Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 31: Kecewa


__ADS_3

Pagi itu, Haznav yang terbangun dari tidur berkeliling ke area pengungsian pars prajurit, mereka mendirikan tenda-tenda darurat menggunakan batang kayu dan dedaunan yang ditumpuk menjadi semacam gubuk untuk prajurit-prajurit dengan luka paling parah.


Tiga prajurit yang sebelumnya dalam kondisi kritis dinyatakan gugur pagi ini, tubuh mereka ditutup dengan seragam militer mereka sendiri.


Setibanya di pos penjagaan, Haznav termangu karena William yang seharusnya mendapat shift jaga terakhir tidak berada di tempat, dia bertanya prajurit lain yang menjadi rekan jaganya.


"Dimana William!?" Dia mengguncang bahu prajurit itu, yang tampak ragu-ragu dan sedikit takut. Haznav sudah bisa menduga apa yang terjadi.


Dia mendengus kesal, "Apa dia pergi sendiri?" Prajurit itu mengangguk, membuat Haznav sedikit lega. Dengan kekuatan William, seharusnya dia bisa kembali hidup-hidup.


"Haznav, ada apa?" Damian yang muncul dari belakang bertanya, "Dimana William?" Tanya dia setelah menoleh kesana-kemari dan tidak menemukan keberadaan William di sana.


"Dia menyusul Adrian." Damian tersentak mendengar jawaban Haznav, "Hei! Kenapa kau membiarkannya!?" Dia melabrak prajurit itu, dia adalah seorang yang dulunya merupakan Kelas Perunggu, tentu saja dia tidak bisa melakukan apapun saat William pergi.


Haznav menahan Damian untuk berbuat lebih jauh, "Dengan kekuatannya, seharusnya dia bisa kembali dengan selamat," ujar Haznav, meski terdengar ketidakyakinan dalam suaranya.


Damian menghela nafas berat, dia duduk bersandar pada sebuah pohon, memegangi kepalanya. Haznav ikutan bersandar pada pohon lain, meski tidak duduk.


"Hei ... Dia pasti masih hidup kan? Si Adrian itu." Damian berucap lirih, "Habisnya dia itu Adrian loh."


Haznav menatap Damian yang tertunduk sambil memegangi kepalanya, "Jangan terlalu berharap, memang ada kemungkinannya, tapi kita harus bersiap akan kemungkinan terburuk."


Terdengar suara Damian yang mengeluh tertahan, Haznav segera mengalihkan pembicaraan, "Bagaimana kondisi Alvaro dan Raymond?"


Damian menurunkan tangannya, "Raymond sudah siuman dini hari tadi, tapi paramedis menyuruhnya untuk tetap istirahat."


"Alvaro?"


Damian menggeleng, "Dia masih belum siuman, tapi paramedis bilang kondisinya sudah lebih stabil. Orang-orang seperti kita memang bisa pulih lebih cepat."


"Raymond bertanya soal kita?"


Damian mengangguk. Haznav terdiam sejenak, "Apa yang mereka katakan?"


"Yah ... Mereka berbohong, terutama soal Adrian, menstabilkan kondisi Raymond adalah prioritas utama saat ini."


Memang benar, Raymond adalah kunci utama bagi mereka jika mereka ingin tetap hidup. Kekuatan penyembuhannya selalu diperlukan, terutama jika Alvaro sedang menggunakan kekuatannya.


Haznav menghembuskan nafas lagi, entah berapa kali dia melakukannya. Mereka harus segera meninggalkan tempat ini sebelum boneka-boneka besi itu mengejar mereka, kalau Raymond sudah pulih dan bisa menggunakan kekuatannya lagi, mereka bisa segera bergerak menuju kota lain untuk memantapkan pertahanan di sana.


"I-itu William!" Pekik prajurit yang tadi dilabrak oleh Haznav dan Damian, dia menunjuk ke satu arah. Mereka berdua terperanjat, lalu segera menoleh ke arah yang ditunjuk prajurit itu.


