Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 2: Penyusup


__ADS_3

"Ferdinand, kau harus berhati-hati kalau menyangkut informasi soal 'makhluk itu'". Sang Grand Duke berbicara dengan nada serius kepada putranya, sang Duke.


"Aku mengerti Ayahanda, kalau informasi perihal tersebut sampai bocor, Grand Duchy bisa kerepotan". Jawab Duke Ferdinand.


"Bagus". Timpal sang Grand Duke. "Tapi sampai sekarang aku masih penasaran dengan keberadaan 'makhluk itu', bukannya ada kemungkinan kepala pelayan yang biasa mengantar makanan membantu 'makhluk itu' keluar?" Ucap Ferdinand bertanya-tanya.


Grand Duke menggeleng. "Alibinya kuat, lagipula dia sangat membenci 'makhluk itu' lebih dari siapapun".


"Yang lebih mengkhawatirkan adalah berita soal pemakaman palsu itu sudah sampai ke telinga Raja, padahal pemakaman palsu hanya dihadiri oleh anggota keluarga inti. Sesuai dugaan, jaringan informasi Raja sama sekali tidak bisa diremehkan". Grand Duke mendecak kesal.


"Tidak menutup kemungkinan kalau kedepannya akan ada informasi yang bocor sampai ke telinga Raja, jika sampai itu terjadi, maka Grand Duchy akan menanggung aib turun temurun".


Duke tidak kalah kesal, dia pikir Raja mengetahui tentang kabar kematian 'makhluk itu' karena Grand Duke yang mengirim kabar, tapi rupanya tidak.


"Untuk saat ini, sebaiknya kita bersiap menghadapi rumor yang bermunculan nantinya ...."


Mereka menghentikan pembicaraan ketika pelayan mendekati mereka dan menawarkan minuman. Grand Duke mengambil segelas sampanye, sedangkan Duke mengambil wine.


"Lagipula sudah sekitar beberapa bulan sejak 'makhluk itu' menghilang, mungkin sekarang dia sudah mati terbunuh atau kelaparan". Duke berkata dengan nada dingin sambil menatap gelas wine nya.


"Astaga! Bukankah ini Grand Duke dan Duke Chevallaire? Mengapa raut wajah kalian begitu gelap di malam yang gembira ini, eh?"


Seorang bangsawan yang terlihat sedikit mabuk mendekati mereka, dari gaya bicaranya terhadap Grand Duke yang terlihat sangat santai, menandakan kalau dia adalah bangsawan kelas tinggi.


"Kelihatannya Anda mabuk Marquis Leinard, mungkin sebaiknya Anda menghirup udara segar di balkon, bunga-bunga di taman kerajaan mengeluarkan aroma yang menyegarkan di waktu seperti ini".


"Hmmm ... Apa aku terlihat semabuk itu? Mungkin aku harus menuruti saranmu Grand Duke, eh? Jadi ... Aku akan ke balkon sekarang". Marquis Leonard menepuk bahu Grand Duke dan berlalu sambil lanjut menyapa hadirin lain.


"Sepertinya dia tidak mendengarkan". Keluh Duke. "Dia memang seperti itu sejak muda, sangat ceroboh dan semaunya sendiri. Meski begitu, dia sama sekali bukan bangsawan yang korup, itu membuatku sedikit terkejut". Ujar sang Grand Duke dengan senyuman kecil di wajahnya.


Terdengar suara tawa keras Marquis Leonard, putra-putri bangsawan yang hadir merasa risih dan menatap Marquis dengan sinis. Tapi para bangsawan senior tidak terlalu peduli, mereka hanya menatap sekilas lalu mengangkat bahu tidak peduli. Sudah maklum, selain itu, Marquis memiliki kharisma aneh yang membuat orang-orang merasa tertarik dengannya.


"Orang itu sama sekali tidak berubah, bukankah Anda setuju Grand Duke?" Seseorang menghampiri Grand Duke, dia bersama dengan seorang pemuda yang merupakan putranya.


"Count Griffin, senang bertemu denganmu, bukankah ini Tuan Muda Griffin? Martinas?" Grand Duke bersalaman dengan Count dan putranya, diikuti oleh Duke.


"Senang bertemu denganmu Tuan Muda, aku sering mendengar kalau penerus Count Griffin adalah seorang yang brilian, ternyata hal itu tergambar dengan jelas dari penampilanmu". Duke memuji Tuan Muda Griffin.


Tuan Muda Griffin tersenyum. "Anda terlalu berlebihan Duke Ferdinand, apapun yang dikatakan orang-orang tentang saya, pastinya Anda jauh melampaui itu".


