Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 22: Akhirnya


__ADS_3

Sore ini, Akademi Aliansi Benua Barat digemparkan oleh kabar yang datang dari benua utara. Salah satu benteng di Kekaisaran Chyrosian yang juga merupakan salah satu markas cabang Aliansi Benua Utara, diserang oleh sesuatu yang tidak diketahui, semua orang yang berada di dalam benteng itu mati secara tragis dan aneh.


Berdasarkan informasi di surat kabar, tidak ada tanda-tanda kerusakan pada dinding benteng, tidak ada pula tanda gerbang diterobos. Namun anehnya, ditemukan bekas pertempuran di dalam benteng, dilihat dari bekas pertempuran yang terjadi, benteng itu benar-benar diserang, bukan disergap secara diam-diam. Mereka yang ada di dalam benteng itu mati dengan tubuh tercabik, terkoyak dan mati karena racun.


Tidak ada satupun yang selamat, namun satu orang penjaga dikabarkan hilang dan tim pencari dikerahkan untuk melacak jejaknya, karena ditemukan jejak sepatu militer Kekaisaran di sekitar benteng, jejak itu mengarah ke hutan di sisi timur benteng.


Karena semua negara sedang dalam gencatan senjata, pihak Kekaisaran yakin bahwa ini adalah perbuatan dari kekuatan para 'iblis' yang membuat dunia gempar beberapa waktu lalu.


Kini, mereka telah melancarkan serangan pertamanya, entah negara mana atau benua apa yang menjadi target mereka selanjutnya. Unit Khusus Aliansi Enam Benua mulai dikerahkan ke berbagai wilayah yang berpotensi menjadi target serangan berikutnya.


Makhluk macam apa yang membantai seluruh prajurit di benteng itu, tak ada seorang pun yang tahu.


Alex dan murid-murid lain yang membaca surat kabar yang ditempel di papan pengumuman sekolah itu terdiam, sebagian dari mereka ada yang merasa gugup, marah, takut. Yang paling bodoh adalah mereka yang masih bisa tertawa setelah membaca surat kabar itu.


Semua orang tahu seberapa kuat militer Kekaisaran Chyrosian itu, musuh yang mereka hadapi mungkin memang kuat, tapi sampai bisa membantai seisi benteng hanya dalam satu malam membuktikan kalau kekuatan tempur para 'iblis' itu berada diluar dugaan mereka.


Alex mengepalkan tangannya, membaca berita itu membuat benaknya dipenuhi keraguan. Apakah aku cukup kuat untuk melawan mereka? Makhluk macam apa sebenarnya mereka itu? Apa yang akan terjadi seandainya Akademi ini menjadi target mereka?


"Cemas dek?" Sebuah suara terdengar dari belakang Alex, itu adalah Adrian.


"Yah, begitulah." Alex menghela nafas.


"Memang bohong kalau bilang tidak cemas sama sekali, yakan? Ngomong-ngomong, kita akan dikumpulkan di aula Akademi sebelum makan malam nanti, tadi Professor Sandra bilang ada sesuatu yang ingin disampaikan Kepala Akademi." Kata Adrian, Professor Sandra adalah wali kelas Adrian.


"Sepertinya serius sekali ya?"


Adrian mengangkat bahu, "Aku sudah bisa menduga apa yang akan dia katakan sih. Saranku, kau bersiaplah untuk segala kemungkinan terburuk yang bisa kau pikirkan."


Perkataan Adrian membuat Alex terdiam, dia juga mulai bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Kepala Akademi. Kalau dia benar, maka itu memang kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.


"Jangan terlalu tegang deh, dari awal memang kita sudah bersiap untuk kemungkinan ini cepat atau lambat bukan?" Adrian meninju bahu Alex dan berlalu meninggalkan Alex yang masih terdiam.

__ADS_1


Alex menghembuskan nafas, kemudian dia segera kembali ke asrama. Sore itu tiba-tiba saja dia merasa kepalanya sangat lelah.


...****************...


Di dunia bawah sadar Alex, dia berbicara kepada peri-peri yang ada di sana tentang berita yang datang sore ini.


Aura di sekeliling mereka menjadi serius, mungkin hanya Bane yang cukup tenang, dia bersandar pada sebatang pohon, menyimak perkataan Alex sambil mengisap cerutunya.


"Kami memang sudah mengetahui garis besar dari kabar tersebut, tapi kami melewatkan detailnya karena kami tidak memahami tulisan manusia." Phoenix memberikan tanggapan usai Alex menyelesaikan perkataannya.


"Kau mau bilang kalau kau mengintip pengelihatan tuan tanpa seizinnya?" Dryad si peri hutan mengerutkan keningnya, mencibir tindakan Phoenix yang menurutnya tidak pantas.


Meski Phoenix agak membenci Dryad, tapi apa yang dikatakannya memang benar, dia segera menunduk kepada Alex dan memohon maaf.


Alex memaklumi hal itu, dia memang tidak terlalu mempermasalahkan tindakan beberapa peri yang terkadang mengintip lewat pengelihatan Alex atau menguping dari pendengarannya.