Beberapa puluh meter dari mereka, terlihat William yang melaju di udara ke arah mereka dengan kecepatan tinggi, wajahnya terlihat khawatir dan panik, tapi sebuah senyuman tersungging di wajahnya. Dia terlihat membopong sesuatu di bahunya.

__ADS_1


Damian dan Haznav melongo melihat itu, Damian sampai menahan nafas melihat William yang datang sambil membawa ....


"ADRIAAAAN!" Seru Damian tak terkendali.


"MINGGIR! ADA PENDARATAN DARURAT!" William berteriak keras ke arah mereka sambil mengibaskan tangannya berkali-kali, menyuruh mereka menyingkir dari radius pendaratannya.


"WAAAAHHHHH!"


-BRUKK!-


-SRUUUKKKK!-


Tubuh William terbanting ke tanah kemudian terseret beberapa meter jauhnya sebelum terguling beberapa kali dan berhenti. Tapi sebelum dia menyentuh tanah, dia melempar tubuh Adrian ke Haznav.


Damian berseru senang, lalu berlarian ke arah William yang masih tersungkur, dia menarik tubuh William untuk berdiri.


"Aw! Pelan-pelan sialan!" Pekik William kesakitan, di tubuhnya terdapat beberapa luka bakar dan luka sayatan ringan, dia tidak mengenakan zirahnya, jadi wajar kalau dia terluka di sana-sini.


"Kau baik-baik saja!?" Tanya Damian penuh antusias, William mengangguk, yah walaupun kondisinya tidak bisa dibilang 'baik-baik saja'.


"Yang lebih penting itu Adrian! Cepat bawa dia ke paramedis!" Seru William.


"Dia masih bernafas ...." Lirih Haznav.


Haznav pun juga segera berlari ke arah basecamp sementara mereka, meninggalkan William dan prajurit yang tadi berjaga bersamanya.


"Hey ...." William memegangi perut sisi kanannya yang terkena luka tusukan, tusukan itu memang tidak sampai mengenai organ vitalnya, meski begitu tetap saja rasa sakitnya bukan main.


"Bisakah kau membopongku?" Pintanya ke prajurit itu, si prajurit mengangguk dan segera menopang tubuh William dan menuntunnya menuju basecamp.


Sesampainya mereka di basecamp, keributan sudah terjadi di sana, bahkan prajurit terluka yang sempat kesusahan berjalan sampai ikutan mengerumuni Adrian yang dibaringkan di atas rumput.


Reyna berlari ke arah William dan memeluknya, tapi Reyna terlalu bersemangat saat berlari, membuat William merasa tubuhnya dihantam oleh sesuatu saat Reyna memeluknya. Dia sampai nyaris terpental saat itu.


"Terimakasih! Terimakasih!" Dia menangis di dada William, William pun tersenyum dan mendekap kepalanya.


Raymond yang tubuhnya sudah hampir pulih sepenuhnya berlari keluar tenda darurat dan segera memeriksa kondisi Adrian.


"Apa dia masih bisa diselamatkan?" Haznav bertanya dengan nada cemas, terdapat luka tebasan besar di tubuh Adrian dan luka bakar yang hampir menutupi seluruh tubuhnya membuat orang-orang berfikir kalau dia tinggal menunggu waktu saja. Raymond yang terlihat kebingungan hanya mengangguk.


Haznav dan semua orang menghela nafas lega, orang-orang mulai menyorakkan nama William dan Adrian.


Tangan Raymond menyentuh luka tebasan besar di tubuh Adrian dan mulai menggunakan kekuatannya, cahaya redup mengalir dari tangannya ke tubuh Adrian. Perlahan-lahan, tubuh Adrian mulai pulih, luka tebasan itu menutup, luka bakar di sekujur tubuhnya pun menghilang sedikit demi sedikit.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama bagi Adrian untuk pulih sepenuhnya, meski armor dan seragam militernya rusak dan terbakar di sana-sini.


