Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 19: Naga


__ADS_3

Alex terbangun di klinik Akademi, dalam kondisi setengah sadar, dia bisa samar-samar mendengar percakapan antara dua orang, tapi dia tidak bisa dengan jelas mendengarnya.


Sejenak kemudian, suara itu menghilang, lalu Alex seperti mendengar namanya dipanggil.


Telinganya masih terasa berdengung, jadi dia tidak bisa memastikan apakah orang itu benar-benar memanggil namanya dan siapa orang yang memanggilnya karena pengelihatannya masih terasa buram dan berkunang-kunang.


Lalu dia merasa kepalanya disentuh seseorang, bersamaan dengan itu, aliran energi yang terasa hangat dan nyaman terasa mengalir di kepalanya.


"Oi, Alex. Kau sudah sadar?" Pendengarannya seketika menjadi jelas, suara itu adalah suara yang dia kenali. "Adrian?" Adrian tersenyum lega saat Alex menyebut namanya, Alex menoleh ke sisi ranjang pasien yang lain. Disana dia melihat seorang laki-laki dengan rambut coklat bermata jingga, di sampingnya berdiri seorang gadis dengan karakteristik serupa.


--Mereka adalah Raymond Arnaveu Brigantine dan Alicia Arnaveu Brigantine. Raymond ini orang yang waktu itu menyembuhkan luka Brenda, barusan juga menyembuhkan lukamu sih.-- Suara Adrian muncul di kepala Alex, seperti saat upacara pembukaan Akademi.


"Namaku Raymond, dia adikku, Alicia." Raymond memperkenalkan dirinya secara singkat, "Ah, terimakasih karena sudah mau repot-repot." Alex duduk dan menjabat tangan Raymond.


Raymond menggeleng, "Aku memang sering keliling klinik, karena aku tidak terlalu bisa bertarung, jadi setidaknya itulah yang bisa kulakukan," ungkapnya, "Tapi sebagai ganti menyembuhkan cederamu, adikku ingin berduel denganmu suatu saat nanti." Alex menoleh ke arah Alicia, dia tersenyum ke arah Alex, sebuah lencana emas tersemat di seragamnya, yang artinya adik Raymond ini juga pemilik kekuatan cahaya.


Sudah kesekian kali dia menerima tantangan duel, pertama Ferdinand, lalu kakaknya yaitu Alfonso, sekarang ada lagi Alicia Brigantine. Entah kenapa firasatnya mengatakan kalau Alicia ini sama berbahayanya dengan Ferdinand dan Alfonso, meskipun dia belum berduel dengan Ferdinand sih.


Yah, tapi dia sudah tidak punya pilihan lain kan? Si Raymond itu sudah terlanjur menyembuhkannya juga. "Baiklah, tapi kau sudah siap menyembuhkanku ditempat kalau seandainya aku terluka gara-gara adikmu kan?" Raymond tertawa dan mengangguk setuju, "Tenang saja, aku juga masih belum sekuat itu kok." Ujar Alicia sambil tersenyum, tapi entah kenapa Alex malah bergidik melihat senyuman itu.


Setelah itu, Raymond berdiri dari kursinya, disusul Alicia. "Kalau begitu, kami berdua akan kembali ke kelas, selamat tinggal." Kakak beradik itu kemudian berjalan keluar dari bilik rawat Alex, menyisakan Adrian yang masih berada di sana.


"Jam istirahat sudah mau selesai, kau mau langsung ikut kelas atau istirahat dulu?" tanya Adrian pada Alex, Alex menggeleng, "Aku sudah baik-baik saja, kekuatan penyembuh Raymond sangat mengagumkan." Alex turun dari ranjangnya dan meregangkan badan, "Tidak kusangka aku akan kalah melawan penyihir murni dalam pertarungan senjata," ucap Alex sambil menatap telapak tangannya yang sedikit lecet karena terus menerus mengayunkan senjata, sepertinya Raymond luput menyembuhkan bagian ini.

__ADS_1


"Meski dia seorang penyihir, tapi dia masih tetap seorang anggota keluarga Chevallaire yang terkenal karena kekuatan tempur mereka, dia tidak boleh diremehkan sama sekali. Lagipula kau juga baru pertama kali bertarung menggunakan senjata kan." Tutur Adrian, perkataannya membuat Alex sadar kalau dia terlalu meremehkan Alfonso, terlebih saat dia melihat Alfonso mulai goyah di saat-saat terakhir. Siapa sangka Alfonso bisa menemukan celah di saat-saat genting seperti itu?


Setelah berpikir beberapa saat, Alex kembali duduk di ranjang, urung kembali ke kelas, "Aku disini saja deh," ujar Alex, "Nggak jadi ke kelas? Oke deh." Adrian mengacungkan jempolnya tanpa banyak tanya meskipun dia juga sebenarnya penasaran.


