Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 49: Eksperimen


__ADS_3

Alex dan rekan-rekannya yang tersisa akhirnya dibawa oleh satuan evakuasi menuju pos pertahanan dan mendapat perawatan lebih lanjut di sana.


Meski kondisi Wilman, Saul dan Tristan cukup mengenaskan, untungnya tidak ada dari mereka yang mengalami luka fatal, mereka hanya harus istirahat lebih lama karena kehilangan banyak darah akibat luka mereka.


Tidak ada kendala sama sekali selama satuan evakuasi melaksanakan tugas mereka, tidak ada tanda-tanda kemunculan iblis dan mereka pun tidak mengalami kesulitan lain, semua berjalan lancar.


Satuan lain kembali diberangkatkan untuk mengambil jasad korban jiwa, ada sekitar dua puluh korban dalam serangan itu. Satuan yang mengamankan jasad mereka keheranan ketika kebanyakan jasad prajurit tidak membawa botol alkohol mereka.


Keesokan harinya, Alex sudah pulih sepenuhnya, meski banyak bagian tubuhnya yang dibalut perban akibat tembakan jarum yang meninggalkan luka gores di tubuhnya.


"Pagi hari memang menyenangkan." Sapa suara seorang wanita, Alex menoleh ke belakang, sumber suara itu.


"Julie." Dia adalah salah satu dari dua pengemban kekuatan cahaya yang tersisa dari tim yang sebelumnya dikirim ke barat.


Gadis itu terlihat sedang membelai seekor macan kumbang berukuran besar. "Jalan pagi?" Tanya Alex.


"Begitulah."


Kekuatan yang didapatkan gadis ini adalah menjinakkan hewan, dia bisa menjinakkan hewan apapun selama dia melakukan pendekatan yang sesuai. Untuk si macan kumbang kesayangannya, Alex dengar kalau Julie memberikan rusa hasil buruannya kepada hewan ini.


Ada beberapa hewan lain yang dia jinakkan, meski kebanyakan dari mereka dilepas begitu saja di hutan sekitar pos pertahanan. Karena kemampuannya, hewan yang dia jinakkan tidak bisa mencelakai manusia lain, itu adalah semacam ikatan kontrak, begitu yang Julie katakan. Entahlah, Alex juga tidak begitu mengerti.


Sebenarnya, Alex ingin sekali bisa memanggil peri-perinya dan menggunakan mereka untuk membantunya dalam peperangan, tapi sayangnya memanggil peri kecil saja memakan cukup banyak energi.


Jika dia terlalu memaksakan memanggil peri kelas tinggi seperti saat dia memanggil Phoenix dalam perang pertama di tenggara, dia akan mendapatkan konsekuensi yang berat, Phoenix bahkan memperingatkannya dengan keras saat itu. Tapi tidak ada pilihan lain yang terlintas di benak Alex saat itu.


Phoenix bilang kalau Alex beruntung tidak ikut terbakar saat itu, menggunakan kekuatan peri kelas tinggi memberikan dampak recoil seperti halnya kekuatan milik Alvaro.


Andai saja dia bisa mengerahkan seluruh perinya, mungkin dia bisa mengatasi serangan iblis seorang diri, mengingat jumlah peri di alam peri sangat banyak. Kekuatan Julie pasti bakal jadi bahan lawakan kalau dibanding dengan kekuatannya.


Alex tertawa dalam hati, malang sekali Julie. Julie? Alex terdiam, sebuah ide terlintas di benaknya.


"Fenrir, apa memungkinkan bagi Julie untuk menjadikan peri sebagai familiarnya?"


"Kami tidak memiliki jawaban pasti, memang ada orang yang bisa membuat kontrak dengan peri dan menjadikannya sebagai familiar, tapi apa kekuatan wanita ini bisa bekerja pada peri, saya tidak tahu."


Kalau Julie memang bisa membuat kontrak dengan peri, sudah pasti kekuatan tempur mereka meningkat pesat, daripada cuma hewan buas yang cuma bisa menggigit dan mencakar, peri jelas lebih baik kan?


"Sepertinya layak dicoba, bukan begitu?"


"Saya pikir demikian."


"Hei, Julie."


"Hm?" Julie yang sedang mengelus-elus perut macan kumbang itu menoleh, semua prajurit menatap adegan itu dengan ngeri, masih belum terbiasa melihat yang seperti itu.

__ADS_1


"Apa kau mau melakukan eksperimen denganku?"


"Eksperimen?"


"Sebaiknya kita pindah tempat, akan ku jelaskan sambil jalan."


...****************...


Mereka berdua pindah ke hutan yang berada dekat dengan pos pertahanan, sekaligus tempat tinggal hewan-hewan Julie yang lain. Seperti singa, harimau, beruang wajah bulat, beruang grizzly, berbagai jenis ular sampai kawanan burung.


Entah kenapa Julie memilih tempat ini, mungkin dia takut Alex merencanakan sesuatu yang buruk kepadanya. Memang tidak jarang prajurit pria menjebak prajurit wanita dan melakukan hal tak senonoh dengan paksaan.


