
Sebuah kabar beredar ke segala penjuru dunia, sebuah kabar yang sama hebohnya dengan kabar ancaman dari makhluk yang tidak diketahui.
Namun kabar kali ini merupakan kabar gembira, kabar yang kembali menumbuhkan harapan seluruh umat manusia.
"Di berbagai belahan dunia, telah muncul orang-orang yang dipilih oleh kekuatan cahaya, kekuatan yang sama seperti kekuatan Kaisar Agung Maximillian August!" Seseorang berseru dengan penuh antusiasme dan kebahagiaan.
"Mampus iblis-iblis terkutuk itu! Aku sudah yakin kalau kekuatan cahaya akan kembali di turunkan ke dunia ini." Orang lain juga berseru dengan begitu emosionalnya.
"Bahkan kali ini bukan hanya satu orang, melainkan banyak orang!" Seru yang lain tak kalah emosional.
Mereka semua benar-benar gembira dengan kabar ini, keyakinan mereka terhadap dewa-dewa kembali tumbuh, "Dewa tidak meninggalkan kita! Dewa telah menurunkan pertolongannya!"
Semua orang bergembira, jalanan dihiasi oleh lampu, seluruh kota di dunia membangun sebuah altar di pusat kota untuk persembahan kepada Dewa, para wanita memasak untuk pesta, anak-anak berlarian di jalanan dengan meniup terompet, kembang api tak terhitung jumlahnya dinyalakan untuk memeriahkan perayaan.
"Pemandangan yang menyenangkan ya, Gabriel." Ratu yang sedang makan daging tusuk di sebuah kios berkata kepada Gabriel yang duduk di sebelahnya.
"Benar sekali." Gabriel mengangguk sambil menatap rentetan kembang api yang menghiasi langit malam.
"Kau tahu? Dulu Tesla juga sempat menginginkan kehancuran dunianya, tapi dia menghentikan semua rencana di tengah jalan. Dia bilang manusia sudah cukup menderita." Ujar Ratu yang juga sedang menikmati pertunjukan kembang api.
Gabriel beralih menatap Ratu, dia belum pernah mendengar latar belakang Tesla, seorang ilmuwan yang bertanggung jawab atas pengembangan teknologi di Kota Bayangan.
"Di dunia Tesla, seseorang yang mampu menciptakan sesuatu yang baru akan mendapatkan penghargaan dan ketenaran yang besar, Tesla merupakan salah satu dari mereka, bahkan dia adalah yang paling jenius diantara mereka," Ratu berhenti sejenak menyeruput minuman panasnya.
"Tesla adalah seorang dengan kecerdasan luar biasa, tapi dia tidak tertarik dengan ketenaran dan kekayaan, yang dia inginkan hanyalah kebaikan untuk umat manusia." Gabriel menatap Ratu, saat menceritakan kisah para rekannya, Ratu selalu menceritakannya dengan sepenuh hati. Bahkan Gabriel bisa mendengar suara Ratu yang gemetar dan melihat matanya berkaca-kaca saat ini.
"Tapi seperti kebanyakan orang baik, mereka selalu mendapat perlakuan buruk dan ketidakadilan," pandangan Ratu dan Gabriel bertemu, sebuah senyum tersungging di bibir Ratu. "Bahkan rekan sesama penemunya mulai mencuri ide temuan Tesla dan memperkenalkan temuan itu kepada dunia sebagai penemuan mereka sendiri."
Gabriel tidak habis pikir dengan isi kepala manusia di dunia Tesla, orang sehebat Tesla yang mampu membuat Kota Bayangan seperti dunia fantasi disia-siakan oleh manusia di dunianya sendiri.
"Meski begitu, Tesla tidak mempermasalahkan hal itu, dia justru mengkhawatirkan kebodohan rekan-rekan yang cuma modal mencuri itu. 'Kalau aku tidak ada, apakah semua ini juga tidak pernah tercipta?' begitulah kira-kira yang dia pikirkan."
