Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 36: Utusan


__ADS_3

Pagi hari di kota Pyotr, pos pertahanan tenggara, beberapa hari setelah gelombang serangan mayat hidup pertama berlalu. Pertama?


Ya, mayat mayat hidup itu kembali menyerbu kota tiga hari setelahnya, tapi karena prajurit pertahanan sudah memahami pola pergerakan dan serangan mereka. Dengan usaha lebih sedikit dari gelombang serangan pertama, mereka berhasil menyapu habis mayat mayat hidup itu.


Mereka menggali parit di depan garis pertahanan, parit itu memiliki kedalaman sekitar dua kali tinggi orang dewasa dengan lebar sekitar dua kali lompatan kuda, menggali parit bukan masalah besar berkat kerjasama Alicia dan Desmond.


Saat mayat mayat hidup itu datang, mereka dengan mudah membantai mayat-mayat hidup yang terperosok ke dalam parit. Hebatnya, mereka bisa menghindari korban jiwa saat itu, bahkan tanpa bantuan Alex sama sekali


Ngomong-ngomong soal Alex, dia siuman dua hari setelah gelombang pertama, hal yang pertama kali dilakukan oleh para prajurit dan warga adalah mengangkat ranjangnya keluar dan mengadakan pesta di balai kota. Meski tidak bisa dianggap pesta mewah karena mereka sedang menghemat logistik, tapi pesta tetap terasa meriah.


Di sisi lain, Tania yang kehilangan Brian juga menjadi salah satu kontributor besar dalam perang itu, dia seorang diri berdiri di gerbang benteng, menghalau kawanan mayat hidup yang menerobos barisan Alex dan kawan-kawannya saat para prajurit lain mundur ke balik benteng.


Seolah melampiaskan amarah dan rasa sedihnya, dia membabat mayat mayat hidup itu dengan ganas dan brutal sambil berteriak ke edanan, sampai-sampai para prajurit menyangka kalau dia adalah prajurit yang berubah jadi mayat hidup.


Prestasinya itu juga mendapat apresiasi dari perwira militer dan wali kota, perwira tampak sangat senang dengan kontribusi Tania, dia sampai memberi Tania salah satu medali pribadinya yang dia dapatkan saat masih muda. "Kau simpanlah ini sampai mendapat yang lebih layak dari pihak Aliansi." Begitulah yang dia katakan saat itu.


Entah kenapa perwira memberinya perlakuan seperti itu, mungkin karena rasa empatinya terhadap prajurit yang tengah berduka. Meski demikian, Tania menerima medali itu dengan wajah datar, bahkan terkesan suram.


Lalu hari ini, Desmond yang tengah patroli siang dikejutkan dengan Theodore yang tiba-tiba muncul, tubuhnya basah oleh keringat dan seragamnya yang tampak berbeda dipenuhi debu.


"Putra Mahkota? Kenapa Anda bisa di sini?" Desmond bertanya kebingungan.


"Ah, sekarang aku jadi babu Aliansi, jangan terlalu formal di medan perang." Theodore menjawab singkat.


"Lagipula aku di sini beberapa saat setelah kalian menghadapi gelombang mayat hidup itu. Yah, aku hanya bertemu dengan perwira sih, jadi wajar kau tidak tahu." Sambungnya.


Desmond tambah bingung, "Sebentar ... Berarti Anda kemari empat hari lalu, kenapa sudah berada di sini?"


Theodore tertawa kecil, "Hei, memang kau pikir apa kekuatanku?"


Desmond nampak berpikir sejenak, kemudian mulutnya menganga lebar. "Jangan bilang ... Anda berlari dari Leidengard ke Anderas."

__ADS_1


Theodore tertawa lagi, "Leidengard kurang tepat sih, karena sekarang aku babu Aliansi, jadi aku berlari dari Petra."


Desmond kehilangan kata-kata. "Oh iya, aku juga sudah berpatroli ke barat dan utara sebelum kesini." Dia beberapa kali menyebut dirinya babu Aliansi, tapi anehnya dia terlihat senang-senang saja.


"Ngomong-ngomong, Donovan. Apa kau bisa membawaku ke kantor perwira? Kalau bisa panggil Collin dan Nostrada juga."


Awalnya Desmond merasa agak aneh dengan kebiasaan Theodore yang memanggil seseorang dengan nama belakang mereka, tapi sekarang dia sudah mulai terbiasa dengan hal itu, mungkin itu disebabkan karena budaya Vasilius yang bangsawannya cenderung menyebut satu sama lain dengan jabatan atau nama keluarga.


"Alex seharusnya akan keluar dari barak sebentar lagi, karena dia biasanya berlatih di sore hari bersama Thomas dan Brenda." Jelas Desmond.


Theodore mengangguk, "Baiklah, aku rasa aku akan menunggu di sini saja. Kau mau ikut ke kantor perwira?"


Desmond menggeleng, tapi dia terlihat penasaran, memang ada apa sampai Alex dan Anford di ajak bertemu dengan perwira?


"Memang ada apa?" Tanya Desmond.


Theodore terdiam sejenak mendengar pertanyaan Desmond, "Tidak perlu dipikirkan," ucap Theodore setelah terdiam beberapa saat. "Tapi kurasa ada baiknya kalau kau juga ikut," lanjutnya.


