Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 35: Berita


__ADS_3

Theodore tiba di Departemen Sihir beberapa jam kemudian, tapi bukan datang membawa Adrian, dia justru membawa kabar kematiannya.


Tentu saja semua orang tidak percaya dengan laporan yang dia bawa, tapi tentu saja mereka tidak ingin terlihat buruk di mata pewaris tahta Vasilius dengan menuduhnya membawa informasi palsu. "Apa Anda melihat sendiri Adrian mati di depan mata Anda?"


Theodore mendengus kesal, "Memang aku tidak melihatnya mati. Tapi aku melihat jasadnya dengan mata kepalaku sendiri," sahutnya, "Aku bisa saja membawa jasadnya, tapi kupikir itu tidak pantas dilakukan."


"Maafkan aku, bukannya aku tidak percaya denganmu, tapi memangnya mayat-mayat hidup itu sekuat apa sampai bisa membuat Adrian terbunuh?" Marcus bertanya, sebagai seorang Magus, dia memang terkenal sering berkata dengan bahasa informal kepada keluarga kerajaan.


"Itulah masalahnya," Theodore mendengus lebih keras, "yang menyerang mereka itu bukan mayat hidup, melainkan segerombolan boneka berwujud manusia berwarna perak."


Perkataan Theodore membuat semua orang tercengang, "Dari ciri-cirinya, mereka sama seperti monster laba-laba yang menyergap orang-orang yang dikirim ke tenggara, tubuh perak dan mata hijau," tuturnya lagi.


"Jadi ... Iblis-iblis itu masih memiliki bala tentara lain selain mayat hidup." Ferdinand berkata.


"Melihat makhluk yang merasuki Count Bellezza di saat pesta debutante beberapa bulan lalu, sepertinya memang ada kemungkinan masih ada bala tentara lain yang belum dikerahkan." Marcus bertutur.


"Juga iblis yang membunuh David Matausyalah." Seorang petinggi Departemen Sihir yang berasal dari Petra melontarkan pertanyaan, dia adalah sang Sage Hassan Albattanius. Wajahnya memerah, dia benar-benar membenci iblis yang telah membunuh rekannya itu.


"Rasanya seperti deja vu." Batin Theodore.


"Untungnya, saat aku melakukan inspeksi ke barat dan utara, masih belum ada tanda pergerakan apapun, tapi kita akan lihat perkembangannya di patroli ku berikutnya." Jawab Theodore.

__ADS_1


Rute patroli Theodore adalah. Markas Pusat Aliansi Benua Barat - Pos Pertahanan Barat - Pos Pertahanan Utara - Pos Pertahanan Tenggara - Pos Pertahanan Selatan - Departemen Sihir (jika diperlukan).


Dia akan melakukan rotasi seperti itu dalam waktu kurang lebih dua hari termasuk istirahat, kemudian dia akan kembali berpatroli setelah tiga hari. Begitu seterusnya.


Karena pergerakan iblis-iblis itu tidak bisa di prediksi, Theodore terpaksa mengorbankan waktunya untuk terus mengumpulkan informasi dari setiap pos pertahanan dan memperbarui informasi setiap tiga hari sekali.


"Lalu ... Mengenai Adrian ... Apa yang Aliansi akan katakan mengenai itu?" Alfonso angkat bicara, suasana mendadak berubah.


"Masalahnya, dia itu putra pemimpin negara sebesar Zirae-Levanto, statusnya kurang lebih sama seperti Pangeran Theodore. Entah apa yang akan dilakukan Presiden Duncan kalau dia mendengar putranya tewas di medan perang." Tutur Marcus.


"Aku setuju, Zirae-Levanto itu negara liberal, mereka bukan tipe negara yang berpikir kalau menjadi martir itu sesuatu yang mulia. Mungkin mereka bisa saja menuntut kompensasi atau bahkan memutus hubungan dengan Aliansi, meski opsi kedua sedikit mustahil untuk sekarang."


Seorang petinggi Departemen Sihir juga angkat bicara, dia adalah Prime Magister Leidengard, Rudolf Hetzer. Dia berkata sembari melirik satu kursi petinggi yang kosong, yang mana kursi itu seharusnya menjadi tempat duduk Prime Magister dari Zirae-Levanto.


Marcus yang mendadak pusing hanya bisa menghembuskan nafas berat, dia menutup matanya dengan telapak tangan, tanda kalau dia sedang berpikir keras.


"Jadi, Anda akan langsung menuju Markas Pusat setelah ini?" Alfonso bertanya pada Theodore, setelah keheningan menyelimuti mereka sesaat.


"Ya, aku harus melapor soal kematian Adrian. Tapi mungkin aku akan singgah sebentar di sini." Ujarnya sembari menatap keluar jendela menara Departemen Sihir, di luar sedang hujan deras, berlari dengan kecepatannya saat hujan membuat Theodore merasa seperti dilempari batu.


"Oh, dan satu hal lagi. Kurasa, penyihir seharusnya diterjunkan di setiap pos, tidak perlu mengerahkan seluruh unit yang dimiliki Departemen Sihir, cukup beberapa di setiap pos. Kurasa itu lebih efektif meski juga beresiko." Tutur Theodore.

__ADS_1


Tentu saja para petinggi sudah memikirkan hal itu, penyihir di benua barat tidak sebanyak benua selatan yang memiliki unit penyihir terbesar dibanding benua lain.


Barat sebenarnya sudah meminta bantuan kepada selatan, tapi karena bukan cuma barat yang meminta, jadi mereka harus menunggu keputusan yang dibuat oleh selatan.


Oleh karena itu mereka memikirkan cara lain untuk bisa menerjunkan penyihir hanya di saat yang dibutuhkan, dan yang terbesit di benak mereka adalah mengirim penyihir lewat jalur ekspres menggunakan bantuan Adrian dan Theodore. Tapi sekarang Adrian sudah tiada, jadi mereka harus memikirkan cara lain, yang mana kelihatannya tidak ada.


Jadi mungkin opsi paling masuk akal saat ini adalah dengan menerjunkan beberapa penyihir di setiap pos sebagai bantuan.


"Lagipula, si nomor tiga sepertinya belum melaksanakan tugasnya." Ujar Theodore sembari melirik Ferdinand yang berdiri di belakang kursi Marcus, dia membalas lirikan Theodore dengan senyuman kesal.


Marcus yang bertindak sebagai wakil ketua berpikir keras, menerjunkan penyihir mungkin adalah opsi terbaik saat ini, mengingat militer juga sudah dikerahkan di berbagai tempat untuk berjaga-jaga kalau iblis-iblis itu muncul dari dalam benua.


"Kurasa ... Kita akan menerjunkan beberapa orang anggota kita, itu adalah opsi paling masuk akal saat ini." Marcus akhirnya angkat bicara setelah berpikir selama beberapa saat.


Perkataannya juga disetujui oleh dewan petinggi Departemen Sihir, Ferdinand yang mendengar itu langsung tegang urat lehernya, dia menatap Theodore dengan tatapan sengit.


Setelah hujan mereda, Theodore kembali ke Markas Pusat Aliansi Benua Barat untuk melaporkan kabar yang mengguncang seluruh Aliansi, terutama benua barat, terutama lagi Kerajaan Zirae-Levanto.


Kabar mengenai gugurnya salah satu "Cahaya Paling Terang" menjadi berita duka yang terus di bicarakan oleh orang-orang selama beberapa waktu ke depan.


...****************...

__ADS_1



Ilustrasi karakter Marcus Goverzenon.


__ADS_2