Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 20: Perpustakaan


__ADS_3

Naga adalah makhluk mitologi yang cukup terkenal, terutama dalam budaya benua barat dan timur. Meski penggambaran naga pada budaya kedua benua tersebut sedikit berbeda, namun naga sama-sama dianggap sebagai makhluk terkuat yang memiliki pengetahuan luas tentang berbagai seni pertarungan dan sihir.


Makhluk super yang menjadi legenda tersebut sekarang sedang berlutut di hadapan Alex dengan wajah lebam.


Sesaat setelah Bane memperkenalkan dirinya kepada Alex, Pegasus menyepak wajah Bane dengan kakinya. Bayangkan wajah kalian disepak oleh kuda arab, kira-kira begitulah rasanya.


Phoenix segera mengomelinya dan menyuruhnya berlutut minta ampun kepada Alex yang matanya merah berair karena debu masuk ke matanya. Dunia bawah sadar ini terlalu realistis.


Setelah emosi Phoenix dan yang lainnya mereda, Alex menjelaskan alasan mengapa dia memanggil Bane. Dia nyengir lebar setelah mendengar penjelasan Alex, "Anda bertanya kepada peri yang tepat!"


Bane pun menyanggupi untuk mengajarkan Alex seni bertarung naga dan metode penggunaan energi naga. Setelah itu, Bane mengaktifkan mata naganya, dia mengamati tubuh Alex dengan matanya yang merah menyala.


"Maaf sebelumnya, tapi aku bisa melihat kalau tuan memang tidak punya afinitas terhadap aura dan sihir, jadi hampir mustahil bagi Anda untuk mempelajari dua energi itu." Perkataan Bane membuat peri-peri yang ada disitu terkejut, tentu saja yang paling terkejut disini adalah Alex. Perasaannya campur aduk antara kecewa dan sedih.


Sejenak kemudian, Bane tertawa. "Tapi saya tidak pantas membanggakan diri sebagai bagian dari ras naga kalau tidak bisa menemukan solusinya."


"Jadi, kau punya solusi supaya aku bisa mempelajari aura?" Alex melontarkan pertanyaan dengan antusias. Tapi Bane menggeleng, hal ini membuat Alex bingung.


"Aku memang punya solusi, tapi bukan berarti kalau aku bisa membuat Anda jadi bisa menggunakan aura."


Phoenix terlihat mulai agak gemas dengan Bane, "Jadi ada solusinya atau tidak?" Kobaran api Phoenix membuat Bane terkesiap, dia buru-buru mengangguk. "Ada, jadi solusinya adalah, Anda menggunakan energi naga."


"Energi naga? Bukankah itu hanya bisa digunakan oleh para naga?" Peri berwujud wanita dengan cahaya kehijauan menyelimuti tubuhnya bertanya kebingungan, "Sama halnya dengan elemen api, manusia di dunia ini tidak bisa menggunakan kekuatan api. Tapi dengan bantuanku, tuan bisa menggunakan kekuatan api itu," jawab Phoenix, "Hal itu juga berlaku pada Fenrir," sambungnya, sosok serigala besar yang rupanya bernama Fenrir mengangguk setuju.


"Jadi kesimpulannya, tuan bisa menggunakan energi naga milikku karena aku adalah bagian dari peri kontrak." Bane memberikan kesimpulan terakhir.


"Lalu? Bagaimana kau akan menanamkan kekuatan itu kedalam diri tuan?" Fenrir si serigala melontarkan pertanyaan, "Mudah saja, aku akan memberikan ekstrak energi naga kepada tuan secara rutin. Lalu setelah inti energi naga sudah terbentuk di dalam tubuhnya, aku akan mulai mengajarkan cara menggunakan kekuatan itu," jelas Bane.


"Tapi, apa itu ekstrak energi naga?" Tanya Alex, "Mohon tunggu sebentar." Bane kemudian memejamkan matanya, aura berwarna oranye mulai memancar dari tubuhnya. Meski tidak dimaksudkan untuk menyerang, tapi Alex bisa merasakan tekanan luar biasa dahsyat dari aura Bane.


Beberapa saat kemudian, Bane membuka matanya, lalu dia menunjukkan sesuatu di dalam genggaman tangannya. "Ini adalah ekstrak energi naga."


Entah bagaimana menjelaskan sesuatu yang ada di telapak tangan Bane, sesuatu itu berbentuk seperti uap dengan kepadatan tinggi, berwarna oranye dan memancarkan cahaya redup berwarna oranye.


"Jadi itu energi naga," lirih Alex.


Bane mendekatkan tangannya ke dada Alex, tidak lama kemudian, energi naga itu seperti terserap kedalam tubuh Alex.


"Apakah tuan merasakan perubahan?" Alex menggeleng, "Setidaknya untuk saat ini aku tidak merasakan apapun."

__ADS_1


Bane mengangguk, "Itu hal yang wajar, mungkin proses ini akan memakan waktu yang lama, tapi inilah cara teraman yang saya ketahui."


Dengan begini masalah aura sudah teratasi, Alex berterimakasih pada semua peri yang ada di sana, terutama Bane. Bane yang tiba-tiba kelihatan mengantuk hanya tersenyum dan mengacungkan jempolnya.


Setelah itu, Alex pun keluar dari alam bawah sadarnya.


...****************...


Dia terbangun di klinik, dilihat dari cahaya matahari yang masuk lewat jendela klinik, waktu belum berlalu begitu lama.


