
Benua barat, Markas Pusat Aliansi Benua Barat.
Suasana di ruangan Ketua Dewan Aliansi begitu berat sejak beberapa saat lalu, dia terlihat memijit-mijit pelipisnya, sementara di hadapannya berdiri Theodore yang ekspresinya juga terlihat kacau.
Beberapa anggota dewan yang ada di ruangan itu hanya menatap mereka berdua dengan tatapan bingung, Ketua Dewan tiba-tiba saja jadi seperti itu setelah membaca laporan dari Theodore yang sejak tiba sudah terlihat suram.
Ketua Dewan menghembuskan nafas berat. "Apa kau yakin dengan apa yang kau tulis di sini?" Dia melontarkan pertanyaan itu ke Theodore.
"Saya lebih dari yakin, saya melihat kondisinya secara langsung dan begitu jelas." Ketua Dewan yang melihat ekspresi Theodore yang kacau dan suram memilih untuk percaya, lagipula, memang ada pilihan lain selain percaya dengan laporan yang dia bawa?
"Permisi, memang apa yang tertulis di laporan itu sampai membuat Ketua Dewan begitu tertekan?" Salah seorang anggota dewan memberanikan diri bertanya.
Ketua Dewan menyodorkan laporan Theodore kepada anggota dewan itu, dia segera menerima dan membacanya. Beberapa saat kemudian wajah anggota dewan itu memucat, ekspresinya berubah menjadi antara ngeri, jijik dan tidak percaya menjadi satu.
Dia segera menyerahkan laporan itu kepada anggota dewan lain yang hadir, dia pun mengalami hal serupa beberapa saat setelah membaca laporan itu.
"Kita kehilangan tiga pengemban kekuatan cahaya sekaligus, kita bahkan tidak mengetahui dalang dibalik kematian mereka." Ketua Dewan akhirnya angkat bicara setelah ruangan itu tenggelam dalam suasana suram selama beberapa saat.
"Meski begitu, deskripsi kondisi salah satu korban mengingatkan saya pada kondisi korban pada saat iblis kuat yang membunuh David Matausyalah muncul." Ungkap salah satu anggota dewan.
"Ada benarnya," Ketua Dewan membenarkan, "mulut berbusa dan mata yang membelalak, tapi dulu para korban tidak sampai terbunuh," lanjutnya.
Sebenarnya, ada kemungkinan lain, seperti iblis yang muncul kali ini lebih kuat dari iblis yang muncul saat itu, atau iblis itu memang memiliki kemampuan untuk membunuh menggunakan Aura, atau setidaknya sesuatu yang mirip dengan itu.
Namun bisa juga hal ini disebabkan karena korban kali ini lebih lemah dari korban tragedi saat itu, karena notabene orang-orang yang hadir pada saat itu adalah orang-orang kuat dari berbagai negara.
Pernyataan itu terkesan seperti merendahkan para pengemban kekuatan cahaya, tapi memang kekuatan cahaya tidak atau setidaknya belum terbukti mampu menahan serangan non-fisik, kecuali untuk beberapa tipe kekuatan tertentu.
Berbeda dengan Aura atau Mana, ketika tingkat penguasaan telah mencapai tingkatan tertentu, mereka bisa menahan serangan non-fisik.
Sebagai perbandingan adalah ketika seorang pengguna Aura kuat melepaskan Auranya di hadapan orang yang tidak memiliki Aura sama sekali, maka orang itu akan mengalami pusing, sesak nafas, mual bahkan sampai tak sadarkan diri. Hal serupa juga berlaku untuk Mana.
Berdasarkan uji coba yang pernah dilakukan, pengemban kekuatan cahaya yang tidak pernah mempelajari penggunaan Aura atau Mana masih bisa terkena dampak dari luapan Aura.
Kemungkinan iblis ini menggunakan serangan non-fisik yang serupa dengan luapan Aura, tapi melihat dampaknya saja, mereka tidak berani membayangkan seberapa kuat 'Aura' yang dimiliki makhluk itu.
"Saya menyarankan kepada Komandan Bernard untuk menarik Alex Collin yang bertugas di tenggara untuk menggantikan tiga pengemban kekuatan cahaya yang gugur di barat." Theodore memang memiliki mandat untuk hal itu. Bagaimanapun, keputusan akhir tetap berada di tangan Ketua Dewan.
Ketua Dewan menimbang sejenak, kemudian dia mengangguk setuju, "Itu adalah keputusan yang tepat untuk saat ini."
