Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 34: Murka


__ADS_3

"Sialan ... Dia benar-benar mati." Theodore terlihat sangat geram. Jelas saja, karena seseorang yang dianggap salah satu rivalnya itu mati di tangan boneka-boneka sepele yang dia sapu habis dengan mudah beberapa waktu lalu.


Theodore mengedarkan pandangan ke sekeliling, matanya terlihat mencari-cari seseorang. Lalu tatapannya tertuju pada seseorang yang berdiri agak jauh dari kerumunan.


Dalam sekejap, dia sudah berada di hadapan sosok yang dia cari, saking cepatnya, beberapa orang sampai jatuh terduduk karena gelombang udara yang menghantam mereka.


Theodore mencekik orang di hadapannya dan membantingnya dengan keras ke tanah. Orang itu sampai batuk darah karena bantingannya.


"Balchanes ... Keberatan menjelaskan apa yang terjadi di sini?" Dengan suara berat penuh ancaman, dia berbisik ke Alvaro.Tapi karena auranya terlalu kuat, orang-orang jadi bisa mendengar suaranya.


Tidak ada seorangpun yang berani menjauhkan Theodore dari Alvaro, selain karena statusnya, mereka juga tidak ingin ambil resiko pingsan sebelum tahu apa yang membuat mereka pingsan.


"Urkh ... Khakkhh ...." Alvaro meronta-ronta, dia terus berusaha melepas cengkraman kuat Theodore meski kesadarannya semakin kabur akibat bantingan keras Theodore ditambah karena kesulitan bernafas.


"Kholong ... Dekharkan akhu dulu ...." Pinta Alvaro yang wajah dan matanya mulai memerah karena cekikan Theodore, perlawanannya semakin lemah. Tepat sebelum dia kehilangan kesadaran sepenuhnya, Theodore melepas cekikannya dan memukuli wajah Alvaro beberapa kali.


Setelah dia selesai memukuli Alvaro, dia menoleh ke arah Raymond, lalu melempar tubuh Alvaro ke arahnya. Raymond buru-buru menyembuhkan Alvaro, banyak tulang wajahnya yang retak, kulit wajahnya pun banyak yang robek dan mengeluarkan darah segar.


"Ini bukan salah Alvaro, dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghentikan iblis-iblis itu, tapi kemampuannya punya batasan." Raymond berusaha menjelaskan kepada Theodore yang masih menatap Alvaro yang tergeletak dengan tatapan tajam.


Selesai menyembuhkan Alvaro, Theodore langsung muncul di hadapan Raymond dan menendangnya dengan keras hingga tubuhnya terlempar jauh. Belum sampai tubuh Raymond menyentuh tanah, Theodore muncul di sebelah Raymond dan menghantam tubuhnya dengan keras ke tanah.


Orang-orang memalingkan muka dan menutup mata karena tidak ingin melihat semua itu.


Raymond pingsan saat itu juga, tubuhnya tidak lagi bergerak, dia memuntahkan darah dalam jumlah banyak. Tapi kekuatannya secara otomatis memulihkan semua luka yang dialaminya, membuat Raymond segera siuman.


"Lalu kenapa? Bukannya tugasmu adalah memulihkan dia dari efek samping kekuatannya?" Theodore menginjak dada Raymond, membuatnya mengerang keras, tapi Theodore saat ini berkali-kali lebih kuat secara fisik, Raymond tidak berkutik di hadapan Theodore.


"Kupikir ada ribut apa, ternyata ada tamu kehormatan yang datang." Suara yang asing terdengar di telinga Theodore, dia segera menoleh ke sumber suara. Di sana, berdiri seorang berwajah timur tengah dengan rambut hitam legam.


"Kukira siapa, ternyata Matausyalah. Kita tidak pernah mengobrol sebelumnya, jadi maaf saja kalau aku tidak mengenalimu."


"Bukan masalah. Selain itu, bisa kau turunkan kakimu? Raymond terlihat kesakitan." Haznav mengeluarkan aura dari tubuhnya.


