
Sehari setelah pembukaan akademi, seluruh siswa diberi jadwal pelajaran wajib dan dibagi menjadi beberapa kelompok kelas, satu kelompok kelas terdiri dari campuran beberapa murid mulai dari lencana perunggu sampai emas.
Materi kelas di hari pertama kegiatan akademi adalah unjuk kemampuan, untuk materi kali ini, semua kelas berdiri berkelompok di sebuah lapangan luas, setiap kelas dibimbing oleh instruktur yang sekaligus menjadi wali kelas mereka.
Satu persatu murid mulai dari lencana perunggu memperlihatkan keahlian mereka, dari kemampuan aura, sihir dan alkimia dimulai dari peringkat perunggu. Materi kali ini berjalan sangat lama dan sedikit membosankan. Terlihat para murid mulai tidak antusias, karena kemampuan dari kelas perunggu memang biasa-biasa saja.
Sedikit antusiasme kembali muncul sedikit saat lencana perak mendapatkan giliran, bahkan murid lencana emas beberapa kali terkagum dengan kemampuan mereka. Pada dasarnya lencana perak adalah orang-orang berbakat, mereka hanya tidak memiliki kekuatan cahaya saja.
Terlebih saat bintang lencana perak seperti Alfonso Notaras Chevallaire, Haznav Matausyalah, Aryana Lazuardi, Albert Farrier dan beberapa lainnya yang notabene memang merupakan orang-orang hebat dan berbakat memperlihatkan kebolehan mereka.
Alfonso tidak perlu dipertanyakan lagi, dia adalah penyihir jenius dari Vasilius, murid satu-satunya Magus ternama, Marcus Goverzenon. Sihir-sihir yang dia peragakan bahkan membuat beberapa lencana emas merasa minder.
Haznav Matausyalah, pemuda suram dari Petra, menurut rumor, dia adalah putra dari Menteri Pertahanan Kerajaan Petra, David Matausyalah. Yang dikabarkan meninggal saat insiden di pertemuan aliansi. Kemampuannya menggunakan teknik bertarung bersenjata dan tangan kosong benar-benar luar biasa, belum lagi aura yang dia miliki sangat kuat, sampai membuat instruktur yang mengujinya kewalahan dan terdesak. Instruktur itu pasti kalah kalau saja tes itu tidak dihentikan.
Aryana Lazuardi adalah seorang putra pendekar ternama dari negeri di ujung selatan benua barat, kemampuannya dalam bertarung menggunakan belati dan keterampilan panahnya sangat mengagumkan, seolah setiap gerakannya adalah seni.
Kemampuan Alkimia Albert Farrier juga tidak bisa dianggap sepele, dia mampu meracik semacam cairan mudah terbakar yang sangat susah dipadamkan bahkan dengan air sekalipun, akhirnya para instruktur memutuskan untuk menimbun area terdampak api dengan tanah basah
Api berhasil dipadamkan, meskipun asap masih mengepul dari tumpukan tanah basah, semua orang takjub dengan demonstrasinya itu.
Banyak lagi murid lencana perak dengan kemampuan luar biasa, namun beberapa dari mereka adalah orang yang namanya baru didengar. Seperti Farhan Alhadid dengan metode penggunaan aura untuk memperkeras tubuh sampai sekeras batu, Mattheus Hargan yang mampu memanipulasi elastisitas senjatanya yang berupa tombak menjadi cambuk dengan metode penggunaan auranya. Masih banyak lagi orang-orang luar biasa dari lencana perak.
Antusiasme murid-murid kini sudah kembali, terlebih kali ini adalah giliran murid-murid dengan lencana emas. Semua murid, instruktur, staff dan professor berkumpul di lapangan luas untuk melihat kehebatan mereka. Bahkan Kepala Akademi juga ikut menonton di salah satu sudut lapangan.
Sesaat sebelum murid-murid lencana emas dari masing-masing kelas disebut namanya untuk memperagakan kekuatan mereka, Kepala Akademi tiba-tiba sudah berada di area tengah lapangan.
