
Beberapa hari setelah Alex kembali, dia menjalani kehidupannya seperti biasa. Soal kekuatan cahaya yang dikatakan sosok misterius di dalam jurang itu, Alex juga belum tahu bagaimana cara menggunakannya, bahkan dia tidak mengetahui kekuatan macam apa yang dia dapatkan.
Saat ini, dia sedang berada di tanah lapang, bersama dengan teman-teman dan beberapa warga kampung. Mereka berusaha membantu Alex menemukan kekuatannya sebisa mereka.
Berbagai percobaan sudah dilakukan, semua teman-teman Alex menyuruhnya untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan kekuatan super.
"Coba kau pukul pohon itu." Tapi tangan Alex justru terluka setelah memukulnya
"Atau kau coba sembuhkan luka goresan di kakiku ini." Tidak bisa.
"Mungkin kau bisa mengeluarkan api atau petir dari tanganmu." Nihil.
"Ah, bisa jadi kekuatanmu akan muncul saat kau memegang senjata. Hei! Pinjamkan pedang milik Pak Tony!" Pak Tony adalah mantan prajurit dari sebuah kerajaan yang menghabiskan masa pensiunnya di kampung Alex.
Percuma saja, Alex sudah mencoba mengayunkan pedang dengan bebagai pose dan gerakan. Bahkan Pak Tony sampai memberi arahan kepada Alex, tapi tetap saja kekuatan Alex tidak kunjung keluar.
"Kak, coba teriak 'Datanglah! Kekuatan cahaya!' seperti yang ada di teater-teater kota." Adiknya yang berusia 13 tahun juga memberi saran sambil menirukan pose salah satu pemeran teater yang dilihatnya di kota.
Alex terlihat sedikit ragu, tapi teman-teman dan semua orang yang sedang menonton Alex terlihat menyetujui adiknya, membuatnya tak punya pilihan lain.
Alex memejamkan matanya, mencoba fokus, kemudian dia menarik nafas dalam dan meniru pose yang ditunjukkan adiknya.
"DATANGLAH! KEKUATAN CAHAYA!"
"...."
"...."
Hening.
Wajah Alex memerah, dia segera menyembunyikan wajahnya dan duduk bersembunyi diantara teman-temannya yang sedang tertawa terbahak-bahak.
"Jangan-jangan kau cuma halu di jurang itu? Mungkin karena kau terlalu lelah atau kelaparan?" Ujar salah seorang temannya.
"Bisa jadi memang seperti itu loh, Alex. Pikiranmu saat itu mungkin sedang benar-benar kacau sampai-sampai persepsimu terhadap waktu jadi berantakan." Teman yang lain menimpali.
"Mungkin kau dikendalikan oleh alam bawah sadar mu, dan berkat itu kau bisa keluar dari dalam jurang entah bagaimana. Waktu juga jadi terasa singkat bagimu, siapa tahu kan." Andre yang baru datang tiba-tiba ikut berkomentar.
Alex terdiam mendengar perkataan teman-temannya, ucapan mereka cukup masuk akal. Tapi semua yang dia lihat di hari itu terlihat begitu nyata, rasanya mustahil kalau itu sekedar halusinasi.
Tidak ada yang mengolok ataupun menganggap Alex berbohong, dua pekan menghilang dan kembali tanpa kurang suatu apapun. Semua orang tahu pasti ada sesuatu yang terjadi, meskipun tidak ada yang yakin apa yang sebenarnya terjadi.
Bahkan beberapa temannya sampai mencari buku-buku fantasi tentang cerita pahlawan, berharap Alex bisa mengeluarkan kekuatannya dengan menirukan apa yang dilakukan oleh karakter dalam cerita. Adik Alex adalah salah satu dari mereka, meskipun dia malah membuat Alex malu setengah mati.
Alex menatap hutan di hadapannya dengan banyak pikiran berkecamuk di kepalanya, saat itu, dia menyadari ada sesuatu yang terlihat seperti mengawasinya dari balik salah satu pohon di hutan.
__ADS_1
"Woi!" Andre menepuk bahu Alex, membuatnya menoleh karena terkejut. Alex buru-buru mengarahkan pandangannya ke sesuatu yang mengawasinya tadi, tapi sesuatu itu sudah tidak lagi berada disana.
"Kau kenapa sih? Memang kau melihat di hutan?" Andre yang penasaran ikut mengarahkan pandangannya ke arah yang ditatap Alex, beberapa orang juga ikutan melihat karena penasaran.
"Ah! Jangan-jangan yang itu!" Seseorang berseru dan menunjuk sesuatu di balik pepohonan, membuat semua orang mengarahkan pandangan ke titik dimana jarinya mengarah.