Manusia memang makhluk yang lucu, begitulah yang sering dikatakan Ratu, dan Gabriel yang seorang manusia juga setuju akan hal itu.
"Sampai ada suatu peristiwa yang membuat kesabarannya habis, membuat dia membenci semua manusia. Disaat itulah, Aku yang saat itu baru bertemu dengan Rangda dan Memphis beserta bawahannya mengajaknya bergabung. Tanpa pikir panjang, Tesla menyetujuinya dengan syarat yang sama denganmu." Ujar Ratu dengan senyum penuh makna.
"Kehancuran dunia." Lirih Gabriel.
Ratu mengangguk, "Tesla menyusun rencana sedemikian rupa untuk memusnahkan manusia melalui perang yang kejam, dia bahkan bekerja di balik layar dan menciptakan senjata khusus untuk menghancurkan umat manusia. Tapi baru saja senjata itu digunakan dua kali, Tesla memutuskan untuk menghentikan rencananya. 'Terlalu banyak orang tidak bersalah yang menjadi korban' begitulah yang dia katakan."
"Dia menghentikan itu karena pada dasarnya, dia adalah manusia yang peduli dengan manusia lainnya," ucap Gabriel.
Ratu tersenyum, dia kembali mengunyah daging tusuknya dan menyeruput minumannya. Gabriel termenung sejenak dan kemudian bertanya kepada Ratu, "Apakah Anda ingin saya menghentikan semua rencana yang saya susun ini?" Ratu menggeleng, membelai kepala Gabriel dengan penuh kasih sayang.
"Aku ingin kau melakukan apapun yang kau inginkan. Berhenti, hancurkan sekarang juga, atau melanjutkan semuanya. Itu semua terserah padamu."
Gabriel merasa sangat aman dan tenang saat Ratu membelai kepalanya seperti sekarang, rasa aman yang dia rasakan dari Ratu terasa berbeda dari rasa aman yang diberikan sosok bergaun putih yang mengasuhnya sebelum bertemu Ratu.
"Maka aku akan melanjutkan semuanya, aku akan melihat akhir dari segala yang aku lihat saat ini."
Jawaban Gabriel terdengar tenang namun terasa dingin dan kejam, Ratu hanya tersenyum mendengar itu. "Maka selesaikanlah, Gabriel." Ratu meraih kepala Gabriel dan mendekapnya erat di dada, mereka tetap seperti itu sampai beberapa waktu kedepan.
__ADS_1
****************
Beberapa hari setelah kejadian di hutan, Alex terus berlatih menggunakan kekuatannya, akhirnya dia berhasil menemukan kekuatan yang diberikan oleh sosok cahaya. Yaitu mengendalikan makhluk-makhluk unik yang dia lihat di danau, atau yang disebut sebagai Peri.
-BWOOSSH-
Semburan api keluar dari telapak Alex menyambar bongkahan batu besar beberapa langkah di depannya.
"Woaahh ...." Penduduk desa yang melihatnya terpana penuh kekaguman, mereka tidak menyangka kalau Alex betulan punya kekuatan super, mereka kira dia hanya berhalusinasi saat berada di dalam jurang.
Alex tersenyum puas, ekspresi wajahnya terlihat berbinar meskipun nafasnya terengah-engah dan tubuhnya basah karena keringat.
"Kerja bagus tuanku, Anda berhasil menguasai kekuatan api tingkat menengah."
Peri berwujud seekor siput berwarna merah dengan cangkang hitam merayap di pundak Alex, cahaya redup kemerahan menyelimuti tubuhnya. Peri itulah yang meminjamkan kekuatan apinya kepada Alex.
"Ini semua juga berkatmu, terimakasih banyak." Alex tersenyum kepada peri itu.
"Sudah menjadi tugas saya." Bilangnya sih gitu, tapi dari nada bicaranya terlihat sekali dia senang dipuji.
