Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 23: Keberangkatan


__ADS_3

Pagi hari ini, puluhan kereta kuda berjejeran di gerbang masuk Akademi untuk menjemput murid-murid yang sekarang resmi menjadi bagian dari Pasukan Aliansi Enam Benua.


Warga Leidenburg dan berbaris di sepanjang jalan, menunggu dengan antusias kereta berisi harapan untuk melintas.


Sementara di dalam Akademi, orang-orang yang akan berangkat ke pos-pos pertahanan di penjuru Benua Barat dikumpulkan di aula.


Mereka diberi seragam baru, sebilah pedang, dan lencana. orang tua dari beberapa murid yang sempat datang ikut menyaksikan upacara pelantikan anak-anak mereka.


Para ibu menangis sementara para ayah hanya menatap anak mereka dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


Seusai upacara, mereka menghampiri anak mereka, mengucapkan salam perpisahan. Kebanyakan dari orang tua yang datang adalah mereka yang tinggal di sekitar Leidenburg, kabar pembantaian di Chyrosian dan keputusan pemberangkatan murid Akademi terlalu mendadak, banyak orang tua yang tidak sempat hadir dalam upacara pelantikan sekaligus pemberangkatan yang serba dadakan ini.


Bahkan tidak satupun orang tua murid yang berasal dari Vasilius datang, hanya Penasehat Senior Raja Vasilius dan Chancellor keluarga Chevallaire yang menghadiri upacara itu, menyampaikan salam dari masing-masing kepala keluarga untuk semua murid yang sekarang adalah prajurit dari Vasilius.


Dengan demikian, seluruh prajurit baru dari Akademi berangkat menuju pos-pos militer yang sudah ditentukan di penjuru benua barat. Masyarakat yang berbaris di sepanjang bahu jalan bersorak melepas para prajurit muda itu, mereka melambaikan tangan, menebar kelopak bunga ke arah kereta kuda yang berjalan.


Seorang anak kecil berlari menerobos pembatas jalan, menghampiri salah satu kereta kuda, orang-orang dewasa dan prajurit keamanan segera berusaha menggendongnya kembali ke tempat. Tapi pintu kereta kuda itu terbuka.


Seorang gadis dengan rambut cokelat panjang bergelombang dan mata jingga muncul dari balik pintu kereta kuda yang berjalan perlahan, dia memberi isyarat kepada orang-orang yang berusaha menggendong anak itu untuk membiarkannya saja, dia mencondongkan kepalanya keluar kereta, lalu menatap anak kecil itu dengan senyuman.


"Ada apa, dek?" Gadis itu tersenyum manis, membuat mata si anak kecil berbinar-binar, sambil berlari kecil mengimbangi jalan kereta kuda, dia mengeluarkan sebuah bungkusan dari tas kecilnya.


"Untuk kakak, ibuku yang membuatnya," ujar anak kecil itu sambil menyerahkan bungkusan kain berwarna putih kepada gadis berambut cokelat.


"Terima kasih ya."


Setelah si gadis menerima pemberiannya, anak kecil itu berhenti, lalu melambaikan tangan ke arah kereta kuda yang melaju semakin cepat setelah mendekati batas kota.


Di kereta kuda, gadis berambut cokelat itu membuka bungkusan kain pemberian anak kecil tadi yang terasa sedikit hangat, aroma kue kering yang harum segera memenuhi kereta kuda yang ditumpanginya.


Semua orang yang menumpangi kereta kuda itu terpaku pada bungkusan kain yang dipegang gadis berambut cokelat.


"Wah, aku jadi lapar lagi," celetuk Desmond yang tiba-tiba saja terlihat sangat menginginkan kue itu, habisnya aroma dari kue itu benar-benar menggugah selera.

__ADS_1


"Alicia memang punya daya tarik tersendiri ya, bocil yang pertama kali ketemu saja sudah jadi penggemar," seisi kereta tertawa kecil, dari tadi kereta kuda ini terasa sunyi karena suasana tegang, jadi mumpung ada momen tepat, dia menggunakannya untuk mencairkan suasana.


Alicia menawarkan kue itu kepada teman-teman se-keretanya, mereka tentu saja tidak menolak, lagian dari tadi mereka sudah menunggu Alicia menawarkan kue itu.


Setelah gigitan pertama, seruan tertahan terdengar serempak di kereta kuda itu.


"Enak banget!"


Brenda sampai menutup mulutnya dengan tangan saking tidak percayanya, sementara Desmond dan dua cowok lain sudah menghabiskan kue mereka, cukup dua kali gigitan untuk mereka.


"Andai saja ada teh disini," Alicia menatap bungkusan kue kering yang sekarang kosong.


"Yah, kita kan mau pergi perang, bukan mau piknik," celetuk salah satu cowok di kereta itu, Brenda segera menendang lututnya karena dia membuat suasana kembali tegang gara-gara ucapannya.


Sementara itu, di kereta kuda di depan mereka.


"Sial, mereka malah dapat kue, mana kelihatannya enak lagi," Adrian mendecak kesal, Alex yang duduk di sebelahnya terlihat kebingungan.


"Kue? Kue apaan?"


"Kok kau bisa tahu?" Tanya seorang cewek di tim mereka, dia adalah Reyna, salah satu murid top di Kelas Perak.