"Ah, ini? Kurasa akan sulit, aku sedang sedikit mengajari bedebah-bedebah ini." Theodore juga membalas dengan memancarkan auranya.


"Mungkin Anda lupa, tapi ini bukan Vasilius, Putra Mahkota." Haznav berkata mengancam, Aura kuat meledak keluar dari tubuhnya.

__ADS_1


"Ku sarankan kau tidak bertindak gegabah, Matausyalah" Pangeran juga melepas Aura yang sama kuatnya.


Aura mereka saling bertabrakan, menciptakan gelombang Aura kuat yang membuat orang-orang di sekitar mereka merasa tertekan dan tercekik. Yang bersitegang adalah dua putra dari orang berpengaruh di negara masing-masing, membuat suasana menegangkan semakin menjadi-jadi.


Theodore akhirnya menurunkan kakinya dari dada Raymond, segera Aura yang tadi saling bertabrakan menghilang, orang-orang kembali bernafas dengan lega.


"Kenapa kalian membiarkan si nomor satu mati?" Tanya Theodore setelah suasana jadi lebih kondusif, suaranya terdengar jauh lebih tenang.


"Tidak ada yang menyangka hal ini, Putra Mahkota, tidak ada pula yang menginginkan hal ini. Semua terjadi begitu saja."


Haznav pun menceritakan kronologi kejadian yang menimpa mereka sedetail mungkin kepada Theodore, termasuk pada saat dimana Adrian tiba-tiba menghilang tanpa mereka sadari.


"Yah, dia itu memang bisa memanipulasi indra seseorang sampai batas tertentu sih," ungkap Theodore sambil menatap jasad Adrian yang terbaring kaku di dalam sebuah tenda.


Semua orang yang mendengarnya nampak keheranan dengan perkataan Theodore. "Apa maksudmu?" Tanya Haznav.


"Sebagai orang yang pernah kalah melawannya, aku bisa merasakan hal itu," lanjutnya. "Lupakan saja, tapi apa kalian mau bilang kalau si nomor satu kalah dari rongsokan yang bisa aku atasi kurang dari satu menit itu? Kalian berpikir aku akan mempercayai omong kosong itu?"


Aura Theodore meledak tak terkendali di akhir kalimatnya, membuat suaranya terdengar berat dan mengancam. Haznav bahkan secara refleks menggenggam gagang pedangnya karena kuatnya aura itu membuat naluri mempertahankan dirinya aktif tanpa sadar.


"Apa-apaan itu?! Dia masih belum mengerahkan semua Auranya tadi?" Pekik Haznav dalam hati.


"Memang begitulah kenyataannya." Haznav berkata singkat setelah Theodore kembali tenang, dia menurunkan tangan dari gagang pedangnya.


"Lalu kalian tidak berusaha menolongnya?"


"Kalau kamu menolongnya, mungkin kau akan melihat lima mayat secara total di tempat ini, itupun kalau mayat-mayat itu berhasil dibawa kemari." Haznav merujuk pada dirinya, Adrian, William, Damian, dan Reyna. Karena pada saat mereka sadar Adrian tidak berada di titik kumpul, Alvaro dan Raymond sedang tidak sadarkan diri.


Theodore menghela nafas berat, sekilas tergambar ekspresi sedih dan kecewa di wajahnya, tapi dengan cepat, dia mengontrol emosinya dan wajahnya berubah menjadi datar lagi.


Yang dikatakan Haznav memang sangat rasional, sebagai seorang Putra Mahkota, dia bisa memahami dengan baik keputusan dari pemikiran Haznav.


Theodore berdecak kesal, "Orang-orang selatan benar-benar tidak berguna." Semua orang merasa tertampar dengan ucapan Theodore, mereka gagal melindungi pos pertahanan dan juga nyawa rekan-rekan mereka.