Alex masih belum terbiasa dengan para peri yang memperlakukannya dengan penuh kehormatan, seolah dia jadi bangsawan dadakan. Senang sih dia, cuma rasanya aneh saja.
"Selanjutnya aku mengandalkanmu." Alex berbicara kepada peri lain yang berwujud kupu-kupu seukuran burung dengan corak kehijauan."
"Dengan senang hati tuanku." Cahaya yang menyelimuti peri itu bersinar makin terang, tubuh Alex pun ikut memancarkan sinar berwarna kehijauan.
Alex merentangkan tangannya ke depan, mengumpulkan energi spirit di telapak tangannya.
-WHOOSSHH-
-BOOM-
-WHOOSSHH-
-WHOOSSHH-
-BOOM-
-BOOM-
Dua serangan serupa kembali melesat dari tangan Alex, dua cekungan terbentuk di permukaan batu besar itu. Orang-orang yang menonton membuka payung mereka, batu-batu yang berhamburan akibat serangan Alex terbang sampai ke tempat mereka menonton.
Itu adalah serangan gelombang kejut dengan elemen udara, elemen yang paling dikuasai Alex saat ini. Kemarin-kemarin dia hanya bisa menembakkan serangan itu sekali saja, sekarang dia bisa menembakkan tiga serangan sekaligus, itupun sebelumnya dia sudah mempraktekkan serangan dengan elemen lain.
Alex kemudian terduduk dengan tubuh penuh keringat, nafasnya terengah-engah. Peri angin dan air segera menggunakan kekuatan mereka untuk mendinginkan tubuh Alex.
"Terimakasih." Alex tersenyum kepada peri-peri itu, mereka hanya tertawa sebagai respon. Peri dengan tingkatan rendah memang tidak bisa berbicara, mereka hanya bisa menunjukkan ekspresi saja.
Orang-orang selain Alex nampaknya tidak bisa melihat peri-peri di sekitar Alex, mereka hanya bisa terlihat saat menggunakan kekuatan ataupun memang ingin menampakkan diri.
"Enak sekali ya kau ini, bahkan saat sedang lelah dan kepanasan pun, peri-peri itu dengan senang hati mendinginkan tubuhmu." Keluh teman-teman Alex yang berjalan mendekat.
__ADS_1
"Ya ... Mau bagaimana lagi kan." Alex mengangkat bahu, teman-temannya menatap Alex sebal.
Alex tertawa melihat reaksi mereka. "Mau gabung?" Alex meminta peri angin dan air di sekelilingnya untuk mendinginkan teman-temannya juga.
Barulah setelah itu teman-teman kampret itu tertawa dan duduk di dekat Alex, mereka segera memijati bahu Alex dan membawakan makanan ringan serta minuman.
Tentu saja sikap penjilat itu hanya gurauan antar teman, tanpa Alex gunakan kekuatan pendingin itu pun mereka akan tetap duduk di dekatnya. Walaupun tanpa pijatan dan jamuan.
Sial memang.
"Saat aku ke kota, orang-orang di pasar sedang hangat membicarakan sesuatu." Ujar salah satu teman Alex dengan rambut ikal dan kulit kemerahan.
"Memangnya yang mereka bicarakan, Ad?" Alex bertanya, dia memang jarang ke kota, karena tugasnya adalah mengumpulkan tanaman dan jamur herbal untuk diserahkan kepada tabib kampung.
"Katanya orang-orang dengan kekuatan spesial sudah bermunculan di berbagai belahan dunia." Jelas teman yang dipanggil Ad, nama aslinya Adrian, tapi orang-orang memanggilnya Ad. Lebih enak di lidah.
'Ini dia.' Batin Alex, orang-orang yang disebut sosok cahaya sebagai rekan-rekannya sudah mulai muncul.