Theodore menghembuskan nafas berat. "Kalau begitu, saya akan undur diri." Dia berbalik dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan kesuraman di belakangnya.
__ADS_1
...****************...
Benua barat, pos pertahanan tenggara.
Kabar mengenai terbunuhnya tiga pengemban kekuatan cahaya di barat telah sampai ke telinga Ferguson melalui Theodore, dia pun memutuskan untuk mengirimkan Alex sesuai saran Theodore untuk menambal kekurangan jumlah di barat tanpa memberitahu alasan pemindahan Alex, hal itu dilakukan untuk menjaga moral pasukan.
Kenapa Alex? Karena secara formasi, kombinasi Desmond-Anford-Alicia dinilai sangat efektif untuk menghadang gempuran iblis yang berdatangan, mereka mampu memberikan pertahanan dan serangan dalam waktu bersamaan.
Tembok yang dibentuk Desmond dan parit yang bisa digali Alicia dalam waktu singkat mampu memperlambat pergerakan sebagian jenis iblis, memberi ruang bagi unit pertahanan jarak jauh untuk melancarkan serangan mereka.
Senjata-senjata yang dibentuk Desmond pun memiliki kecocokan dengan kekuatan Alicia dan Anford, memisahkan salah satu dari mereka justru mengurangi efisiensi pertahanan yang mereka miliki. Jadi untuk saat ini, keputusan mengirim Alex sebagai pengganti merupakan pilihan terbaik, terlebih Alex lebih dari berkualifikasi untuk menggantikan ketiga orang tersebut.
Lagipula, dua penyihir yang dikirim oleh Departemen Sihir memiliki kemampuan yang sangat mumpuni. Output sihir mereka besar dan kapasitas Mana mereka pun tidak main-main, penyihir tingkat tiga memang bukan gelar yang bisa asal dicapai. Mereka bisa sedikit menggantikan peran Alex sebagai penyerang jarak jauh yang kuat.
Meski begitu, tetap saja mereka menghadapi kesulitan karena iblis-iblis dengan jenis baru terus saja bermunculan, korban jiwa pun selalu berjatuhan di setiap pertempuran.
Seperti dalam pertempuran kali ini, mereka bertiga kembali kehilangan beberapa rekan mereka, meski mereka sudah mulai membiasakan diri dengan kata kematian, tapi rasa kehilangan tetap saja menyelimuti hati mereka setiap kali mereka melihat tubuh rekan-rekan mereka yang sudah tak lagi bernyawa.
Setiap kali personil baru datang dari Akademi, mereka seketika membayangkan skenario terburuk yang akan di alami oleh wajah-wajah baru itu. Wajah-wajah yang terlihat antusias itu pada akhirnya akan berubah menjadi wajah tertekan atau wajah dari tubuh yang tak lagi bergerak.
'Jangan terlalu akrab' adalah kata-kata yang sering diucapkan para prajurit yang lebih senior kepada para pendatang baru, kata-kata yang sulit dimengerti bagi para pemula di medan perang, mereka baru akan mengerti setelah melihat sahabat atau bahkan kekasih mereka meregang nyawa di medan perang.
"Bagaimana kondisi Tania?" Desmond bertanya pada Alicia.
Tania semenjak kematian Brian telah dikenal sebagai gadis haus darah, dia bertarung secara ganas dan brutal tak peduli dengan luka yang diterimanya. Gadis periang dan polos yang mereka kenal itu sudah berubah sepenuhnya sejak kematian Brian, itu tidak mengherankan, mereka pun mungkin sudah terlihat seperti orang yang berbeda saat ini.
Desmond sempat berpapasan dengan Tania beberapa saat lalu, dia hanya menatap Desmond sekilas dan berlalu begitu saja tanpa sepatah kata, itulah yang membuat Desmond menanyakan kondisinya pada Alicia.
"Alex pasti baik-baik saja kan?" Alicia bertanya pada Desmond.
Desmond tertawa kecil. "Orang itu sangat kuat, sedikit sekali hal yang bisa mencelakakan dia."
"Menurutmu ... Apa aku dan Raymond bisa bertemu lagi suatu saat nanti?"
Entah kenapa, Desmond merasa kalau Alicia agak aneh, Desmond memang tidak bisa melihat ekspresinya karena Alicia berdiri membelakanginya, tapi dia merasa ada yang berubah dari Alicia saat ini.
"Kira-kira Brian dan Adrian sedang membicarakan apa ya?"
