Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 3: Legenda


__ADS_3

Malam itu juga, Raja memanggil beberapa bangsawan yang menjadi saksi atas insiden di aula pesta, bangsawan tinggi di prioritaskan dalam pertemuan ini.


Diantara beberapa bangsawan yang hadir, ada Grand Duke Chevallaire yang didampingi oleh Duke Chevallaire.


Count Griffin juga ikut serta dalam pertemuan, karena dia adalah orang pertama yang menyadari keanehan perilaku Count Bellezza. Dia didampingi oleh Tuan Muda Griffin.


Raja pun juga sudah duduk di singgasananya di ruang pertemuan, di sisi kanannya ada komandan kesatria keluarga kerajaan, sementara di sisi kirinya ada sang Putra Mahkota.


"Langsung saja kita mulai". Raja memulai pertemuan. "Count Griffin. Berdasarkan kesaksianmu, kau bertemu dengan Count Bellezza sebelum masuk ke aula dan menyadari ada yang aneh dengannya. Benar begitu?"


Count Griffin mengangguk. "Benar sekali yang mulia". Para peserta pertemuan menatap Raja, namun mereka larut dalam pikiran mereka sendiri, ingatan tentang kejadian tadi masih melekat di benak mereka.


"Lalu menurut laporan yang aku dengar dari komandan kesatria, perilaku aneh Count disebabkan karena dia dirasuki oleh makhluk misterius yang menyampaikan pesan melalui Count Bellezza sebagai medianya. Grand Duke?" Raja memberi isyarat pada Grand Duke untuk berbicara.


Grand Duke mengangguk. "Yang mulia, berdasarkan apa yang saya lihat dan dengar, memang benar Count Bellezza dirasuki oleh sesuatu yang kemudian menyampaikan sebuah pesan. Adapun isi pesan tersebut ...."


Grand Duke mengulang secara rinci kalimat demi kalimat yang dibawa oleh makhluk pembawa pesan yang merasuki Count Bellezza, terlihat wajah Raja mulai mengeras, Raja pun secara tidak sengaja melepaskan aura tempurnya, membuat seisi ruangan terasa sesak.


"Mohon maaf yang mulia". Komandan kesatria menunduk dengan maksud menegur Raja yang tidak sadar membiarkan dirinya dikuasai emosi.


Dengan cepat, suasana di ruang pertemuan kembali normal, terlihat beberapa bangsawan yang berusaha mengambil nafas, mereka terlihat berkeringat. Hanya orang-orang tertentu seperti komandan kesatria dan Grand Duke yang mampu bertahan.


"Maafkan aku, sepertinya aku membiarkan emosiku tak terkendali". Ucap sang Raja.


"Kami pun merasakan hal yang sama sebagaimana baginda". Sahut seorang bangsawan, dia adalah Duke Aveirrose, termasuk diantara orang yang sanggup menahan aura tempur Raja.


Kemudian pintu diketuk oleh kesatria yang menjaga pintu luar ruang pertemuan. "Tuan Muda Bellezza dan Marquis Leinard meminta izin untuk hadir di hadapan Baginda".


Raja pun memberi isyarat kepada kesatria yang berjaga di pintu dalam untuk membuka pintu.


Marquis Leinard dan Tuan Muda Bellezza memberi salam kepada Raja, lalu mereka duduk di kursi yang telah disediakan.


"Tuan Muda Bellezza, kau adalah orang yang mendampingi ayahmu, Count Bellezza saat dalam perjalanan menuju ibukota, bukan begitu?"


"Anda benar Yang Mulia". Tuan Muda Bellezza menunduk, "Kapan kau menyadari perubahan perilaku ayahmu?" Sang Raja kembali bertanya.


"Jika ingatan saya tidak keliru, maka hal itu terjadi sesaat setelah kami singgah di salah satu restoran di ibukota untuk makan malam sehari sebelum pesta dimulai". Jelasnya.

__ADS_1


Raja menghela nafas dengan berat, semua orang yang hadir memiliki reaksi masing-masing atas kesaksian yang diberikan oleh Tuan Muda Bellezza.


Berdasarkan kesaksiannya, bisa disimpulkan bahwa orang yang menyebabkan Count kerasukan sudah berada di ibukota, yang merupakan jantung kerajaan.


"Tidak kusangka mereka sudah sejauh ini." Grand Duke memberikan tanggapannya.


"Melihat sejauh apa mereka menyusup kedalam kerajaan kita, tidak berlebihan jika beranggapan bahwa kita terlambat bereaksi." Tutur Duke Aveirrose.


