Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 25: Sambutan (2)


__ADS_3

Alex dan rombongannya berpapasan dengan rombongan Brian saat dalam perjalanan kembali ke kereta, rombongan Brian terlihat menarik sebuah gerobak berisi banyak bungkusan.


"Wah, kalian juga?" Desmond berkomentar.


"Iya nih, tapi kelihatannya kalian tidak dapat sebanyak kami ya," ujar Tania, salah satu cewe yang tadi ikut rombongan Brian, yang rumornya mereka berdua saling suka meski belum menyatakan cinta masing-masing.


"Yah, tadi Alicia sudah membawakan bungkusan lain untuk kami, meski sudah membawa sebanyak itu, tapi ujung-ujungnya penduduk setempat masih tetap memberi kami."


Setibanya mereka di kereta, rombongan Alex turut membantu Brian dan teman-temannya mengangkut bungkusan-bungkusan dari gerobak ke ruang penyimpanan kereta.


Setelah kereta kembali bergerak, mereka membuka bungkusan satu persatu untuk menyortir isi bungkusan-bungkusan itu, karena dalam satu bungkusan rupanya terdapat banyak jenis barang dan makanan, bisa gawat kalau ada makanan yang tidak tahan lama yang membusuk dan mengenai barang atau makanan lain.


Tania yang orang tuanya merupakan pedagang terlihat paham betul bagaimana menata barang-barang ini, semua orang bergerak sesuai instruksinya. Tanpa dia, mungkin pekerjaan mereka akan sangat berantakan.


Berikutnya adalah uang, mereka membungkus semua uang menjadi beberapa kantong, karena tidak tahu persis berapa yang didapatkan masing-masing orang, jadi mereka akhirnya membaginya sama rata.


Makanan yang tidak tahan lama termasuk sayuran dan buah-buahan langsung mereka serahkan ke dapur kereta, tentu saja itu juga atas saran Tania. Sementara barang-barang seperti pakaian dan aksesoris militer mereka letakkan begitu saja, bagi yang mau ambil silahkan.


Alex mengambil sebuah mantel kulit dan tas pinggang berukuran kecil.


Setelah selesai menata semua isi bungkusan, mereka semua tertawa kecil melihat bungkusan makanan kering yang sudah disortir sedemikian rupa masih saja menggunung.


"Sebenarnya kita ini bantuan personil atau bantuan logistik sih?" Ujar salah satu teman Brian, dia bernama Thomas, salah satu top dua puluh di Kelas Perak.


"Mungkin dua-duanya," balas Anford.


"Para prajurit senior pasti senang kalau kita membawakan mereka oleh-oleh sebanyak ini," lanjut Thomas.


"Wah, bisa jadi bakal langsung disambut dengan pesta," Desmond menimpali.


"Nanti mereka mengajak kita pesta pakai bahan makanan kita sendiri dong," celetuk Tania.


Semua tertawa mendengar celetukan Tania, Anford dan Desmond yang paling keras tertawanya.


Setelah selesai mengobrol dan bercanda panjang lebar, mereka memutuskan untuk beristirahat, kereta kembali hening, semua orang kembali larut dalam pikirannya masing-masing. Wajar saja, karena besok pagi ketika mereka bangun tidur, mereka akan tiba di pos tenggara, pastilah hati mereka dipenuhi rasa tegang dan cemas.

__ADS_1


Hanya Anford dan Desmond yang masih mengobrol sambil memakan keripik kentang pemberian penduduk kota tadi.


Alex bersandar di kursi keretanya, dia menatap keluar jendela kecil, saat ini mereka sedang melintasi area pegunungan. Pemandangan hijau yang sangat indah, Alex jadi teringat kampung halamannya, mungkin dia akan merasa seperti sedang pulang kampung kalau bukan karena seragam militer yang dia kenakan.


Dalam lamunannya dia teringat ibu dan adik-adiknya, bagaimana reaksi mereka ketika mendapat kabar kalau dia diberangkatkan ke garis depan, apakah tetangga dan teman-temannya baik-baik saja, bagaimana kabar Pak Tony.


Alex terus larut dalam pikirannya sampai suara benturan keras disusul guncangan ringan dari gerbong kemudi membuatnya terkesiap, semua orang di gerbong itu saling tatap, mereka juga mendengar suara itu.


Ada sesuatu yang tidak beres terjadi di ruang kemudi kereta ini.


Desmond segera mengambil posisi di depan, dia membentuk sebuah perisai besar untuk mengcover teman-temannya. Alicia berdiri siaga di belakang Desmond sebagai petarung garis depan.


Mereka sedang berada di gerbong penumpang nomor satu, jadi apapun yang menyebabkan suara teriakan di ruang kemudi, kemungkinan besar juga akan muncul di gerbong mereka.


Desmond tidak melepas pandangannya dari pintu yang menghubungkan ruang kemudi dan gerbong mereka, begitu juga dengan Alicia. Sementara yang lain mengawasi jendela di sisi kiri dan kanan.


Di momen menegangkan itu, Alex tiba-tiba mendorong tubuh Brenda dan berteriak. "AWAS!"


Bersaman dengan teriakannya, sebuah benda runcing berwarna perak menembus atap kereta dan menggores lengan kanan Brenda, kemudian benda itu kembali ditarik keatas. Kalau Alex terlambat sedikit saja, benda itu pasti sudah menancap di jantung Brenda.


"Hei! Kau baik-baik saja?!" Desmond menjadi cemas saat dia melihat darah mengucur dengan deras dari lengan Brenda.


