Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 8: Gabriel


__ADS_3

"Benar-benar sulit dipercaya." Raja Vasilius menyandarkan tubuhnya ke singgasana setelah mendengarkan laporan dari Duke Aveirrose.


"Hanya dalam satu kesempatan, kerugian di pihak aliansi sudah sangat besar. Dengan kematian David Matausyalah saja kekuatan Petra sudah berkurang drastis." Marquis Leinard menanggapi.


"Selain itu, Aleorin Conizoite yang merupakan Grand Magister Atlanta mengalami PTSD dan hampir gila. Trevor Fredelli Corvus, Komandan Kesatria Matahari Cardalion pun juga mengalami PTSD. Sebenarnya masih banyak lagi yang belum disebutkan." Tutur seseorang. Dari penampilannya, dia terlihat seperti seorang dengan kedudukan tinggi diantara bangsawan Vasilius.


Duke Aveirrose hanya diam saja setelah selesai memberikan laporan, wajahnya terlihat pucat dan tirus, kantong matanya pun terlihat begitu gelap, dan ekspresinya terlihat lemas.


"Anda baik-baik saja Duke? Mungkin sebaiknya Anda undur diri dan beristirahat, peristiwa itu pasti sangat berat bagi Anda." Ujar seorang bangsawan yang terlihat memperhatikan penampilan Duke Aveirrose yang terlihat kacau, bangsawan lain pun mengiyakan ucapannya.


"Sangat berat? Lebih tepatnya amat sangat mengerikan, hari itu benar-benar seperti neraka. Tidak, andai saja Anda disana saat itu, Duke Bosuvoise, pasti Anda akan merasakan kalau neraka masih lebih baik daripada tempat itu." Duke Aveirrose mengatakan itu dengan suara gemetar dan mata mendelik menatap Duke Bosuvoise, jelas sekali mental Duke Aveirrose sedang tidak baik-baik saja.


Seisi ruangan terlihat memasang ekspresi prihatin dan kecewa, Duke Aveirrose yang begitu kharismatik itu berubah menjadi seperti orang tidak waras. "Duke, sebaiknya kau beristirahat, akan kupanggilkan tenaga medis terbaik di istana ke manor mu. Kau adalah orang penting Kerajaan, aku perlu kau selalu dalam kondisi terbaik." Raja yang juga melihat Duke Aveirrose dengan tatapan menyedihkan memberi perintah. Duke hanya bisa menunduk dan undur diri dari ruang pertemuan.


Semua orang yang menatap punggung Duke Aveirrose menghilang dari balik pintu ruangan menghela nafas. "Sebegitu mengerikannya kah mereka?" Salah seorang bangsawan yang ada di ruangan itu mengeluh sambil mengurut dahinya.


Marquis Leinard tertawa kecil, "Bagaimana menurutmu Marquis Rossvelt? Kalau saja ruangan ini kedatangan makhluk seperti yang dikatakan Duke Aveirrose itu?" Grand Duke Chevallaire menatap Marquis Leinard tajam setelah mendengar gurauannya yang sama sekali tidak lucu, Marquis Leinard segera menghentikan tawanya dan meminta maaf kepada seluruh orang di ruangan itu.


Duke Bosuvoise terlihat berpikir sejenak, "Tapi, Aleorin Conizoite kah? Padahal wanita itu adalah seorang Penyihir yang sangat hebat, Grand Magister dari Kerajaan Atlanta yang notabene merupakan kerajaan sihir tentu saja kekuatannya bukan main-main."


"Jika saja Magus Kerajaan yang berada di tempat itu, apakah dia bisa keluar dengan selamat?" Marquis Rossvelt terlihat gugup, mendengar laporan Duke Aveirrose saja sudah cukup membuatnya gemetaran membayangkan sosok yang disebut Dracula itu.


Grand Duke Chevallaire menghela nafas, "Jujur saja, aku benci sekali mengatakan ini, tapi bahkan jika Magus Kerajaan berada di tempat itu, kemungkinan dia juga akan mengalami hal yang sama dengan Aleorin Conizoite."

__ADS_1


"Setelah dipikir-pikir, Magus kita lagi-lagi tidak hadir dalam pertemuan ya?"


Duke Bosuvoise tertawa kecil, "Seperti yang Anda ketahui, Marquis Leinard, Magus itu orang yang lebih sulit ditemui daripada Yang Mulia. Aku yakin saat ini dia sedang asyik membaca buku teori sihir dan meracik ramuan aneh." Gurau Duke Bosuvoise, Marquis Leinard tertawa mendengarnya.


"Siapa yang asik meracik ramuan aneh?" Sebuah suara tiba-tiba terdengar di belakang Duke Bosuvoise, membuatnya melompat karena terkejut.


"Kau datang, Marcus." Raja yang seperti sudah mengetahui orang yang tiba-tiba muncul ini akan datang segera menyuruhnya duduk di kursi kosong yang disediakan, tapi sebelum dia duduk, Grand Duke Chevallaire berdiri dan menunjuk orang itu tepat di dadanya.


Grand Duke menatap tajam orang yang ada di depannya, "Earl Goverzenon, aku tahu kau adalah orang yang mendapat perlakuan istimewa karena kau seorang Magus. Tapi tiba-tiba muncul di ruang pertemuan yang dihadiri Yang Mulia, kau benar-benar sudah lupa daratan ya?"