"Karena aku- saya sudah merasakan kekuatan dari penyusup itu, aku- saya bisa menyimpulkan kalau kekuatan mereka tidak main-main". Marquis Leinard yang dibuat terpental oleh penyusup turut angkat bicara, "meskipun ak- saya dalam keadaan lengah atau mabuk, saya masih percaya diri kalau saya bisa menahan beberapa serangan dari Grand Duke Chevallaire".


Semua orang tau kekuatan tempur dari Marquis Leinard yang tidak boleh diremehkan, bahkan Grand Duke yang dikatakan sebagai orang terkuat di kerajaan saja sampai dibuat kerepotan saat menghadapi Marquis.


Perkataan Marquis membuat benak mereka semakin suram, membayangkan bagaimana jadinya nanti kalau seandainya benar-benar terjadi pertempuran antara kerajaan dan musuh yang tidak dikenali ini.


"Apakah negoisasi sama sekali tidak memungkinkan?" Putra Mahkota angkat bicara.


Duke Aveirrose menggeleng. "Melihat provokasi frontal mereka, sepertinya mereka sama sekali tidak menghendaki negosiasi, Yang Mulia".


"Duke Aveirrose benar, jika mereka memang berhasil menyusup sejauh ini, jelas mereka lebih diuntungkan karena informasi yang mereka miliki tentang kita pasti lebih dari cukup, sementara kita sama sekali tidak mengenal lawan kita. Dengan posisi mereka yang lebih diuntungkan, negoisasi pun tidak akan bisa menghindari kerugian besar di pihak kita".


"Masalah ini benar-benar diluar segala dugaan, bukan begitu? Mungkin saja mereka sudah menyusup diantara barisan prajurit, penyihir atau bahkan kesatria kerajaan". Ucapan sang Raja semakin membuat para bangsawan cemas, tapi kemungkinan hal itu terjadi cukup besar. Seringkali kenyataan memang lebih buruk dari perkiraan.


Air muka para bangsawan di dalam ruang pertemuan itu terlihat semakin keruh. Peristiwa aneh yang mendadak terjadi di tengah-tengah pesta, deklarasi perang dari entitas yang tidak mereka kenali, membuat semua dahi mengkerut dan gigi gemeretuk.


Kerajaan yang telah lama berdiri ini sekarang berada di ambang keruntuhan, dan penanda awal mula keruntuhan itu terjadi tepat disaat mereka sedang merayakan lahirnya generasi baru yang diyakini sebagai pembawa kejayaan di masa depan.


"Iblis ... Mereka adalah Iblis, aku yakin itu". Count Griffin bergumam, tanpa dia sadari, gumaman itu terdengar oleh semua orang yang ada di ruang pertemuan.


Raja bersandar di singgasana dan menengadahkan kepalanya, matanya menerawang langit-langit ruangan. "Iblis ... Makhluk itu memang pernah muncul di masa kepemimpinan penguasa agung Kekaisaran Chyrosian di dataran utara, Kaisar Maximillian August yang dijuluki Cahaya Penyelamat dari Utara". Raja berhenti sejenak, dia memejamkan mata seolah menghayati cerita tersebut.


Hari itu, dari sebuah kota, terlihat sebuah retakan muncul di langit di ujung cakrawala. Dari retakan itu, sebuah sosok terlihat terjun dengan cepat dan menghantam tanah di bawahnya. Seketika itu, langit yang retak pulih seperti sedia kala.


Orang-orang yang melihat kejadian itu terpaku, mereka kebingungan setelah menyaksikan sesuatu yang tidak dapat mereka cerna sedikitpun.


Belum selesai mereka saling bertanya-tanya tentang apa yang terjadi, sebuah ledakan besar muncul di lokasi jatuhnya sosok dari langit, menghempaskan dinding kota, bangunan-bangunan luluh lantak, tenda pedagang tersapu angin, orang-orang berterbangan bersama dengan puing-puing bangunan.


Kepanikan segera menyelimuti seisi kota, mereka bergegas menyelamatkan apa yang bisa mereka selamatkan, tidak sedikit jumlah korban yang berjatuhan karena hempasan angin dari ledakan itu.

__ADS_1


Belum selesai mereka kebingungan mencari keluarganya diantara korban yang berjatuhan, belum selesai para ibu menangisi kematian anaknya, belum selesai para saudagar meratapi gedungnya. Langit mendadak menjadi gelap, aura mencekam yang mencekik menyelimuti kota tersebut.


Saat mereka mengangkat pandangan ke langit, tubuh mereka seketika mematung.


