
Cahaya mentari membentuk garis keemasan melintang di ufuk, pertanda pagi telah datang, tapi ini bukan pagi hari seperti yang kebanyakan orang alami. Pagi ini adalah pagi dimana Darius dan rekan-rekannya akan kembali bertempur habis-habisan melawan gerombolan iblis.
Darius bangkit dari istirahatnya, dia segera menggenggam kembali pedangnya. Victor memadamkan cerutunya yang sudah tinggal puntungnya dan memasukkannya ke dalam kantong, lalu dia menghirup udara pagi dalam-dalam.
Jacob yang semalaman berbaring di tanah menatap bintang di langit sepanjang malam tanpa tidur mulai bangun dan meregangkan tubuhnya, dia mengambil sepotong kecil roti kering yang tersisa dan memakannya.
Yang paling mengejutkan adalah Sophia, dia perlahan-lahan bangkit dari tidurnya, tuniknya yang berubah warna menjadi gelap karena darah dan zirahnya yang compang camping memberikan kesan horor sekaligus mengesankan kepada rekan-rekannya yang lain.
Wajahnya benar-benar terlihat seperti orang yang bangun pagi di hari biasa, terlepas dari wajah yang kotor karena noda debu dan darah, dia terlihat baik-baik saja seolah dia tidak pernah mengalami tekanan perang.
"Ugh ... Tubuhku terasa seperti benar-benar remuk." Sophia menyentuh luka-luka di tubuhnya yang sudah mengering sambil meringis kesakitan, seperti baru sadar kalau dia terluka.
Victor yang melihat itu menyeringai takjub. "Selamat pagi, putri kematian. Kupikir kau tidak akan bangun lagi setelah melihat kondisimu kemarin."
"Jaga mulutmu Victor." Sahut Sophia, "Apa aku terlihat seperti sedang sekarat di matamu?"
"Yah, kurasa kau memang terlihat seperti orang mati di mata semua orang beberapa saat lalu." Jacob yang sedang memilah pedang yang berserakan turut menanggapi.
Darius tertawa mendengar itu, dia mengulurkan tangannya ke Sophia yang masih terduduk. "Selamat datang kembali, Sophia. Apa kau tidak keberatan menghadapi kematian sekali lagi?"
Dari kejauhan, terlihat siluet tubuh para iblis yang berlarian ke arah mereka, kali ini terlihat iblis-iblis dengan wujud yang berbeda dari biasanya. Tapi siapa yang peduli? Toh mereka sudah mencapai batas dan semua akan berakhir hari ini juga.
Sophia menyambut tangan Darius dan menarik tubuhnya untuk bangun. "Aku tidak mengerti apa yang kalian katakan," ujar Sophia sembari mengambil pedangnya yang tergeletak di tanah, dia kembali meringis karena gerakannya membuat beberapa lukanya kembali terbuka, "Tapi sepertinya aku memang harus melakukannya sekali lagi supaya aku paham."
Iblis-iblis itu semakin mendekat, empat prajurit yang masih tersisa itu berdiri dengan gagah, mereka telah sepenuhnya siap untuk bertempur habis-habisan hari ini.
"Tidak ada hari esok! Jadi bertempurlah seperti mayat hidup!" Victor berseru.
"Wah, boleh juga perkataanmu itu." Sophia mengomentari.
"Kalau aku entah bagaimana berhasil keluar dari sini hidup-hidup, akan aku buat orang-orang mengenang kata-kata itu." Jacob turut menanggapi.
Victor mendengus sambil menyeringai, "Kalau begitu, sebaiknya kau jangan sampai bertemu denganku di alam baka nanti."
Mereka berempat tertawa.
__ADS_1
"MAMPUS KALIAN!" Victor menebaskan pedang yang diselimuti aura keemasan, cahaya berbentuk sabit melesat dari tebasan itu dan menumbangkan banyak iblis sekaligus.
Terjadilah bentrokan antara empat prajurit melawan gelombang iblis.
Suara denting logam berbenturan, suara tubuh yang tumbang ke tanah, suara teriakan prajurit, suara erangan iblis, suara ledakan dari kekuatan cahaya Victor dan Darius.
Itulah suara yang terdengar di pagi hari mereka alih-alih suara kicauan burung dan suara api tungku masak.
Aroma darah, bangkai, karat, lumpur, debu. Itulah aroma yang mereka hirup setiap pagi alih-alih aroma teh yang diseduh atau roti yang baru keluar dari pemanggang.