"Termasuk perkataan yang buruk?" Duke mengangkat satu alisnya, Tuan Muda Griffin sedikit terhenyak.

__ADS_1


"Saya ragu ada perkataan buruk tentang Anda Duke". Tapi dia bisa menjawab dengan baik.


Count Griffin tersenyum melihat putranya, kemudian dia mengedarkan pandangan ke sekitar, lalu berkata kepada Duke.


"Apakah Anda merasa ada yang aneh dengan Count Bellezza?" Count Griffin bertanya kepada Grand Duke, sambil memberi isyarat pada Grand Duke untuk melihat suatu titik di aula.


"Bellezza ... Penguasa di salah satu wilayah tenggara kerajaan? Aku tidak begitu mengenalnya ... Memang sedikit aneh, kenapa dia hanya berdiri mematung seperti itu?" Grand Duke bertanya-tanya, kedua bangsawan muda itu ikut memperhatikan Count Bellezza yang aneh.


"Mungkin dia hanya orang yang sedikit eksentrik seperti Marquis Leinard?" Count Griffin menggeleng. "Sejujurnya kami saling mengenal, tapi saat saya menyapanya sebelum memasuki aula, dia merespon dengan kaku dan sedikit kebingungan, gaya bicaranya pun tidak seperti Count yang biasanya".


Grand Duke ikut mengamati orang yang disebut Count Bellezza itu, sedari tadi dia hanya berdiri mematung menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Grand Duke merasakan firasat tidak enak, namun dia tidak yakin dengan firasat yang dia rasakan.


"Biarkan saja, mungkin ada sesuatu yang terjadi kepadanya sebelum tiba ke debutante". Grand Duke berusaha menepis firasatnya, Count Griffin tersenyum menyetujui perkataan Grand Duke. Namun tetap saja, mereka berdua tidak bisa menghilangkan perasaan tidak nyaman yang mereka rasakan.


Sedari tadi, Count Griffin sudah menanyai para bangsawan satu persatu dengan pertanyaan yang sama. 'Apakah mereka merasakan keanehan pada Count Bellezza?'


Hasilnya, banyak bangsawan yang kini memperhatikan Count Bellezza.


Grand Duke mengedarkan pandangannya ke seisi aula, dan saat tatapan Grand Duke bertemu dengan Raja, Raja sekilas melirik ke Count Bellezza sebagai isyarat kepada Grand Duke bahwa ada yang salah dengan Count.


"Waspada, Raja telah mengkonfirmasi ada yang salah dengan Count ... tidak, orang itu". Perkataan Grand Duke membuat Duke, Count Griffin dan Tuan Muda Griffin bersiaga, ternyata ada tamu tak diundang kali ini.


Entah bagaimana dia berhasil menyusup ke dalam pesta. Terlebih ini adalah aula yang berada tepat di jantung kerajaan, istana kerajaan.


Bahkan beberapa pelayan yang sekarang mondar-mandir sudah bukan pelayan yang sama seperti tadi, mereka digantikan oleh anggota satuan khusus yang menyamar.


Situasi genting ini hanya bisa disadari oleh beberapa bangsawan saja, meskipun mereka tidak mengetahui apa yang menjadi penyebabnya.


Marquis Leinard yang sedang mabuk pun bisa merasakan perubahan yang terjadi di aula pesta, dan tatapannya langsung tertuju pada Count Bellezza. Dia mendekat ke posisi Count dengan berpura-pura istirahat di sofa tak jauh dari Count untuk mengawasinya lebih dekat.


Beberapa bangsawan yang menyadari arah tatapan Grand Duke dan Count Griffin segera turut mewaspadai Count Bellezza, dan memberi isyarat kepada bangsawan lain.


Kini aula pesta itu hanya gemerlap dari luar saja, jika kalian berada di aula itu, kalian bisa merasakan suasana tegang yang tidak sesuai alunan musik pesta.


"Hei! Count Bellezza! Kulihat dari tadi kau hanya diam disitu saja. Kenapa tidak mengambil wine ini dan mengobrol denganku saja? Eh?" Marquis Leonard berjalan mendekati Count Bellezza dan menyodorkan segelas wine.


"A-ah ... Baiklah ... ahaha ... mari minum". Count Bellezza mengambil gelas wine itu dan merangkul Marquis Leonard dengan akrab.