"Begitulah, perang melawan para iblis sudah di depan mata, aku harap kalian tetap memberiku bantuan sampai akhir." Tukas Alex dengan suara yang sedikit bergetar.


"Terimakasih, Fenrir ... Juga kalian semua, mungkin kita akan menghadapi musuh yang tidak terbayang kekuatannya, namun aku yakin kita sanggup menghadapi mereka bersama dengan rekan-rekan kita yang lain."


Alex keluar dari alam bawah sadarnya, dia merasa tenang dengan keberadaan para peri, kecemasan yang dia rasakan kini jauh berkurang. Yah, meskipun tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.


...****************...


Seluruh murid berkumpul di aula Akademi, di atas podium, berdiri beberapa Instruktur dengan seragam militer resmi Pasukan Aliansi Enam Benua. Beberapa Professor juga terlihat mengenakan jubah sihir masing-masing.


Suasana tegang begitu terasa di aula, tidak ada yang bisa memecah keheningan, hanya terdengar suara nafas berat yang sesekali terdengar baik itu dari barisan murid ataupun Staff Akademi.


Akhirnya setelah beberapa menit yang terasa seperti beberapa jam, Kepala Akademi menaiki podium didampingi oleh Savier dan seorang pria dengan seragam militer.


Setelah mengucapkan salam singkat, Kepala Akademi segera menyampaikan pemberitahuan yang mengejutkan.

__ADS_1


"Aku tidak akan panjang lebar, mungkin beberapa diantara kalian ada yang sudah menebak apa yang akan aku sampaikan saat ini. Seperti yang kalian tahu, beberapa waktu lalu, sebuah barak militer yang sekaligus benteng pertahanan dari Kekaisaran Chyrosian di benua utara diserang oleh sesuatu yang tidak diketahui, besar dugaan mereka adalah para iblis, mereka membantai semua orang yang berada di benteng itu tanpa menyisakan satu orang pun. Peperangan dengan para iblis sudah memasuki permulaan, sementara waktu yang kita miliki tidak banyak. Oleh karena itu ...."


Kepala Akademi mengedarkan pandangan ke barisan para murid, air muka mereka terlihat tegang, hembusan nafas berat terdengar berkali-kali, semua sudah menyadari apa yang akan dikatakan oleh kepala Akademi.


"... Oleh karena itu, mulai hari ini, kalian yang namanya berada dalam daftar berikut, resmi menjadi prajurit dari Pasukan Aliansi Enam Benua."


Seorang Professor membuka gulungan kertas, lalu dia menyebutkan nama murid Akademi satu persatu, mereka adalah orang-orang yang dinilai telah memenuhi kualifikasi untuk terjun ke medan tempur.


Diantara nama yang di sebut dari Kelas Emas adalah Adrian, Alex, Ferdinand, Theodore, Alicia, Brenda, dan Raymond.


Dari kelas perak ada nama-nama murid terbaik dari kelas perak seperti Alfonso, Haznav, Dirk, Thomas, Jonathan, Marcus, Bellinda, dan beberapa nama lainnya.


Sementara murid Kelas Perunggu yang diterjunkan berjumlah paling banyak, mencapai angka ratusan.


Murid dari Kelas Emas dan Kelas Perak yang tersisa akan tetap berada di Akademi untuk membimbing rekrutan baru, Akademi akan mulai berfungsi sebagai Markas Aliansi Enam Benua.


"Kalian adalah harapan bagi dunia ini, laksanakanlah tugas kalian dengan baik, kami akan selalu memberi dukungan dan doa terbaik untuk keberhasilan dan keselamatan kalian. Kalian akan diberangkatkan besok pagi, makanlah dengan lahap dan beristirahatlah dengan lelap malam ini. Terimakasih."


Kepala Akademi mengakhiri 'pidato'nya, semua murid beranjak ke kafetaria untuk makan malam dengan suasana hati yang campur aduk dan sulit dijelaskan.


"Setidaknya makan malam kali ini sangat istimewa." Ucap Adrian yang melihat kafetaria ternyata sudah di dekorasi sedemikian rupa dengan berbagai macam makanan dan minuman yang disajikan di meja panjang.


"Bukankah ini lebih mirip Pesta?" Anford tertawa kecil, wajahnya yang tadi sempat murung kini terlihat lebih bercahaya.


Alex yang belum pernah datang ke pesta-pesta bangsawan hanya termangu, tapi dia berusaha untuk stay cool. Dia sudah pernah merasakan makanan bangsawan ketika tinggal di kediaman Count, dan saat itu dia sudah merasa kalau dia sedang merasakan pengalaman makan terbaik, tapi pesta besar seperti ini benar-benar berada di level yang berbeda.


"Pestanya agak sederhana sih, tapi bolehlah," celetuk Ferdinand, Theodore mengangguk setuju, begitu pula Brigantine bersaudara.


Tatapan Alex langsung kosong.


"Yah, untuk sebuah Akademi, ini sudah cukup bagus," Adrian menanggapi, "lebih baik kita nikmati saja lah."

__ADS_1


__ADS_2