"...."
"Alah! Cuma burung Kolibri! Kau ini bikin kecewa saja!" Andre meninju bahu orang yang heboh menunjuk sesuatu yang ternyata cuma seekor burung Kolibri.
Karena merasa tidak ada petunjuk mengenai kekuatan Alex, semua orang mulai membubarkan diri dan kembali melanjutkan kesibukan masing-masing.
Tapi Alex masih saja duduk di tempatnya dan terus mengamati hutan, dia yakin sekali ada sesuatu yang sedang mengawasinya, entah seperti apa wujudnya, tapi jelas sesuatu itu menatap ke arahnya.
Saat Alex sedang menyapu pandangannya ke penjuru hutan, lagi-lagi matanya menangkap sesuatu yang sedang mengawasinya dari balik pepohonan.
Tidak ingin kehilangan jejak untuk kedua kalinya, Alex langsung berlari ke dalam hutan, ke arah pepohonan dimana sesuatu itu mengawasinya.
Beberapa orang yang melihat tingkah Alex terlihat kebingungan, tapi mereka segera berlari menyusul Alex, jangan sampai dia menghilang seperti terakhir kali.
Alex berlari semakin jauh kedalam hutan, sesuatu itu seperti menggiring Alex masuk semakin dalam. Setiap kali Alex hampir mencapai tempatnya, sesuatu itu selalu muncul di tempat yang lebih dalam di hutan.
Alex berlari semakin kencang, tidak memedulikan seruan orang-orang yang menyusulnya, dia terus mengejar sesuatu itu.
Tapi kali ini, sesuatu itu tidak lagi menampakkan dirinya, Alex menoleh kesana kemari mencari sesuatu itu. Saat itulah, dia melihat pancaran cahaya redup dari dalam hutan, lebih tepatnya dari danau yang ada di tengah hutan.
Setelah mereka tiba di danau, mereka semua tidak sanggup lagi berkata-kata setelah melihat pemandangan di depan mereka.
Danau ini bukanlah danau yang mereka kenal dulu, segalanya terlihat begitu surgawi.
Berbagai jenis tanaman yang belum pernah mereka lihat sebelumnya tumbuh di setiap tempat di sekitaran danau, tapi apa yang mereka saksikan berikutnya benar-benar diluar segala akal sehat.
Makhluk-makhluk yang belum pernah mereka lihat sebelumnya berkeliaran di sekitar danau ini, ada yang menyerupai hewan, tumbuhan bergerak, bahkan ada makhluk yang nampak serupa dengan manusia tetapi fisiknya sangat berbeda.
Seluruh makhluk di tempat itu diselimuti cahaya redup dengan beragam warna, hal itu membuat semua orang ternganga melihatnya, seolah kesadaran mereka lepas dari diri mereka sesaat setelah melihat semua yang ada di depan mereka.
Sementara di tepian danau, Alex sedang ternganga melihat apa yang ada dihadapannya. Di sekitaran tempatnya berdiri, sosok menyerupai manusia dengan tubuh kecil dan sayap berterbangan, tubuh mereka memancarkan cahaya kehijauan.
Lalu matanya tertuju pada sesosok makhluk yang menyerupai serigala, tapi dengan bulu berwarna tosca yang juga memancarkan cahaya kehijauan. Nampaknya, sosok itu adalah sesuatu yang sejak tadi mengawasi Alex dari dalam hutan.
Serigala itu perlahan mendekati Alex, orang-orang yang mengikuti Alex berseru tertahan saat melihat serigala yang lebih tinggi dari orang dewasa itu mendekati Alex, mereka ingin menolong Alex tapi nyali mereka tidak cukup.
"Jangan khawatir, kami tidak akan melukai kalian" Sebuah suara terdengar dari sosok makhluk kecil yang menyerupai manusia namun memiliki ciri-ciri fisik menyerupai ikan, makhluk itu diselimuti cahaya kebiruan dan seolah berenang di udara. Makhluk tersebut dan beberapa makhluk serupa mengelilingi teman-teman Alex dengan tertawa-tawa.
Teman-teman Alex terlihat lebih tenang, tapi mereka masih gugup. Tentu saja, bayangkan kalian tiba-tiba bertemu alien di tengah hutan yang bisa berbicara bahasa manusia. Pasti ketar-ketir bukan main.
__ADS_1
"Manusia, apa kalian mau?" Beberapa makhluk berwujud manusia dengan ciri-ciri fisik mirip kucing membawakan buah yang terlihat mirip apel tapi dengan warna kebiruan. Awalnya terlihat raut penolakan dari wajah mereka, tapi melihat wajah antusias makhluk-makhluk itu, mereka jadi tak kuasa menolak pemberian itu.
