Dendam Putra Bangsawan

Dendam Putra Bangsawan
Chapter 4: Kebencian


__ADS_3

Seorang berbaju pelayan terlihat berjalan sambil mendorong troli berisi makanan, kalaupun itu bisa disebut makanan. Dia berjalan menyusuri sebuah koridor bangunan megah yang terlihat terbengkalai, sesekali dia menggumamkan kata-kata kasar dan sumpah serapah.


Bangunan yang sebenarnya megah dan indah ini menjadi tempat yang memiliki kesan horror dengan lantai kotor, dinding berdebu, jendela rusak dan atap-atap yang mulai roboh.


Di dinding-dinding lusuh sepanjang korridor tergambar berbagai ornamen yang sudah tertutupi debu dan berbagai macam noda. Meskipun demikian, samar-samar sebuah lambang keluarga bangsawan masih bisa dilihat dari balik noda-noda yang menutupinya.


Pelayan itu kembali menyumpah pelan, dia begitu membenci pekerjaannya, setiap sehari sekali, dia diperintahkan mengantar makanan untuk sosok yang berada di bangunan terbengkalai itu. Tentu saja bayaran yang diterimanya besar, tapi dengan alasan tertentu, bayaran yang dia dapat serasa tidak sepadan.


Dia terus menerus menggerutu sampai akhirnya dia tiba di sebuah pintu yang berada di ujung koridor. Tanpa tata krama sedikitpun, dia mendobrak pintu yang sudah mulai lapuk, memang ini bangunan terbengkalai sih, tapi setidaknya kelakuannya sedikit disesuaikan dengan pakaiannya.


"Hei! Waktunya makan!" Dia menumpahkan isi troli begitu saja ke lantai yang berada di dalam ruangan kumuh itu, kumuh saja tidak cukup untuk mendeskripsikannya. Memang ruangan yang lantainya ditumbuhi lumut dan dindingnya ditumbuhi jamur itu cukup dideskripsikan sebagai 'kumuh'?


Dari balik kegelapan, dua titik ungu yang bersinar perlahan mendekati trolinya, membuat pelayan itu bergidik dan lari begitu saja. "Sialan! Inilah kenapa aku benci pekerjaanku!"


Dua titik ungu bersinar itu mulai keluar dari kegelapan dan menampakkan wujudnya. Sesosok lelaki remaja, usianya berkisar antara 17-19 tahun, rambutnya gimbal dan acak-acakan, kulitnya menghitam karena kotoran yang menempel tidak pernah dibersihkan, kuku-kuku hitamnya yang panjang terlihat dipotong secara tidak beraturan.


Penampilan sosok itu sebenarnya tidak jauh berbeda dari gelandangan gila yang kalian lihat di gang-gang sempit kota, satu satunya yang terlihat berbeda darinya adalah matanya.


Ya, mata dengan pupil berwarna warna ungu dan sklera berwarna hitam itu menjadi satu-satunya anggota tubuhnya yang terlihat cemerlang, meskipun entah sejak kapan anak itu berada di dalam ruangan itu, dia tidak sekalipun terlihat putus asa atau gila.


Dibalik tatapannya yang datar, tersirat sebuah api kebencian dan hasrat balas dendam yang besar. Sembari mengunyah makanannya, bibir keringnya terlihat bergerak menggumamkan sesuatu.


"Th...sus O...Ars Ke...va...ir" Dia terus menerus menggumamkan kata-kata itu, kelihatannya dia sedang menggumamkan nama seseorang.


Setelah makanan yang diberikan kebadanya habis, dia kembali merangkak ke balik kegelapan, meringkuk di sudut ruangan.


Dia menggigit-gigit kukunya yang panjang untuk memotongnya, hanya itu yang dia lakukan selama ini sembari menggumamkan nama seseorang yang sepertinya menjadi objek kebenciannya selama ini.


"E...sus O...ras Ke...arir..." Semakin lama dia menyebut nama itu, semakin dalam pula api kebencian membakarnya.


