
Hari ini, sebuah kereta datang ke stasiun kereta uap kota Pyotr, Ferguson bersama beberapa petinggi militer di sana berdiri di pintu stasiun, menyambut orang yang akan datang hari ini.
Pintu gerbong kereta terbuka, beberapa prajurit turun dari gerbong itu, mereka mengenakan seragam militer yang masih terlihat baru. Pemandangan ini mengingatkan Ferguson pada hari kedatangan prajurit yang baru dilantik oleh Aliansi, meski saat itu kondisi mereka jauh lebih buruk dari ini.
Tidak salah lagi, mereka adalah personil bantuan yang dikirim oleh Aliansi untuk mengganti korban yang gugur di tenggara. Tapi karena kerugian jiwa di tenggara sendiri terbilang sedikit jika dibanding dengan selatan dan utara, jumlah personil yang dikirim juga tidak banyak.
Setelah semua prajurit turun dari gerbong kereta, terlihatlah dua orang yang mengenakan seragam yang sangat berbeda dari para prajurit itu.
Keduanya adalah penyihir wanita yang mengenakan jubah gelap, Departemen Sihir tidak memiliki seragam resmi, identitas mereka hanya bisa diketahui dengan lencana perak yang biasanya mereka sematkan di ikat pinggang atau mereka jadikan kalung. Biasanya mereka juga membuat tattoo dengan gambar simbol Departemen Sihir di anggota tubuh tertentu menggunakan tinta khusus, meskipun tidak banyak yang melakukan itu.
Ferguson memberi kata sambutan singkat untuk mereka, lalu dia menyuruh beberapa prajurit senior yang bersamanya untuk mengarahkan mereka ke barak.
Lalu dia mendekati dua penyihir wanita itu dan memberi mereka hormat, dua wanita itu membalas dengan pose hormat Departemen Sihir.
"Selamat datang. Aku Perwira yang diberi tanggung jawab sebagai komando tertinggi di tempat ini, namaku Joseph Ferguson." Ferguson memperkenalkan dirinya secara singkat.
"Aku asumsikan kalian berdua adalah penyihir yang dikirim oleh Departemen Sihir, benar begitu?"
Dua wanita itu mengangguk dan menunjukkan lencana perak mereka.
"Nama saya Jean Cuivre, anggota peringkat tiga di Departemen Sihir." Seorang wanita yang mewarnai rambutnya yang panjang dengan warna merah tua memperkenalkan diri.
"Saya Mara Akhundzada, anggota peringkat tiga di Departemen Sihir." Kali ini wanita dengan rambut pendek yang diwarnai putih memperkenalkan diri.
Salah satu kebiasaan penyihir di Departemen Sihir adalah mewarnai rambut mereka, awalnya hal itu dilakukan supaya mereka menjadi mudah dikenali. Tapi seiring berjalannya waktu, mewarnai rambut justru menjadi semacam trend di beberapa kalangan.
"Terimakasih karena telah memenuhi panggilan kami, tidak kusangka Departemen Sihir akan mengirimkan dua anggota dengan peringkat tinggi, aku rasa sekarang bertahan dari serangan iblis akan menjadi lebih mudah dengan bantuan kalian."
Salah satu wanita itu tersenyum kecil, "Anda terlalu berlebihan, kami masih belum sebanding dengan anggota senior dan para petinggi."
__ADS_1
Ferguson tertawa, "Yah, penyihir adalah penyihir, kalian bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa kami lakukan, oleh karena itu aku harapkan kerja sama dengan kalian untuk kedepannya." Dia menjabat tangan mereka satu persatu dan memberi hormat sekali lagi sebelum beranjak meninggalkan mereka, satu prajurit wanita senior kemudian mengarahkan mereka berdua menuju barak wanita.
...****************...
Pos Pertahanan Barat
Orang-orang Kelas Emas yang dikirim ke pos pertahanan barat adalah Edwin Gallagher, Vincent Acier d'Argent, Egmont Festhart, Julie Blanc Levesque, Hakam bin Thariq.
Mereka sedang beristirahat di lapangan latihan bersama beberapa orang lain setelah sesi latihan gabungan di pagi hari.
"Tidak kusangka kita satu-satunya yang masih bisa bernafas lega hingga saat ini." Julie berkata sambil menyeka keringat di wajah dan lehernya menggunakan handuk kecil.