Memang ada apa sih? Desmond masih belum mengerti maksud perkataan Theodore, hal itu makin membuatnya penasaran.


Theodore menoleh ke asal suara, orang itu adalah Alex yang baru saja keluar dari barak dengan membawa senjata latihan, wajahnya dipenuhi kebingungan melihat Putra Mahkota yang seharusnya ada di Leidengard tiba-tiba muncul di sini.


"Bisakah kau ikut denganku sebentar? Panggil Nostrada juga kalau dia sedang tidak sibuk." Mendadak diberi 'perintah' oleh seorang Putra Mahkota, Alex mengangguk begitu saja meski kepalanya masih dipenuhi pertanyaan, tapi dia segera masuk ke barak untuk memanggil Anford seperti yang diminta oleh Theodore.


Tidak lama kemudian, Alex kembali bersama dengan Anford yang sangat terkejut dengan kehadiran Putra Mahkota, dia langsung memberi salam hormat dengan gugup. Karena Anford adalah satu-satunya bangsawan di sini selain Theodore, jadi dia mengerti bagaimana memberi salam kepada keluarga kerajaan.


Theodore mengibaskan tangannya melihat sikap Anford. "Santai saja, Nostrada. Kita tidak perlu formalitas di tempat seperti ini," Anford sedikit tersentak ketika Theodore tiba-tiba mengulurkan tangannya, "Lagipula, kau kan bangsawan negara lain, buat apa memberi salam kepada Pangeran yang bukan dari negara mu?"


Setelah beberapa saat menimbang perkataan Theodore, Anford akhirnya membalas uluran tangan Theodore, tidak sopan juga membuat seorang Putra Mahkota menunggu terlalu lama. "Maafkan kelancangan saya." Perkataan Anford membuat Theodore tertawa, "Kau sangat berbeda dengan seseorang di selatan."


Anford mengira Putra Mahkota sedang berbicara tentang Adrian, karena dia juga seorang pangeran dari negara besar, mungkin dia bersikap terlalu santai kepada Putra Mahkota.

__ADS_1


"Donovan." Theodore memberi isyarat kepada Desmond untuk menunjukkan jalan, membuat Desmond tidak punya pilihan lain dan akhirnya mulai memimpin jalan menuju kantor perwira yang berada di balai kota.


Sepanjang perjalanan, Alex dan yang lain hanya terdiam, mereka masih kebingungan dengan kehadiran Theodore di Pyotr.


Sesampainya di kantor, para penjaga yang mengenal Alex dan teman-temannya dengan baik langsung saja mempersilakan mereka masuk ke ruang kerja perwira meski ada Theodore yang tidak mereka kenali. Tapi melihat orang itu di dampingi oleh orang sekaliber Alex, Anford dan Desmond. Mereka yakin dia bukan orang sembarangan.


"Perwira Ferguson." Theodore menyapa perwira yang sedang sibuk membaca laporan di meja kerjanya, dia seketika berdiri dan memberi salam ketika melihat Theodore masuk.


Ferguson langsung mempersilakan Theodore duduk di sofa yang di sediakan. "Kalian mau berdiri saja?" Theodore menatap Alex dan yang lain yang hanya berdiri di sisi sofa yang dia duduki.


"Kami tidak mungkin berani." Anford menjawab, cuma dia yang tahu cara merespon tawaran Theodore, tadinya Desmond dan Alex hampir saja ikut duduk.


Theodore mengangkat bahu, lalu beralih ke Ferguson yang juga masih berdiri beberapa meter di depan sofa Theodore.


"Kita bertemu lagi, Perwira. Kau terlihat sehat."


Ferguson tertawa sopan mendengar ucapan Theodore, "Tentu saja Yang Mulia, baru empat hari sejak Anda datang, saya selalu berusaha untuk menjaga kesehatan."


Meski dia sudah berusia sekitar enam puluhan, Ferguson masih terlihat kuat dan energik. Ketika dia mengenakan seragam militer, dia memancarkan aura veteran yang tidak sanggup disangkal oleh siapapun.


Itu mengingatkannya pada Grand Duke Andreas Notaras Chevallaire, saat dia masih kecil, Grand Duke yang merupakan kakak dari Grand Duke Theseus itu masih terlihat sangat kuat dan berwibawa meski usianya sudah menginjak enam puluhan saat itu. Grand Duke Andreas gugur di medan perang saat terjadi konflik antara Kerajaan Vasilius dan Kerajaan Aquilonia yang sekarang menjadi lokasi pos pertahanan utara.


"Sebenarnya," intonasi suara Theodore menjadi agak serius, semua orang langsung memasang telinga baik-baik. "Aku membawa kabar baik dan kabar buruk."


Theodore terdiam setelah mengatakan hal itu, meski ekspresinya terlihat datar, tapi semua orang merasakan kalau emosinya sedang campur aduk.


Alex merasa ada yang tidak beres, firasatnya mengatakan kalau kabar yang dibawa Theodore adalah kabar yang sangat buruk. Lebih buruk dari yang dia bayangkan.


"Kurasa ...." Theodore akhirnya melanjutkan perkataannya, "Aku akan menyampaikan kabar baik terlebih dahulu."


...****************...

__ADS_1



Ilustrasi karakter Alex Collin


__ADS_2