Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 26: Pelepasan


__ADS_3

Satuan yang diketuai oleh Alex akhirnya tiba di kota Pyotr yang menjadi pos pertahanan tenggara.


Perwira militer dan penduduk kota terkejut saat melihat kereta yang seharusnya menjadi tumpangan para prajurit muda itu tiba di stasiun dalam keadaan rusak parah di bagian depannya, kereta itu bahkan berhenti menggunakan rem darurat.


Para prajurit segera bersiaga sebagai antisipasi kalau-kalau justru musuh yang keluar dari kereta. Tapi setelah pintu gerbong terbuka, terlihatlah sekumpulan pemuda-pemudi dengan seragam militer.


Semua orang lega melihatnya, tapi beberapa dari mereka tampak berantakan, bahkan ada juga yang terluka dengan perban di sana-sini.


Tapi yang membuat mereka benar-benar kehilangan kata-kata adalah ketika sebuah tandu diangkat keluar, diatasnya terbaring sesosok pemuda dengan seragam militer bersimbah darah. Kain berwarna putih yang menutupi wajahnya menandakan kalau dia sudah tidak lagi bersama mereka.


Seorang gadis remaja terlihat terduduk di sisi tandu itu, wajahnya kuyu, bibirnya kering, dan matanya memerah dengan kantung mata membengkak. Bahkan ketika petugas medis memeriksa jenazah itu, dia tidak mau bergeser sedikitpun.


Perwira militer masih belum sepenuhnya memahami situasi ini, sebelum akhirnya seorang pemuda berambut pirang dengan mata biru mendekat dan memberi hormat kepadanya.


Kondisi pemuda itupun tidak lebih baik dari yang lain, seragam militernya tergores di banyak tempat dan terdapat bercak darah dan juga bercak aneh berwarna hijau.


"Prajurit Alex Collin, datang untuk melapor."


Perwira membalas hormatnya, "Apa yang terjadi?" Perwira itu bertanya tidak sabaran.


"Siap pak, kami diserang saat kereta melintasi barisan pegunungan sebelum memasuki wilayah Pyotr."


"Diserang oleh apa tepatnya? Aku rasa tidak mungkin itu adalah serangan manusia kan?" Perwira menunjuk lokomotif kereta yang berlubang dan gerbong satu yang atapnya terkoyak.


"Siap pak, besar dugaan itu adalah bagian dari iblis, saya tidak pernah melihat laba-laba yang ukuran tubuhnya sebesar gerbong kereta dengan kaki yang cukup kuat untuk menembus atap kereta." Alex menjelaskan secara singkat.


"Aku tidak melihat masinis kereta ini, kemana perginya mereka?"


"Siap pak, setelah kami berhasil menumbangkan monster laba-laba itu, kami memeriksa ruang kemudi dan tidak menemukan jasad masinis kereta di sana."


"Jasad kau bilang ... Kau yakin mereka mati?"


"Siap pak, saya khawatir memang begitu adanya."

__ADS_1


Perwira militer menghela nafas, bahkan para iblis sudah menyusupkan bala tentaranya ke negara ini, entah pos pertahanan itu benar-benar berguna atau tidak nantinya.


"Kau boleh pergi, prajurit lain akan mengantar kalian menuju barak di pos pertahanan kota ini, pulihkan diri kalian. Prajurit yang mati akan dipulangkan jenazahnya, upacara akan diselenggarakan sore hari ini bersama dengan penghormatan terakhir."


Alex memberi hormat, kemudian dia berbalik dan mengkoordinir prajurit baru untuk mengikuti arahan prajurit senior. Mereka segera mengemasi barang mereka yang diluar dugaan cukup banyak, dan berjalan teratur mengikuti arahan prajurit senior.


Perwira menatap para prajurit baru yang tampak kelelahan, mungkin mereka berjaga sepanjang malam untuk mengantisipasi serangan lain.


Jenazah prajurit yang mati sudah ditutupi oleh kain putih dan dibawa ke rumah duka untuk persiapan upacara, prajurit wanita yang sedari tadi berada di sisi jenazah itu menolak pergi ke barak dan memilih pergi ke rumah duka. Tapi prajurit wanita lain yang lebih senior menyeretnya ke barak, dia terlihat meronta-ronta sambil mengerang, menolak meninggalkan jenazah itu.


"Selamat datang di medan perang." Bisik perwira itu dengan suara yang hanya dapat didengar olehnya, kemudian dia pun berbalik dan meninggalkan stasiun disertai oleh beberapa bawahannya.


...****************...


Sementara itu di barak pos pertahanan tenggara.


Alex meletakkan semua barang bawaannya begitu saja dan langsung merebahkan diri di kasur kecil yang disediakan asrama barak, dia merasa sangat lelah karena setelah pertarungan melawan monster laba-laba, mereka terus terjaga sebagai antisipasi serangan lain.


Dia bahkan tidak kepikiran untuk membersihkan diri terlebih dahulu kalau bukan karena Anford yang melempar wajahnya dengan handuk.


"Kita, Anford."


Alex akhirnya kembali berdiri, melepas kemeja luarnya kemudian pergi ke pemandian. Pemandian di barak ini hanya berupa barisan bilik kecil yang hanya cukup untuk satu orang di masing-masing bilik dengan satu pipa besar di atas kepala, saking minimnya sekat bilik mandi itu, mereka bisa saling mengobrol sambil mandi.