Orang yang dipanggil Earl Goverzenon itu hanya tersenyum, dia juga menatap Grand Duke tak kalah tajam, energi sihirnya beradu dengan aura Grand Duke.


"Cukup." Satu kata dari Raja Vasilius membuat kedua energi yang saling bertabrakan itu terhempas dan seketika menghilang. Grand Duke segera menunduk dan meminta maaf, "Mohon maafkan saya Yang Mulia, tapi bagi saya, perilaku Earl Goverzenon sudah melewati batas."


"Sudahlah, Grand Duke, kembalilah duduk." Raja melambaikan tangannya, dia jelas tidak bisa menengahi Magus yang kelewat santai dan Grand Duke yang selalu serius, lebih baik diabaikan saja.


"Aku sudah membaca laporan mengenai peristiwa di rapat aliansi. Makhluk yang bernama Dracula itu benar-benar sangat kuat, kalau Aleorin saja sampai PTSD, bisa dipastikan makhluk itu memang sangat kuat. Ngomong-ngomong, anggurnya enak." Magus akhirnya buka suara setelah selesai memakan anggur, tingkah Magus membuat Grand Duke terlihat murka.


"Menurutku, makhluk itu adalah kekuatan terbesar yang dimiliki oleh 'Ratu' setelah memperhitungkan kekuatannya. Akupun yakin, dengan menggabungkan kekuatan antara pengguna aura dan sihir, kita bisa menjatuhkannya. Katakanlah aku dan Grand Duke menyerangnya, aku yakin kami bisa mengalahkannya." Magus melanjutkan perkataannya.


"Ya, makhluk itu kemungkinan besar merupakan bawahan terkuat yang dimiliki 'Ratu', kalau Magus sudah yakin bisa mengalahkannya dengan menyatukan kekuatan, maka aku yakin hal itu mungkin dilakukan." Ucap Raja Vasilius. "Tapi jangan sekalipun lengah, karena selalu ada skenario terburuk," sambung Raja.


Semua orang di ruangan itu mengangguk setuju.

__ADS_1


...****************...


Sementara itu, di Dunia Bayangan.


"SIAALLLL! AKU BENAR-BENAR MINTA MAAF RANGDAAA!" Sosok Dracula yang diyakini oleh Magus sebagai bawahan terkuat 'Ratu', saat ini sedang dihajar habis-habisan oleh Rangda.


"Kan sudah kubilang kalau kau hanya boleh muncul dan mengeluarkan sedikit kekuatanmu, kenapa malah membunuh? Kau mau mereka kehilangan harapan? Jadinya tidak menyenangkan kan?" Rangda terus-terusan melancarkan serangannya ke arah si vampir yang susah payah bertahan, tubuhnya sudah babak belur, entah berapa kali dia terkena serangan Rangda.


"Kalau begitu kau hanya akan membuat usaha Niya sia-sia." Yang dimaksud Rangda adalah sosok Elf yang ribut dengan si vampir di chapter 6.


Elf yang bernama Niya itu menatap si vampir dengan tatapan puas, "SIALAN KAU ELF BRENGSEK! KEMARI KAU! AKAN KUBUAT TUBUHMU ITU KERING SAMPAI MATI!" Si vampir berteriak-teriak menyumpahi Niya, tapi ocehannya itu membuat pertahanannya lengah, satu serangan Rangda berhasil menembus pertahanannya dan telak mengenainya, membuat si vampir terlempar beberapa puluh meter dengan darah berceceran.


"Kelihatannya Rangda terlalu berlebihan ya." Ratu yang menonton pemandangan itu dari kastil berkata kepada Great Chamberlain. Great Chamberlain yang juga menonton hanya tersenyum dan menggeleng, "Elrich punya daya tahan yang kuat, Anda tidak perlu mengkhawatirkannya, Ratu," ucapnya sambil menyuguhkan jus kepada Ratu.


Ratu meminum jus yang disuguhkan oleh Great Chamberlain, "Enak banget!" Ratu terlihat sangat menyukai jus buatan Great Chamberlain, dia pun kembali menuangkan jus untuk Ratu.


"Gabriel, kamu mau ikut aku jalan-jalan ke kota manusia besok? Kita berdua saja." Ratu menatap Great Chamberlain dengan mata berbinar-binar, Great Chamberlain akhrinya mengangguk, wajah antusias Ratu membuat Great Chamberlain tidak bisa menolak. Lagipula dia tidak berniat menolak sih.


"Bagus! Besok kita ke wilayah utara ya, kan mereka bakal dihancurkan terlebih dahulu, jadi kita lihat-lihat sebentar." Ratu berseru penuh semangat, dia hanya bertingkah seperti ini saat bersama dengan Rangda dan Great Chamberlain yang bernama Gabriel. Senyum tipis terlihat di wajah Gabriel saat dia melihat Ratu yang berbicara dengan penuh semangat, 'cantik sekali' pikir Gabriel.


"Oh iya, aku sudah tanya soal makanan yang bernama es krim itu ke semua orang, dan kelihatannya Tesla bisa membuatnya, nanti kita datang ke laboratoriumnya ya." Gabriel mengangguk, dia penasaran seperti apa es krim yang dimaksud Ratu.


Tapi setahunya, Tesla adalah seorang ilmuwan yang mengembangkan senjata dan berbagai fasilitas di Dunia Bayangan, sejak kapan dia jadi koki?

__ADS_1


__ADS_2