"Aku bisa mendengarkan percakapan dalam jarak tertentu," jelas Adrian.


"Loh, gak bahaya tuh?" Sahut cewek yang lain.


Adrian terlihat kebingungan, "Bahaya gimana?"


"Ya kan kamu jadi bisa nguping percakapan rahasia cewek-cewek," timpal cewek itu.


"Memang percakapan kalian isinya apa sih? Palingan soal produk perawatan kulit sama cowok kan?" Sebenarnya Alex bertanya bukan dengan niat menyindir, dia memang betulan bertanya karena tidak tahu, tapi para cewek malah ngamuk dan mulai berseru tidak terima ke Alex.


"Aku tahu kok, nanti kita bicarakan lebih detail lagi, kawan," kata Adrian, "Kawan," Alex menjabat tangan Adrian, hal itu malah membuat para cewek semakin heboh.

__ADS_1


"Kalian bisa diam tidak sih?" Intonasi yang tenang namun intimidatif dari Haznav membuat semua suara gaduh cewek-cewek di kereta mereka terhenti, Haznav memang terkenal dingin dan jarang bicara, tapi sekali dia bicara, orang-orang akan mendengar perkataannya. Bahkan Adrian dan Alex yang murid top di Kelas Emas saja tidak lagi bersuara.


Anak-anak yang berasal dari Kerajaan Petra pernah bilang kalau dulunya Haznav tidak seperti sekarang, dia memang bukan tipikan orang yang ceria atau banyak bicara, tapi dia tidak pernah bersikap dingin seperti ini.


Yang membuat kepribadian dia jadi seperti sekarang adalah karena kematian ayahnya, menurut cerita yang beredar, ayah Haznav yang merupakan petinggi di Kerajaan Petra terbunuh di tangan iblis kuat yang tiba-tiba muncul di tengah rapat aliansi.


Sejak saat itulah, dia berubah karena menyimpan dendam dan kebencian yang besar terhadap para iblis, teman-temannya memahami kondisinya, tapi hal itu tetap tidak mengubah kesan Haznav yang intimidatif.


Mereka pun jadi hanya diam di sisa perjalanan, cuma Adrian dan Alex yang sesekali mengobrol atau cewek-cewek yang kadang bisik-bisik lalu tertawa cekikikan.


Setelah beberapa jam perjalanan, mereka akhirnya sampai di tujuan, yaitu sebuah stasiun kereta uap di Leidenburg.


Rombongan prajurit itu turun dari kereta kuda mereka, lalu seorang perwira militer mengarahkan mereka untuk berkumpul.


Di stasiun itu sudah tersedia empat kereta uap berukuran sedang yang siap berangkat, seseorang dengan seragam militer yang terlihat berbeda dengan seragam militer Leidengard mengambil alih komando, dia adalah perwira dari Pasukan Aliansi


"Selamat pagi, atau mungkin selamat siang. Seperti yang sudah kalian ketahui, hari ini kalian akan diberangkatkan ke pos-pos militer di penjuru benua. Satuan pertama akan berangkat ke bagian selatan benua, satuan kedua akan menuju ke sisi tenggara benua, satuan ketiga ke sisi barat, dan satuan terakhir akan berangkat ke sisi utara. Ada pertanyaan?"


Salah satu prajurit beralih dari posisi istirahat ke posisi siap dan menghentakkan kaki, perwira itu mengangguk, mengizinkan dia bertanya.


"Bagaimana dengan sisi timur benua?" Dia kembali ke posisi istirahat setelah mengajukan pertanyaan.


"Sisi timur masih terbilang aman karena masih ada Kerajaan Sakai dari benua timur yang berdekatan dengan benua kita. Ada lagi?"


Tidak ada yang mengajukan pertanyaan, perwira itu undur diri dan komando diambil alih perwira lain.


"Untuk satuan pertama, yang akan diketuai oleh Adrian Cornivus Duterte, dengan anggota sebagai berikut ...."


Perwira itu menyebutkan nama satu-persatu, mereka yang disebut langsung diarahkan naik ke kereta uap yang menuju ke selatan benua.


"Sekedar pengingat, sesampainya kalian di pos, kalian akan berada di bawah komando komandan yang bertugas disana. Posisi ketua ini hanya berlaku selama perjalanan kalian." Adrian yang bersiap menaiki kereta mengangguk, dia menoleh ke arah Alex dan memberi salam terakhir, karena mereka ditempatkan di pos yang berbeda.


Selanjutnya adalah satuan yang ditugaskan ke sisi tenggara benua, Alex bertindak sebagai ketua satuan, beberapa nama top seperti Alicia, Desmond, Anford dan nama lain dipilih untuk berada di satuan yang sama dengan Alex.

__ADS_1


Alex memberi hormat kepada para perwira dan menaiki kereta menuju ke pos tenggara, jantungnya terasa berdebar, tapi dia berusaha meyakinkan dirinya kalau dia mampu melewati semua ini.


Kereta uap pun melaju dengan kecepatan penuh menuju pos tenggara, entah apa yang menanti di sana, mereka hanya berharap bisa kembali dengan selamat dari medan perang dan tidak bernasib seperti prajurit Chyrosian.


__ADS_2