Hari-hari penuh penderitaan yang dijalaninya selama ini membuatnya pantas memiliki kebencian sebesar itu, dia pada dasarnya tidak melakukan dosa apapun, tidak pula dia melakukan kejahatan.

__ADS_1


Setiap saat, dia selalu memikirkan betapa tidak adilnya dunia ini kepadanya. Walaupun baginya, 'dunia' itu hanya sebatas bangunan tempat dia dikurung dan segelintir orang yang pernah dia lihat sepanjang hidupnya.


Waktu berlalu, sosok itu sekarang memejamkan matanya, nafasnya tenang, hanya di saat seperti inilah dia bisa beristirahat dari ketidak adilan ini.


Namun, di ruangan dingin dan gelap itu, sosok tadi tidak lagi sendiri. Di ambang pintu ruangan, berdiri sesosok wanita dengan gaun panjang berwarna putih, rambutnya yang berwarna keemasan seperti memancarkan cahaya, namun cahaya itu tidak membuat ruangan gelap itu menjadi lebih terang. Tidak ada yang tau ekspresi yang ditampilkan wanita itu karena kain putih yang menutupi seluruh wajahnya. Meski begitu, kain kecil itu tak sanggup menyembunyikan matanya yang memancarkan sinar redup berwarna emas, dia menatap ke satu titik di dalam ruangan.


Selama beberapa saat, dia hanya menatap sosok yang meringkuk di sudut ruangan, terlelap dengan kebencian yang terus tumbuh di hatinya.


"Apa kau benci?" Suaranya yang lembut menggema ke seisi ruangan, membuat sosok yang meringkuk itu terbangun. Dia terhenyak dan langsung waspada dengan kehadiran yang asing baginya.


"Apa kau benci?" Sekali lagi suara yang begitu tenang itu menggema ke seisi ruangan dan seolah membelai lembut sosok itu, membuatnya merasa aman.


"Apakah kau ... Membenci segalanya?" Wanita itu berjalan memasuki ruangan, perlahan mendekati sosok yang sekarang duduk berlutut, sinar dari mata ungunya menatap lurus ke arah wanita itu.


Kedua pasang mata itu saling bertemu, malam yang hening seolah menjadi lebih hening dengan kehadiran wanita bergaun hitam itu. Waktu seolah berjalan lambat di mata mereka berdua.


"Kebencian ini ... Begitu indah ...." Wanita itu berlutut dan meraih kedua pipi sosok yang berada di hadapannya. Dia menatap mata itu lebih dalam, seolah ingin menggali sesuatu yang tersembunyi dibalik sinar ungu yang begitu cemerlang di tengah suramnya ruangan itu.


"Apakah menyakitkan?" Sosok itu hanya diam, menatap wanita itu tanpa berkedip. "Pasti sangat menyakitkan bukan?".


Wanita itu masih saja membelai lembut kedua pipi dari sosok tersebut. Untuk pertama kalinya, sosok itu merasakan suatu perasaan lain selain kebencian. Perasaan yang begitu hangat dan tidak menyakitkan.


"Apakah kau ingin membalas semuanya?" Sosok itu hanya mengangguk pelan. Wanita yang sekarang berada di hadapannya ini, yang tengah menangisi kemalangannya. Mungkin dia adalah jawaban atas keinginannya untuk balas dendam yang selama ini berkobar di dalam dirinya.


"Jawaban bagus ... Mulai sekarang... kau tidak perlu merasakan rasa sakit lagi ... Kebencian di dalam hatimu akan menjadi kekuatanmu ... kau adalah orang yang dipilih olehku ...." Wanita itu dengan lembut mendekap sosok itu. Perlahan-lahan, tubuh mereka menghilang ditelan kegelapan.


...****************...


"Grand Duke! Gawat! Ini gawat!" Sesosok pria dengan baju pelayan mendobrak pintu ruang kerja dari orang yang disebut Grand Duke, sang Grand Duke yang sedang berada di tengah pembicaraan penting dengan putra keduanya menatap pelayan itu dengan tatapan mengancam. Para penjaga segera meringkus si pelayan dan membanting tubuhnya ke lantai.