Desmond sedikit terkejut, dia tidak menyangka Alicia membahas topik seperti itu, entah apa yang ada di pikiran Alicia saat ini. Meski begitu, dia tetap berusaha menjawab pertanyaan itu.
"Aku ... Aku tidak tahu, mungkin mereka sedang mengawasi kita. Siapa yang tahu apa yang sedang dilakukan oleh orang yang mati. Selain itu ... Apa kau baik-baik saja, Alice?" Alice adalah panggilan Alicia.
__ADS_1
Alicia berbalik menatap Desmond, memperlihatkan matanya yang berkaca-kaca dan bibirnya bergetar menahan tangis, hati Desmond terhenyak melihat sisi Alicia yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Kita ... Kita tidak akan kehilangan Alex kan? Anford juga akan tetap bersama kita sampai akhir kan? Aku dan Raymond bisa kembali ke rumah bersama-sama kan? Kau ... Kau juga tidak akan kenapa-napa kan?"
Alicia yang kuat itu pada dasarnya hanyalah seorang gadis bangsawan yang tidak siap mengalami semua situasi ini, dia memang terlihat tangguh di medan perang, kekuatannya? Jangan ditanya.
Tapi dia hanyalah wanita dengan hati rapuh, mungkin dia bisa menahan semua kesedihan dan tekanan yang dia alami sampai batas tertentu karena seorang bangsawan memang diharuskan menyembunyikan perasaan mereka.
Hanya saja, akan ada suatu saat dimana Alicia akan merenungkan semua yang telah dia alami selama ini, hal itu tidak diragukan lagi akan membuat hatinya terguncang, terlebih tanpa Raymond yang merupakan saudara kandungnya sebagai tempat bersandar.
Desmond terdiam menatap Alicia yang menangis terisak-isak, sosok Alicia yang tergambar di benaknya selama ini adalah gadis yang anggun, tangguh dan kuat. Tapi yang ada di hadapannya saat ini adalah seorang gadis yang sedang ketakutan menghadapi masa depan yang tidak dia ketahui.
"Aku ... Aku tidak ingin membayangkannya ... Tapi aku ... Tetap tidak bisa ... Semua itu ... Terlintas di benakku begitu saja ...."
Tanpa bisa mengatakan apapun, Desmond hanya menatap iba gadis di hadapannya. Sejujurnya, dia juga selalu memikirkan hal itu, masa depan dimana dia akan kehilangan rekan-rekannya atau bahkan nyawanya sendiri.
"Hei ... Desmond ... Kita ... Kita semua tidak akan mati kan? Kita akan melalui semua ini kan? Semuanya ... Semuanya akan kembali seperti semula kan?"
Alicia benar-benar hancur saat ini, dia sedang mengalami tekanan traumatis akibat stress yang terakumulasi sejak lama. Dia sedang kebingungan, takut, sedih, putus asa.
Tak kuasa melihat tangisan gadis di hadapannya, mata Desmond mulai berair, dia meraih tangan Alicia dan menggenggamnya erat.
"Semua akan baik-baik saja, bahkan kalau sesuatu yang buruk terjadi, aku yakin kita semua mampu melewatinya."
Isakan Alicia terhenti, untuk beberapa saat, Alicia dan Desmond saling menatap.
-CLAK-
Bunyi benturan logam terdengar, itu karena Alicia yang tiba-tiba mendekap tubuh Desmond membuat zirah mereka berbenturan. Dia kembali menangis dalam dekapan Desmond.
Desmond terkesiap, selain karena dekapan Alicia yang sangat kuat, dia tidak menyangka gadis bangsawan ini tiba-tiba mendekapnya begitu saja. Tapi dia segera terbawa suasana, dia membalas dekapan gadis itu dan mulai membelai kepalanya dengan lembut, membisikkan kata-kata lembut untuk menenangkannya.
Alicia mendekap Desmond erat-erat, tanpa menyadari kalau Desmond kesulitan bernapas karenanya.
Tapi biarlah, gadis itu telah menemukan tempat untuk melepaskan semua tekanan yang dia alami, perasaan takut yang merundung hatinya perlahan menguap bersamaan dengan air matanya yang terus tumpah.
Anford yang kembali sehabis mendoakan rekan-rekannya yang gugur beberapa saat lalu urung mendekat setelah melihat adegan itu. Dari kejauhan, dia hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.
"Desmond sialan ... Sebaiknya kau punya alasan yang bagus untuk dikatakan ke Raymond."
...****************...
__ADS_1
Ilustrasi karakter Mara Akhundzada