Alex bangkit dari kasur pasien, kemudian dia memejamkan mata dan mencoba fokus untuk merasakan energi di dalam tubuhnya. Sepertinya sia-sia, dia tidak bisa merasakan perubahan apapun, setidaknya belum.


Mungkin akan makan waktu yang lebih lama dari yang dia kira untuk mendapatkan energi naga seperti yang dikatakan Bane.


Karena tubuhnya sudah pulih, Alex akhirnya memutuskan untuk keluar dari klinik. Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada perawat di sana, dia berjalan menyusuri koridor Akademi.


Agak sungkan kalau kembali ke kelas, lagipula materi pelajaran kali ini berkaitan dengan teori sihir yang tidak begitu dia kuasai.


Akhirnya Alex memutuskan untuk menghabiskan waktu di perpustakaan Akademi, dia dengar dari murid lain kalau ada banyak buku menarik di perpustakaan itu.


Sesampainya di perpustakaan, petugas perpustakaan menegurnya, "Bukankah kelas masih belum berakhir?" tanya si petugas menyelidik, "Ah, sebenarnya aku baru saja keluar dari klinik, kalau ikut kelas rasanya agak sungkan, jadi aku memutuskan untuk menghabiskan waktu disini," Jelas Alex.


Alex agak kesal karena orang ini tidak percaya, tapi berhubung sudah diizinkan, jadi dia masuk saja ke perpustakaan.


Ada banyak sekali rak-rak buku yang berjejeran, bahkan dinding perpustakaan ini pun tertutup oleh rak buku. Alex yang kebingungan memilih buku karena terlalu banyak pilihan akhirnya mengambil satu buku random, dia kemudian membawa buku itu ke area membaca.


Setelah duduk di salah satu sofa di area baca, Alex membuka halaman pertama buku tersebut dan mulai membacanya.


Tapi dia tiba-tiba dikejutkan oleh satu suara.


"Wah, kau membolos ya."


Alex terperanjat dan segera menoleh ke sumber suara. Di sana, duduk seorang siswa akademi dengan rambut hitam dan mata kelabu.


"Kau mengagetkanku, Ferdinand." Tadi hampir saja Alex refleks menimpuk orang itu dengan buku, tapi urung karena ternyata dia adalah Ferdinand.


"Yah, maaf deh, lagipula masa kau nggak lihat aku duduk di sini?"


Alex menggeleng sebagai jawaban, "Kau sepertinya sedang banyak pikiran ya, apa karena habis kalah dari kakakku?" Tanya Ferdinand lagi.

__ADS_1


"Kau sudah dengar ya." Ferdinand tertawa kecil, "Berita seperti itu cepat sekali menyebarnya, apalagi ini pertarungan antara siswa lencana emas melawan lencana perak."


"Tapi kalau ku lihat, sepertinya kau punya potensi untuk melampaui kakakku dalam pertarungan menggunakan senjata."


"Bagaimana kau bisa tahu?"


Ferdinand terdiam sejenak, "Dia itu punya fisik yang lemah, mungkin posturnya terlihat biasa saja, tapi sebenarnya dia itu agak ringkih. Makanya dia lebih berfokus mempelajari sihir."


Yang begitu itu lemah? Batin Alex, standard keluarga Ferdinand sepertinya agak melenceng.


"Tapi kalau dalam sihir, dia itu tidak tertandingi. Kalau kau ditantang untuk adu sihir, sebaiknya mundur saja. Bahkan aku akan berfikir dua kali sebelum menerima tantangannya."


Alex bergidik ngeri, sihir Ferdinand saja sudah sekuat itu, bagaimana dengan kakaknya?


Tiba-tiba Alex kepikiran sesuatu.


"Oh iya, kudengar kau ini putra ke tiga ya? Lalu si Alfonso itu putra ke dua, siapa yang pertama?"


Raut wajah Ferdinand sedikit berubah mendengar pertanyaan Alex, hal ini membuat Alex merasa telah menanyakan sesuatu yang salah.


"Entahlah, coba tebak."


Alex tidak pernah terbiasa dengan senyum Ferdinand itu, firasatnya selalu mengatakan kalau senyuman itu berbahaya, bahkan para peri kelas bawah pun merasa gelisah saat berada di dekat Ferdinand dan Alfonso. Entah ada apa dengan keluarga mereka.


"Ah, kau sudah dengar duel antara Alicia Brigantine melawan Pangeran Theodore?" Ferdinand tiba-tiba merubah topik.


Alex menggeleng.


"Seru sekali tahu, pertarungan antara kekuatan melawan kecepatan."


"Maksudnya?" Alex bertanya kebingungan.


"Jadi kekuatannya si Alicia ini membuat kekuatan fisiknya berkali-kali lipat manusia normal. Kan kalau Theodore itu bisa bergerak dengan kecepatan tidak masuk akal, nah kalau si Alicia ini punya kekuatan yang tidak masuk akal."


Penjelasan Ferdinand agak ambigu, tapi Alex bisa mengerti intinya.


"Lalu siapa yang menang?"


"Seri," Ferdinand menggeleng, "Alicia tidak bisa mendaratkan satu serangan pun ke Theodore. Sementara itu serangan Theodore tidak ada yang mempan ke Alicia. Kau tahu? Arenanya sampai hancur gara-gara Alicia, literally hancur."

__ADS_1


Alex menelan ludah, dia merasa kalau keputusannya menerima tantangan Alicia adalah sebuah kesalahan. Bagaimana ini? Apa aku batalkan saja pertarungan melawan Alicia?


__ADS_2