"Sebaiknya kau menjelaskan dengan baik alasanmu mendobrak pintu ini" Sang putra kedua mengarahkan telunjuknya ke arah kepala si pelayan, energi sihir perlahan berkumpul di ujung telunjuknya. Salah bicara sedikit saja, kepala pelayan itu bisa berlubang.

__ADS_1


"I-itu! Mohon maafkan saya atas kelancangan saya!" Pelayan yang di tahan oleh beberapa pengawal itu berkata dengan suara bergetar, antara gugup untuk menyampaikan berita yang dia bawa atau gugup dengan ancaman dari putra kedua Grand Duke.


"Ha-hari ini! Ke-ketika saya mengantarkan makanan ke makhl- maksud saya, Tuan Muda... Dia... dia..."


Grand Duke Chevallaire dan putra keduanya, Duke Chevallaire saling tatap, mereka merasa berita ini memang sangat genting sampai membuat pelayan itu mengabaikan etika dan mendobrak ruangan kerja mereka.


Duke mendekat ke dan menempelkan telunjuknya ke dahi si pelayan. "Katakan dengan jelas, apa yang terjadi? Hah? Apa 'makhluk itu' mati atau bagaimana?" Pelayan itu banjir air mata, bahkan ingusnya sampai belepotan keluar saking takutnya.


"T-tu-tuan M-muda... Dia... dia me-menghilang!" Jelas si pelayan.


Wajah Duke menegang, matanya menatap bengis ke arah pelayan itu penuh amarah, sepersekian detik kemudian, pelayan itu terkapar dengan lubang di dahinya. Darah mengalir membasahi lantai, Duke segera memberi isyarat kepada para pengawal.


Para pengawal segera membungkus mayat itu dan membersihkan darah yang menggenang di lantai. "Singkirkan dia, pastikan tidak ada yang tersisa dari tubuhnya, hapus secara menyeluruh semua orang yang berkaitan dengannya". Duke dengan suara dingin memberikan perintah kepada pengawal, mereka memberi hormat dan keluar dari ruangan dengan kantong berisi mayat.


Setelah para pengawal pergi, Duke mendadak merasakan tekanan yang amat besar, dia spontan berbalik menatap ke arah kursi Grand Duke


Grand Duke terlihat murka, kursi kayu yang dia duduki dan meja dihadapannya mulai retak karena aura kuat yang lepas kendali, bahkan Duke pun merasa tercekik karenanya.


"Maafkan aku karena terburu-buru mengambil keputusan". Duke berlutut di hadapan Grand Duke memohon ampun, berusaha sekuat tenaga untuk menahan aura Grand Duke yang mencekiknya. Dia mengira Grand Duke murka karena dia membunuh si pelayan begitu saja.


Perlahan, aura Grand Duke kembali stabil, meskipun wajahnya masih gemetar karena menahan geram, Duke terbatuk setelah akhirnya lepas dari cekikan aura kuat ayahandanya.


"Tidak, Alfonso. Kau mengambil keputusan yang tepat dengan menyingkirkan orang itu, aku murka karena 'makhluk itu' lepas dari kandangnya dan pergi entah kemana. Entah apa yang dilakukan penjaga di area itu".


Grand Duke berjalan perlahan menuju jendela ruang kerjanya, sementara Duke masih saja berlutut, di benaknya berkecamuk berbagai hal yang membuat amarahnya terbakar.


"Kerahkan seluruh prajurit untuk mencari jejak 'makhluk itu', dengan kondisinya, seharusnya dia tidak lari terlalu jauh dari manor ini. Jika dia berhasil ditemukan, singkirkan juga seluruh penjaga yang bertugas di area itu". Titah sang Grand Duke. Alfonso berdiri memberi hormat lalu segera beranjak keluar ruangan dan menjalankan perintah ayahnya.


Grand Duke yang sekarang sendiri di ruang kerja itu, menatap keluar jendela dengan pikiran dipenuhi antara amarah dan gelisah.


"Makhluk tidak berguna. Kau selalu saja menyusahkanku".

__ADS_1


__ADS_2