"Aku baik-baik sa-"


Suara Brenda terhenti ketika dia mendengar suara daging terkoyak dan seruan tertahan, dia menoleh ke sumber suara itu. Disana, Brian terduduk memegangi lehernya yang bersimbah darah, darah menyembur dari mulutnya setiap kali dia mengerang, kakinya mengejang tidak karuan. Brenda membelalakkan matanya penuh rasa tidak percaya.


Tania seketika shock melihat pemandangan itu, "B-brian ...."


"SIALAN!" Desmond membentuk tombak panjang, kemudian dia hunjamkan ke arah atap kereta, tapi dia tidak berhasil menembus atap itu.


"BRIAN! BRIAAAN!" Tania berseru histeris, dia menghambur ke Brian dan berusaha menghentikan pendarahan di luka Brian dengan tangannya. Tapi sepertinya tombak aneh itu sudah menembus organ vital Brian, dia sudah tidak bisa di selamatkan.


Di sela-sela erangannya, Brian seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada yang bisa mendengarnya karena yang keluar dari mulutnya hanya darah dan suara tercekat, Tania menangis sejadi-jadinya, tidak ada yang bisa dia lakukan selain menyaksikan Brian sekarat.


"Ini bukan tombak! Ini kaki laba-laba!" Anford yang sedari tadi memotong tombak-tombak perak itu dengan kekuatan cahayanya berseru, bentuknya yang aneh karena memiliki ruas dan cairan lengket yang menyembur tiap kali Anford memotongnya membuat dia sadar akan hal itu.

__ADS_1


"Alicia! Apa kau bisa melubangi atap kereta ini?!" Seru Alex yang juga tengah memotong kaki-kaki yang terus menghujam mereka menggunakan pedangnya, "Kita tidak akan bisa mengenainya selama kita terhalang oleh atap ini!"


"Tapi itu terlalu berbahaya kan?!"


"Atap ini tidak berguna! Kalau terus seperti ini bukan cuma atap kereta yang berlubang! Cepat Alicia!"


Alicia akhirnya mencabut salah satu kursi kereta dan melemparkannya ke atas sekuat tenaga, membuat atap kereta itu terkoyak, menampilkan sosok mengerikan berwarna perak dengan delapan kaki yang bertengger di atap kereta mereka, enam pasang matanya memancarkan cahaya hijau yang mengerikan.


'Laba-laba macam apa itu?!' Pekik Alex dalam hati.


Setelah sosok yang menyerang mereka terlihat jelas, Desmond segera membentuk tombak dan melemparkannya ke tubuh makhluk itu.


"KIIEEEEEEKKKK!"


Makhluk itu memekik saat tombak Desmond menancap di tubuhnya. "Bagaimana bisa kakinya beregenerasi secepat itu?!" Keluh Anford yang dari tadi memotong kaki yang menyerang mereka, dia tidak menyangka kalau kaki-kaki yang terus menghujam mereka tanpa henti ternyata berasal dari satu makhluk.


Suara keras akibat lemparan Alicia membuat orang-orang dari gerbong dua datang, mereka terkesiap melihat kekacauan di gerbong satu. "Hei! Bantu aku memotong kaki-kaki sialan ini!" Pekik Anford.


"Desmond, beri aku tombak!" Seru Alicia sembari mengulurkan tangannya, Desmond segera membentuk tombak dan melemparkannya ke Alicia, dengan sigap, dia menyambar tombak itu dan melemparnya dengan sekuat tenaga. Lemparan Alicia telak mengenai tubuh makhluk itu, membuatnya berlubang, percikan api keluar dari lubang bekas lemparan Alicia.


"KIIIIEEEEEEHHHHKKKK!"


Tapi rupanya serangan Alicia masih belum cukup untuk menumbangkan makhluk itu, nyatanya serangan makhluk itu semakin membabi buta, mereka yang berusaha menahan serangan kaki laba-laba itu mulai kewalahan.


Alex mengeluh, dia segera memanggil peri air, terlalu berisiko menggunakan kekuatan peri api disini. "Keras kepala sekali sih." Dia mengibaskan tangannya, sebuah gumpalan air melesat dengan kecepatan tinggi mengenai kepala makhluk itu, membuat tubuhnya terjatuh dan berguling di sisi rel kereta.


Mereka semua masih tidak mengalihkan pandangan dari atap kereta yang terkoyak, bersiap atas kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.


Setelah beberapa saat dan merasa tidak ada tanda-tanda serangan susulan, mereka semua menghela nafas dan langsung terduduk, beberapa orang kembali memeriksa kondisi Brian.


Brian bersandar di tubuh Tania, tatapan matanya kosong, nafasnya putus-putus, tubuhnya membiru karena kehabisan terlalu banyak darah. Tania mendekap tubuh Brian dari belakang, sambil berlinang air mata terus berusaha mendengarkan sesuatu yang ingin dikatakan Brian.


Mereka tak kuasa menahan tangis, melihat seorang rekan meregang nyawa sementara mereka tidak sanggup melakukan apapun untuk menyelamatkannya.


Tidak lama kemudian, Brian berhenti mengerang, nafasnya tidak lagi dirasakan oleh Tania, mata yang menatap kosong itu sudah kehilangan cahayanya.

__ADS_1


Tangis Tania seketika meledak, dia mendekap erat tubuh Brian yang perlahan mulai dingin. Semua yang ada di gerbong itu tak kuasa menahan tangis, mereka telah menyaksikan kematian pertama dalam rangkaian kematian yang akan datang dalam waktu dekat.


__ADS_2