"Sangat membosankan kalau murid lencana emas hanya memperagakan kekuatan mereka dan praktek dengan instruktur, kalian sependapat bukan?" Dia mengarahkan pandangannya ke seluruh orang yang ada di lapangan itu.
Semua hanya diam, mereka semua terlalu segan dengan sosok Kepala Akademi yang juga merupakan Jenderal Besar Kekaisaran Leidengard.
__ADS_1
"Bukankah lebih menyenangkan kalau anak-anak emas ini berduel satu sama lain sebagai ajang unjuk kekuatan mereka?"
Antusiasme meledak begitu Kepala Akademi menyelesaikan kalimatnya, semua orang terlihat sangat setuju dengan Kepala Akademi, tentu saja mereka sangat ingin melihat duel antara dua pemilik kekuatan cahaya yang dikabarkan memiliki kemampuan yang tidak pernah dilihat sebelumnya.
"Kelihatannya semua orang setuju, kalau begitu akan kita mulai dari bintang kita terlebih dahulu, Adrian Cornivus Duterte." Adrian maju ke arena setelah namanya disebut oleh Kepala Akademi.
"Lawan yang cocok untuknya ... Tentu saja sesama putra penguasa negara, Theodore Edgard Khalinos." Theodore yang berasal dari kelas yang berbeda juga masuk ke arena, kini dua murid terhebat di akademi saling berhadapan.
Alex menahan nafasnya saat merasakan pancaran kekuatan cahaya dua orang itu saling bertabrakan, dia merasa kulitnya seperti tertusuk duri-duri kecil, tapi kelihatannya hal ini hanya bisa dirasakan oleh sesama pemilik kekuatan cahaya.
"Adrian Cornivus Duterte, kalau bukan karenamu, aku sudah menjadi murid terbaik di akademi ini." Rupanya ketegangan antara mereka berdua memang sudah dimulai sejak mereka masuk akademi, hanya saja baru kali ini mereka mendapat kesempatan untuk saling berhadapan. Suasana rivalitas diantara mereka terasa sangat kuat, sampai-sampai semua murid di akademi ternganga karena ketegangan diantara dua putra penguasa itu.
"Santai saja dong kalau ngomong, gaya bicaramu itu terdengar seperti orang tua tahu." Adrian melakukan sedikit peregangan, sikap santainya itu membuat urat wajah Theodore mengeras. Inilah kenapa dia tidak suka orang-orang republik, sikap mereka tidak mencerminkan sikap seorang bangsawan.
"Gaya bicaraku yang terkesan seperti orang tua, atau kau saja yang masih terlalu bocah?" Theodore membalas provokasi Adrian, tapi sikap Adrian masih tetap sama, "Roasting mu itu sangat membosankan tahu, dasar boomer." Adrian mengacungkan ibu jarinya, lalu memutarnya kebawah 180 derajat.
Semua murid berseru tertahan karena provokasi Adrian yang sederhana tapi sangat efektif untuk memancing emosi seorang bangsawan kaku seperti Theodore.
Adrian mengangkat bahunya tidak peduli, "Memang kau mampu?" Kesabaran Theodore benar-benar sudah di ujung, dia tidak sabar ingin menghancurkan wajah sombong Adrian.
"Baiklah, petarung bersiap ... Mulai!"
Theodore menghilang dalam sekejap, lalu dalam sekejap pula, dia muncul di belakang Adrian dan melancarkan tendangan yang tidak terlihat karena saking cepatnya.
Semua orang mengira pertandingan berakhir saat itu juga, kecepatan dan akurasi serangan Theodore benar-benar diluar nalar. Tapi sebelum mereka bersorak, mereka menyadari kalau Adrian tidak tumbang, sementara Theodore tetap pada postur menendangnya, seolah dia tidak bisa bergerak.
