
Sejujurnya, sangat sulit bagi Alex untuk memaafkan Alvaro, meski dia tahu kalau itu mungkin bukan kesalahan Alvaro, tapi entah kenapa dia tidak bisa tidak menyalahkannya atas kematian Adrian.
Begitulah yang dia pikirkan sampai saat dia menyaksikan Alvaro yang babak belur dengan beberapa bagian pakaiannya yang sedikit terbakar, tubuhnya terkulai lemas sementara Anford terlihat mencengkeram lehernya.
Bukan berarti Alvaro lebih lemah dari Anford, hanya saja, kelihatannya Alvaro memang tidak memiliki niatan melawan sama sekali, hal itu membuat Alex sedikit cemas dan merasa bersalah.
"Alex! Hentikan dia!" Brenda yang berada di ruangan itu terlihat mengaktifkan kekuatannya, dia berseru ke Alex saat melihatnya memasuki ruangan, ada beberapa orang di ruangan itu selain Alvaro dan Anford. Yaitu Raymond, Brenda dan William.
Ketika memasuki ruangan itu, Alex mengerti kenapa semua yang ada di ruangan itu tidak menghentikan Anford sama sekali, bukan mereka tidak ingin, tapi hawa panas yang dilepaskan Anford benar-benar kelewat batas. Kalau saja Anford tidak mengenakan pakaian yang khusus dibuat untuknya, mungkin saja pakaiannya sudah terbakar seperti Alvaro.
Kalau dibiarkan seperti ini, mungkin Alvaro bisa mati hanya dengan berada di dekat Anford tanpa dia melakukan apapun.
Alex segera mengaktifkan kekuatan air, lalu dia menembakkan peluru air yang mementalkan tubuh Anford menjauh dari Alvaro, ledakan kecil sempat terjadi saat air bersentuhan dengan tubuh Anford akibat penguapan, menandakan bahwa hawa panas tubuhnya memang bukan main-main.
Raymond bergegas menghampiri Alvaro yang tak sadarkan diri dan menggunakan kekuatan penyembuhan kepadanya.
"ALEX! APA-APAAN!" Anford yang bangkit setelah serangan Alex mengenainya terlihat sangat murka, hawa panasnya semakin meningkat.
Alex bersiap menggunakan kekuatannya sekali lagi, saat tiba-tiba seseorang memasuki ruangan dan dengan gerakan secepat kilat, dia mendekati Anford tanpa ragu dan dengan gaya bertarung yang rumit, dia berhasil melumpuhkannya seketika.
Anford terjatuh ke lantai tak sadarkan diri, hawa panas yang menyelimuti ruangan itu perlahan menghilang, adegan itu terjadi begitu cepat. Sosok yang melumpuhkan Anford adalah seorang pria berusia sekitar tiga puluh atau empat puluhan, dengan rambut pirang sebahu, jenggot dan kumisnya yang rapih menambah kesan kuat pada sosok itu.
"Ya ampun ... Kekuatan anak-anak ini memang bukan main-main eh?" Orang itu menatap telapak tangannya yang melepuh karena melakukan kontak langsung dengan Anford, Raymond yang selesai merawat Alvaro segera menghampiri orang itu dan menyembuhkan telapak tangannya.
__ADS_1
Orang itu menepuk pundak Raymond sebagai tanda terimakasih, lalu dia melihat ke sekeliling ruangan. Terlihat kalau tirai, perabotan kayu, buku-buku dan bahkan langit-langit ruangan terkena dampak kekuatan Anford, berkali-kali dia menggeleng dan berdecak.
"Kalau dibiarkan saja, mungkin kawan kalian itu akan betulan mati." Orang itu menatap ke arah Alvaro yang tergeletak tak sadarkan diri dengan banyak bagian pakaiannya yang terbakar.
"Em ...." Brenda mengangkat tangannya, orang itu menoleh ke arah Brenda, "Anda siapa ya kalau boleh tahu? Saya tidak ingat Anda ada di jajaran Instruktur."
"Maksudmu tidak ada Instruktur sehebat aku eh? Kau terlalu memujiku." Entah apa maksud orang ini.
