai semua murid lencana emas dapat giliran, kapan selesainya?" Instruktur memberikan alasan mengapa duel dicukupkan sampai disini.
Tapi bukan murid namanya kalau pasrah dengan keputusan guru begitu saja, dengan argumen tak terbatas, mereka mendesak para instruktur untuk melanjutkan duel.
Kepala Akademi kembali turun tangan untuk menghentikan perdebatan yang bisa menimbulkan kekacauan ini dan memberikan keputusannya. "Aku izinkan satu ronde lagi." Kalimat itu mutlak, tidak ada yang berani menentangnya.
Kali ini instruktur tidak memilih siapa yang akan melawan siapa, tapi dua murid lencana emas diberi kesempatan untuk maju ke arena, bisa siapa saja yang maju, asalkan lencana emas dan bukan yang sudah duel sebelumnya. Peraturan itu membuat Adrian mendengus kecewa, lagipula tadi teman-teman sekelasnya sudah menahannya supaya tidak maju ke arena.
"Bagaimana? Apa tidak ada yang ingin maju ke arena?" Instruktur mengedarkan pandangan ke seluruh murid, "Kalau tidak ada, kita sudahi saja." Murid di tingkat perak dan perunggu mulai mengompori teman sekelasnya yang memiliki lencana emas, mereka sangat ingin melihat kekuatan lain walaupun susah dicerna akal.
Akhirnya satu siswa maju dan naik ke arena, sorak sorai para murid lagi-lagi terdengar, mereka makin gencar mengompori murid-murid lencana emas yang juga takut-takut mau maju, karena bisa jadi mereka malah babak belur seperti Theodore dan Brenda.
Satu siswa akhirnya melangkah maju ke arena dimana lawan tanding sudah menunggunya disana, semua murid menyambutnya dengan seruan heboh, terutama para siswi yang mendadak jadi penggemar setelah melihat tampangnya yang goodloking. Dia tidak lain adalah Alex Collin, setelah menyaksikan dua pertarungan tadi, dia mendadak ingin melihat sekuat apa kekuatan miliknya jika dibandingkan dengan murid lain.
__ADS_1
Dua siswa itu saling berhadapan, Alex menatap lawannya tajam, dia mengatur nafasnya yang memburu karena adrenalinnya meningkat, "Namaku Desmond, kau?" Siswa itu memperkenalkan dirinya, "Alex." Jawab Alex singkat.
Desmond mengambil sebuah busur sebagai senjata, tapi dia melihat Alex tidak memegang apapun. "Apa kau penyihir? Atau petarung tangan kosong?" tanya Desmond, "Entahlah, mungkin keduanya, atau juga bukan keduanya." Desmond bingung mendengar jawaban absurd itu, tapi dia mengacuhkannya, "Terserahlah."
Instruktur memberi aba-aba, "Bersiap ...."
'Kalian siap?' Alex berbicara kepada para peri di sekelilingnya "Kapanpun Anda butuhkan tuan."
"MULAI!"
Desmond menarik busurnya, tapi anehnya dia tidak menggunakan anak panah atau apapun, tapi para peri memperingati Alex untuk waspada. Sepersekian detik kemudian, Desmond melepaskan panah kosongnya, selarik cahaya meluncur dengan kecepatan tinggi sesaat setelah Desmond melepaskan panahnya. Alex menggunakan elemen angin untuk membelokkan arah tembakan Desmond, membuat membuat panah ghaibnya meleset dan menancap di dinding area latihan. Semua orang menoleh ke dinding yang terkena tembakan barusan, terlihat cekungan dan retak di dinding tebal itu, menandakan kekuatan serangan Desmond yang mengerikan.
"Keren sekali, apa dia barusan menembak menggunakan panah ghaib?"
"Panah ghaib matamu, jelas-jelas panahnya menancap di dinding area latihan."
"Eh, benar juga."
"Terus, darimana asalnya panah itu?"
"Entahlah, kekuatan orang-orang ini sangat diluar nalar."
Desmond mulai terlihat waspada, dia jelas melihat Alex hanya diam di tempat, tapi entah bagaimana tembakannya bisa meleset. Dia menyadari kalau Alex bukan lawan yang bisa dianggap remeh.
Sekali lagi dia melepaskan tembakan, kali ini tiga anak panah melesat berturut-turut, dua tembakan kembali meleset, sedangkan satu tembakan lain berhasil dihindari oleh Alex.
"Giliranku." Alex mengangkat tangannya, lalu bola-bola api seukuran kepala muncul di sekitarnya, Desmond terperanjat, begitu pula semua orang yang melihatnya.
"Gila! Tadi anak panah muncul tiba-tiba, sekarang malah api!?"
"Apa itu sihir?"
"Goblok! Mana ada sihir seperti itu!?"
Alex menjentikkan jarinya dan bola-bola api itu meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah Desmond. Sesaat sebelum bola-bola itu mengenai Desmond, terlihat dia membuang busurnya dan melindungi tubuhnya dengan sesuatu.
-BOOM-
-BTOOM-
-BOOM-
Bola-bola api itu meledak begitu mengenai Desmond, membuat semua orang berseru panik, wasit sampai melompat keluar dari arena karena jangkauan ledakan api Alex terlalu luas.
Rentetan ledakan akhirnya berhenti, asap mengepul dari tempat Desmond tadi berdiri, semua orang menunggu dengan harap-harap cemas, masa bakal ada korban cedera lagi? Begitulah yang mereka pikirkan.
__ADS_1
Tapi dari balik asap yang mulai memudar, samar-samar terlihat siluet sosok Desmond yang sedang memegang sesuatu. Asap yang semakin memudar akhirnya memperlihatkan sosok Desmond yang sedang memegang perisai besar dengan bentuk setengah lingkaran, punggungnya terlihat mengeluarkan asap, seragamnya terbakar di bagian belakang, dia tidak menyangka serangan api Alex akan meledak begitu mengenai perisainya hingga membuat api ledakan menyambar punggungnya.