"Tapi ini membuatku kepikiran, padahal di selatan mereka diserang oleh mayat hidup. Kenapa kalian justru diserang oleh boneka besi?" Perkataan Theodore membuat semua orang kebingungan. Selain karena dia tiba-tiba merubah topik pembicaraan, perkataannya masih belum bisa dimengerti oleh mereka.


"Mayat hidup? Apa-apaan itu?" Haznav tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Orang-orang di tenggara belum lama ini diserang oleh kawanan mayat hidup. Bagaimana aku menjelaskannya ya ... Mereka itu bangkai yang berlarian membunuh orang." Penjelasan Theodore masih belum bisa dicerna oleh orang-orang disana.


"Pokoknya, iblis yang menyerang kalian dan iblis yang muncul di tenggara berbeda." Theodore tidak ingin melanjutkan penjelasannya, karena dia sendiri juga mulai sakit kepala memikirkan semua ini.


"Lalu ... Apa yang terjadi di tenggara?" Haznav bertanya.


"Memang korban jiwa tidak terhindarkan, tapi mereka berhasil menghalau kawanan mayat hidup itu sebelum menerobos kota, itu semua berkat Collin yang menggunakan seluruh kekuatannya untuk menghanguskan mereka. Meski wilayahnya ikutan hangus setelah itu." Jawab Theodore.


Orang-orang yang mendengar hal itu langsung membayangkan aksi keren Alex, karena dari semua pengemban kekuatan cahaya, kekuatan Alex adalah yang paling keren secara visual menurut mereka.


"Tapi Alex dan yang lain seharusnya baik-baik saja kan?" Haznav bertanya.


"Tidak, mereka kehilangan McGray dalam perjalanan menuju Pyotr saat melintasi pegunungan."


Damian tersentak, "McGray? Brian ...? Brian McGray?" Wajahnya terlihat sangat terpukul, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Brian adalah rekan sekamar dan sekelas Damian saat di Akademi.


"Memang ada McGray lain di Kelas Emas selain dia?" Jawab Theodore. Dia dulu juga rekan sekelas mereka.


"Bagaimana itu bisa terjadi?" Damian bertanya lagi.


"Mereka disergap di kereta saat dalam perjalanan ... Ah, benar juga. Yang menyerang mereka itu laba-laba raksasa berwarna perak dengan mata hijau menyala." Theodore menyebutkan deskripsi makhluk yang menewaskan Brian.


Haznav langsung tersentak mendengar perkataan Theodore, "Makhluk itu sama seperti boneka yang menyerang kami." Theodore mengangguk membenarkan.


"Tunggu ... Itu artinya, kita akan menghadapi iblis dengan berbagai wujud selain wujud manusia?" William bertanya dengan suara yang terdengar cemas, boneka manusia saja bisa membuat mereka semua sekarat, apalagi kalau berwujud lain.


Theodore mengangguk sekali lagi, "Kalau kalian tahu, saat pertama kali kami melihat wujud iblis di Vasilius, dia terlihat seperti kabut hitam pekat yang memancarkan Aura kelam yang menakutkan."


"Kau benar," Haznav menyahut, wajahnya terlihat keras, "Ayahku ... Dia mati di tangan iblis berwujud manusia bangsawan, iblis itu atau yang sejenisnya juga tidak muncul."


Semua orang tahu kisah itu, tentang David Matausyalah yang tewas di tangan sesosok iblis tanpa bisa melakukan apapun. Sosok iblis yang bahkan kehadirannya saja bisa membuat orang sekaliber Duke Averrouse dan Grand Magister Aleorin Conizoite mengalami trauma.


"Jadi karena itu, ada kemungkinan mereka masih memiliki bala tentara lain, lebih kuat dari yang sudah kalian hadapi bahkan." Theodore mengambil kesimpulan, sebenarnya dia berkata begitu karena ingin merubah suasana yang tiba-tiba kelam karena Haznav.


"Kita semua tahu ini tidak akan pernah mudah." Ucapnya lagi.


...****************...

__ADS_1



Ilustrasi karakter Theodore Edgard Khalinos


__ADS_2