"Karena aku punya kesan buruk tentang barat, aku jadi berpikir aku akan mengalami situasi yang sangat merepotkan begitu aku tiba." Edwin menanggapi.
"Kita, Edwin. Kau itu orang yang sangat individualis tanpa kau sendiri sadari." Egmont menusuk perut Edwin dengan pedang latihan, meski dia mengenakan zirah kulit, tapi tusukan Egmont cukup keras sampai membuat dia meringis kesakitan.
"Meski begitu, tidak kusangka Brian dan Adrian akan menjadi korban pertama dari semua orang." Hakam bergabung dalam obrolan.
Setelah beberapa kali Theodore datang ke barat dalam rotasi patrolinya, mereka mengetahui kalau barat masih aman hingga saat ini. Berita yang dibawa Theodore pun berhasil mengguncang barat dan menjadi topik pembicaraan mereka selama berhari-hari.
Tenggara kehilangan Brian McGray dan sudah dua kali menerima serangan dari mayat hidup, selatan yang digempur oleh boneka besi dan menerima kerugian tak terhingga dengan gugurnya Adrian Cornivus Duterte, utara pun tak luput dari serangan makhluk-makhluk itu.
"Mungkin masih bisa dimengerti kalau yang jadi korban adalah orang sekelas Brian McGray, apalagi dia tewas karena serangan mendadak." Vincent memberi komentarnya.
Julie menatap aneh Vincent, "Kau ini mengerikan sekali, ucapanmu itu terkesan merendahkan Brian, seolah-olah sudah semestinya dia mati." Dia malah membuat spekulasi yang terlalu jauh.
"Hey, aku cuma mengutarakan pendapatku! Kau sendiri baru saja mengatakan sesuatu yang mengerikan!" seru Vincent tidak terima.
Mereka pun saling adu mulut, meski mereka berdua adalah anak bangsawan yang berasal dari negara yang sama, mereka sama sekali tidak mencerminkan sikap bangsawan.
__ADS_1
Bahkan Vincent sangat gemar minum di bar murahan dan ikut kontes tarung jalanan, kadang secara tidak sengaja membubarkan kumpulan petarung saat tiba-tiba satuan pengawal dari keluarganya datang untuk menjemputnya, orang-orang itu salah menyangka mereka hendak digusur atau ditangkap.
Itu karena dia berasal dari keluarga Duke Acier d'Argent, keluarga bangsawan kelas atas di negaranya. Jadi saat orang-orang itu melihat simbol keluarga Acier d'Argent di seragam para kesatria itu, mereka langsung lari terbirit-birit. Tidak ada hal baik yang terjadi kalau kau terlibat dengan bangsawan.
Mereka hanya salah paham sih. Tapi yah, begitulah.
Sementara itu, duel antara Edwin dan Egmont sudah berakhir dengan Edwin keluar sebagai pemenang.
"Kau masih terlalu dini untuk melawan Edwin." Hakam memukul-mukul mahu Egmont yang terlihat kesal dengan kekalahannya, "Aku pun masih belum bisa mengalahkannya, jadi santai saja," lanjutnya, dia berusaha menghibur Egmont.
Edwin memang sangat kuat, selain karena dia menguasai Aura dan memiliki teknik bertarung yang hebat, kekuatan cahayanya yang memungkinkan dia untuk melihat sesuatu berkali-kali lebih lambat membuat dia selalu memiliki keunggulan dalam pertarungan.
"Argh! Percepatan pikiran itu kekuatan yang terlalu curang!" Egmont menyabetkan pedangnya ke arah Edwin berkali-kali, tapi mudah saja Edwin menghindarinya.
Julie, Vincent dan Hakam tertawa terbahak-bahak melihat itu, Egmont memiliki jiwa sportif yang tinggi, dia sangat membenci kekalahan. Tapi masalahnya dia itu selalu memilih lawan yang terlalu kuat untuk dia atasi.
Misal saat di Akademi, dia pernah menantang orang-orang mengerikan seperti Ferdinand dan Alicia, tentu kalian bisa menebak apa yang terjadi setelahnya. Bahkan dia membuat Raymond kerepotan saat dia kalah melawan Alicia ... Kalian paham maksudnya kan?
Saat mereka sedang ribut-ribut itu, tiba-tiba seorang petinggi militer masuk ke area latihan dengan wajah panik.
"Iblis muncul di kota Monsa!"
"!!!"
...****************...
Ilustrasi karakter Ferdinand Notaras Chevallaire
__ADS_1