Tapi sepertinya hanya seragam Desmond yang terbakar, sementara tubuhnya baik-baik saja, terbukti karena dia langsung menggenggam busurnya dan segera melakukan tembakan beruntun setelah asap menghilang. Lagi-lagi tembakan Desmond tidak memberikan dampak pada Alex, karena setiap anak panahnya seperti dibelokkan sesuatu sehingga semua tembakannya meleset.
"Angin! Bukan hanya api tapi juga angin!?" Pekik salah satu murid yang menyadari penyebab melesetnya tembakan Desmond, 'Apa-apaan!? Ini benar-benar konyol!' pekik Desmond dalam hati.
Desmond membuang busurnya sekali lagi, percuma saja menggunakan busur kalau lawannya bisa mengendalikan angin, dia merentangkan tangannya, rantai panjang berwarna hitam dengan bola berduri di ujung rantainya muncul di tangan Desmond.
Menerjang ke arah Alex dengan senjata jarak dekat terlalu berisiko, makanya dia beralih ke senjata jarak menengah. "Kelihatannya api terlalu berlebihan ya, Desmond." Desmond terdiam sejenak, kemudian tertawa kecil mendengar kata-kata Alex, "Itu benar-benar berbahaya, aku bisa saja mati tahu." Alex ikut tertawa, "Padahal aku sudah mengatur daya ledaknya, sepertinya aku kurang latihan." Desmond meringis ngeri, "Barusan kau masih menekan daya ledaknya? Ini konyol."
Desmond mulai memutar rantainya, bersiap meluncurkan serangan. Sementara itu, Alex merubah posisi berdirinya, lingkaran air muncul di belakang punggungnya setelah itu. Desmond menghela nafas, "Nanti apa lagi? Pasir? Asap?" Alex nyengir, "Aku juga punya petir kalau kau mau." Desmond tertawa hambar, "Sebaiknya jangan."
Dengan satu putaran tubuh 360 derajat, rantai dengan bola berduri di tangan Desmond melesat menyasar kepala Alex, Alex menghindari bola rantai itu, tapi Desmond kembali memutar tubuhnya sedemikian rupa, membuat bola berduri itu kembali ke arahnya, serangan itu berhasil melukai lengan kanan Alex.
Gerakan unik Desmond benar-benar sulit diprediksi, siapapun pasti menyangka kalau bola berduri itu hanya bisa melakukan sekali serangan. Tapi diluar dugaan, bola berduri itu bisa kembali ke arah Desmond sama cepatnya dengan saat serangan pertama.
Alex makin bersemangat, lingkaran air di belakang punggungnya berputar dengan keras, membuat partikel-partikel air menyebar ke sekitar Alex. Dari partikel-partikel yang berkumpul, terbentuklah gumpalan air yang melayang-layang di udara, meskipun bentuknya terkesan lucu dan remeh, tapi tidak ada seorangpun yang mau menertawakannya setelah menyaksikan serangan pertama Alex.
Putaran rantai Desmond semakin kuat, dia sadar kalau kali ini dia yang akan kalah atau bahkan juga menerima cedera, tapi dia akan tetap bertarung sampai akhir.
"Mari kita akhiri ini, Alex." Desmond kembali meluncurkan serangan, bola berduri di ujung rantainya berubah menjadi sebilah sabit, dan lagi-lagi dia memperlihatkan seni penggunaan senjata yang memukau. Seakan menjadi satu dengan rantainya, dia melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah Alex, Kalau saja dia melawan orang lain seperti Brenda, mungkin dia masih memiliki peluang untuk menang berkat penguasaannya terhadap senjata yang luar biasa. Tapi Alex bukan lawan yang bisa dia kalahkan.
-WHOOSSHH-
-BAM-
-BAM-
Gumpalan-gumpalan air di sekitar Alex melesat menghantam tubuh Desmond, beberapa kali dia berusaha menepis dan menghindari serangan air bertekanan tinggi itu, tapi jumlah dan intensitas serangannya terlalu tinggi. Desmond benar-benar tidak berkutik, sekarang dia hanya memutar-mutar rantainya dengan cepat untuk melindungi tubuhnya dari serangan air Alex.
Tapi bagaimanapun, stamina manusia tetap terbatas, putaran rantai Desmond melambat seiring waktu, membuat satu persatu serangan Alex berhasil menembus pertahanannya dan menghantam tubuhnya.
-BAM-
-BAM-
-BAM-
-BAM-
"RAAAARRGGHHH!" Desmond meraung keras, berusaha untuk tetap menjejakkan kakinya di arena meskipun tubuhnya terhantam berkali-kali oleh serangan Alex. Tapi tetap saja, teriakan tidak membuat stamina kembali atau kekuatan menjadi berlipat, Desmond tetap terdesak pada akhirnya, dia sudah mencapai batas kemampuannya.
Satu gumpalan air dengan ukuran dua kali lipat gumpalan lain terbentuk di telapak tangan Alex, lalu dengan satu ayunan tangan, gumpalan air itu melesat menghantam tubuh Desmond tanpa ampun, membuatnya terpental beberapa meter dan rantai hitam Desmond pun hilang bersamaan dengan kesadarannya.
"WOOOOOHHHHH!"
__ADS_1
Sorakan heboh menyambut kemenangan Alex atas Desmond, pertarungan berlangsung lebih lama dibanding dua pertarungan sebelumnya, membuat semua penonton lebih gugup, dan semua meledak begitu sang pemenang telah ditentukan.
"PEMENANGNYA! ALEX!"