"PENYUSUP!" Teriakan Marquis Leonard membuat seisi aula heboh, bangsawan yang belum menyadari keanehan di aula hanya bisa menyingkir dengan panik selagi satuan khusus raja dan bangsawan yang tanggap akan situasi mengepung Count Bellezza.


Keluarga kerajaan segera dikawal keluar dari aula oleh satuan khusus Raja, dan pintu aula di dobrak oleh unit pasukan yang berjaga diluar aula, mereka segera mengepung penyusup yang sedang ditahan oleh marquis.

__ADS_1


Count yang dipiting oleh Marquis hanya terdiam tanpa melawan atau berontak sedikitpun, tatapannya yang kosong mengarah ke langit-langit, membuat orang-orang bergidik ngeri melihatnya.


"Rupanya benar, eh? Bajingan mana yang mengutusmu? Bagaimana kau bisa menyusup sejauh ini?" Marquis Leonard menginterogasi penyusup itu sambil terus memitingnya.


"...." Penyusup itu hanya diam, aula itu hening beberapa saat, semua orang yang mengitari penyusup itu semakin bersiaga. Ada yang tidak beres dengan orang ini.


Lalu mendadak tubuh penyusup itu bergetar hebat seperti kejang-kejang, kulitnya membiru dan busa putih keluar dari mulutnya yang mengeluarkan suara seperti orang tercekik. Tidak lama kemudian bola mata penyusup itu berubah menjadi hitam dan tubuhnya berhenti bergetar.


Orang-orang merasa mual saat melihat pemandangan di hadapan mereka, aula itu kembali hening


-BAM!-


Tiba-tiba tubuh Marquis terpental ke belakang dan menabrak dinding aula, seketika membuatnya kehilangan kesadaran.


"KALIAN BISA MENDENGARKANKU?"


Semua orang tersentak, suara mengerikan itu menggema ke seisi aula, dan asalnya dari penyusup yang menyamar sebagai Count Bellezza.


"MELIHAT REAKSI BARUSAN, SEPERTINYA KALIAN BISA MENDENGARKANKU".


"Siapa kau? Apa tujuanmu?" Grand Duke maju satu langkah dan berhadapan langsung dengan makhluk aneh itu.


"HMMM ... AKU ADALAH ALAT KOMUNIKASI, TUJUANKU ADALAH UNTUK MENYAMPAIKAN PESAN".


Suara makhluk itu terdengar seperti suara pria, wanita, dan anak-anak yang berbicara bersamaan. "Pesan apa yang ingin kau sampaikan?" Grand Duke tanpa gentar sedikitpun kembali melontarkan pertanyaannya.


"SINGKAT SAJA. SANG RATU BERKATA 'TUNGGU KAMI' ".


Semua orang terlihat kebingungan, berusaha mencerna perkataan makhluk aneh yang sedang menyusup itu. Kemudian makhluk itu mengeluarkan suara tertawa yang mengerikan, membuat beberapa orang ambruk dan muntah-muntah.


" KHEHEHEHE~ 'DIA' JUGA MENITIPKAN PESAN 'AKU AKAN KEMBALI' KHEHEHEHEHE~"


Setelah kalimat terakhirnya, tubuh Count ambruk dan sebuah kabut pekat berwarna hitam menguap dari tubuhnya. Grand Duke segera memerintahkan pengawal untuk membopong tubuh Count dan Marquis yang tidak sadarkan diri.


"Apa-apaan yang barusan itu?" Tanya Count Griffin dengan suara bergetar semua hadirin keluar dari aula atas arahan dari Grand Duke. "Mungkinkah itu pesan dari pasukan iblis yang muncul dalam cerita masa lalu?" Lanjutnya.


"Satu hal yang pasti, makhluk itu memberikan pesan ancaman, kita bisa menganggapnya sebagai deklarasi perang". Sahut sang Grand Duke.


"Apa itu berarti Count Bellezza adalah bagian dari mereka?" Tanya Duke Chevallaire dengan wajah pucat, dia termasuk orang yang muntah karena suara tawa mengerikan tadi.


"Tidak, makhluk itu hanya memanfaatkan Count sebagai media, lebih tepatnya Count dirasuki". Jelas Grand Duke.

__ADS_1


"Situasinya benar-benar lebih gawat dari dugaanku". Keluh Count Griffin, dia membayangkan makhluk macam apa yang disebut sebagai 'Ratu' dan 'Dia' sampai bisa menyusupkan anak buahnya sejauh ini di kastil.


"Satu hal yang pasti". Grand Duke menatap tajam ke langit malam. "Akan ada pertumpahan darah dalam waktu dekat".


__ADS_2