"Namaku Marcus Leinard, seorang Marquis dari Vasilius, kalian kenal Theodore? Bisa dibilang aku melayani keluarganya." Jelasnya kemudian.
Raymond yang sepertinya hanya satu-satunya orang yang mengenali sosok yang mengaku sebagai Marquis Leinard segera menunduk dan memberi salam.
"Sepertinya hanya kau yang mengenaliku eh? Bahkan bangsawan tinggi seperti dia nampaknya tidak mengenaliku." Marquis Leinard menunjuk ke arah Alex, bahkan orang sekelas Marquis pun tertipu dengan penampilan Alex.
"Langsung saja ke intinya, aku akan menjadi Instruktur untuk anak-anak yang pernah dan akan dikirim ke medan perang. Medan perang itu kejam, aku yakin kalian menyadari hal itu, siapapun bisa mati kapanpun. Keberadaanku disini adalah untuk membantu kalian meningkatkan peluang bertahan hidup kalian."
Semuanya terdiam mendengar penuturan Marquis Leinard.
"Kalian mungkin meremehkanku yang tidak memiliki kekuatan cahaya seperti kalian, tapi lihatlah bocah di sana itu." Marquis Leinard menunjuk Anford yang tergeletak di lantai. "Tapi lihatlah apa yang bisa aku lakukan disaat kalian hanya mematung di tempat sementara nyawa rekan kaliam dalam bahaya."
Kata-kata Marquis Leinard seolah menampar mereka semua, mereka bahkan tidak mampu mendekati Anford yang sedang mengamuk, tapi Marquis Leinard maju menerjang ke arah Anford begitu saja dan langsung melumpuhkannya seketika.
"Kalian bertanya-tanya apa yang berbeda dari kita?" Mereka semua tersentak karena pertanyaan Marquis Tepat sasaran.
__ADS_1
Marquis tersenyum kecil, dia melangkah mendekati jendela lalu mengepalkan tangannya dan mengarahkannya ke jendela yang berjarak sekitar tiga meter darinya.
Saat mereka semua bertanya-tanya apa yang sedang Marquis Leinard lakukan, mereka dikejutkan dengan suara ledakan disusul suara jendela yang pecah. Adegan itu membuat mereka semua terkesiap, tidak tahu apa yang baru saja dilakukan Marquis Leinard.
"Nak, kau tahu apa yang barusan terjadi?" Dia mengarahkan pertanyaannya kepada Brenda, tapi dia dengan cepat menggeleng, lalu dia memberi isyarat ke Desmond untuk menjawab, tapi Desmond memberi tanggapan yang sama.
Marquis Leinard menunjukkan kepalan tangannya. "Perhatikan."
Mata mereka tertuju pada kepalan tangan Marquis, awalnya mereka memang tidak menyadarinya, tapi ketika diperhatikan baik-baik, terdapat semacam lapisan fatamorgana di sekitar kepalan tangan Marquis.
Tetapi jika semakin diperhatikan, tidak hanya kepalan tangannya, melainkan seluruh tubuh Marquis juga diselimuti oleh lapisan fatamorgana tipis.
Brenda menutup mulutnya tidak percaya. "Aura?" Sebagai pengguna Aura dengan tingkat penguasaan yang cukup bagus, Brenda bisa dengan cepat mengenalinya.
Marquis mengangguk. "Kalian tidak bakal percaya kalau Aura bisa melakukan hal seperti itu jika saja kalian tidak melihatnya sendiri eh?"
Itu memang sangat mengagumkan, dampak kekuatannya mirip seperti kekuatan Alvaro, tapi Marquis kelihatan tidak terkena efek samping atau semacamnya.
Terlebih, hampir bisa dipastikan kalau lapisan fatamorgana yang menyelimuti tubuh Marquis mampu melindunginya dari hawa panas yang dilepaskan oleh Anford.
Alasan telapak tangan Marquis melepuh adalah karena dia menyentuh sumber panas secara langsung, panas tubuh Anford itu cukup untuk melelehkan beberapa jenis logam, hanya melepuh setelah menyentuh tubuh Anford secara langsung merupakan hal yang benar-benar mengagumkan.
"Jadi? Apa kalian siap untuk masuk neraka sekali lagi?"
__ADS_1