"Dari yang kudengar, di benua barat ada Ferdinand Notaras Chevallaire dari Vasilius, Haznav Matausyalah dari Petra, Damian Mathvelli dari Baltigo, Alonso Cornivus Duterte dari Zirae Levanto. Siapa lagi ya? Banyak deh. Oh, tentu saja di Arthagon ada Alex Collin." Gurau Adrian, teman-teman Alex yang lain tertawa mendengarnya.
Alex tersenyum menatap teman-temannya yang tertawa satu persatu, mungkin setelah ini dia tidak akan melihat wajah mereka lagi, sebentar lagi dia akan terjun ke medan perang cepat atau lambat. Medan perang dimana tidak ada seorangpun tahu apa yang akan mereka hadapi.
"Kau kenapa Alex? Diem aja daritadi." Andre menepuk bahunya, Alex menggeleng, dia sedang berusaha menahan air mata.
Satu persatu kenangannya di kampung ini bersama teman-temannya mulai berseliweran di benaknya.
Rasanya baru kemarin dia dan teman-teman berlarian menuju danau dan mandi beramai-ramai disana saat musim panas tiba, sekarang dia harus mengemban tanggung jawab untuk melindungi manusia. Terutama orang-orang di sekitarnya.
"Kakaak! Waktunya makan siaang!" Adik Alex meneriakinya dari kejauhan, Alex segera beranjak mengikuti adiknya ke rumah, teman-teman Alex pun mulai bubar satu persatu.
"Alex! Alex! Kau dimana?!"
Tapi belum sempat dia masuk ke rumah, suara lain terdengar meneriakinya, orang itu adalah pak Tony, dia tampak mencari-cari Alex. Saat dilihatnya Alex yang sedang berjalan menuju rumah, dia tersenyum kecil, memberi isyarat kepada Alex untuk mendekat.
Di sebelah pak Tony, terlihat seorang dengan pakaian rapih, tidak mewah, hanya rapih. Tapi Alex bisa menebak kalau orang ini adalah utusan atau semacamnya.
Pak Tony mulai memperkenalkan orang itu. "Namanya Arnold Bauved, dia adalah seorang Count yang biasa ditugaskan untuk menjadi delegasi."
Alex terhenyak, dia tidak menyangka seorang delegasi akan datang ke kampungnya, terlebih dia adalah seorang Count. Alex segera membungkuk memberi hormat, "Salam Count Arnold Bauved, saya tidak menyangka seseorang dengan gelar Count akan datang ke perkampungan sederhana ini."
Senyum tersungging di bibir Count Arnold, "Santai saja, anak muda. Seperti yang dikatakan Tony, aku adalah seorang delegasi Kerajaan Arthagon. Apa mungkin kau sudah bisa menebak maksud kedatanganku?"
Alex terdiam, adiknya menatap Count Arnold takut-takut dari balik punggung Alex. Kemudian dia mengangguk, "Anda bermaksud membawa saya ikut serta ke ibukota Arthagon bukan?" Count Arnold mengangguk, "Separuh benar, aku datang sebagai utusan untuk memintamu bergabung ke Akademi Pendidikan Unit Khusus, dan itu ada di Kerajaan Heinzgard"
Mendengar itu, adik Alex menatap Alex dengan ekspresi terkejut, begitu juga orang-orang di sekitar mereka.
"Namanya memang akademi sih, tapi sebenarnya itu tidak jauh beda dengan kemiliteran." Count melanjutkan.
Tanpa ragu, Alex mengangguk menyetujuinya, "Aku akan kesana."
Wajah Count terlihat senang dengan jawaban Alex, dia menepuk-nepuk bahu Alex, "Ini adalah bahu yang mengemban tugas berat, kami semua menaruh harapan padamu."
__ADS_1
Wajah Alex terlihat gugup, seorang Count bersikap begitu bersahabat kepadanya, itu memang menyenangkan, tapi rasanya sedikit aneh.
"Ah, bisakah kau menunjukkan kekuatanmu?"