"Jadi? Apa eksperimen yang kau maksud itu?" Julie bertanya sambil membelai beruang wajah bulat yang tingginya saja sekitar tiga kali lipat orang dewasa, Julie yang berdiri membelakangi Alex sambil membelai makhluk raksasa dan dikelilingi banyak hewan buas lain itu benar-benar pemandangan yang mengesankan.


Sebenarnya Julie berniat sedikit pamer sambil berusaha membuat Alex terintimidasi. Tapi Alex yang memiliki peri-peri seperti Fenrir, Phoenix dan Bane tentu saja tidak merasakan apapun melihat itu, dia hanya merasa iri karena tidak bisa meniru apa yang dilakukan Julie saat ini.


"Aku mau kau menjinakkan sesuatu, aku kurang yakin apakah ini akan berhasil, tapi kurasa layak dicoba."


Wajah Julie terlihat kebingungan. "Menjinakkan sesuatu? Apa kau tahu habitat hewan buas yang belum aku jinakkan?"


"Yah, bukan hewan juga sih, daripada menjelaskannya panjang lebar," Alex memanggil salah satu peri tingkat menengah, "lebih baik aku tunjukkan saja."


Julie tercengang melihat sosok makhluk yang belum pernah dia lihat sebelumnya, kehadiran makhluk itu seketika mengintimidasi semua hewan Julie dan membuat mereka menciut.


Makhluk itu memiliki bentuk dan postur tubuh mirip gorilla, hanya saja seluruh tubuhnya terbuat dari kayu, akar dan dedaunan. Itu jelas bukan hewan biasa, atau mungkin dia memang bukan hewan sama sekali.


"Sebut saja peri, aku juga tidak terlalu bisa menjelaskannya." Jawab Alex.


"Jadi ini kemampuanmu yang sebenarnya? Eksperimen apa yang kau maksud? Apa kau ingin menunjukkan siapa yang lebih kuat diantara kita?"


Julie adalah rekannya di Akademi, jadi tentu saja dia tahu dengan baik kekuatan macam apa yang dimiliki Alex, mulai dari cerita-cerita murid lain atau yang dia lihat sendiri, tidak sekalipun dia mengetahui kalau Alex memiliki kemampuan lain.


Alex mengangkat bahu. "Bisa dibilang bukan, karena menggunakan kekuatan ini sedikit berisiko untukku. Soal menunjukkan siapa yang lebih kuat ... Kurasa aku tidak perlu menunjukkan sesuatu yang sudah jelas bukan?"


Wajah Julie terlihat jengkel, memang Alex lebih kuat darinya, tapi mendengar hal itu langsung dari orangnya membuatnya kesal.


"Apa maumu?" Julie langsung ke intinya.


"Jinakkan makhluk ini."


"Kalau aku bisa?"


"Ya berarti kau bisa."


"Kalau tidak?"

__ADS_1


"Ya berarti tidak."


"...."


"Mari buat kesepakatan, kalau aku bisa menjinakkannya, makhluk itu akan menjadi milikku." Julie mencoba membuat kesepakatan.


"Dia secara teknis sudah jinak sih, ikatannya dengan ku juga tidak bisa diputus. Kalau memang bisa melakukan kontrak dengannya, aku akan meminjamkannya padamu." Alex sendiri sebenarnya tidak memahami apa yang dia katakan, dia asal bicara saja, tapi rasanya perkataannya barusan terdengar absurd kalau dipikir lagi.


Julie terdiam sejenak, kemudian mengangkat bahu. "Baiklah, tidak ada ruginya juga." Dia berjalan mendekati makhluk itu, mereka kemudian saling tatap seperti sedang berkomunikasi lewat tatapan.


Julie perlahan mengangkat tangannya dan menyentuh tubuh makhluk itu, sebuah cahaya muncul dari sentuhan itu saat dia mulai memejamkan mata.


Beberapa saat kemudian, Alex merasa ikatan antara dia dan makhluk itu melemah, energinya yang tadi terus terkuras dalam jumlah cukup banyak perlahan berkurang hingga akhirnya berhenti terkuras sepenuhnya.


"Kelihatannya berhasil ya, Fenrir?"


"Benar tuan."


"Kurasa berhasil ya?" Alex bertanya kepada Julie yang mulai membelai makhluk itu.


Julie mengangguk. "Tapi memberinya nama menguras lebih banyak energi dari yang kukira."


"Kau memberinya nama?"


"Iya, aku memberi mereka nama setiap kali mengikat kontrak." Jelas Julie.


Tidak heran sih, memanggilnya saja sudah cukup menguras energi Alex, kalau gadis ini bisa mengikat kontrak tanpa menguras energi, mungkin dia akan memanggil salah satu bawahan Bane sekarang juga.


"Apa namanya?"


"... Arno."


Wajah Alex tampak kebingungan. "Ada alasan khusus? Kok aku jadi teringat Arno yang bertugas di utara."


Julie mengangguk. "Memang dia."


"Kenapa kok Arno?" Tanya Alex.


"... Entah kenapa, dia mengingatkanku pada Arno."


"...."


...****************...


__ADS_1


Ilustrasi karakter Julie Blanc Levesque


__ADS_2