
Siang ini Theodore tiba di pos pertahanan barat dengan membawa kabar yang sangat mengejutkan.
"Anda yakin?! Kita akan ditarik dari garis depan dan kembali ke Akademi?!" Julie yang terlalu semangat sampai tidak sadar mencengkeram bahu Theodore.
Theodore berdehem, Julie tersentak dan segera melepas tangannya. "Lebih tepatnya 'kalian', karena aku akan tetap menjalankan tugasku. Kalian akan segera dijemput menggunakan kereta, Alex, aku serahkan tanggung jawab atas semua orang-orang Akademi selama perjalanan kepadamu."
Alex mengangguk. "Dimengerti."
"Bagus, karena tujuanku sudah tersampaikan, aku akan lanjut bertugas." Dalam sekejap, Theodore sudah menghilang dari pandangan.
Julie terlihat sangat gembira, dia segera berlari menuju barak wanita meninggalkan Alex dan yang lain.
Dustin meninju pundak Alex. "Jadi kau akan kembali? Sayang sekali, padahal aku mau mengajakmu main bersama Magdalena." Magdalena adalah pekerja rumah bordil langganan Dustin.
Alex tertawa. "Aku tidak tertarik memakai barang bekasmu."
__ADS_1
Gilbert dan Wilman tertawa mendengar balasan Alex. "Aku akan menunggumu di neraka ini, kau bersenang-senanglah lagi di sana."
"Itupun kalau kau bisa tetap hidup, lagipula kau pikir kami di Akademi hanya bersenang-senang? Kau belum tahu saja seperti apa latihan yang akan menunggu kami di sana." Alex meringis membayangkan latihan apa yang akan dia jalani sepulang dari medan perang.
Mereka terdiam beberapa saat, suasananya jadi sedikit canggung. "Uh ... Kau tahu, aku ... Tidak, kami berhutang nyawa padamu." Gilbert menepuk bahu Alex.
Alex tersenyum kecil. "Aku akan menagihnya suatu saat nanti."
"Pastikan untuk melakukannya." Ujar Dustin.
...****************...
Alex berdiri termangu, di hadapannya saat ini adalah sebuah pemandangan yang terasa begitu asing baginya meski dahulu dia berkali-kali melihatnya. Perasaan melankolis mendadak muncul di hatinya.
Dia sedang berdiri di depan gerbang masuk Akademi, sebuah papan besar bertuliskan 'Akademi Aliansi Benua Barat' terpampang di hadapannya.
__ADS_1
Saat pertama kali dia datang ke tempat ini, seseorang datang dan mengagetkannya dari belakang, mulai dari hal kecil itu, mereka akhirnya berteman baik. Tanpa dia sadari, air mata menumpuk di kelopak matanya ketika menyadari bahwa hal itu tidak akan terulang kali ini.
"Alex Collin?" Sebuah suara menyapanya, dia menoleh ke samping, tempat suara itu berasal.
Orang itu adalah Instruktur Derrantes, ayah dari Brenda, Alex segera menghampiri orang itu dan menyalaminya. Instruktur terlihat mengamati wajahnya selama beberapa saat, kemudian dia tersenyum dan menepuk bahunya beberapa kali.
"Kau sudah melewati banyak hal bukan?"
Alex terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum tipis dan mengangguk pelan, Instruktur Derrantes mengguncang bahu Alex. "Anford dan orang-orang tenggara sudah tiba beberapa waktu lalu."
"Mereka baik-baik saja, tapi kelihatannya Raymond tampak sedikit tidak senang dengan perkembangan di selatan." Lanjut Instruktur Derrantes, dia tertawa kecil melihat ekspresi bingung Alex. "Nanti kau akan tahu saat melihatnya."
Mereka berpisah di koridor utama, Instruktur Derrantes sepertinya menuju kantor atau area latihan. Alex kemudian berjalan menuju gedung asrama saat tiba-tiba Instruktur Derrantes kembali memanggilnya dari kejauhan.
"Kau tahu, kejadian di selatan. Jangan terlalu menyalahkan rekanmu, terutama Alvaro."
__ADS_1