"Pemandian di sini sangat berbeda dengan Akademi ya," ujar Anford membuka obrolan, Alex bisa melihat ubun-ubun Anford karena rendahnya sekat bilik mandi mereka.


"Bilik mandi seperti ini didapatkan oleh Kelas Perunggu, Kelas Emas memang diberi perlakuan khusus." Alex menimpali.


"Apa agenda setelah ini?" Tanya Anford lagi.


"Sarapan sepertinya, perwira tadi membiarkan kita beristirahat sampai besok." Jawab Alex.


"Ah ... Setelah kejadian yang kita alami semalam, aku jadi tidak selera makan."

__ADS_1


Alex terdiam, dia kembali teringat pertarungan semalam, apa-apaan sebenarnya makhluk itu? Tombak-tombak yang menyerupai kaki itu tidak terlihat seperti kaki laba-laba. Terlebih, saat laba-laba itu menyerang, dia hanya mengangkat kakinya sedikit kemudian sebuah tombak tiba-tiba melesat dari ujung kakinya.


Itu baru satu, bagaimana kalau mereka harus melawan sekumpulan makhluk seperti itu di masa depan? Bagaimana kalau bukan cuma monster berwujud laba-laba? Membayangkannya saja sudah membuat Alex merasa mual.


"Kau tahu? Kaki laba-laba yang aku potong itu menjadi lunak setelah beberapa saat, saking lunaknya sampai aku tidak menyangka benda itu bisa menembus atap kereta," ujar Anford yang membuat Alex makin pusing.


Memang tidak ada hal yang masuk akal dari iblis-iblis itu. Meski baru kali ini Alex berhadapan langsung dengan mereka, dia tahu kalau monster laba-laba itu hanya salah satu dari sekian banyak monster lain. Mengingat dalam laporan dari pembantaian benteng di Kekaisaran Chyrosian, mengatakan kalau di tubuh para prajurit terdapat luka cabikan dan terkaman, itu jelas berbeda dari luka yang ditimbulkan oleh monster laba-laba yang menyerang satuan mereka dalam perjalanan.


Perlahan-lahan dia mulai meragukan kemampuannya sendiri, satu tentara iblis saja mampu membuat mereka mengalami kerugian besar, dalam hal ini mereka kehilangan Brian yang notabene adalah salah satu prajurit dengan kekuatan cahaya.


Seusai mandi, seorang perwira menengah meminta Alex mengarahkan rekan-rekannya menuju kantin barak. Meski dia sendiri tidak selera makan, tapi mau tidak mau dia sebagai ketua satuan sementara saat ini harus mengikuti instruksi atasan.


Dalam perjalanan ke kantin barak, seseorang mendekati Alex yang agak termenung "Apa yang terjadi saat itu?"


Orang itu adalah salah satu rekan Alex yang berasal dari Kelas Perak bernama Phillip, dia berada di gerbong tiga saat itu, orang-orang dari gerbong tiga sama sekali tidak tahu apa yang terjadi sampai setelah monster laba-laba dikalahkan.


"Kenapa kau tidak bertanya kepada yang lain saja?" Sebenarnya Alex sangat malas menjelaskan kejadian itu, dia sedang tidak ingin mengingat momen kematian Brian.


Phillip mengangkat bahu, "Aku rasa bertanya padamu adalah pilihan paling tepat."


Alex menghela nafas, "Yah, maaf saja, mungkin lain kali."


Phillip terlihat kecewa mendengar jawaban Alex, tapi dia paham kalau penumpang gerbong satu saat ini sangat terpukul karena kematian Brian, jadi dia tidak berniat mendesak siapapun untuk menjawab pertanyaannya.


...****************...


Sore hari itu, para prajurit dari pos pertahanan tenggara melakukan upacara pelepasan untuk Brian sekaligus penghormatan terakhir, meriam-meriam kosong ditembakkan ke udara seiring dengan peti mati dari Brian McGray diangkat oleh beberapa prajurit ke dalam kereta untuk dipulangkan ke negara asalnya.


Tania yang berada di barisan prajurit wanita tidak sanggup lagi berdiri hingga akhirnya jatuh terduduk, beberapa prajurit wanita lain hendak membopongnya keluar barisan, tapi dia menolak. "Aku ingin melihatnya untuk yang terakhir kali," ucapnya lirih, akhirnya mereka menopang tubuhnya supaya tetap berdiri sampai prosesi upacara berakhir.


Para prajurit meletakkan bunga dan lilin di dalam gerbong tempat peti mati Brian dibaringkan, beberapa prajurit senior dan perwira ikut menaiki gerbong kereta yang lain, mereka bertindak sebagai perwakilan untuk melaksanakan upacara pemakaman di kampung halaman Brian


Setelah prajurit terakhir meletakkan bunga dan lilinnya, kereta membunyikan peluit tanda segera berangkat. Kebanyakan prajurit memilih untuk kembali ke barak, tapi beberapa yang lain terutama satuan Brian tetap berada di tempat sampai kereta tersebut menghilang dari pandangan.

__ADS_1


Di momen itulah mereka benar-benar sadar akan ancaman dari para iblis, tanpa mental dan kekuatan yang cukup mereka tidak akan mampu bertahan dalam perang ini. Amarah, dendam, inferioritas, dan penyesalan menjadi bahan bakar mereka untuk terus bertumbuh menjadi lebih kuat.


Mereka bertekad untuk melihat akhir dari peperangan ini, entah itu akhir yang baik atau sebaliknya.


__ADS_2