Di langit gelap itu, terlihat sesosok entitas yang diselimuti aura gelap, semua orang merasa seperti tercekik, tertusuk, tercabik hanya karena tatapan bengis entitas itu. Satu persatu dari mereka mulai meregang nyawa, tidak ada satupun manusia di hadapan entitas itu bisa mempertahankan kehidupannya, hingga akhirnya seluruh manusia kota itu musnah sebelum matahari terbenam.


Kaisar Maximilian August, penguasa kekaisaran Chyrosian di dataran utara, segera mengerahkan seluruh kekuatan yang dia miliki dan berangkat untuk menghadapi entitas yang telah membantai puluhan juta jiwa hanya dalam kurun waktu tujuh hari.


Namun kekuatan makhluk itu terlalu jauh melampaui segala akal sehat paling gila yang dimiliki manusia, ratusan ribu kesatria terkuat kekaisaran mati, hanya karena berdiri di hadapan entitas tersebut. Keputusasaan menghancurkan jiwa Kaisar Maximillian, dia menjadi gila dan hilang kesadaran saat itu juga, rambut hitam legam yang melambangkan kegagahannya perlahan memutih karena tekanan yang tidak mampu dibayangkan oleh satupun jiwa yang hidup. Kekalahan umat manusia sudah bisa dipastikan pada hari itu.


Atau begitulah yang seharusnya terjadi.


Kaisar Maximillian yang sedang kehilangan kesadaran bertemu dengan sesosok cahaya di alam bawah sadarnya, dia menerima kekuatan besar dari sosok itu. Setelah bangkit dan kembali mendapatkan kesadarannya, Kaisar Maximillian bertarung habis-habisan melawan entitas itu.


Pertarungan hebat antara Kaisar Maximillian dan entitas kegelapan itu berlangsung selama satu tahun penuh, hari-hari di tahun ini menjadi hari paling berat yang pernah dijalani oleh manusia, mereka merasakan harapan dan keputusasaan silih berganti mengisi diri mereka, bahkan sinar matahari pun seolah tidak mampu lagi menerangi pengelihatan mereka yang digelapkan oleh bayang-bayang kehancuran.


Hingga pada akhirnya, Kaisar Maximillian berhasil memenangkan pertarungan, namun bayarannya sangat mahal. Tidak berselang lama sejak pertarungan mahadahsyat itu berakhir, Kaisar tutup usia dikarenakan dampak dari kekuatan cahaya yang dia emban di tubuhnya.


Pemakaman dari pahlawan umat manusia, Kaisar Agung Maximillian August, Sang Cahaya Penyelamat dari Utara, dilaksanakan secara megah. Penguasa dari seluruh kerajaan dan kekaisaran berbondong-bondong menghadiri pemakamannya, sebuah istana dibangun sebagai tempat jasad pahlawan itu bersemayam, tidak ada satu hasta pun tanah kekaisaran yang kosong, setiap celahnya diisi oleh orang-orang yang berkabung atas perginya sang pahlawan.


Dengan ini umat manusia kembali hidup dalam damai. Begitulah, kisah kepahlawanan Kaisar Agung Maximillian August Sang Cahaya Penyelamat dari Utara yang bertarung melawan Iblis, diturunkan dari generasi ke generasi.


Semua mata menatap Raja yang mulai mengisahkan legenda tentang penguasa yang di elu-elu kan dalam sejarah, sampai ada legenda yang mengatakan bahwa Raja Maximillian berhadapan dengan sesosok iblis.


Namun Raja menyebutkan bagian-bagian dari cerita yang tidak pernah mereka dengar.


"Mungkin kalian berfikir mengapa aku menyertakan bagian cerita yang terdengar asing bagi kalian". Para bangsawan mengangguk.


"Aku menceritakan bagian yang hanya diketahui oleh beberapa Raja secara turun-temurun, bahkan masih terdapat bagian lain dari kisah ini yang tersimpan jauh didalam Arsip Kerajaan". Wajah para bangsawan nampak tertegun, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar dari sang Raja.


"Ya. Kisah kepahlawanan Kaisar Agung Maximilian August, Sang Cahaya Penyelamat dari Utara. Kisah itu bukan sekedar legenda".


Raja berdiri dari singgasananya, diikuti oleh para bangsawan yang masih terlihat tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


"Kerahkan seluruh Duta Besar, kita akan membangun aliansi dengan sebanyak mungkin negara yang ada". Raja mengeluarkan keputusan finalnya, para bangsawan memberi hormat dan keluar dari ruangan. Menyisakan Raja dan Putra Mahkota


"Persiapkan dirimu Putra Mahkota, Mungkin ini adalah akhir dari dinasti Khalinos. Tidak, bahkan ini adalah akhir dari kerajaan ini".

__ADS_1


__ADS_2