Semua orang pun bersorak penuh kegembiraan, beberapa dari mereka bahkan sampai berlutut di hadapan William yang didudukkan di atas sebuah batu, membuatnya salah tingkah.


Bahkan Haznav yang tanpa senyum itu memperlihatkan sebuah senyum tipis di bibirnya. "Kerja bagus, Raymond-" Dia kebingungan melihat ekspresi Raymond yang kecewa dan sedih.


"... Ada apa?" Haznav menatap Adrian, tubuhnya memang pulih dan lukanya menutup, tapi mulut dan hidung Adrian kembali mengeluarkan darah segar dalam jumlah banyak.


"Tidak mungkin ... Raymond! Apa yang terjadi?!" Haznav hampir mencengkram kerah pakaian Raymond karena saking paniknya.


Orang-orang yang awalnya terfokus pada William kembali menoleh ke arah Adrian, kepanikan terjadi ketika mereka melihat Adrian yang beberapa kali memuntahkan darah dari mulutnya, bahkan dari hidungnya juga mengalir darah dalam jumlah yang banyak.


Raymond mendudukkan tubuh Adrian, lalu dia membiarkan Adrian bersandar di tubuhnya yang memancarkan cahaya redup kebiruan.


"Apa yang terjadi?" Reyna mendekat dengan khawatir. Tapi Raymond hanya menggeleng dengan wajah putus asa.


Tidak lama kemudian, Raymond kembali membaringkan tubuhnya di atas rumput, lalu menyeka dahi Adrian yang berkeringat dan membersihkan darah di wajah Adrian menggunakan sapu tangan. Dia melepas seragam militernya dan menutup wajah Adrian dengan jaket itu.


Apa yang dilakukan Raymond mengatakan segalanya, orang-orang menatap adegan itu dengan tatapan kosong, mereka belum sempat mencerna kejadian yang terjadi begitu cepat.


Tak lama kemudian, suasana kembali muram, orang-orang terduduk lemas sambil memegangi kepala mereka, Reyna, Damian dan William mulai menangis. Sementara Haznav mengangkat tubuh Adrian masuk ke dalam salah satu tenda darurat, menarik salah satu prajurit terluka keluar dan membaringkan tubuh Adrian di sana.


Raymond buru-buru menggunakan kekuatannya pada prajurit itu. Lalu dia menoleh ke arah kerumunan prajurit, mereka memang tidak mengatakan apapun, tapi tatapan mata mereka terlihat meminta penjelasan darinya.


"Maafkan aku, aku memang mampu memulihkan luka bakar, tebasan, tusukan. Bahkan aku bisa menyambungkan organ yang terputus selama ada organnya."


Raymond terdiam sejenak, "Aku ... Tidak bisa mengembalikan organ yang sudah tidak ada. Bagaimana dia bisa bertahan sejauh ini, aku sendiri tidak mengerti."


Dia berjalan ke arah William, menggunakan kekuatan penyembuhannya ke William.


"Terimakasih karena sudah membawa Adrian kembali. Berkatmu, kita bisa memberi penghormatan yang layak untuknya. Aku yakin dia juga berterimakasih kepadamu" Dia menepuk bahu William yang masih mematung.


Setelah itu, dia beranjak menuju tenda Alvaro, meninggalkan semua orang yang masih terdiam karena kecewa, sedih, putus asa.


Reyna menangis di pelukan William, harapan yang muncul karena Adrian yang berhasil dibawa kembali hidup-hidup justru membuat rasa sakit yang mereka alami semakin dalam.


Meski kebanyakan orang di sana baru mengenal Adrian beberapa hari terakhir, tapi dia adalah sosok yang kharismatik, ramah dan cerdas. Membuat dia mampu membangun ikatan erat dengan mereka dalam waktu singkat.


"Sekarang aku harus memikirkan kata-kata yang akan ku sampaikan pada Alex dan Anford," Lirih Haznav sambil berjalan menjauh dari kerumunan.


...****************...


__ADS_1


Ilustrasi karakter Adrian Cornivus Duterte


__ADS_2