"Kau terlalu menganggapku remeh, Putra Mahkota." Adrian mengepalkan tangannya, lalu dia melakukan gerakan seperti membanting sesuatu ke tanah. Sedetik kemudian, tubuh Theodore terbanting ke lantai arena, membuat lantai arena yang terbuat dari material kokoh retak.
Theodore memuntahkan darah, tapi tubuhnya segera menghilang dan kembali muncul beberapa meter dari Adrian.
__ADS_1
"Apa-apaan tadi itu?" Murid-murid yang melihat baku hantam barusan berseru tidak percaya, semua terjadi terlalu cepat dan nalar mereka tidak bisa memahami apa yang barusan terjadi. Kekuatan murid tingkat emas memang berada di tingkatan yang sangat berbeda.
Dua petarung kembali bersiap meluncurkan serangan, Adrian terlihat jumawa, dia mampu mementahkan serangan Theodore yang tidak masuk akal kecepatannya dengan kekuatan yang sama-sama tidak bisa dijelaskan oleh akal. Dia seolah bisa menghajar seseorang tanpa menyentuhnya.
"Aku belum serius, asal kau tahu." Theodore meludahkan sisa darah di mulutnya, "Eh ... Benarkah?" Adrian terlihat tidak peduli dengan ucapan Theodore barusan.
Theodore kembali menghilang lalu muncul di belakang Adrian, dengan cepat, dia melancarkan pukulan, tapi sebelum pukulan itu mengenai Adrian, Theodore kembali menghilang dan muncul di atas Adrian dan meluncurkan satu tendangan tepat ke ubun-ubun Adrian.
-BAM!-
Suara hantaman terdengar begitu keras. Anehnya, bukan Adrian, namun justru Theodore yang terlempar ke udara setelah suara hantaman keras itu terdengar, saat tubuh Theodore masih di udara. Adrian menyapukan tangannya ke arah Theodore, pecahan-pecahan lantai arena pun melesat dengan kecepatan tinggi menghantam tubuh Theodore dengan telak.
Tubuh Theodore terjun bebas dan dia jatuh tergeletak di arena, dia masih berusaha berdiri, tapi langsung pingsan setelah beberapa kali batuk darah.
Semua orang terdiam melihat pemandangan di depan mereka, masih berusaha mencerna sesuatu yang baru saja mereka saksikan, semua terjadi begitu cepat.
Sesaat kemudian, pekikan heboh terdengar di lapangan latihan, mereka tidak percaya kalau semua yang mereka lihat barusan itu nyata.
"Gila! Itu tadi benar-benar gilaa!"
"Bagaimana mungkin manusia bisa melakukan itu?!"
"Tubuh Yang Mulia Theodore seperti menghilang, whus! Lalu shush! Muncul begitu saja!"
"Apa yang dilakukan Adrian barusan?! Dia bisa menggerakkan sesuatu tanpa menyentuhnya!"
Tim medis segera naik ke arena dan memeriksa kondisi Theodore, dia dibawa ke klinik akademi setelah dinyatakan tidak ada luka serius. Teman-teman sekelas Adrian menyoraki kemenangannya, mereka bersyukur monster dari para monster itu ada di pihak mereka. Sementara kelas lain gigit jari setelah melihat kemampuan Adrian barusan, gelar murid lencana emas terbaik yang dia sandang memang bukan candaan semata, bahkan Theodore yang sudah dikenal sebagai petarung hebat pun dibuat tidak berkutik di hadapannya.
Kepala Akademi segera menenangkan semua keributan dengan satu kata, semua orang kembali tertib. "Dengan begitu, Adrian Cornivus Duterte menang dan berhasil mempertahankan gelarnya sebagai murid terbaik di tingkat emas."
__ADS_1
Setelah kehebohan mereda, dua nama kembali dipanggil, antusiasme kembali menyelimuti semua yang hadir di area pelatihan ketika dua orang dari tingkat emas sekali lagi saling berhadapan di atas arena.