Satu iblis menerjang ke arah Darius, dengan sigap dia menangkis serangan dari iblis itu dan mundur selangkah untuk menjaga jarak. Iblis itu tampak berbeda dari iblis yang selama ini mereka hadapi, tubuhnya tertutup sepenuhnya oleh zirah besi, dari balik penutup wajah di helmnya, terlihat dua titik hijau bersinar mengintimidasi.
"Kau sedikit berbeda dari iblis lain." Darius tidak sedikitpun mengendurkan kewaspadaannya.
"...."
"Ya, bukankah prajurit itu berbicara dengan senjata mereka?"
Darius mengambil inisiasi menyerang, pedang mereka kembali beradu, serangan demi serangan silih berganti, satu menyerang yang satu bertahan, kemudian sebaliknya, begitu seterusnya.
"Mati di tangan makhluk sepertimu terasa lebih baik daripada mati di tangan makhluk-makhluk aneh itu." Darius menyeka darah yang keluar dari mulut dan hidungnya.
"...."
Cahaya redup keemasan menyelimuti tubuh Darius, "RRAAAAHHHH!"
......................
Jacob dengan tangan kanannya menebaskan pedang ke berbagai arah seolah tanpa jeda, dia memiliki stamina yang melampaui kebanyakan manusia meski dia tidak memiliki kekuatan cahaya.
Dia terlihat seperti seorang petani yang sedang membabat ilalang, hanya saja ilalang-ilalang yang mengganggu terus saja bermunculan.
Satu iblis menebas punggung Jacob dengan goloknya, Jacob terhuyung dan mengerang kesakitan karena serangan mendadak itu. Tapi dia segera mengembalikan keseimbangannya, serangan-serangannya justru menjadi lebih brutal dari sebelumnya.
"KEMBALI KE NERAKA SANA MAKHLUK-MAKHLUK LAKNAAATTT!"
__ADS_1
......................
Sementara itu, Sophia terlihat menerobos lautan iblis, dia mengincar barisan iblis yang memegang panah dan crossbow. Iblis seperti itu tidak pernah terlihat sebelumnya, jadi dia harus sesegera mungkin menghabisi mereka karena kehadiran mereka sama sekali tidak di antisipasi.
Dia berlari sekuat tenaga sambil mengayunkan pedangnya kesana kemari menebas iblis yang menerjangnya dari segala arah.
"ARGH!" Sophia menjerit ketika sebuah anak panah menancap di bahunya, karena dia sedang berlari sekuat tenaga, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan dia jatuh tersungkur dan berguling-guling di tanah.
Beberapa iblis yang berlarian menginjak-injak tubuhnya yang sedang terluka parah, dia sampai memuntahkan darah karena semua lukanya yang mengering sudah terbuka, darah segar mulai membanjiri tunik yang ia kenakan.
Sophia segera bangkit meski dia merasakan sakit yang teramat sangat, beberapa iblis juga mulai mengeroyoknya karena dia terhenti di tengah-tengah gelombang iblis.
Tubuhnya terhuyung, susah payah menangkis serangan iblis, pandangannya pun mulai memburam. Meski begitu dia tetap menggenggam erat pedangnya dengan mulut menyunggingkan senyum.
"Ah ... Aku mengingatnya."
......................
Kondisi Victor pun tidak terlihat lebih baik dari rekan rekannya yang lain, meski begitu, dia tetap berhasil membunuh iblis dalam jumlah yang sangat banyak. Tapi karena dia menggunakan kekuatannya tanpa henti, dia mulai kehabisan stamina, sementara Darius yang posisinya berada di dekat Victor masih sibuk menghadapi iblis zirah yang terlihat sangat kuat.
"Huff ...." Victor mengambil ancang-ancang, sinar keemasan memancar dari kedua matanya, aura emas menyelimuti pedangnya hingga membentuk siluet sebuah greatsword. Dia sedang menyiapkan sebuah serangan pamungkas.
"ORYAA!" Sebuah aura emas berbentuk sabit raksasa melesat dari tebasan Victor, menumbangkan ratusan iblis di lintasannya sebelum akhirnya aura itu memudar dan hilang sepenuhnya.
Victor jatuh terduduk, dia menahan tubuhnya dengan bertopang pada pedangnya yang mulai mengalami kerusakan karena terus-terusan terpapar kekuatan cahaya.
Dia mengeluarkan sisa cerutu yang dia simpan dan menyulutnya, dia mengisap cerutu itu dalam-dalam sambil menyeringai menatap gerombolan iblis yang menerjang ke arahnya.
"Heh ... Hidup memang singkat."
...****************...
Ilustrasi karakter Sophia Genevieve De Luca
__ADS_1