"Makanlah, rasanya sangat enak." Makhluk itu berlari menjauh sambil tertawa-tawa, teman-teman Alex saling tatap, Andre yang ada di sana akhirnya memberanikan diri memakan buah itu. Satu gigitan membuat Andre terdiam, yang lain cemas melihat reaksi Andre.
Tapi tiba-tiba, Andre kembali melahap buah itu, hanya beberapa gigitan dan buah itu habis. "Enak parah." Mata Andre berkaca-kaca menatap sisa-sisa buah dengan penuh penyesalan.
Yang lain akhirnya memutuskan untuk mencicipi buah itu, dan reaksi mereka kurang lebih sama seperti Andre.
"Enak banget!" Seru mereka serempak.
Makhluk tadi kembali menghampiri mereka dengan keranjang berisi buah dan beberapa jenis buah lain, segera saja Andre dan yang lain melahap buah-buahan itu dengan ganasnya. "Enak kan? Kalian bisa makan sepuasnya, masih banyak lagi yang bisa dimakan."
Sementara itu, Alex sedang berdiri menatap serigala berwarna tosca yang juga menatapnya. Serigala itu menempelkan dahinya ke dahi Alex, cahaya berwarna kehijauan muncul di punggung tangan Alex dan meninggalkan sebuah tanda di sana.
"Mulai sekarang, kau adalah tuanku, wahai utusan cahaya." Alex terkesiap mendengar serigala itu berbicara, tapi dia tidak melihat mulut serigala itu bergerak, seolah suara itu muncul di dalam kepalanya.
"Apa maksudmu? Aku tuanmu?" Alex terlihat sangat kebingungan.
"Karena kau adalah utusan cahaya, maka aku adalah abdimu, begitu juga seluruh peri yang ada di tempat ini."
Serigala itu menunduk dan tunduk di hadapan Alex, saat Alex mengedarkan pandangannya ke sekitar, semua makhluk kecil yang menyerupai manusia dan beberapa makhluk dengan rupa binatang mendekati dan tunduk di hadapannya.
"Gunakanlah kekuatan kami untuk menghadang seluruh marabahaya yang mengancam umat manusia, kami akan selalu siap mengerahkan semua yang kami punya untukmu, tuanku." Serigala itu menunduk dalam kepada Alex.
"Tuan kami." Seluruh makhluk yang ada di tempat itu pun ikut menunduk dalam kepada Alex yang tampak tercengang dan kebingungan.
Semua makhluk yang sebelumnya bersembunyi mulai menampakkan diri, bahkan beberapa sosok raksasa berselimutkan cahaya berlutut ke arah Alex.
Teman-teman Alex benar-benar tercengang, mereka menatap Alex seperti menatap seorang dewa yang turun ke dunia manusia. Bahkan Andre nyaris bersujud ke Alex dengan tubuh gemetar, untung saja Alex segera menahannya.
"Panggillah kami ketika engkau membutuhkan kekuatan kami, tuanku."
Seluruh tempat itu mulai diselimuti cahaya terang berwarna putih. Tidak, lebih tepatnya seluruh tempat itu mulai memudar dan berubah menjadi ruang hampa.
Mereka pun kembali mendapati pemandangan danau yang mereka kenal, danau di tengah hutan dengan suara kodok dan jangkrik di sekitar mereka, semua hal aneh yang mereka lihat beberapa saat lalu seperti tidak pernah ada di sana.
"Apa-apaan tadi itu." Salah seorang teman Alex mengedarkan pandangan dengan wajah kebingungan.
"Entahlah, tapi Alex ...."
Semua menatap Alex yang juga tak kalah kebingungan, melihat semua makhluk aneh tadi tunduk kepada Alex membuat mereka bingung bagaimana mereka harus memperlakukan Alex kedepannya.
"Um ... Teman-teman ... Jadi ... Kalian bisa memperlakukanku seperti biasa kok, biasa saja pokoknya." Alex seperti bisa mengerti apa yang teman-temannya pikirkan, apalagi Andre yang tadi sempat nyaris sujud kepadanya.
"Mana mungkin bisa." Salah seorang teman Alex menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Setelah melihat semua ... Semua kejadian tadi, kau meminta kami memperlakukanmu seperti biasa?" Yang lain juga menambahi.
Alex terlihat kikuk, dia menggaruk-garuk kepalanya, tidak tahu lagi bagaimana dia akan mengatasi ini kedepannya.