Setelah Adrian pergi dari bilik klinik, Alex merebahkan tubuhnya di kasur. Sejenak kemudian pola nafasnya langsung berubah, dia tertidur begitu saja.


...****************...


"Selamat datang, tuanku." Seekor serigala besar berwarna kebiruan menyambut Alex, saat ini dia tidak lagi berada di klinik atau di manapun itu di kompleks Akademi.


"Ini sudah menjadi kunjungan ke tiga bukan?" Sesosok burung besar dengan tubuh diselimuti api berwarna ungu menimpali, Alex mengangguk mengiyakan.


Peri-peri berwujud manusia kecil dengan sayap kupu-kupu berterbangan di sekitar Alex sambil tertawa riang, kira-kira begitulah mereka menyambut kedatangan tuan mereka.


"Aku ingin mempelajari aura, atau apapun yang serupa dengan itu." Jawaban Alex membuat para peri yang ada di situ saling tatap, "Tapi bukankah tuan sudah memiliki kami? Yang kapanpun siap meminjamkan kekuatan saat tuan membutuhkannya." Serigala besar menanggapi perkataan Alex.


Alex tersenyum dan menggeleng, "Bukan karena aku merasa kekuatan kalian kurang, tapi aku hanya tidak ingin terlalu bergantung pada kalian."


Serigala besar dan burung api itu tersentak, "Tuan! Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar untuk kami dibanding ketika kami bisa berguna untuk Anda!" Burung api berseru sambil tertunduk, seolah dia tidak setuju dengan pernyataan Alex yang menganggap dia merepotkan mereka.


"Saya setuju dengan perkataan Phoenix, tuan. Kebahagiaan terbesar kami adalah ketika kami bisa berguna untuk Anda, silakan manfaatkan kami sebanyak yang Anda mau." Perkataan dua peri itu membuat Alex merasa tidak nyaman, dia benar-benar masih belum terbiasa dengan sikap penghormatan mereka yang dianggap agak berlebihan.


"Kalau tuan mau menggunakan kekuatan yang serupa dengan aura, mungkin tuan bisa meminta bantuan Bane." Tutur sesosok peri berwujud kuda bersayap dengan tubuh berselimutkan cahaya berwarna putih yang mempesona.

__ADS_1


"Bane?" Alex baru pertama kali mendengar nama itu, dunia bawah sadar dimana para peri tinggal di dalam dirinya memang amat luas, bahkan Alex merasa mustahil untuk mengenal nama mereka satu persatu.


"Brilian! Pegasus benar, mungkin Bane bisa menjadi solusi atas permasalahan tuan." Sosok burung api yang bernama Phoenix menyetujui usulan Pegasus.


Alex pun nampak tertarik dengan usulan Pegasus, "Dimana aku bisa menemui Bane ini?"


"Anda tidak perlu repot-repot menemuinya, dia memang pemalas, tapi saya yakin dia akan datang jika tuan memanggilnya," tutur si serigala besar. Alex mengangguk, dia memejamkan matanya dan berusaha fokus.


Beberapa saat kemudian, dari barisan pegunungan dunia alam bawah sadar, sosok besar bersayap melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Alex. Hanya dalam waktu singkat, sosok yang ternyata memiliki ukuran tubuh besar itu sudah hampir tiba di lokasi Alex.


Tanpa mengurangi kecepatan, sosok itu menukik tajam ke bawah, membuat beberapa peri ketakutan dan berteriak panik. lex pun mulai gemetaran, tapi dia berusaha menahan rasa ingin menjerit demi menjaga image para peri terhadapnya.


"Bane! Sebaiknya kau merubah wujudmu sebelum mendarat!" Phonix meneriaki sosok itu. Serigala besar segera memberi isyarat kepada Alex untuk menjauh, sepertinya akan terjadi sesuatu yang berbahaya.


Ukuran tubuh sosok bersayap itu mulai menyusut dengan cepat, beberapa detik kemudian, dia mendarat ke tanah hingga menimbulkan suara ledakan dan hembusan angin yang sangat kuat.


"Tidak bisakah kau mendarat dengan cara yang lebih normal?" Ketus salah satu peri berwujud wanita dengan tubuh diselimuti cahaya kehijauan.


"Ini cukup normal loh." Sahut sebuah suara dengan enteng, sepertinya dia adalah sosok yang barusan mendarat dengan heboh.


Dari balik kepul debu, sesosok pria berjalan mendekati Alex dan memberinya salam penghormatan.


Sosok yang berdiri di hadapan Alex saat ini adalah sosok pria berusia 30an dengan seragam militer berwarna gelap dilengkapi zirah ringan yang terpasang di beberapa bagian tubuhnya.

__ADS_1


"Sebuah kehormatan Anda memanggilku, aku adalah Bane, peri berwujud naga. Siap menerima perintah Anda."


__ADS_2